Prodjo Sunarjanto

Selalu Ada Jalan bagi yang Optimistis

Prodjo Sunarjanto. (ID/Emral Firdiansyah)

Oleh: Rahajeng KH / AB | Rabu, 23 Agustus 2017 | 15:53 WIB

Selalu optimistis dan jangan pernah putus asa. Pepatah ini mungkin terdengar klise dan biasa-biasa saja. Tetapi percayalah, selalu ada solusi bagi siapa pun yang selalu memelihara optimisme dan tak pernah patah arang saat menghadapi persoalan.

“Ada saja jalannya kalau kita optimistis. Jadi, jangan mudah menyerah, harus selalu optimistis,” kata Prodjo Sunarjanto di Jakarta, belum lama ini.

Tetapi optimisme saja tidak cukup. Selain optimisme dan sifat pantang menyerah, direktur utama PT Adi Sarana Armada Tbk (Assa Rent) ini menekankan pentingnya kerja keras dan kerja cerdas.

“Mencapai kesukseskan itu tidak hanya soal sekolah. Itu hanya 30 persen. Kemudian 20 persennya networking, sisanya hard and smart working,” ujar eksekutif kelahiran Malang, 30 November 1959 itu.

Dalam pengamatan Prodjo Sunarjanto, banyak sekali orang pandai, tetapi tidak berhasil. “Kita tidak perlu pintar, yang penting bisa pakai orang pintar. Orang pintar biasanya banyak berpikir, tetapi tidak ada aksinya karena tidak berani mengambil risiko,” tuturnya. Berikut wawancara dengannya.

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga mencapai posisi sekarang?
Sebelum di Assa Rent, awalnya saya bekerja di pabrik beras. Setelah lulus SMA, saya disuruh bekerja di pabrik beras milik teman bapak saya di Malang. Orangtua saya masih totok, jadi berpikirnya kalau mau sukses tidak harus sekolah. Waktu itu memang banyak pengusaha yang tidak sekolah, tetapi punya pabrik dan perusahaan lain.

Saya bekerja di sana dan itu menjadi dasar etos kerja saya. Semangatnya tinggi karena kerjanya dari pukul 07.00 sampai 23.00. Pekerjaannya macam-macam, dari mengangkut beras, menjahit karung beras, hingga mengirim beras. Saya hanya dibayar Rp 25.000 per bulan, itu tahun 1977-1978 . Tetapi uangnya tidak bisa dipakai buat apa-apa, karena setiap hari saya bekerja, Sabtu dan Minggu juga.

Uang yang terkumpul itulah yang menjadi modal saya untuk sekolah. Kebetulan teman saya dari Jakarta dan mengajak ke sana. Dia bilang, sayang sekali kalau saya yang lulusan Santo Yusuf, sekolah bagus di Malang, cuma bekerja di gudang. Saya pikir, benar juga. Kalau dihitung-hitung, sampai 10 tahun, ya hanya sebesar itu penghasilannya.

Saya kemudian ke Jakarta dan ikut ujian masuk universitas. Saya lulus di Universitas Indonesia (UI). Setelah lulus, baru saya bernegosiasi dengan bapak saya, siapa yang mau membiayai kuliah saya. Uang yang terkumpul selama setahun saya bekerja sudah dipakai untuk ke Jakarta.

Waktu itu biaya kuliah di UI murah, satu semester hanya Rp 15.000. Tetapi kan untuk biaya hidup juga harus ada. Kemudian saya bernegosiasi dengan Bapak saya. Kesepakatannya, saya dibiayai selama tiga tahun. Setelah itu harus cari sendiri. Makanya saya berusaha terus bagaimana supaya bisa dapat uang, mulai jadi guru les, hingga usaha lainnya.

Saya sadar harus bekerja keras. Kemudian karena nilai saya bagus, saya dijadikan asisten dosen. Setelah itu saya bekerja di kantor akuntan. Tetapi sama, gajinya hanya Rp 100.000 per bulan. Setahun kemudian saya berpikir bagaimana caranya supaya bisa beli mobil dan punya rumah.

Setelah itu saya bekerja di perusahaan kertas, selama lima tahun. Saya mendapatkan pengalaman bagus, karena perusahaan itu masih belum rapi strukturnya. Menurut saya, itu justru baik untuk belajar. Banyak sekali yang harus diperbaiki. Inilah yang memberikan pengalaman.

Saya harus bisa jadi pengacara, akuntan, pemasaran, semua saya jalani. Kalau di perusahaan yang sudah rapi, ya tidak dapat ilmu karena sudah terstruktur dengan baik. Jadi, mengerjakan pekerjaan yang bukan bidangnya, saya harus mau. Saya tetap membantu karena ingin belajar. Setelah itu saya pindah ke Murdaya (Murdaya Group). Waktu itu belum ada holding-nya, kami pun membentuk holding-nya. Itu lebih gila lagi kerjanya, mulai pukul 08.00 sampai 02.00 (dini hari).

Saya sudah menjadi direktur ketika berumur 27 tahun, pegang pabrik sepatu Nike dengan karyawan 14.000 orang.
Setelah dari Murdaya, saya dipanggil untuk membantu bisnis rental di Astra International. Kemudian didirikan Trac pada 1991. Saya di Astra selama 20 tahun persis dan bekerja di berbagai bidang juga.

Di rental pernah, di properti pernah, kemudian Malindo, Koperasi Astra, Mitra Ventura, semua saya kerjakan, jadinya multitasking. Kenapa saya bisa mengerjakan, karena latar belakangnya, waktu bekerja di dua grup sebelumnya sudah biasa kerja serabutan dan sudah ditempa.

Maka, ketika masuk Astra jadi gampang karena perusahaannya sudah terstruktur. Waktu itu, saya sudah berumur 30-an dan sudah tahu bahwa sudah berumur segitu tidak bisa lagi bekerja serabutan.

Saya masuk Assa Rent pada 2010. Sebelumnya saya CEO (chief executive offficer) Auto2000. Tetapi sejak 2007 saya sudah membantu mengatur pembentukan Assa Rent dan ikut investasi di dalamnya.

Hal penting apa yang menjadi pegangan Anda, terutama dalam memimpin Assa Rent?
Saya menyadari bahwa proses pembelajaran itu berlangsung waktu masih muda. Jadi, memang harus kerja keras dan mau mengerjakan hal-hal di luar pekerjaan kita. Pertama, saya bisa mendapatkan jaringan yang bagus. Kedua, pengalaman dan pengetahuan hanya diperoleh bila Anda mau mengerjakannya.

Kalau saya tidak mau mengerjakan hal lain, di pabrik sepatu saya hanya akan mengerjakan sepatu dan hanya tahu soal itu saja. Semakin lama akan semakin dangkal. Itu yang membedakan saya dengan orang lain.

Ketiga, saya selalu berkumpul dengan orang yang lebih tua. Kenapa? Karena dengan yang lebih senior, saya bisa belajar bagaimana mereka bisa sukses sekaligus memperkuat jaringan.

Itu yang saya pelajari, networking. Kalau sudah pensiun mau bisnis apa, kan nanti kita yang dicari oleh mereka. Yang penting punya ketulusan juga, saat membantu orang jangan ada pamrih. Makanya, teman-teman yang sudah senior kalau ada pekerjaan itu mengajak saya.

Seperti apa Anda melihat Assa Rent?
Kebetulan pemiliknya Pak Teddy Rachmat (Theodore Permadi Rachmat) yang memiliki jiwa entrepreneurship tinggi, humble, dan berintegritas tinggi. Di sini integritas penting. Karena itu, saya merasa cocok. Beliau selalu ingin meningkatkan kesejahteraan karyawannya, sehingga tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga banyak orang.

Makanya saya langsung cocok bekerja di sini. Seseorang bisa cocok bekerja sama dengan orang kalau ada chemistry. Tidak gampang mencari perusahan dan karyawan yang bagus, karena mereka belum tentu bisa klop. Ada perusahaan yang karyawannya bagus, tetapi perusahan tidak keruan atau perusahan bagus dapat karyawan yang integritasnya tidak bagus.

Pak Rachmat itu berbeda, dia selalu ingin mendorong orang untuk berkembang. Jadi, kita ditantang bagaimana bisa berkembang, mengembangkan lagi. Kalau dilakukan review, yang ditanya bukan bagaimana hasilnya, tetapi kapan mau menambah pertumbuhannya. Itu yang membuat semangat kita bertambah.

Poin penting apa yang bisa dipelajari untuk memimpin perusahaan?
Itu yang membuat kita perlu mentor. Saya pikir, setiap perusahaan membutuhkan mentor untuk menyiapkan pemimpin yang berani mengambil keputusan dan memiliki visi ke depan. Yang penting, tidak takut mengambil keputusan. Banyak manajer dan direkturnya mampu, tetapi tidak berani mengambil keputusan karena takut pemiliknya marah atau rugi.

Kalau di Assa Rent, rugi itu ibarat uang sekolah. Yang penting kerjanya semangat, sehingga bukan hanya melihat target, target, dan target. Yang penting prosesnya, seperti menonton bola, bukan cuma skor akhirnya yang penting, tetapi proses bagaimana bola itu menuju gawang. Kalau selalu target dan target, nanti malah dimanipulasi. Kita tidak suka yang begitu. Prosesnya yang penting benar, nanti tujuannya pasti sampai.

Gaya kepemimpinan seperti apa yang Anda terapkan?
Saya menerapkan lebih seperti keluarga besar, karena struktur organisasinya juga tidak terlalu tinggi. Di generasi milenial sekarang tidak ada struktur organisasi yang tinggi-tinggi. Komunikasi sudah semuanya melalui online dan email. Banyak struktur yang dipotong. Kalau karyawan mau bertemu direksi gampang sekali, sehingga hubungan dengan karyawan menjadi dekat.

Cara Anda mengatasi konflik?
Ada jalurnya, diselesaikan dengan tim. Kalau tidak selesai, baru ke tingkatan selanjutnya. Kalau di sini, yang dijaga adalah integritas. Banyak perusahaan jatuh karena integritasnya tidak bagus. Kalau pemimpinnya sudah tidak bersih, pasti rusak sampai ke bawah.

Integritas nomor satu. Kalau tidak punya integritas, ia sudah tidak bisa memimpin. Karyawan juga begitu, kalau mau apa, ngomong saja. Kalau karyawan di satu divisi tidak cocok, ia dipindahkan ke divisi lain atau keluar dicarikan tempat. Sebab, mungkin tidak ada chemistry, tetapi di luar mungkin cocok.

Tantangan Anda di Assa Rent?
Assa Rent adalah perusahaannya yang pertumbuhannya cepat. Tantangan yang paling susah adalah menciptakan kader pemimpin. Kan tidak bisa dikarbit, prosesnya juga banyak. Kemampuan, integritas, kedewasaan, dan mampu mengambil keputusan. Harus diasah dulu sebelum menjadi pemimpin. Ini yang sulit.

Target Assa Rent ke depan?
Perusahaan ini kan organisasi yang makin besar, harus ada tempat untuk orang-orangnya. Maka, kami harus membuat jenis usaha atau perusahaan baru, ekspansi dengan pengembangan cabang. Kalau tidak demikian, perusahaan akan mandek. Kami mengutamakan kualitas pelayanan. Kalau kualitas pelayanan bagus, profit akan datang sendiri.

Lini bisnis yang dikembangkan?
Saat ini bisnis Assa Rent yang paling besar adalah rental. Saya yakin lini bisnis ini selalu ada pasarnya. Kami memiliki empat lini bisnis di bidang transportasi, mulai sewa mobil penumpang, jasa logistik, penjualan kendaraan bekas atau lelang mobil, dan jasa sewa driver management service.

Misalnya sekarang logistik harus lebih berkembang, kita harus berpikir value chain-nya apa lagi, apakah sampai gudang atau bagaimana. Itu sedang kami pikirkan. Kami juga ditawari masuk bisnis Transjakarta, tetapi sedang kami pelajari dahulu.

Tidak gampang masuk bisnis Transjakarta, karena pool-nya mau di mana? Begitu banyak mobilnya. Satu trayek bisa 150 bus, service level agreement nantinya seperti apa? Kalau tidak bisa mengatasi dan pelayanannya nanti tidak memenuhi standar, kami tidak berani.

Apalagi investasinya besar, satu bus sekitar Rp 3 miliar. Kalau 150 bus, berarti butuh investasi Rp 450 miliar, belum pool-nya. Intinya, kalau tidak bisa memberikan service level agreement yang sesuai standar, baik keamanan maupun kenyamanannya, kami kita tidak berani.

Strategi Anda ke depan?
Kami harus mengetahui mana bisnis yang bisa dimasuki, mana yang tidak. Misalnya kami pernah terjun di bisnis perkebunan dan pertambangan empat tahun lalu, tetapi kami merasa tidak berkembang, sehingga kami berhenti. Kami harus mengerti bisnis mana yang potensial dan mana yang tidak.

Apa kiat sukses Anda?
Tidak pernah putus asa. Tidak boleh putus asa, harus selalu optimistis. Misalnya ketika saya mencari tanah untuk pool, kalau saya bilang susah dan menyerah lebih dulu, pasti tidak akan ketemu. Tetapi saya berhasil mendapatkan tempat yang bagus karena saya optimistis.

Saya dapat pool seluas 2,7 hektare di Kelapa Gading pada 2008. Waktu itu susah sekali mendapatkan tanah seluas itu di sana. Tetapi karena ketika mencarinya saya optimistis, ada saja jalannya. Orang sukses itu tidak hanya soal sekolah, itu hanya 30 persen. Kemudian 20 persen jaringan, sisanya hard and smart working.

Banyak sekali yang sekolah pintar tetapi tidak berhasil. Kita tidak perlu pintar, yang penting bisa pakai orang pintar. Yang penting kan itu. Orang pintar biasanya kebanyakan mikir, tetapi tidak ada aksinya. Saya termasuk orang yang berani mengambil risiko.

Obsesi Anda yang belum tercapai?
Masih ada karena bagi saya, sukses itu kalau bisa membuat orang lain sukses. Ini yang belum tercapai. Saya banyak menciptakan bekas bawahan saya menjadi direktur. Itu saya senang karena semakin banyak bisa menghasilkan manusia berkualitas. Bukan hanya jabatan yang penting, tetapi juga memiliki kualitas hidup yang baik. Saya senang kalau di Assa Rent bisa membuat lingkungan kerja yang menyenangkan.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT