Michael Hutagaol

Tak Ada yang Sulit jika Bersama-sama

Michael Hutagaol. (Istimewa)

Oleh: Euis Rita Hartati / AB | Senin, 23 Oktober 2017 | 13:51 WIB

Bisnis di sektor minyak dan gas (migas), baik langsung maupun tidak langsung, terkesan eksklusif dan menggiurkan. Padahal di dalamnya begitu banyak hambatan dan tantangan yang bersifat teknis maupun nonteknis.

Bergelut cukup lama di bidang pendukung (supporting) kegiatan bisnis migas hingga akhirnya mendirikan perusahaan sendiri di bidang yang sama membuat Direktur Utama PT Rexaudia Sasada Sentosa Michael Hutagaol memahami banyak hal tentang bisnis tersebut.

Salah satu hal paling vital yang diyakini Michael Hutagaol adalah pentingnya kerja sama tim yang kuat dan solid. Ia sadar kesuksesan bisnis di bidang tersebut sangat ditentukan oleh dukungan teamwork (kerja sama tim) yang andal.

“Bagi saya, yang utama adalah teamwork karena saya tidak bisa bekerja secara individu. Apa pun pekerjaannya, sesulit apa pun masalahnya, jika dikerjakan bersama-sama pasti lebih mudah. Memang perlu juga skill masing-masing personel, tetapi kuncinya tetap ada di teamwork,” ujarnya.

Mengapa Michael terjun ke bidang supporting bisnis migas? Bagaimana ia mengatasi setiap kendala yang muncul? Benarkah kunci bisnis ada di teamwork? Berikut penuturan lengkap pria kelahiran Jakarta, 5 November 1974 itu.

Bagaimana awal Anda terjun ke bisnis ini?
Saya mengawali karier sebagai salesman untuk peralatan atau tools di sektor migas pada 1996. Nama perusahaannya PT Kawan Lama Sejahtera. Saya bekerja sampai tahun 2000. Kemudian saya beralih ke perusahaan bernama Flow Level Engineering yang bergerak di bidang peralatan instrumen flow metering system. Saya bergabung sampai 2004.

Lalu, saya bergabung dengan perusahaan sejenis lainnya, menangani project engineer, sampai akhirnya dipercaya menjadi marketing untuk memasarkan produk-produk instrumen tersebut. Pada 2011 saya mengundurkan diri. Selanjutnya selama kurang lebih dua tahun, saya set up company dari mulai nol.

Awalnya tidak ada produk, sampai akhirnya saya dipercaya pada 2013 bersama rekan saya Pak Amir Manurung, untuk memegang produk milik Krohne Oil and Gas. Produk ini khusus untuk mendukung kegiatan di sektor migas, mulai dari metering, multiphase meter, hingga berbagai kebutuhan software maupun hardware-nya. Sampai saat ini masih berlangsung.

Proyek yang sudah tangani apa saja?
Proyek paling besar yang kami pegang adalah milik Petronas untuk lapangan Bukit Tua Ketapang. Lalu, kami masuk di sektor hilir juga, yakni pada proyek milik Pertagas yang bekerja sama dengan PT PLN (PT Pertadaya Gas) untuk menyuplai metering dan peaker system di pembangkit listrik. Kami pun menyuplai kebutuhan Pertamina EP di Bunyu.

Selain itu, kami suplai perusahaan swasta, seperti Stargas, gas distribution di Batam. Kami juga menyuplai proyek PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) untuk pipa gas jalur Sumatera-Jawa (SSWJ), proyek milik Conoco Philips di lepas pantai (offshore), PT Energi Mega Persada, dan perusahaan lainnya.

Kami memiliki teknologi yang saat ini memang belum banyak digunakan. Itu karena masalah harga minyak yang masih rendah, sehingga daya investasi para investor juga kecil.

Perbedaan mendasar yang Anda alami dari beberapa kali berpindah pekerjaan?
Pastinya ada, misalnya dari perusahaan Jepang ke perusahaan Eropa. Iklim bekerjanya juga beda. Tetapi dari semua itu, benang merahnya sama, yang terpenting adalah berapa penjualan (sales) yang bisa didapat. Mau perusahaan apa pun dengan teori apa pun, intinya adalah berapa sales yang bisa diraih.

Seberapa besar pengaruh harga minyak terhadap bisnis Anda?
Ya, tentu berdampak sangat besar. Teknologi yang kami miliki mungkin akan sangat membantu investor untuk melakukan kegiatan operasional, karena ini bisa mengurangi belanja modal (capital expenditure/capex) dan operational expenditure (opex).

Penggunaan teknologi seperti multiphase meter juga sangat membantu dari sisi lingkungan karena sangat ramah lingkungan, selain lebih safety dan healthy karena memakai sinar gamma (adanya isotop nuklir).

Krohne membawa teknologi yang luar biasa untuk perkembangan di sektor migas. Karena lebih canggih maka terkesan lebih mahal. Namun, dengan turunnya harga minyak dunia, banyak perusahaan migas yang mengerem kegiatannya.

Mungkin penurunannya sekitar 60 persen jika dibandingkan selama dua tahun terakhir. Banyak proyek skala besar ditunda sampai waktu yang belum ditentukan.

Sampai kapan kondisi ini akan berlangsung?
Penyebab utama lesunya bisnis migas adalah turunnya harga minyak dunia. Fenomena ini terjadi secara global. Ada yang menarik. Sampai-sampai ada joke bahwa saat harga minyak tinggi, konon para investor tidak melakukan perhitungan yang sangat detail karena break even point (BEP) mereka lebih cepat.

Kalau dahulu ketelitian perhitungan misalnya 50 persen, sekarang lebih dari 100 persen. Mungkin sebenarnya tidak seperti itu. Artinya, kondisi harga minyak yang rendah ini membuat mereka sangat berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
Menurut para investor, kalau harga minyak di bawah US$ 50 per barel, mereka lebih baik pasif, tidak ada kegiatan investasi baru. Kita berdoa saja semoga harga minyak kembali menguat agar investasi migas kembali bergairah,

Apakah regulasi di dalam negeri sudah cukup kondusif untuk kegiatan bisnis migas?
Turunnya harga minyak memang sesuatu yang harus kita terima karena ini kondisi yang terjadi secara global, bukan hanya di Indonesia. Jadi, bukan tanggung jawab pemerintah. Namun, tentunya ada juga bagian yang menjadi tanggung jawab pemerintah, yakni menyiapkan aturan agar iklim bisnis menjadi lebih menarik.

Dengan beberapa perubahan besar pada kebijakan migas, misalnya mengubah mekanisme bagi hasil menjadi gross split, kalau saya baca berita dan mendengar dari beberapa pengamat serta pelaku usaha, regulasi sekarang memang belum sesuai harapan.
Salah satu indikasinya, beberapa proyek pembiayaannya bukan dari bank karena dinilai tidak bankable. Ini kan tidak sehat. Kalau bank saja tidak berani mem-back up, berarti ini ada big question karena bank selalu me-review sebuah proyek feasible atau tidak.

Mungkin kebijakan itu tepat dan bagus untuk jangka panjang. Mungkin juga pemerintah punya rencana sesuatu sehingga mengambil risiko. Kita tidak tahu. Namun, sepertinya kebijakan itu tidak tepat diterapkan dalam kondisi harga minyak saat ini. Investor memang lebih nyaman dengan mekanisme yang lama, karena secara bisnis hitung-hitungannya sudah sesuai.

Jadi, menurut saya, regulasi yang dibuat harus lebih menarik agar para investor mau berbondong-bondong berinvestasi di Indonesia. Saya yakin pemerintah juga cukup bijak dan mau mendengarkan keluhan investor. Sepertinya perbaikan masih terus dilakukan.

Menurut Anda, investasi migas di Indonesia masih menarik?
Menurut saya, dunia migas itu suatu dunia yang punya ego tersendiri. Karena bisnis ini sangat menarik, banyak yang ikut bermain, bukan hanya kalangan eksekutif, tetapi konon juga dari kalangan partai. Ini yang menyebabkan persaingan di bisnis ini terkadang menjadi tidak sehat. Mereka seperti membagi-bagi "kue"-nya dengan kelompok mereka sendiri.

Kalau mau jujur, banyak proyek yang terpaksa kami lepas. Sebab, setelah dirunut, kami ini merupakan pihak lapis ke-4 atau ke-5, sehingga margin keuntungan menjadi tipis, bahkan tidak ekonomis, walaupun secara teknis proyek ini feasible.

Tapi so far, iklim bisnis kita masih terbilang bagus karena masih ada investasi, dibanding negara tetangga, seperti Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Kamboja. Jadi, masih ada harapan sebenarnya.

Pemerintah harus bisa menjadi polisi masyarakat yang bisa mengayomi. Pemerintah mungkin masih mencoba strategi mereka. Mungkin bagus, tetapi belum kena dan tepat dengan kondisi saat ini.

Strategi Anda menghadapi situasi ini?
Harga minyak yang rendah memang membuat perusahaan migas mengerem dan menginvestasikan dananya sangat sedikit, atau mungkin tidak sama sekali. Karenanya, kami harus me-manage dan terus memberi penjelasan, sosialisasi, lalu memberi solusi ke customer bahwa produk yang kami bawa dalam kondisi harga minyak rendah seperti saat ini justru sangat menguntungkan. Sebab, saat harga minyak nanti naik, proyek sudah berjalan.

Namun, selain bisnis migas, kami punya bisnis di bidang aircraft industry, antara lain menjual pesawat latih, simulator untuk sekolah penerbangan. Tetapi ini bukan switching dari migas. Kami sudah prepare jauh-jauh hari. Fokus kami saat ini tetap migas.

Kiat Anda dalam menjalankan roda bisnis?
Saat ini posisi perusahaan kami di sektor migas, walau belum terlalu besar, sudah masuk posisi lima besar. Jumlah karyawan permanen 18, selebihnya kami sebut sebagai mitra. Di sinilah uniknya karena bisnis ini multidisiplin ilmu. Selama ini tidak ada masalah, kami berjalan seirama, karena kebetulan mitra yang kami ajak ini adalah yang sudah kredibel di bidangnya.

Apa filosofi yang Anda pegang?
Filosofi saya tidak muluk-muluk. Perusahaan saya ini baru muncul pada 2013, jadi masih sangat belia. Ibarat bayi, perusahaan ini baru belajar berjalan, belum bisa berlari kencang. Istilahnya, kami masih bekerja untuk sekadar makan.

Dibandingkan perusahaan lain jauhlah. Tapi bukan berarti kami perusahaan yang bisa disepelekan karena kami punya visi dan harga diri. Yang bisa kami lakukan adalah menunjukkan kapabilitas dan profesionalisme.

Gaya kepemimpinan yang Anda terapkan?
Bagi saya, yang utama adalah sebuah team work (kerja sama tim) karena saya tidak bisa bekerja secara individu. Apa pun pekerjaannya, sesulit apa pun masalahnya, jika dikerjakan bersama-sama pasti akan lebih mudah. Memang perlu juga skill masing-masing personel, tetapi kuncinya tetap ada di teamwork.

Bagaimana peran keluarga bagi Anda?
Keluarga pastinya sangat mendukung apa yang saya kerjakan. Apalagi bisnis ini juga menghidupi keluarga, karena saya memang meminta istri tidak bekerja dan fokus mengurus rumah tangga.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT