Marlia Hayati Goestam

Jangan Menunda-nunda Pekerjaan

Marlia Hayati Goestam. (Istimewa)

Oleh: Thomas Ekafitrianus / AB | Selasa, 30 Mei 2017 | 11:27 WIB

Gunakan kesempatan dan kepercayaan yang diberikan perusahaan dengan sebaik-baiknya, giatlah bekerja dan tekun. Prinsip itu dipegang Marlia Hayati Goestam sejak memulai karier sebagai karyawan di beberapa perusahaan, hingga menempati posisi puncak di PT Darya-Varia Laboratoria Tbk sebagai presiden direktur.

Marlia yang meraih gelar sarjana hukum di Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, pada 1985, juga memiliki komitmen tinggi terhadap pekerjaan yang diemban. Apa pun tugas yang diberikan, dia berusaha menuntaskan pekerjaan tersebut sebaik-baiknya dan tidak menunda-nunda.

Sebagai leader, Marlia Hayati Goestam memiliki prinsip bahwa seorang pemimpin harus menjadi role model dan menginspirasi orang lain secara natural tanpa harus mengada-ada. Kemampuan sebagai leader harus datang dari filosofi hidup dan menjadi bagian dari karakter.

“Bagi saya, seorang leader juga harus dapat menciptakan leader-leader baru. Orang-orang di kantor harus tahu bahwa kita menyiapkan suksesor dengan baik,” katanya.

Marlia Hayati Goestam yang menjabat presiden direktur Darya-Varia Laboratoria sejak Januari 2015, sukses membawa emiten farmasi yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham DVLA itu membukukan kinerja bisnis positif.

Tahun lalu, Darya-Varia mencatatkan total aset Rp 1,53 triliun atau tumbuh 11,6 persen dibandingkan tahun 2015 sebesar Rp 1,37 triliun. Total ekuitas perusahaan tumbuh 10,99 persen dari Rp 973 miliar pada 2015 menjadi Rp 1,08 triliun. Perseroan juga mencetak laba Rp 162 miliar, melonjak 51,40 persen dibandingkan tahun sebelumnya senilai Rp 107 miliar.

Berikut penuturan Marlia Hayati Goestam.

Bisa cerita perjalanan karier Anda?
Saya memulai karier ketika pada 1986 memutuskan pindah kerja dari posisi sekretaris direksi di PT Wina Mulia (perusahaan kargo yang berafiliasi dengan perusahaan penerbangan lokal). Di perusahaan kargo tersebut, saya hanya bekerja selama enam bulan, yakni pada Januari-Juli 1986. Pada Agustus 1986, saya bergabung dengan PT Pradja Farma Hoslab sebagai assistant personnel manager dan kemudian menjabat sebagai personnel manager pada 1988-1989.

Di Pradja Farma Hoslab, saya melihat ada hal baru di posisi personalia, karena saya diminta untuk membentuk dan mengembangkan sistem personalia. Bagi saya, ini adalah tantangan menarik. Kurang dari setengah tahun, saya dipromosikan sebagai kepala bagian personalia.

Setelah itu, karier saya mengalir begitu saja sebagai manajer, kepala divisi, kemudian menangani perusahaan di bawah satu grup, dan diangkat sebagai head of legal dari grup perusahaan, termasuk menjabat direksi.

Ketika Prafa dijual ke Darya-Varia pada 1996, saya masuk tim dan terlibat aktif dalam proses due diligence penjualan perusahaan. Tak lama setelah bergabung dengan dengan Darya-Varia, saya menjabat posisi corporate secretary dan direksi di perusahaan anak Darya-Varia Group.

Saat itu, saya juga menangani divisi corporate communication dan legal. Pada 2001, Darya-Varia dibeli oleh Unilab Group dan saya ditawari jabatan direksi yang membawahkan divisi legal, corporate communication, dan juga sebagai corporate secretary. Itu disahkan dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Februari 2002.

Beberapa tahun kemudian, saya mendapatkan tambahan tugas untuk menangani health regulatory affairs. Lalu, pada pertengahan 2009, saya di-assigned ke Singapura untuk menangani intellectual property right dari bisnis internasional Unilab.
Kemudian pada 2014 saya dipanggil pulang ke Tanah Air untuk mengemban tugas sebagai pucuk pimpinan di Darya-Varia. Saya menjabat direktur di Darya-Varia sejak Februari 2002, dan diangkat menjadi presiden direktur pada Februari 2015.

Apa kunci sukses Anda dalam berkarier?
Saya bersyukur diberi kesempatan dan kepercayaan oleh perusahaan. Tentu saja saya bekerja keras dan tekun. Saya punya komitmen tinggi terhadap apa pun yang saya kerjakan. Tugas apa pun yang diberikan, saya berusaha menuntaskan sebaik-baiknya.

Peran orangtua juga sangat besar, karena mereka menekankan kepada saya agar tidak menunda-nunda pekerjaan. Oleh karena itu, setiap pekerjaan yang datang kepada saya, saya selesaikan hari itu juga.

Seminimal mungkin saya tidak menunda pekerjaan. Saya selalu ingat, ayah menasehati saya agar jangan pernah menunda untuk menyelesaikan pekerjaan. Apa yang bisa kamu lakukan saat ini, harus kamu lakukan. Pesan itu saya terapkan dalam pekerjaan saya sehari-hari.

Ukuran sukses menurut Anda seperti apa?
Saya adalah tipe simple person. Ukuran sukses bagi saya itu dinamis sejalan dengan kedewasaan saya. Ukuran sukses pada 20-25 tahun lalu adalah ketika saya dapat mandiri secara ekonomi. Kemudian, seiring berjalannya waktu, ukuran sukses pada 10-15 tahun tentu berbeda.

Ukuran sukses untuk pekerjaan adalah ketika saya "matang" secara usia dan pikiran dan dapat membawa perusahaan yang saya pimpin berada di posisi yang lebih baik. Yang terpenting adalah seluruh stakeholders, terutama karyawan, dapat mengandalkan kehidupan keluarganya dari perusahaan ini dengan sejahtera.

Sedangkan ukuran sukses untuk kehidupan saya secara pribadi adalah dapat menikmati hidup dengan nyaman pada masa tua, sehat, tenang, menikmati hasil dari kerja keras ketika masih aktif bekerja.

Filosofi yang Anda pegang dalam kehidupan sehari-hari?
Buat saya, pengalaman adalah guru yang paling baik. Saya pernah menjabat sejumlah posisi berbeda dalam karier. Kita juga dapat memetik pelajaran dari pengalaman orang lain, seperti pengalaman cara bekerja, bagaimana meraih kesuksesan, termasuk ketika mereka mengalami kegagalan.

Saya adalah tipe yang paling mudah mengambil hikmah dari pengalaman orang lain, dan saya bukan tipe orang kepala batu yang mesti mengalami sendiri, kemudian baru belajar dari pengalaman itu. Menurut saya, pengalaman adalah sekolah yang murah untuk belajar.

Misi Anda dalam mengembangkan perusahaan?
Misi saya sama dengan misi perusahaan, yakni membangun Indonesia yang lebih sehat bagi setiap orang pada setiap waktu dengan produk dan pelayanan yang unggul. Perusahaan telah menetapkan strategi jangka panjang untuk lima tahun ke depan. Saya pun mengawal agar strategi tersebut dapat dieksekusi dengan baik dan secara konsisten.

Semua orang di perusahaan ini harus mengetahui apa saja yang menjadi goal perusahaan, dan kemudian bersama-sama mencapai goal tersebut. Menurut saya, faktor pengembangan sumber daya manusia sangat penting dan utama untuk mencapai goal.

Dalam beberapa tahun terakhir, kami juga fokus dan sungguh-sungguh meningkatkan kemampuan karyawan. Kami membangun organisasi yang high performing, sehingga setiap karyawan diharapkan dengan senang hati dan bangga dapat memberikan kinerja terbaiknya.

Strategi leadership yang Anda terapkan?
Saya tidak punya strategi khusus. Bagi saya, seorang leader harus menjadi role model dan menginspirasi orang lain secara natural tanpa harus mengada-ada. Itu harus datang dari filosofi hidupnya dan menjadi bagian dari karakter.

Leader harus dekat dan terjangkau oleh bawahannya, tetapi dia juga tahu kapan harus mengatakan tidak untuk hal-hal yang tidak positif. Jadi, karyawan mengetahui bahwa dia memiliki leader, dan leader bukanlah seseorang yang untouchable. Saya menjadi leader secara otodidak, belajar sendiri dan memahami maknanya.

Bagi saya, seorang leader juga harus dapat menciptakan leader-leader baru. Orang-orang di sekitar kita harus tahu bahwa kita menyiapkan suksesor dengan baik. Bagi saya, leader itu memiliki tanggung jawab besar.

Saya selalu berpikir tidak selamanya saya berada di suatu posisi jabatan tertentu selamanya. Suatu saat ada waktunya kita akan melepaskan jabatan tersebut. Suksesor yang akan menggantikan harus mendapatkan posisi kita dengan kondisi yang lebih baik.

Kalau perlu, tantangan yang kita alami tidak perlu lagi dialami oleh suksesor kita. Kita harus persiapkan agar ketika suksesor menggantikan kita, dia menjalankan posisinya dengan kondisi yang lebih baik.

Dengan demikian, pada waktu mengambil bagian transisi leadership, dia akan dapat menghadapi tantangan di era atau zamannya. Sebab, tantangan yang saya hadapi ketika menjabat sebagai leader belum tentu sama dengan yang akan dihadapi suksesor saya. Jadi, tantangan yang saya hadapi pada masa jabatan saya, mestinya sudah lewat dan tidak perlu lagi dihadapi oleh suksesor saya.

Kita harus siap dan membenahi, sehingga peralihan kepemimpinan menjadi smooth. Maka ketika suksesor menempati jabatan yang kita tinggalkan, dia siap menghadapi tantangan yang baru ke depan. Saya kira itu tipe leadership yang saya lakukan.

Obsesi Anda terhadap Darya-Varia?
Saya ingin membawa perusahaan ini ke level yang lebih tinggi. Saya ingin stakeholder merasa nyaman dan fokus, saya ingin karyawan lebih sejahtera. Saya juga ingin agar Darya-Varia menjadi top of mind bagi para talent di luar perusahaan ini.

Harapan saya, setiap karyawan di perusahaan dapat mengerjakan pekerjaannya dengan baik, sehingga kita menjadi perusahaan yang berkinerja tinggi dan fokus pada hasil kerja atau high performing organization.

Siapa sumber inspirasi Anda?
Ini pertanyaan yang sulit dijawab. Sebab, buat saya, setiap orang yang saya temui memberikan nilai tertentu dalam kehidupan saya, termasuk seluruh atasan saya, baik yang sepaham maupun yang tidak sepaham dengan saya. Ini memberikan nilai tambah bagi saya, tentang bagaimana saya bisa belajar mengendalikan emosi dan bagaimana dapat memberikan pemikiran.
Demikian juga dengan sesama manajer dan direksi, saya banyak belajar dari mereka. Saat ini saya juga mengagumi anak perempuan saya satu-satunya. Dia masih muda, namun support dan pengertian yang dia berikan kepada saya luar biasa.

 




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT