Sumit Dutta

Menantang Diri Sendiri

Sumit Dutta. (Istimewa)

Oleh: Happy Amanda Amalia / AB | Kamis, 31 Agustus 2017 | 16:16 WIB

Sering berpindah tempat karena pekerjaan memang menyenangkan karena bisa menikmati suasana baru, belajar hal baru, dan memproleh tantangan baru. Hal itu pula yang dirasakan Sumit Dutta, presiden direktur PT HSBC Indonesia.

Pria asal India ini sudah dua dekade lebih bekerja di HSBC. Ia bertahan selama itu karena HSBC selalu memberikan kesempatan untuk melakukan hal-hal yang sangat disukainya, termasuk mengunjungi negara-negara yang indah. Ia juga bisa menciptakan pertemanan yang baik di negara-negara yang dikunjunginya.

Tetapi Sumit sejatinya adalah eksekutif yang haus tantangan dan pantang mundur dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Salah satu filosofi dan nilai-nilai profesionalisme yang ia junjung tinggi adalah selalu memberikan yang terbaik.

“Setiap orang punya kemampuan berbeda. Untuk mengetahui kemampuan itu, Anda harus menantang diri sendiri sekuat, sejauh, dan semaksimal mungkin. Jadi, berikan yang terbaik,” ujar Sumit Dutta di Jakarta, baru-baru ini. Berikut wawancara dengannya.

Kapan Anda bergabung dengan HSBC Indonesia dan apa kesan pertama Anda tentang Jakarta?
Saya bekerja di HSBC Indonesia selama tiga tahun, sejak 4 Agustus 2014. Kesan pertama saya sangat baik. Saat pertama kali datang ke Jakarta, saya merasa sangat terkesan karena ini adalah kota yang terus berkembang. Seingat saya, saat itu datang ke Jakarta saat akhir pekan. Jadi, saya tidak merasakan macet. Ha, ha, ha...

Saya juga mengunjungi Yogyakarta untuk mengikuti pelatihan bahasa Indonesia. Yogyakarta benar-benar kota yang sangat berbeda dengan Jakarta. Yogyakarta adalah kota yang sangat simple, kota kecil yang banyak mengingatkan saya kepada kampung halaman di India. Penduduknya juga sederhana, baik, ramah, dan jujur.

Saya kira Indonesia sudah seperti rumah saya sendiri. Negeri ini langsung dengan mudah menjadi rumah kedua saya, bahkan saya tidak harus mengubah perilaku saya seperti saat berkunjung ke luar negeri, di mana kita harus mengikuti cara hidup warganya. Kebudayaan di Indonesia sama saja dengan di India.

Cerita Anda bergabung dengan HSBC?
Saya sudah di HSBC selama lebih dari 20 tahun, sejak 1994. Sebelum di HSBC, saya sempat bekerja di bank lain dalam waktu singkat karena saat itu saya merasa bosan dengan pekerjaan saya di bank. Kemudian saya beralih menjadi wartawan freelance olahraga dan ingin terjun lebih dalam ke dunia jurnalistik. Tetapi kemudian HSBC datang dan memberikan penawaran kerja kepada saya.

Apa yang membuat Anda betah?
Waktu pertama kali bergabung dengan HSBC, saya tidak punya rencana untuk terus bekerja di bank ini. Bahkan waktu itu saya bilang akan mencobanya. Kalau suka, saya bertahan. Tetapi ternyata sangat sulit meninggalkan HSBC karena bank ini sudah membuka banyak kesempatan yang tadinya hanya bisa saya impikan.

Awalnya saya bergabung dengan HSBC di India selama beberapa tahun, kemudian pada 1999-2000-an mulai booming bisnis e-commerce dan internet. Saya sangat ingin melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan digital atau online.

Kemudian HSBC memberikan saya kesempatan menciptakan internet banking platform di Hong Kong. Saya pun berangkat ke Hong Kong. Saat itu HSBC membentuk tiga tim global, yakni dari Hong Kong, London, dan New York, untuk membangun aplikasi global.

Bagi saya, ini kesempatan yang baik karena saya ingin sekali melakukan segala hal yang sangat saya sukai. Saya ingin belajar dan mengenal internet, kemudian mempelajari bagaimana memasukkan aplikasi online banking ke dalam internet.

Beberapa tahun kemudian, HSBC membeli Household Bank di Amerika Serikat (AS) dan menerima banyak lulusan PhD matematika untuk menyiapkan model bisnis perilaku nasabah. Saya pun tertarik mempelajarinya dan lagi-lagi HSBC memberikan saya kesempatan.

Setelah tugas saya selesai di Hong Kong, saya pindah ke HSBC AS untuk bekerja dan belajar model bisnis perbankan secara detail yang mengajari saya cara-cara memprediksi perilaku nasabah. Jadi, saya selalu diberi kesempatan memasuki dunia baru, negara baru, tugas baru, dan tanggung jawab baru.

Hambatan Anda saat pertama memimpin HSBC Indonesia?
Yang pasti harus siap menyesuaikan diri. Ketika berpindah dari negara satu ke negara lain, bisa saja terjadi gegar budaya. Masing-masing negara itu spesial, punya sesuatu yang bisa ditawarkan. Selama saya punya positive attitude dan mencari tahu apa yang ditawarkan negara itu daripada mencari apa yang tidak ditawarkan negara itu, saya akan lebih mudah menjalaninya.

Tidak ada negara yang membuat saya kesulitan beradaptasi. Tetapi negara yang paling mudah bagi saya untuk beradaptasi adalah Indonesia. Awalnya yang saya sadari saat datang ke Indonesia adalah masalah bahasa. Tetapi seiring waktu berjalan, saya bisa lebih mudah memahami apa yang dikatakan orang-orang. Saya bisa mengeskpresikan pemikiran saya menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris untuk menyampaikannya.

Menurut saya, itu karena antara India dan Indonesia ada rasa kebudayaan bersama, nilai-nilai bersama dalam pergaulan, terlepas adanya kisah populer Mahabrata, Ramayana, dan lainnya. Di Indonesia, saya merasakan ada hubungan dalam kekeluargaan dan nilai-nilai.

Anda tipe pemimpin seperti apa?
Saya ingin menjadi pemimpin yang bisa dekat dengan para staf saya. Itu hal yang sangat penting dalam gaya kepemimpinan saya. Satu-satunya cara untuk menjalin hubungan dengan mereka adalah menghabiskan waktu dengan mereka. Saya juga menghabiskan waktu dengan dewan direksi, tetapi itu tetap belum cukup karena mereka lebih senior dan mereka akan menyampaikan apa saja yang mereka rasakan serta inginkan.

Tetapi saya ingin bisa menghabiskan waktu berbincang dengan staf junior yang setiap harinya benar-benar ada di depan, melakuan transaksi, dan berhadapan langsung dengan para nasabah. Dengan mendengar langsung dari mereka, saya lebih mudah memahami apa yang terjadi jika ada masalah.

Strategi Anda mengembangkan HSBC Indonesia?
Kami baru melakukan integrasi besar-besaran. Sebelumnya kami memiliki dua bank, yakni Bank Ekonomi dan kantor cabang HSBC. Sekarang bergabung menjadi PT Bank HSBC Indonesia dan menjadi jaringan besar dengan lebih dari 5.000 karyawan yang tersebar di 99 cabang dan 29 kota di seluruh Indonesia.

Kami sudah menjadi bank besar dan kami membuka cabang pertama di Indonesia 130 tahun yang lalu, yaitu pada 1884, dengan nama The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited, Cabang Indonesia (Kantor Cabang Bank Asing HSBC di Indonesia).

Dengan integrasi ini, kami memiliki platform, landasan untuk membangun bank yang lebih besar, yang artinya bisa menjangkau lebih banyak nasabah dan dapat berkontribusi lebih dalam pembangunan di Indonesa.

Bagaimana dukungan Pemerintah RI kepada bank-bank asing?
Dukungan Pemerintah Indonesia luar biasa. Mengingat ini pertama kalinya bank asing berintegrasi dengan perseroan terbatas (PT), maka dukungan yang kami peroleh dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), pemerintah, termasuk Kementerian Keuangan (Kemkeu), benar-benar luar biasa.

Integrasi agak rumit karena baru pertama kali terjadi. Tadinya HSBC hanya sebagai kantor cabang bank asing (KCBA) yang kemudian berintegrasi dengan PT. Itu belum pernah terjadi karena aturannya belum ada. Kalau PT dengan PT kan aturannya sudah jelas ada. Sedangkan KCBA dengan PT belum ada. Kami harus mengetuk pintu satu per satu untuk mencari tahu apakah yang kami lakukan ini sudah benar atau enggak. Ternyata pemerintah sangat mendukung.

HSBC Group mengakuisisi PT Bank Ekonomi Raharja (Bank Ekonomi) pada 2009. Integrasinya dimulai pada 2015, kemudian pada 2016 Bank Ekonomi berubah nama menjadi PT Bank HSBC Indonesia. Tepat pada 17 April 2017, Grup HSBC menggabungkan operasi Kantor Cabang Bank Asing HSBC di Indonesia dengan PT Bank HSBC Indonesia sebagai bank hasil integrasi.

Visi-misi HSBC Indonesia di bawah kepemimpinan Anda?
HSBC sangat beruntung dapat hadir di Indonesia karena negara ini akan maju dan berkembang lebih besar. Kami sangat ingin berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kami yakin Pak Jokowi (Presiden Joko Widodo) dan kabinetnya sedang mencoba membawa negara ini ke arah yang tepat. Kami sangat bangga dengan aksi-aksi kuat Pak Jokowi yang berusaha menumpas korupsi, melawan narkoba, dan memberantas praktik pencucian uang.

Pemerintah juga sedang fokus pada infrastruktur. Pak Jokowi sering bilang, lebih murah mengapalkan barang dari Shanghai ke Jakarta daripada dari Sulawesi atau Kalimantan ke Jakarta. Beliau menggunakan infrastruktur untuk menyatukan negara. Jika seluruh wilayah Indonesia terkoneksi, perekonomian akan lebih efisien, sehingga bisa tumbuh lebih pesat dan lebih akseleratif.

Langkah Pak Jokowi membuka Indonesia bagi investasi asing juga sangat tepat. Pak Jokowi bilang, membawa masuk investasi asing harus long terms sustainability investment. HSBC percaya, posisi kami yang unik untuk berkontribusi kepada pertumbuhan Indonesia adalah dengan membawa masuk investasi asing langsung (foreign direct investment//FDI) yang tepat ke Indonesia.

Tahun lalu, Chief Executive Officer (CEO) HSBC Group Stuart Gulliver bertemu Pak Jokowi di London dan dia sangat senang mendengar integrasi kami. HSBC sangat terdorong oleh arahan Pak Jokowi untuk menggerakkan Indonesia agar semakin kompetitif secara global. Kami percaya kami bisa ikut berkontribusi.

Rencana HSBC Indonesia ke depan?
Rencana kami selanjutnya setelah selesai integrasi adalah melakukan konsolidasi dan harus meningkatkan service offering produk-produk kami untuk para nasabah. Kami juga ingin membawa masuk produk-produk terbaru berkelas internasional serta menawarkan beragam produk dan layanan di bidang komersial, korporasi, perbankan ritel, dan wealth management.

Karena kami merupakan leader dalam wealth management secara global maka kami ingin membawakan produk-produk terbaik untuk Indonesia, sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak menjadikan Jakarta seperti pusat keuangan seperti di Singapura. Indonesia berkontribusi lebih dari 35 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) ASEAN. Oleh karena itu, mengapa Jakarta tidak dijadikan sebagai pusat finansial. HSBC bisa berkontribusi, misalnya dalam commercial banking dan corporate banking.

Hubungan Anda dengan keluarga?
Benar-benar susah karena akhirnya saya selalu pulang telat, sampai di rumah sudah larut malam. Tetapi sekarang fase sulit itu sudah saya lalui. Keluarga memiliki arti sangat penting bagi saya. Kami pindah dari negara ke negara bersama-sama, saling berbagi pengalaman di setiap kota yang kami datangi.

Siapa sosok yang menginspirasi Anda?
Jujur, sejak saya datang ke Indonesia, role model saya adalah Pak Jokowi. Dia punya prinsip-prinsip yang dipegang teguh, seperti blusukan dan kerelaan untuk melakukan itu. Sebagai pria paling sibuk di Indonesia, dia masih sempat berhubungan dengan warganya. Itu hal yang luar biasa.

Saya pribadi juga tidak suka cuma berdiam diri di dalam ruangan. Saya senang pergi ke luar dan kalau saya berpikir saya terlalu sibuk, saya akan ingat kembali kepada Pak Jokowi. Dia saja bisa, saya juga harus bisa.

Saya pun menyukai keterbukaannya dan aksesibilitas yang diberikannya. Dia adalah orang yang sangat terbuka dan sungguh-sungguh ingin Indonesia maju. Dia pun tetap rendah hati.

Apa filosofi hidup Anda?
Pertanyaan yang susah. Tetapi ada tiga hal yang saya pegang. Pertama, berikan yang terbaik. Setiap orang punya kemampuan berbeda. Untuk mengukur kemampuan itu, Anda harus menantang diri Anda sendiri sekuat dan sejauh mungkin, semaksimal mungkin.

Kedua, selalu rendah hati. Ini salah satu pesan dari orangtua saya supaya dalam kehidupan ini saya selalu bersikap rendah hati dan bersyukur kepada Tuhan tentang apa yang telah saya dapatkan. Seberapa baik yang Anda lakukan dalam kehidupan tergantung banyak hal, salah satunya adalah keberuntungan dan keadaan sekitar. Biasanya orang-orang yang melakukan hal terbaik akan mendapatkan kesempatan.

Ketiga adalah berbagi. Salah satu hal yang sangat saya sukai dari orang-orang Indonesia adalah berbagi. Negara ini memperlihatkan orang-orang yang gemar berbagi, membantu mereka yang kurang beruntung. Semangat dan jiwa sosial di kalangan anak muda di sini juga selalu membesarkan harapan saya.

Cara Anda bangkit dari kegagalan?
Lakukan yang terbaik. Kalau sudah melakukan yang terbaik tapi tetap gagal, ya sudah, diterima saja, karena kegagalan juga bagian dari kehidupan. Kalau saya gagal karena belum mencoba, itu akan lebih sulit menerimanya. Kalau sudah berupaya keras tetapi belum berhasil, tidak apa-apa karena saya sudah melakukan yang terbaik dan setidaknya sudah mencobanya, and be happy dengan kegagalan itu.

Bagaimana Anda memandang hidup ini?
Positif. Tidak sulit untuk selalu berpikir positif. Tetapi tergantung pada apa yang ingin Anda lihat, apakah Anda ingin melihat hal-hal baik pada orang atau hal buruk? Sebab, setiap orang dan setiap situasi selalu ada hal baik dan hal buruknya. Saya bisa saja selalu melihat hal buruk kalau memang itu yang ingin saya lihat.

 




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT