Marianne Admardatine

Jangan Berhenti Belajar

Marianne Admardatine. (Istimewa)

Oleh: Happy Amanda Amalia / AB | Jumat, 3 November 2017 | 20:37 WIB

Energik! Itulah kesan pertama saat bertemu Chief Growth Officer (CGO) Ogilvy and Mather Indonesia, Marianne Admardatine. Ia punya pemikiran yang sangat mumpuni mengenai public relations (PR). Maklum, Marianne sudah 20 tahun menggeluti bidang tersebut.

Sepanjang perjalanan kariernya, perempuan cantik blasteran Cheska-Jawa ini banyak memperoleh pengalaman dalam manajemen isu dan krisis, serta punya keahlian khusus dalam soal gaya hidup, korporat, dan konsumen. Ia juga memiliki pengalaman luas di bidang aktivasi, periklanan, dan pemasaran, serta bisnis dan jaringan di Indonesia dan Asia Tenggara.

Meski sudah makan asam-garam, ibu tiga anak ini tidak mau berhenti belajar. Ia bahkan penasaran ingin melihat sejauh mana penggunaan fungsi PR dan bagaimana membangun persepsi komunikasi yang lebih tepat lagi.

Menurut Marianne, meskipun dunia PR sekarang dianggap profesi yang menarik oleh kalangan anak muda, orang-orang yang berkecimpung dalam industri ini masih sangat sedikit. Itulah yang kemudian menimbulkan sedikit gap antara PR level senior dan middle dengan generasi milenial.

“Banyak generasi milenial yang menganggap PR itu keren, cantik, dandan heboh. Kemudian kalau ke acara-acara pasti soal party-party. Karena ada ekspektasi seperti itu maka bisa dibilang industri komunikasi kita belum pintar mengedukasi industrinya sendiri,” ujar Marianne Admardatine di Jakarta, belum lama ini.

Selain itu, kata Marianne, fungsi PR seharusnya menjadi pemasaran yang lengkap. Dengan memiliki kemampuan paket yang lazim disebut 360, PR bisa menyampaikan pesan tidak sekadar membagikan siaran pers atau jumpa media saja, melainkan sudah memanfatkan dunia digital, media sosial, periklanan, sampai televisi komersial (TVC).

Faktanya, masih banyak PR atau orang-orang di industri PR yang menaruh fungsi diri mereka di dalam kotak, misalnya antara PR dan pemasaran dibuat terpisah. “Dunia sudah tidak seperti itu lagi dan Indonesia termasuk yang paling lelet dalam merangkul semua perubahan,” tuturnya.

Itu sebabnya, setiap diminta presentasi atau berbagi pengalaman, Marianne selalu berpesan bahwa fungsi PR tak lagi seperti dulu.

“Fungsi PR sudah berubah dan kita tidak bisa menunggu lagi. Dunia marketing sudah ke mana-mana, tetapi PR-nya masih di sini-sini saja,” katanya. Berikut penuturan lengkap eksekutif kelahiran 25 Oktober tersebut.

Bagaimana cerita Anda bergabung dengan Ogilvy?
Saya sudah cukup lama di Ogilvy. Ceritanya sekitar 13 tahun lalu, saya diminta oleh Ogilvy mengembangkan divisi baru bernama Pulse Communications dengan target revenue tertentu yang harus dicapai dalam setahun.

Tetapi sampai 10 bulan, saya enggak menyangka kalau ternyata sudah melewati target yang ditetapkan, sampai akhirnya saya dipanggil chief executive officer (CEO). Saya sempat berpikir punya salah apa, nih? Ternyata mereka bilang saya sudah melewati target.

Apa yang Anda lakukan waktu itu?
Hal pertama adalah mengubah logo Pulse yang tadinya berwarna oranye menjadi merah, sama dengan Ogilvy. Tetapi saat itu saya harus membedakan antara Ogilvy PR dan Pulse.

Awalnya Pulse lebih banyak berkecimpung atau bermitra dengan industri-industri consumer, sedangkan Ogilvy lebih banyak bermitra dengan korporat, seperti di sektor banking dan financing.

Pada akhir 2006, saya mulai mengembangkan Pulse, kemudian pada 2009 saya dipromosikan dari general manager di Pulse menjadi managing director di Ogilvy.

Kemudian saya memegang Ogilvy dan Pulse juga, namun tetap saja saya harus membedakan keduanya, tidak hanya dari segi bisnis, tetapi juga dari segi lokasi kerjanya.

Hal ini terus berjalan sampai 2013. Selanjutnya saya dipromosikan menjadi business director dan head corporate communications untuk Ogilvy Indonesia.

Lalu pada awal 2017, saya diangkat menjadi chief growth officer. Pada posisi jabatan inilah saya ditugaskan mencari peluang-peluang growth, tidak hanya untuk Ogilvy Indonesia, tetapi juga semua divisinya.

Hambatan yang Anda temui?
Banyak, tetapi hambatan paling besar adalah ketika saya harus membuktikan bahwa saya sebaik apa yang selalu saya katakan. Apalagi saat masuk, saya langsung menjadi general manager, tidak dari bawah dulu karena sebelumnya pernah di agency lain.

Melakukan pembuktian itu tentu sangat susah dan butuh waktu. Itulah tantangan paling besar. Tantangan lainnya, saya pegang divisi yang masih baru. Jadi, keadaannya masih kosong dan harus mencari pegawai, bisnis, klien, dan duit. Karena sibuk membuktikan diri, saya enggak sadar targetnya sudah terlampaui.

Strategi Anda untuk Ogilvy and Mather Indonesia?
Kalau mau tanya soal strategi bisnis sudah ada CEO yang bertanggung jawab. Sedangkan saya memberikan advise, apakah visinya bisa tahan lama atau tidak, kemudian timnya siap dibawa ke sana atau tidak, dan apakah punya resources yang bagus atau tidak. CEO kami di sini juga sudah terbiasa mendengarkan masukan. Mereka tidak diktator karena ada kondisi-kondisi tertentu yang harus dilihat.

Dukungan pemerintah terhadap industri ini?
Saya melihat kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah lumayan besar dan positif. Dunia komunikasi justru punya peranan penting. Bukan cuma Ogilvy PR, agency lain juga harus bisa melihat apa yang dibutuhkan negara ini.

Kami sebagai agency harus siap meng-capture itu dan memberikan support. Tetapi sayangnya, support pemerintah belum terlalu kuat karena dulu kementerian-kementerian dan korporasi tidak terlalu sering memakai PR agency.

Memang harus ada gebrakan yang inisiatifnya berasal dari industri yang approaching ke pemerintah untuk masuk dan minta bantuan atau support, terutama dalam hal edukasi, programming, dan aturan main. Juga dari pemerintah sendiri yang berinisiatif mengeluarkan inovasi tertentu untuk membantu dunia komunikasi supaya lebih kuat.

Peran PR tuh penting banget. Kalau enggak tahu cara berkomunikasi, baik secara internal maupun eksternal, itu akan menjadi masalah besar bagi kita. Fungsi PR lama-kelamaan bukannya mati, tetapi dormant atau tertidur. Artinya, mereka dicari ketika diperlukan saja.

Belum lagi setiap tahun kerjanya sama, yaitu membuat siarn pers untuk dibagikan ke media, kemudian menghitung hasil liputan yang sudah tayang. Padahal, fungsi PR lebih besar dari itu.

Kalau dari sudut pandang komunikasi, Kementerian Kominfo sudah punya program-program bagus. Tetapi dibutuhkan upaya dari semua orang dan pihak terkait lainnya untuk mematangkan industri komunikasi agar kuat dari semua arah.

Saya rasa pemerintah perlu, entah itu duduk bersama, mengobrol, dan melihat bersama para pemain industri tentang peluang dan tantangan komunikasi di Indonesia ke depan.

Apa yang membedakan PR Indonesia dengan negara lain?
Indonesia sedang dalam sorotan dunia karena Pak Jokowi sudah banyak mengeluarkan kebijakan. Lucunya, dibandingkan korporat, kementerian-kementerian sudah lebih maju dalam menggunakan communication channel dan banyak menggunakan sistem komunikasi keluar. Korporasinya malah masih ketinggalan.

Memang ada korporasi yang sudah lumayan canggih dalam melibatkan PR, seperti yang bergerak di industri consumer product. Untuk banking dan finance baru mulai dan sedang getol-getolnya melibatkan PR dalam marketing plan-nya. Mungkin dalam dua hingga tiga tahun ke depan kita akan melihat pertumbuhan penggunaan PR.

Apa kendalanya?
Karena melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun, tentu susah mengubah kebiasaan itu. Mungkin mereka belum punya keberanian atau belum bisa melihat fungsi PR yang sesungguhnya. PR harus punya power untuk mengatakan bahwa ini salah.

Tren industri PR di Indonesia?
Saya melihat tren ke depan, industri banking dan finance sudah siap dengan komitmen investasi serta permainan 360 dan PR. Dalam 360, yang ditawarkan bukan sekadar membagikan siaran pers atau mengadakan konferensi pers, melainkan sudah masuk dengan memanfatkan dunia digital, misalnya media sosial.

Tetapi real growth opportunity ada di pemerintahan, bahkan dalam Nawacita (sembilan agenda prioritas pemerintah) dibutuhkan komunikasi. PR jangan hanya berkutat pada hal yang sama. Setiap hari masuk kantor dengan tanggung jawab 10 siaran pers setiap tahun. Kalau begitu terus, agency Anda are not going anywhere.

Gaya kepemimpinan Anda?
Saya orang yang direct. Biasanya orang-orang ketakutan dahulu sebelum mulai berbicara dengan saya. Padahal, I am just being direct. Saya juga orang yang sering bersosialisasi, ngumpul-ngumpul, dan family oriented.

Saya tipe yang paling sering menegur karyawan yang tidak melakukan usaha maksimal. Jadinya banyak yang salah kaprah dengan saya, padahal saya cuma mau lihat usahanya. Tetapi kalau mereka sudah berusaha maksimal dan gagal, saya akan menghibur dan memberikan masukan kepada mereka.

Saya memang tidak suka orang yang tidak mau berusaha. Saya tidak melihat hasilnya saja, tetapi juga usaha yang dilakukannya. Kalau sudah berusaha, tetapi belum berhasil, itu belum jodohnya saja. Apalagi dunia kita ini kan banyak bergantung pada faktor-faktor eksternal.

Saya juga tipe yang open policy, sehingga karyawan bisa ngomong langsung dan saya sangat gampang dihubungi via WA (WhatsApp).

Sosok Anda di keluarga?
Saya adalah ibu dengan tiga anak yang sama cerewetnya dengan saya. Bagi saya, mereka adalah anak-anak yang cukup berbahagia dan tahu ibunya bekerja. Makanya dalam satu minggu dan satu bulan, kami punya agenda kapan waktu berkumpulnya. Saya lebih mementingkan quality time daripada quantity.

Saya juga lebih memilih sarapan bareng keluarga daripada makan malam karena jam pulang saya dengan suami berbeda. Anak-anak juga pasti sudah ngantuk kalau harus menunggu kami pulang. Kalau pagi, sudah pasti semua bangun dan dalam keadaan segar, enggak capai. Saya juga enggak membawa persoalan kantor ke rumah karena anak-anak kan pasti butuh perhatian.

Nasihat orangtua Anda yang terus dipegang sampai sekarang?
Harus independen, mungkin karena ibu saya adalah sosok yang independen juga. Jangan terlalu bergantung kepada orang lain, baik suami, orangtua, termasuk ibu. Saya sudah mandiri sejak 16 tahun karena saya sekolah di luar negeri.

Malah selama saya sekolah, ibu saya enggak pernah berkunjung, kecuali ketika saya menerima ijazah. Memang agak kejam, sih. Ha, ha, ha...

Bahkan waktu menikah, bapak saya juga bilang bahwa saya tidak boleh menggantungkan diri sepenuhnya kepada suami, harus independen dan bisa menghasilkan. Nasihat ini pun saya terapkan kepada anak-anak saya. Selain independen, anak-anak saya harus memahami masalah diversity yang sekarang banyak terjadi dan judge mental terhadap ras dan agama.

Obsesi pribadi Anda?
Saya masih ingin melihat fungsi PR bagaimana, komunikasi dalam arti brand management juga bagaimana. Bukan sekadar melakukan aktivitas, tetapi membawa brand ke mana, membangun persepsi komunikasi yang tepat. Saya enggak mau berhenti belajar. Jangan berhenti belajar.

Obsesi untuk karier saya adalah ingin menjadi trusted advisor of different company. Bukan cuma membuat program, tetapi juga ingin memberikan ide-ide atau masukan dari sisi komunikasi. Kalau sudah dipercaya klien, uang akan datang dengan sendirinya.

Filosofi hidup Anda?
Saya merasa dunia itu sudah cukup berat. Jadi, saya enggak ingin membuat susah karena pasti ada solusi bagi segala macam permasalahan. Enggak perlu saling tunjuk, saling salah-menyalahkan, karena itu bukan solusi. Tunjukkan saja apa yang bisa kita beri untuk dunia yang lebih baik.

 




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT