Deddy Wahjudi

Perjuangan Sejati Hasilkan Karya Bermanfaat

Deddy Wahjudi. (Istimewa)

Oleh: Totok Subagyo / AB | Senin, 13 November 2017 | 15:11 WIB

Punya prospek karier yang cerah di luar negeri tak membuat Deddy Wahjudi lupa jati dirinya sebagai anak bangsa. Jati diri itu pula yang telah memanggilnya pulang dari negeri orang untuk berkarier di Indonesia.

“Keputusan besar yang pernah saya ambil dan tak pernah saya sesali adalah tekad meninggalkan Jepang dan kembali ke Indonesia untuk memberikan sumbangsih ilmu yang saya kuasai,” tutur Deddy ketika ditemui di sebuah kafe di Gelora Senayan, Jakarta, baru-baru ini.

Deddy Wahjudi adalah salah satu arsitek ternama di Indonesia yang telah ikut mewarnai jagad arsitektur Tanah Air, bahkan dunia. Melalui firma desain-arsitektur PT Labo Indonesia, pria kelahiran Malang, 23 April 1972, itu telah menghasilkan berbagai karya desain arsitektur yang monumental.

Ada satu catatan penting dari Deddy tentang karya-karyanya. “Sebagai arsitek, saya berkomitmen untuk terus memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada masyarakat. Proses kreatif untuk menciptakan karya arsitektur yang bermanfaat adalah perjuangan yang sesungguhnya,” ujar Deddy yang kini menjadi anggota tim Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dalam revitalisasi Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk perhelatan Asian Games 2018.

Bagaimana Deddy Wahjudi melakoni hidup dengan mengusung nilai-nilai hidup serta dedikasinya sebagai seorang arsitek, berikut wawancara dengannya.

Anda kini masuk tim revitalisasi Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) untuk persiapan Asian Games 2018. Bagaimana ihwal mula penunjukan Anda dan konsep apa yang Anda usung?
Ya, IAI menyeleksi arsitek-arsitek anggotanya di Indonesia untuk mendesain revitalisasi bangunan SUGBK yang akan menjadi venue Asian Games 2018. Saya kemudian terpilih untuk bergabung bersama 11 arsitek tim IAI untuk mendesain revitalisasi kawasan dan bangunan SUGBK. Saya bersyukur, istri saya yang juga arsitek, tergabung dalam tim ini.

Total ada 14 venue yang tengah direnovasi di SUGBK. Saya dipercaya membuat master plan dan renovasi dari beberapa venue, seperti lapangan panahan, lapangan hoki, serta lapangan A, B, dan C. Target yang disasar adalah agar area SUGBK menjadi ruang yang ramah publik.

Penataan lingkungan SUGBK dibuat dengan mengusung konsep arsitektur ramah lingkungan, berkelanjutan, dan hemat energi. Kami memperhitungkan banyak aspek, seperti sirkulasi air, tangkapan air, hingga ketersediaan ruang terbuka kota.

Kami mendesain SUGBK agar menjadi area publik yang mudah diakses semua orang. SUGBK harus ramah bagi semua orang. Oleh karena itu, revitalisasi juga mencakup penerapan konsep transit oriented development (TOD).

Ada pengaturan penggunaan kendaraan pribadi, dengan lebih mengutamakan orang bisa berjalan kaki dengan nyaman di kawasan SUGBK yang terkoneksi. Infrastruktur pendukungnya sedang disiapkan, sehingga setelah Asian Games, SUGBK tetap menjadi ruang publik yang hidup.

Bisa cerita perjalanan karier Anda sebagai arsitek?
Saya mulai aktif di dunia arsitektur sejak kuliah S-1 jurusan teknik arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB). Pendidikan dasar hingga menengah saya tempuh di kota kelahiran, Malang.

Saya magang dan bekerja di beberapa firma arsitektur sejak kuliah di ITB, salah satunya di Biro Arsitektur Ahmad Noe’man. Ini biro arsitektur yang mendesain masjid-masjid ternama di Indonesia, seperti Masjid Salman ITB. Saya bekerja mulai 1990 hingga 1997, sebelum melanjutkan studi ke Jepang hingga post-doctoral di bidang arsitektur.

Saat studi S-2 bidang desain perkotaan jurusan teknik arsitektur di Nihon University, Jepang, saya juga bekerja sekaligus menimba ilmu pada dua firma arsitektur ternama di Jepang, yaitu Takenaka Corporation dan Cesar Pelli & Associates.

Nah, ada hal berat dalam perjalanan hidup saya ketika harus membuat keputusan besar setelah menyelesaikan studi S-3 bidang desain dan budaya jurusan desain dan arsitektur di Chiba University, Jepang, pada 2005.

Keputusan besar dalam hidup yang pernah saya ambil dan tak pernah saya sesali adalah tekad meninggalkan Jepang dan kembali ke Indonesia untuk memberikan sumbangsih ilmu yang saya kuasai. Keputusan itu saya ambil setelah delapan tahun tinggal di Jepang. Istri saya saat itu juga sudah lulus doktoral di bidang arsitektur.

Teman-teman di Jepang sangat berharap saya bertahan di sana. Mereka pikir saya akan terus menjadi bagian tim mereka. Memang, kalau tinggal di Jepang, pekerjaan sudah ada. Istri juga akan mendapatkan pekerjaan yang baik, demikian pula anak saya, akan mendapatkan pendidikan yang baik di Jepang. Anak saya yang kecil pun lahir di Jepang.

Tetapi panggilan jiwa lebih kuat untuk berkiprah di tanah leluhur, Indonesia. Saya berpikir, saya akan bisa berbuat banyak yang mudah-mudahan bermanfaat di Indonesia. Akhirnya saya memutuskan bergabung sebagai dosen di kampus almamater, ITB. Bersama istri, pada April 2006, saya mendirikan firma desain dengan nama Labo, singkatan dari laboratorium.

Anda pada September lalu mempromotori kegiatan Indonesian Architects Week @Seoul 2017 (IAWS 2017) di Korea Selatan. Bisa dijelaskan?
Pameran IAWS 2017 dilaksanakan untuk mendukung penyelenggaraan Kongres Arsitek Dunia (International Union of Architects) yang tahun ini digelar di Seoul, Korea Selatan. Kegiatan sebelumnya digelar di Tokyo pada 2011. Kami juga sedang menyiapkan diri untuk ikut pada ajang serupa di Kongres Arsitek Dunia di Brasil.

Tujuan pameran adalah memopulerkan peran dan karya arsitek Indonesia di dunia internasional. Juga untuk menginformasikan kemajuan dan aktivitas arsitek Indonesia bagi kemajuan dunia arsitektur. Tujuan lainnya adalah mendorong inovasi dan motivasi arsitek Indonesia, selain mempererat silaturahmi arsitek Indonesia dengan komunitas arsitek dunia.

Kami berkolaborasi dengan 54 arsitek, Kami menghadirkan karya masing-masing. Acara ini didukung IAI, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), dan Kedutaan Besar Indonesia untuk Korea Selatan. Rombongan dari Indonesia yang berangkat ke Seoul mencapai 207 arsitek.

Pameran ini menjadi sebuah panggung cerita mengenai reaksi arsitek-arsitek Indonesia dalam menghadapi situasi perkotaan yang terjadi di Indonesia dewasa ini. Sebab, pameran ini menyajikan upaya yang dilakukan arsitek Indonesia untuk mengambil peran positif di tengah perkembangan yang terjadi di kota-kota Indonesia, melalui desain mereka.

Karya-karya yang disajikan dalam pameran ini mencoba untuk menunjukkan karya-karya arsitek Indonesia bereaksi terhadap situasi dan konteks perkotaan terkini. Mereka menunjukkan kepekaan dan kepandaiannya dalam mengeksplorasi ide-ide arsitektur, ketika mereka harus berurusan dengan berbagai masalah perkotaan.

Kami menekankan pula pada proses kreatifnya. Proses sangat penting karena selama membuat desain, arsitek akan mencoba memahami masa lalu dan sekarang, untuk kemudian menciptakan ide-ide yang lebih baik untuk masa depan.

Bagaimana Anda mengimplementasikan kreativitas dan ide-ide baru itu di Labo?
Kami bisa berkembang sampai sekarang karena terus mengusung spirit inovasi, pusat riset, dan pembaruan untuk menciptakan karya desain arsitektur. Memang dalam beberapa kondisi, arsitek belum berada pada posisi sejajar dengan klien.

Maka, wajar bila ada yang kurang memahami peran arsitek ini kemudian secara sinis memberikan stempel bahwa arsitek sekadar tukang gambar. Labo berusaha menjadi mitra sejajar dan ikut bertanggung jawab terhadap bisnis klien.

Alhamdulillah kami bisa ikut mewarnai dunia arsitektur Indonesia. Labo bisa berkembang karena kerja sama tim yang baik dan terbiasa berkompetisi. Labo ikut aktif dalam berbagai kompetisi di tingkat nasional maupun internasional.

Selain tim arsitek inti, kami menjadikan tempat belajar bagi arsitek-arsitek muda. Kami juga membuka program pemagangan 2-6 bulan, bekerja sama dengan beberapa universitas.

Ketika banyak alumni Labo yang kemudian bekerja di perusahaan nasional dan luar negeri, atau independen dengan membuka firma desain sendiri, itu suatu kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri. Jadi, saya melihat Labo tidak semata Labo-nya sendiri, tetapi bagaimana Labo bisa berkontribusi melahirkan arsitek-arsitek yang unggul.

Kiat sukses dan filosofi hidup Anda?
Kalau bicara soal filosofi hidup atau nilai-nilai yang saya jalankan, sebetulnya saya hanya mengutamakan soal kemanfaatan. Saya berusaha untuk terus menebar kemanfaatan. Sebagai arsitek, saya berkomitmen untuk terus bisa bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. Mendorong ke hal-hal positif yang lebih banyak. Oleh karena itu, proses kreatif untuk menciptakan karya arsitektur yang bermanfaat adalah perjuangan yang sesungguhnya.

Catatan penting Anda tentang arsitektur Indonesia?
Sebagai dosen dan pemimpin firma arsitektur, kami biasanya menangani 5-10 proyek dalam setahun. Tetapi catatan penting saya bukan pada jumlah proyek semata. Dalam berkarya, membuat karya arsitektur dan meyakinkan konsep terbaik kepada pengambil keputusan seringkali membuat energi kami terkuras.

Butuh waktu dalam memperjuangkan hal-hal yang ideal. Kondisi demikian kurang baik bila berkaitan dengan pembangunan ruang publik dan penerapan konsep arsitektur urban sebagai solusi masalah perkotaan.

Pesan Anda kepada calon arsitek atau arsitek muda?
Teruslah berinovasi, teruslah berjuang mewujudkan hal-hal ideal melalui arsitektur dan berperan aktif mengisi wacana arsitektur dunia.

 




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT