Shannedy Ong

Bagus Saja Tidak Cukup

Shannedy Ong. (Istimewa)

Oleh: Emanuel Kure / AB | Jumat, 30 Juni 2017 | 10:39 WIB

Menjadi pemimpin yang mumpuni tidaklah mudah. Hal paling sulit untuk menjadi seorang pemimpin jempolan adalah memberikan contoh yang baik kepada bawahan. Suri teladan dibutuhkan untuk mengubah orang yang sudah bagus menjadi hebat. Sebab, bagus saja ternyata tidak cukup.

Leading by example. Jadi, kalau saya punya tim, mereka akan melihat saya sebagai leader. Mereka harus melihat saya sebagai contoh,” kata Shannedy Ong di Jakarta, baru-baru ini.

Bagi pria yang sudah lebih dari dua dekade malang melintang di dunia teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ini, sifat keteladanan mutlak dibutuhkan seorang pemimpin. Berbekal sifat tersebut, pemimpin bisa mengubah seseorang menjadi super.

“Di dunia yang kompetisinya makin sengit, kita harus berupaya bagaimana caranya membuat inovasi dan diferensiasi agar mampu mentransformasi, bukan hanya company, tetapi juga orang-orangnya, dari yang bagus ke yang hebat,” ujar Shannedy yang sudah 2,5 tahun menakhodai Qualcomm Indonesia, perusahaan platform perangkat mobile berbasis di Amerika Serikat (AS). Berikut wawancara dengannya.

Bisa cerita perjalanan karier Anda?
Saya memulai karier pada 1996 dengan NEC Corporation, perusahaan Jepang yang begerak di bidang transmisi serat optik. Kemudian saya bergabung dengan Ericsson Indonesia mulai 1997. Saya agak lama di situ. Di Ericsson, saya menempati posisi senior network engineering, fokusnya pada network design.

Selanjutnya saya pindah ke Ericsson Australia di Melbourne, selama satu setengah tahun. Itu awal tahun 2000. Dari Ericsson, seterusnya saya pindah ke Fujitsu Australia, di Sidney. Kebetulan, perusahaan bergerak di bidang fiber optic transmition juga.

Dari situ, saya kembali ke Indonesia pada 2002, sempat kembali lagi ke Ericsson Indonesia sampai tahun 2014. Kemudian saya bergabung dengan Qualcomm pada Maret 2015. Sampai saat ini, saya sudah 2,5 tahun di Qualcomm.

Bidang ini sesuai dengan latar belakang pendidikan Anda?
Background saya adalah electrical dan computer engineering. Jadi, saya sekolah di Brisbane Australia, di bagian engineering di Queensland University of Technology. Selain berdasarkan background pendidikan, saya juga melihat bahwa teknologi bisa mengubah kehidupan kita. Dengan teknologi, hidup kita akan lebih simplyfied.

Sekarang ini saja kita melihat banyak sekali perkembangan di bidang teknologi yang mengubah lanskap bisnis, juga mengubah kehidupan kita, yang membuat kita lebih gampang mengerjakan pekerjaan.

Contohnya dulu model bisnisnya A. Tetapi setelah teknologi masuk, model bisnisnya berubah menjadi B atau C. Misalnya dengan adanya Uber, remote monitoring, IoT (internet of things), dan sebagainya. Itu juga akan mengubah bukan hanya di business landscape, tetapi juga cara kita berinteraksi. Itu semua terjadi karena adanya evolusi teknologi.

Apa kiat Anda sehingga sukses bekerja di perusahaan-perusahaan besar?
Bagi saya, bekerja di perusahaan mana pun sama saja. Tetapi kita harus punya semangat untuk belajar. Contohnya teknologi itu kan berevolusi dan berkembang dari tahun ke tahu, itu tidak pernah berhenti. Nah, kita sebagai individu harus selalu belajar untuk selalu keep up dengan teknologi yang terus berkembang.

Selain teknologi, perusahaan juga harus memberikan semacam competitiveness development. Biasanya selain memiliki proses yang sangat lengkap, multinational company memiliki sistem yang organized. Saya juga belajar, ada perubahan kultur dari perusahaan yang satu ke perusahaan yang lain. Itu kan ada experience yang kita bisa pick up di situ, selain teknologi itu sendiri.

Strategi Anda memajukan perusahaan?
Qualcomm memang leader di wireless technology. Kita banyak sekali patennya. Kita bilang standard essential patent. Paten-paten itulah yang digunakan ODM (original design manufacturer) atau OEM (original equipment manufacturer) sebagai customer untuk memakai teknologi kita guna menciptakan device atau perangkat yang berguna bagi konsumen.

Untuk Indonesia sendiri, kita punya short term dan long term view. Untuk yang short term, kita melihat bahwa di Indonesia dikategorikan sebagai emerging market, sehingga masih banyak pengguna yang secara teknologi menggunakan teknologi generasi ke-2 (2G).

Jadi, kami mau membantu, tidak hanya operator telekomunikasi, tetapi juga pemerintah, bagaimana memigrasi pelanggan yang masih di 2G, supaya mereka punya akses data atau internet untuk membantu pemerintah menuju ke digital transformation atau digital economy. Semakin banyak masyarakat yang punya akses ke internet, akan semakin luas dampaknya ke digital economy. Itu juga salah satu strategi kami di Indonesia.

Untuk long term view, kami mau membangun industri mobile di Indonesia. Kalau kita melihat industri mobile di Indonesia, ketentuan tentang TKDN (tingkat kandungan dalam negeri) kan sudah ada roadmap-nya. Kami juga ingin membantu pemerintah bagaimana membangun ekosistem di Indonesia, salah satunya adalah R&D (research and development). Sebab, expertise kami di bagian R&D, bukan di bagian supplier-nya. Justru R&D sangat penting, brainware-nya yang sangat penting.

Di Indonesia sudah banyak OEM'S company yang merakit handphone, tetapi brainware atau R&D itu yang sangat penting. Bagaimana kita membantu perusahaan-perusahaan lokal supaya bisa mengakses teknologi Qualcomm, dan melalui akses tersebut mereka bisa melakukan banyak local development. Itulah salah satu strategi jangka panjang kami.

Gebrakan atau keberhasilan yang dianggap paling spektakuler dalam karier Anda?
Kalau di Qualcomm, sejak masuk sebenarnya sudah ada beberapa milestone, salah satunya sekarang kami sudah men-sign up dua local company dari Indonesia menjadi direct licence-nya Qualcomm. Itu tidak gampang dan tidak sembarangan perusahaan bisa mendapatkan direct license dari Qualcomm.

Dengan memiliki lisensi dari Qualcomm, mereka punya akses ke seluruh teknologi kami, mulai shortcut, firmware, hingga hardware, mereka akan punya akses itu. Ini merupakan suatu kebanggaan juga dari sisi achievement, karena belum pernah di Indonesia. Dan, itu baru terjadi waktu saya menjadi pemimpin di sini, yang bisa membawa perusahaan lokal mendapatkan lisensi dari Qualcomm.

Ada dua perusahaan yang sudah mendapatkannya, yaitu TSM (Tata Sarana Mandiri) dan Noxx. Kedua perusahaan ini memiliki ambisi yang kuat untuk membuat desain sendiri dan membuat R&D sendiri di Indonesia, khususnya untuk support TKDN.
Kami juga sedang berdiskusi secara intens untuk perusahaan ketiga. Jadi, semakin banyak local company yang bisa kami enable untuk dapat lisensi Qualcomm, semakin kuat untuk masuk ke bagian R&D.

Apa filosofi hidup Anda?
Leading by example. Jadi, kalau kita punya tim, mereka akan melihat kita sebagai leader. Mereka harus melihat saya sebagai contoh bahwa saya adalah orang yang strategic dan saya adalah orang yang sangat result oriented. Saya melakukan itu di sini dan saya mau mereka mencontohnya.

Sebagai leader, kita harus memberikan contoh yang baik, bagaimana mengubah orang yang sudah bagus menjadi hebat. Ada satu buku berjudul Good to Great yang antara lain menyebutkan bahwa bagus saja tidak cukup. Di dunia yang kompetisinya makin sengit, bagaimana caranya kita membuat inovasi dan diferensiasi agar kita mampu mentransformasi, bukan hanya company, tetapi juga orang-orangnya dari yang bagus ke yang hebat.

Saya mau, tim-tim saya mengikuti saya. Saya punya moto bahwa kami harus selalu berinovasi untuk membedakan kami dengan yang lain. Sebab, di market memang banyak sekali kompetitor. Kalau kami selalu kasih sesuatu yang show-show saja, sangat sulit bagi kami untuk berkompetisi. Kami harus selalu berinovasi. Inovasi itulah yang selalu saya tanamkan dalam diri saya. Teman-teman di Qualcomm harus mengikuti.

Cita-cita atau harapan Anda yang belum tercapai?
Saya punya satu cita-cita, small R&D kami di Indonesia bisa membantu perusahaan lokal di sini. Ini sebagai bagian dari kompetensi kami di bagian R&D. Enggak perlu yang besar-besar, yang penting punya engineering support. Sekarang kami sudah punya yang namanya testing engineer di sini. Tetapi itu masih dalam skema yang sangat limited. Kalau bisa, kami nanti punya testing house untuk kualifikasi device-device. Intinya bisa inline dengan visi kami membangun R&D.

Bagaimana Anda menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan keluarga?
Bagi saya, harus ada keseimbangan dalam hidup. Maksudnya, kalau kita bekerja, kita spend waktu untuk kerja. Tetapi kalau di keluarga, sebisa mungkin jangan bawa pulang pekerjaan ke rumah, kecuali benar-benar sangat urgen. Intinya, jika sedang bersama keluarga, sebisa mungkin saya alokasikan waktu untuk mereka. Ini sangat penting. Yang selalu menjadi moto saya, bukan hanya bagaimana saya bekerja keras di dunia ini, tetapi juga bagaimana berinteraksi dengan keluarga. Keluarga menjadi bagian dari dukungan spiritual untuk saya.

Seberapa besar peran keluarga dalam mendukung karier Anda?
Keluarga sangat penting. Di kantor, saya selalu berinteraksi dengan tim. Di rumah, saya juga harus berkomunikasi dengan keluarga. Kalau kita punya keluarga yang sangat harmonis, yang sangat mendukung, itu juga baik untuk pekerjaan. Keduanya saling mendukung, tidak bisa dipisahkan.

Apa kegiatan Anda di kala senggang?
Kebanyakan spending waktu dengan keluarga, misalnya nonton film bareng, makan-makan. Bukan hanya keluarga, tetapi juga dengan saudara yang lain. Bersosialisasi dengan saudara-saudara yang lain. Juga ada aktivitas dengan anak, misalnya joging dan kegiatan olahraga lainnya.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT