Elvyn G Masassya

Biarkan Semuanya Mengalir

Elvyn G Masassya (Istimewa)

Oleh: Thresa Sandra Desfika / AB | Sabtu, 22 Juli 2017 | 08:42 WIB

Sosok yang satu ini dikenal bukan hanya sebagai pemimpin perusahaan, tetapi juga seorang penyanyi jaz, penulis lagu, produser rekaman, dan kolumnis. Pria kelahiran Medan, Sumatera Utara, 18 Juni 1967, ini kerap unjuk kemampuan bernyanyi dan bermain piano di depan kolega dan awak media. Dia juga sudah merilis belasan album sejak 2005 silam.

Elvyn G Masassya, pria itu, menggandrungi musik dengan alasan musik mampu menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri. Musik juga membuat manusia menjadi lebih peka terhadap sesama.

“Musik membuat kita lebih punya rasa, bisa lebih berempati kepada orang, bisa lebih merasakan. Selain itu, musik adalah alat mengekspresikan,” kata Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II (Persero) di Jakarta, baru-baru ini.

Yang pasti, dalam menjalani hidup, Elvyn Masassya punya banyak kiat. Kiat-kiat itu pula yang telah membawanya ke posisi saat ini. Kiat pertama Elvyn adalah selalu melakukan yang terbaik dalam hidup ini pada semua kesempatan. Lalu, jangan pernah menyerah dalam menghadapi tantangan. Kiat terakhir adalah biarkan semuanya selalu mengalir.

Elvyn Masassya diserahi tugas menakhodai BUMN yang bergerak di bidang industri jasa kepelabuhanan, PT Pelindo II (Persero), sejak April tahun lalu setelah lama malang-melintang di dunia finansial, khususnya perbankan,

Bagaimana Elvyn menghadapi tantangan-tantangan baru yang berbeda dari yang selama ini dijalaninya di bidang keuangan? Apa visi yang dijalankannya untuk Pelindo II? Mengapa ia punya filosofi biarkan semuanya mengalir? Berikut petikan lengkap wawancara dengan pria yang telah meraih sejumlah penghargaan kategori chief executive officer (CEO) tersebut.

Seperti apa perjalanan karier Anda?
Saya mengawali karier profesional sebagai karyawan di Bank BNI 46. Setelah belasan tahun, saya menjadi komisaris di Bank Bali. Pada 2002, saya menjadi direktur di Bank Permata dan pada 2007 saya sempat kembali ke Bank BNI sebagai corporate secretary.

Pada 2008, saya ke Tuban Petrochemical sebagai direktur, lalu pada akhir 2008 saya ditunjuk menjadi direktur investasi di Jamsostek dan pada 2012 diangkat menjadi direktur utama Jamsostek. Kemudian pada 2014 saya mendapat amanah untuk menjadi direktur utama BPJS Ketenagakerjaan. Akhirnya pada 2016 saya ditugaskan sebagai direktur utama Pelindo II.

Kesan Anda memimpin perusahaan yang bergerak di bidang kepelabuhanan?
Sebenarnya semua perusahaan itu basic-nya sama, yaitu bagaimana kita mengimplementasikan manajemen. Satu yang kebetulan menarik bagi saya adalah sektor yang saya geluti saat ini adalah sektor jasa kepelabuhanan. Sebelumnya saya di jasa keuangan. Karakteristik sektor jasa sebenarnya hampir sama. Pertama adalah speed. Kedua, akses. Ketiga, physical presence. Keempat adalah friendly.

Kalau di pelabuhan, speed itu berarti dwelling time-nya (masa tunggu dan bongkar muat di pelabuhan) harus cepat, kapalnya jangan lama-lama di laut, bongkar muat harus cepat. Yang kedua akses. Akses di pelabuhan adalah bagaimana supaya kedalaman kolamnya cukup, terminalnya banyak. Kemudian yang ketiga physical presence, itu bagaimana peralatan di pelabuhan harus bagus dan produktif. Sedangkan keempat, friendly, artinya biaya jangan mahal dan prosesnya harus cepat.

Apa perbedaan signifikan antara memimpin perusahaan kepelabuhanan dan perusahaan finansial?
Karakteristik jasa di tempat kerja sebelumnya cukup membantu saya untuk bisa ke sini. Tetapi tentu tantangannya berbeda. Tetapi saya beranggapan bahwa prinsipnya sama, yaitu manajemen.

Manajemen itu artinya pengelolaan perusahaan apapun harus secara korporasi. Kalau secara korporasi pasti ada kaidah-kaidah korporasi. Yang utama adalah tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance. Kemudian harus punya platform yang jelas di bidang komersial, operasional, keuangan, teknik, people, dan lain sebagainya.

Jadi, mengelola perusahaan adalah mengelola korporasi yang harus ada platformnya. Dari platform itu harus ada sistem, kemudian membuat strategi. Itu secara hardware.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana encourage (mendorong) sumber daya manusia (SDM) atau memberikan semangat kepada people bahwa perusahaan ini untuk kepentingan bersama, sehingga harus ada sense of belonging dari people itu. Maka saya memiliki konsep bahwa perusahaan akan hebat kalau seluruh orang di dalamnya memiliki kesepahaman pikiran.

Perusahaan juga akan hebat kalau semuanya punya loyalitas terhadap kepentingan perusahaan. Perusahaan akan hebat kalau menempatkan kepentingan perusahaan sebagai yang paling tinggi. Inilah yang saya komunikasikan. Dengan demikian, mau ke mana perusahaan ini berjalan, seluruh elemen perusahaan mendukung karena ada kepentingan mereka di dalam, yakni kepentingan menjadikan perusahaan ini hebat.

Terus terang, pengalaman-pengalaman saya sebelumnya di berbagai perusahaan membantu saya juga untuk memperkaya saya dalam menghadapi berbagai situasi di industri pelabuhan ini, mulai dari people, menghadapi tantangan komersial, operasi, dan sebagainya.

Gaya kepemimpinan seperti apa yang Anda terapkan?
Bagi saya, pemimpin itu tugasnya hanya tiga, yaitu memberikan direction yang clear. Jadi, arahannya harus jelas kepada semua insan perusahaan, mau dibawa ke mana perusahaan ini. Apa tujuannya tentu ada visi. Yang kedua, pemimpin harus involve atau harus terlibat, melebur, dan harus berkomunikasi dengan karyawan. Kalau di kantor, saya menerapkan komunikasi informal. Yang ketiga, harus ada monitor, ada kontrol.

Detailnya bagaimana?
Saya menerapkan tiga pendekatan ini dalam perusahaan. Tidak boleh perusahaan itu tanpa direction yang sama. Semua harus sama. Mau ke mana kita, mau jadi world class port, ya harus ke sana. Bagaimana cara mau ke sana, ya harus involve. Enggak bisa main perintah saja. Apa yang kita utarakan, harus kita bicarakan. Ketiga, ketika itu semua dikerjakan, ya harus kita kontrol.

Saya selalu mencoba berkomunikasi dengan semua pihak. Dan, untuk kultur Indonesia, orang melakukan sesuatu karena melihat contoh. Makanya saya mencoba memberikan contoh bahwa apa yang saya ucapkan adalah yang saya kerjakan.
Juga ada problem di kultur kita, yaitu agak enggan berkomunikasi. Saya mencoba sebisa mungkin berkomunikasi dengan seluruh elemen perusahaan, baik dengan direksi, komisaris, dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) lain, maupun dengan karyawan.

Yang paling simple itu harus bangun satu kultur. Kultur yang saya bawa misalnya jangan enggan untuk berterima kasih, jangan susah meminta maaf, harus senang melihat orang lain senang, ikut susah kalau lihat orang lain susah. Ini kan menjadi suatu kultur. Saya menyebutnya ini professional intimacy (keintiman profesional).

Apa saja tantangan memimpin Pelindo II?
Tentu ekspektasi stakeholders kepada kami tinggi karena industri pelabuhan ini berkaitan langsung dengan banyak sekali aktivitas perekonomian. Tantangannya saat ini adalah bagaimana melakukan percepatan peningkatan kualitas pelabuhan dan membangun pelabuhan itu sendiri di berbagai tempat.

Karena tidak seluruhnya dalam kontrol kami maka kami harus berkoordinasi dengan banyak pihak, termasuk daerah dan pihak-pihak lainnya. Tapi saya percaya kalau ini dikomunikasikan dengan baik akhirnya tantangan itu bisa diatasi.

Filosofi hidup Anda?
Do the best, never give up, and flow. Jadi, selalu lakukan yang terbaik, jangan pernah menyerah, dan biarkan mengalir.

Hampir semua orang tahu bahwa Anda adalah pemusik, bisa diceritakan mengenai hal itu?
Saya senang bermain musik untuk menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri. Musik itu membuat kita lebih punya rasa, bisa berempati kepada orang, bisa lebih merasakan. Musik juga merupakan alat mengekspresikan. Saya bermain musik sejak duduk di bangku SD. Untuk aliran musiknya, saya menyukai banyak aliran musik, seperti jaz.

 




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT