Muhammad Hanif

Pahami Nilai dan Jati Diri

Muhammad Hanif. (Istimewa)

Oleh: Devie Kania / AB | Selasa, 13 Juni 2017 | 15:29 WIB

Satu manusia dengan manusia lainnya tidak pernah sama. Apa yang terlintas dalam benak setiap orang pun pasti berbeda-beda. Itu sebabnya, mereka harus mengambil pilihan hidup sendiri-sendiri. Tetapi memilih jalan hidup tidaklah mudah. Hanya orang yang tahu nilai (value) dirinya yang dapat memilih secara bijak jalan hidupnya. Untuk itu, seseorang harus memahami eksistensi dirinya. Jika tidak, ia bisa terperangkap dan tersesat.

“Apa pun yang kita cari di dunia ini, bila tidak menyadari nilai diri sendiri, kita akan terperangkap pada apa yang kita kerjakan,” kata Muhammad Hanif di Jakarta, belum lama ini.

Bagi Direktur Utama PT Mandiri Manajemen Investasi ini, memahami nilai dan jati diri sama pentingnya dengan memahami hakikat kehidupan ini. Seseorang yang mencoba memahami nilai dirinya sendiri akan menyadari batasannya, lebih berhati-hati, dan mampu berlapang dada menerima kenyataan.

Hanif juga percaya bahwa pada akhirnya hidup adalah tentang berbagi dengan orang lain. “Lalu apa pun yang terjadi, percaya saja bahwa Tuhan selalu memiliki maksud atau keadilan tertentu dalam hidup kita,” katanya. Berikut wawancara dengannya.

Bagaimana perjalanan karier Anda?
Saya memulai karier sebagai bankir di Bank Niaga pada 1988. Selama delapan tahun, saya sempat ditempatkan di beberapa departemen. Setelah itu, pada 1996, saya keluar dari Bank Niaga. Saya bergabung dengan anak perusahaan PT Danareksa (Persero), yaitu PT Danareksa Investment Management.

Alasan Anda berganti profesi?
Langkah awal saya pindah ke pasar modal sebetulnya karena mengikuti jejak mantan bos saya, yakni Pak Glenn Jusuf. Secara dasar, saya melihat apa yang ia kerjakan seolah seperti emas. Untuk itu, setelah dipikir, tampaknya sektor pasar modal cukup bagus untuk dicoba.

Begitu masuk di Danareksa Investment Management, saya ditempatkan di bagian penjualan. Sampai akhirnya pada 2001 saya diangkat menjadi direktur utama Danareksa Investment Management. Kemudian, pada 2005 saya terpilih menjadi direksi di induk perusahaan.

Saya sempat membawahkan bermacam-macam bidang di sana. Bagian treasury, riset, maupun manajemen risiko pernah saya jalani. Pada 2010, saya memutuskan untuk resign dari Danareksa Investment Management dan mencoba bekerja sama dengan teman untuk usaha private equity selama dua tahun.

Namun, bagi saya, tahun yang saya jalani selama di Danareksa Group adalah momen terbaik sepanjang perjalanan karier saya. Saya sangat menikmati masa bekerja di sana karena saya memulai segalanya dari nol. Learning by doing, itulah cara saya mengenal pasar modal, reksa dana, dan pasar saham.

Mengapa Anda memutuskan keluar dari Danareksa?
Saya sudah berkarier selama 14 tahun di Danareksa Group. Jadi, saya mau mencoba tantangan baru. Di sisi lain, saya enggak ingin menjadi penghalang bagi orang lain untuk berkarier. Namun, setelah sempat mencoba usaha private equity, akhirnya saya justru masuk ke PT Mandiri Manajemen Investasi pada 2012.

Budaya kerja seperti apa yang Anda bawa ke Mandiri Investasi?
Sepertinya lebih tepat kalau teman-teman yang menjawab. Cuma, jika dibilang membawa transformasi juga tidak. Sebaliknya, saya hanya meneruskan apa yang dijalankan pemimpin sebelumnya, walau ada beberapa yang saya sesuaikan lagi. Misalnya industri kita sudah mulai berubah.

Sekarang sudah era digital, sehingga Mandiri Manajemen Investasi perlu mulai ke sana. Kemudian kami pun secara bertahap mulai mengembangkan instrumen investasi alternatif, di luar reksa dana yang biasa.

Lalu, sejak 1-2 tahun terakhir, pola perekrutan karyawan Mandiri Manajemen Investasi lebih fokus dibanding sebelumnya yang condong ke pola umum. Soalnya, saya menyadari, kondisi pasar sudah berubah, lebih pintar, lebih tajam, dan nasabah juga mulai mencari yang terbaik. Dengan demikian, saat melakukan perekrutan, kami fokus untuk menyesuaikan kebutuhan dan keadaan di pasar.

Dampak positifnya?
Saya rasa, itu turut berpengaruh terhadap posisi dana kelolaan (asset under management/AUM) Mandiri Manajemen Investasi hingga mampu mencapai Rp 43 triliun pada akhir Maret 2017. Dari nominal tersebut, porsi reksa dana hampir mendekati Rp 36 triliun, sisanya merupakan kontrak pengelolaan dana (KPD).

Saat saya baru bergabung di perusahaan ini, posisi AUM Mandiri Manajemen Investasi baru mencapai Rp 20 triliun. Saat itu, porsi reksa dana berkisar Rp 16-17 triliun dan KPD dalam rentang Rp 3-4 triliun.

Bagaimana Anda mewujudkan hal itu?
Saya enggak mengatakan itu kinerja saya semata. AUM tersebut adalah wujud dari kerja sama bersama, yakni hasil usaha tim di Mandiri Manajemen Investasi.

Visi atau impian Anda ke depan?
Saya ingin membawa perusahaan ini sejajar dengan bank. Walau mungkin bukan saya yang merasakan, tetapi orang-orang setelah saya. Bank di Indonesia berbeda dengan di luar negeri. Kebanyakan di luar adalah bank investasi (investment bank). Sebut saja JP Morgan atau Bank of America Merrill Lynch. Mereka tidak hanya menyalurkan kredit, tetapi juga dapat membantu fund raising (menggalang dana) atau penerbitan obligasi, restrukturisasi, maupun bisnis equity.

Sejauh ini penerapan di Indonesia, bank fokus pada usaha kredit. Walau di Grup Bank Mandiri secara fungsi dijalankan masing-masing entitas berbeda, kami sudah memiliki banyak layanan kepada nasabah.

Ke depan, saya berkeinginan agar Mandiri Manajemen Investasi dapat sejajar dengan bidang manajemen aset dari JP Morgan atau Bank of America Merrill Lynch. Saya sadar untuk mencapai hal itu membutuhkan waktu mungkin hingga belasan tahun lagi. Namun, setidaknya mulai sekarang kami akan mulai mengarah ke sana.

Pertimbangannya apa?
Dari sisi masyarakat, demografi maupun pendapatannya akan berubah seiring zaman. Sekarang nasabah sudah lebih memahami langkah dalam berinvestasi. Perubahan perilaku orang ini senada dengan keadaan di industri jasa keuangan. Produk domestik bruto (PDB) yang naik, membuat status sosial masyarakat juga menanjak. Itu turut mengubah kebutuhan orang, termasuk perilaku di bidang keuangan.

Masyarakat secara nggak langsung dipaksa untuk mulai berencana, entah dengan membeli proteksi atau asuransi, atau berinvestasi. Nasabah institusi juga tidak bisa mengandalkan investasi di pasar modal semata.

Sekarang tingkat imbal hasil (yield) sudah semakin rendah, karena kondisi inflasi kita menurun dan jauh dari kondisi 10-15 tahun lalu. Akibatnya, tingkat suku bunga deposito menurun. Di tengah kondisi itulah perusahaan manajemen aset dapat menjadi alternatif bagi nasabah untuk berinvestasi.

Bisa Anda jelaskan contohnya?
Perusahaan manajemen aset dapat membuat produk reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) khusus sektor rill. Secara yield, produk tersebut lebih menjajikan dan tidak volatile. Adapun nasabah manajemen aset yang merupakan institusi besar, seperti dana pensiun (dapen) atau asuransi, akan menghadapi tantangan jika usia pesertanya menua. Sebab, ada yang perlu mereka bayarkan.

Nah, bagaimana cara memenuhi yang baik? Mau tidak mau, nasabah yang merupakan perusahaan dapen atau asuransi perlu mencari instrumen alternatif. Di negara maju sudah banyak yang seperti itu, baik di Amerika Serikat (AS), Australia, maupun Eropa. Banyak perusahaan asuransi dan dana pensiun (dapen) yang berinvestasi di sektor rill. Berdasarkan pertimbangan itulah, kami mengincar peluang dengan menawarkan instrumen alternatif, yaitu RDPT berbasis ekuitas dengan underlying proyek pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTM).

Anda punya gaya kepemimpinan seperti apa?
Mungkin saya ini tipe pecicilan (aktif, tidak mau diam). Intinya, langkah saya selama di kantor bukan sekadar ruang kerja saja. Saya tipikal yang terbuka, suka mendatangi teman-teman di kantor dan makan siang bersama. Sebab, saya menyadari bahwa saya tidak bisa sendirian. Lagi pula, teman-teman di Mandiri Manajemen Investasi juga memiliki pengetahuan yang banyak dan bagus. Untuk itu, saya ingin dimanfaatkan oleh mereka. Jadi, jika ada ide, saya terbuka untuk diskusi.

Maju atau mundur perusahaan ini bukan semata karena saya. Selama ini saya mengandalkan tim. Mandiri Manajemen Investasi adalah perusahaan manajemen aset domestik. Perusahaan ini bukan bagian dari jaringan asset management di luar negeri.

Secara mandiri, kami kembangkan sistem dan karyawan sendiri. Sejak tahun lalu memang perseroan menggunakan jasa penasihat teknikal dalam hal mengelola reksa dana saham global syariah. Kami bekerja sama dengan JP Morgan.

Filosofi dan nilai-nilai hidup yang Anda pegang?
Menurut saya, setiap manusia memiliki pilihan hidup yang berbeda-beda. Apa yang terlintas dalam pikiran setiap orang tentunya berbeda. Tipe orang juga berbeda-beda. Ada tipe orang yang tahu tentang apa yang diketahuinya. Ada juga yang tahu tentang apa yang tidak diketahuinya. Kemudian ada manusia yang tidak tahu tentang apa yang diketahuinya. Di luar itu masih ada tipe orang yang tidak tahu tentang apa yang tidak diketahuinya.

Sesungguhnya tidak ada yang salah dari itu semua. Toh pada dasarnya manusia hidup dengan pemikiran dan perasaannya, setidaknya apa yang menurut dia benar. Yang penting adalah bagaimana cara kita mengetahui nilai hidup kita dan upaya memahami eksistensi diri sendiri.

Sebab, apa pun yang kita cari di dunia ini, bila tidak menyadari nilai diri sendiri dan jati diri, kita akan terperangkap pada apa yang dikerjakan. Dengan mencoba memahami nilai diri sendiri, kita akan menyadari batasan, lebih berhati-hati, dan mampu berlapang dada menerima keadaan.

Kita juga akan menyadari bahwa Tuhan selalu memiliki maksud atau keadilan tertentu dalam hidup kita. Saya meyakini hidup adalah tentang berbagi dengan orang lain, baik dari sisi keluarga, maupun lingkungan sosial dan perkerjaan.

Bagaimana Anda membagi waktu dengan keluarga?
Saya memiliki tiga orang anak, tetapi semuanya sudah besar. Masing-masing sudah memiliki kesibukan sendiri. Jadi, paling-paling saya mengatur janji dengan mereka untuk menghabiskan waktu bersama pada hari Minggu. Kalau hari Sabtu, saya biasanya berjumpa dengan teman-teman atau menemani istri.

Hobi Anda?
Jujur saja, saya tidak memiliki hobi yang digeluti terlalu serius. Cuma terkadang saya bermain golf. Intinya saya terbiasa menikmati waktu di rumah. Soalnya kalau nonton di bioskop, saya malah tertidur. Makanya, lebih baik nonton di rumah, pakai TV cable, walau ujung-ujungnya juga bisa tertidur.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT