Erwin Z Achir

Bekerja Keras dan Tetap Berdoa

Erwin Z Achir. (Istimewa)

Oleh: Emanuel Kure / AB | Kamis, 14 September 2017 | 13:18 WIB

“Anda boleh bekerja sekeras, segigih, dan sekuat apa pun. Tetapi percayalah, Anda harus tetap berdoa dan memasrahkan hasilnya kepada Yang Maha Khalik. Sebab, Dia-lah yang menentukan sukses atau gagalnya pekerjaan kita.”

Pesan itu bukan keluar dari seorang ustaz, pendeta, atau pastor, melainkan dari seorang Erwin Z Achir, presiden direktur PT Teradata Indonesia. Mungkin terdengar kuno. Tetapi nilai-nilai inilah yang diyakini, dialami, dan dipraktikkan orang nomor satu di perusahaan teknologi informasi (TI) global berbasis di Amerika Serikat (AS) tersebut.

“Memang itu yang saya lakukan dan saya percaya. Hasilnya saya rasakan juga. Kiat saya ya berdoa dan bekerja keras. Saya percaya, Anda boleh jorjoran bekerja, tetapi harus tetap berdoa dan mengembalikannya kepada Yang di Atas. Sebab, Dia-lah yang mengambil keputusan,” ujar Erwin Achir di Jakarta, baru-baru ini.

Karena alasan itu pula, sebelum memulai pekerjaan, setiap pagi, Erwin Achir selalu berdoa meminta kepada Yang Maha Kuasa.

“Saya berdoa, bila semua hal ini baik bagi saya dan bagi perusahaan saya maka permudahkanlah jalan saya. Kalau memang ini tidak baik bagi saya, saya mohon berikan saya yang lebih baik lagi,” tutur pria kelahiran Jakarta, 11 April 1959 itu.

Erwin juga sangat mengutamakan integritas. Bagi eksekutif ini, integritas, terutama kejujuran, merupakan kunci paling penting untuk memajukan perusahaan. Lalu, apa strategi Erwin dalam mengembangkan Teradata Indonesia? Apa targetnya untuk perusahaan yang fokus menangani solusi analitis, consulting, dan solusi cloud tersebut? Berikut wawancara dengannya:

Bisa cerita perjalanan karier Anda?
Latar belakang saya adalah ekonomi. Saya kuliah di Universitas Pancasila, Jakarta. Saya mulai bekerja pada 1982. Basic saya di industri sudah 35 tahun. Pada 1982 saya bergabung dengan Soedarpo Corporation, local company yang bergerak di bidang teknologi informasi (TI).

Saya mulai bekerja sebagai programmer analyst (coding). Karena bekerja sama dengan Itochu Company yang berasal dari Jepang maka pada 1988-1990 saya ke Jepang, bekerja di sana. Sesudah itu, saya kembali ke Indonesia, memegang bagian sales. Yang tadinya di engineer, kemudian saya memegang sales Soedarpo Corporation sampai 1995.

Pada 1995 itu, saya kemudian bergabung dengan perusahaan Grup Astra. Astra itu a great company. Di Astra, saya di anak perusahaan, PT Astra Graphia Tbk. Saya fokus ke produk-produk digital equipment corporation.

Di Astra, saya sempat menjadi managing director Astra Graphia Myanmar. Jadi, saya ke Myanmar. Cuma, saya enggak lama di sana, karena ada krisis moneter 1998. Saya pulang, lalu pindah ke Compaq, perusahaan yang juga bergerak di bidang TI. Saya fokus di enterprise business Compaq. Setelah itu saya sempat ke HP, perusahaan TI lainnya.

Pada 2009, saya rasa sudah cukup dan ingin istirahat sejenak. Namun, tiba-tiba, Teradata menghubungi saya karena mau buka kantor perwakilan di Indonesia. Akhirnya saya di-interview di Australia.

Saya putuskan untuk bergabung dengan Teradata karena perusahaan ini berkomitmen untuk mengembangkan pasar Indonesia, termasuk komitmen untuk membangun sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Jadi, saya bangun Teradata di Indonesia mulai dari nol, hingga seperti saat ini.

Anda berlatar belakang pendidikan ekonomi, kenapa bisa masuk bidang TI?
Itu pertanyaan yang selalu ditanyakan kepada saya. Orang ekonomi kok ke TI? Sebetulnya banyak juga insinyur kimia yang masuk TI. Sebab, TI itu bukan sesuatu yang sulit dipelajari. Saya enggak melihat itu sebagai halangan. Saya melihatnya sebagai kombinasi ekonomi, bagaimana melakukan penetrasi pasar, bagaimana membangun strategi dan sebagainya. Jadi, saya tidak mengalami kesulitan di situ.

Apa kiat Anda sehingga sukses bekerja di berbagai perusahaan besar?
Mungkin klasik, ya? Tetapi memang itu yang saya lakukan dan saya percaya. Hasilnya saya rasakan juga. Berdoa dan bekerja keras, itu kiat saya. Saya percaya, Anda boleh jorjoran bekerja, tetapi harus tetap berdoa dan memberikan kembali kepada Yang di Atas. Sebab, Dia-lah yang mengambil keputusan.

Setiap pagi, sebelum memulai pekerjaan, saya selalu berdoa, meminta kepada Allah SWT bahwa bila semua hal ini baik bagi saya dan bagi perusahaan saya, maka permudahkanlah jalan saya. Kalau memang ini tidak baik bagi saya maka saya mohon berikan saya yang lebih baik lagi. Hal ini pun selalu saya katakan kepada tim saya. Dengan berdoa, saya percaya sepenuhnya bahwa kita akan melakukan segala sesuatu di jalan Dia.

Strategi Anda untuk memajukan perusahaan?
Strategi saya adalah kami harus siap dengan segala perubahaan, sebab yang konstan adalah perubahan itu sendiri. Dahulu, orang berbicara harus memiliki sistem sendiri di tempatnya, sekarang orang bicara mengenai cloud (komputasi awan).

Kebetulan Teradata ini adalah world leading data analytic. Sejak lahir pada 1979, kami memang hanya fokus pada data. Saat orang bicara tentang big data, ini bukan hal baru bagi kami. Yang membedakan dengan yang dahulu hanya karena saat ini teknologi semakin maju.

Jadi, strategi saya sih, selalu siap dengan perubahan dan menyiapkan SDM. Kenapa saya katakan SDM, karena tanpa memiliki SDM dengan kualitas baik, sulit bagi kami untuk berkembang. Makanya, kami harus konsisten dalam pendidikan. Jangan sedikit-sedikit kita panggil orang dari Amerika Serikat (AS), dari mana-mana. Mari bangun kualitas SDM kita.

Gebrakan paling spektakuler selama Anda berkarier?
Saya enggak mau bilang spektakuler karena setiap momen ada artinya bagi hidup saya. Tetapi yang terakhir ini, di Teradata, saya anggap sukses. Orang-orang itu kan awalnya bertanya, kenapa sih data? Tetapi hari ini data adalah aset yang sangat penting bagi setiap perusahaan atau organisasi.

Saya selalu katakan, perusahaan yang berhasil ke depan adalah perusahaan yang bisa memanfaatkan data. Data adalah aset. Selama ini orang belum memanfaatkan data secara baik. Anda harus tahu persis, ketika orang datang ke bank, apa sih yang paling dibutuhkan orang tersebut? Profilnya harus benar-benar Anda kenal.

Saya rasa kami cukup berhasil karena solusi kami sudah dipakai di dua dari tiga besar operator telekomunikasi di Indonesia. Solusi kami juga dipakai di tiga bank besar dari empat bank besar di Indonesia, yaitu Bank Mandiri, BCA, BNI, dan juga akan ada BRI. Kami pun dipercaya Ditjen Pajak untuk memberikan solusi kepada mereka. Saya menganggap, saya bisa membangun bisnis buat Teradata di Indonesia.

Filosofi hidup Anda?
Jujur, terbuka, dan berdoa. Terbuka, dalam arti saya menanamkan sikap dalam organisasi saya, sehingga orang-orang atau tim saya bisa dapat langsung berkomunikasi dengan saya.

Obsesi Anda yang belum tercapai?
Yang jelas, saya ingin terus meningkatkan hubungan saya dengan sesama manusia dan juga dengan Allah. Saya masih suka telat salat. Itu kadang-kadang membuat saya sedih, kok saya masih begini aja. Padahal begitu banyak rahmat yang saya dapatkan dari Allah dalam kehidupan saya, kok saya belum bisa memberikan lebih pengabdian saya sebagai Muslim.

Harapan Anda bagi Teradata di Indonesia?
Harapan saya adalah membantu perusahaan-perusahaan Indonesia dalam memanfaatkan data yang ada untuk berkompetisi ke depan. Harus memanfaatkan e-commerce, karena e-commerce itu kan kompetisinya ada di dunia maya.

Itulah kekuatan Teradata untuk ikut memberikan sumbangsih. Tentunya di sisi lain, saya berharap bisa mendidik orang-orang yang berkualitas melalui Teradata Indonesia, sehingga bisa menyiapkan SDM Indonesia untuk berkompetisi melalui pemanfaatan data.

Bagaimana Anda menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan berkeluarga?
Saat di rumah, saya tutup hal-hal yang berkaitan dengan kantor. Saya fokus pada anak, istri, dan keluarga. Saya bersyukur dengan segala keterbatasan dan rezeki yang diberikan Allah, saya memiliki keluarga yang sangat mendukung karier saya. Saya memiliki seorang putri yang begitu patuh pada orangtuanya. Saat di rumah, memang enggak gampang meninggalkan semua hal di kantor, tetapi saya menjalani apa adanya.

Peranan keluarga dalam karier Anda?
Sangat dominan. Istri saya sangat mendukung. Istri saya secara pendidikan memang jauh di atas saya, karena dia lulusan salah satu sekoah di AS, tetapi dia sangat fokus mendukung kehidupan saya. Sangat seimbang, karena ketika saya menekan "gas", dia menekan "rem". Istri saya dan putri saya adalah dua perempuan yang selalu saya syukuri dalam setiap salat saya. Itu adalah harta yang demikian berharga bagi saya. Kekayaan yang diberikan Allah adalah dua orang ini, istri dan putri saya.

 




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT