Dawam Atmosudiro

Jangan Bebani Hidup dengan Imajinasi

Jam'an Nurchotib Mansur. (Istimewa)

Oleh: Devie Kania / AB | Selasa, 21 November 2017 | 15:00 WIB

Siapa pun tak pernah tahu jika satu langkah yang diayunkannya hari ini akan membawanya ke mana. Juga tidak bisa memastikan satu keputusan yang diambilnya bakal berdampak seperti apa. Karena itu, jangan pernah membebani hidup dengan imajinasi. Jalani saja kehidupan yang ada dengan baik dan fokus pada tanggung jawab.

Begitulah Dawam Atmosudiro berfilosofi. Bagi direktur utama PT Jasa Armada Indonesia (JAI) ini, posisi atau pencapaian yang diperolehnya sekarang bukan karena ia menargetkannya, melainkan buah dari tanggung jawab yang dijalankannya. Semua hasil yang baik atau lingkungan yang kondusif adalah bonus.

“Saya bisa berada di jabatan yang sekarang bukan karena saya pernah menargetkan mau jadi apa. Saya bisa sampai di mana, itu bukan hak saya yang menentukan,” ujar eksekutif kelahiran 9 September 1956 itu di Jakarta, baru-baru ini.

Mungkin karena itu pula Dawam tidak pernah membebani hidupnya dengan imajinasi dan target-target. Ia hanya mencoba menjalani kehidupan secara apa adanya, dengan baik dan fokus pada tanggung jawab.

Daripada menjadi orang yang fokus mengejar target atau cita-cita, Dawam memilih menjadi orang yang selalu ingat pada tanggung jawab dan amanah yang diembannya. Dengan begitu, ia dapat menjalankan tugas-tugasnya secara maksimal.

Dawam juga meyakini bahwa setiap tanggung jawab harus bermuara pada satu hal, yakni mendatangkan manfaat bagi orang banyak.

“Sebab, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain,” tegas Dawam yang bersama timnya sedang menyiapkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham PT JAI. Berikut wawancara dengannya.

Bagaimana perjalanan karier Anda?
Suatu hari saya mendatangi bapak saya, sambil membawa empat surat panggilan kerja. Ada dua surat panggilan dari badan usaha milik negara (BUMN) dan sisanya dari perusahaan swasta di sektor minyak. Saya bertanya kepada Bapak saya, sebaiknya saya pilih yang mana.

Esok harinya, saya mendapati tiga dari empat surat panggilan kerja itu sudah disobek Bapak saya. Padahal, kalau mau datang ke perusahaan kan harus membawa surat panggilan kerjanya. Akhirnya saya masuk perusahaan yang masih ada kertas panggilannya.

Dalam hati, ya sudah. Dalam hal memilih bukan kewenangan saya, jadi just follow. Ikuti saja kata Bapak. Alhasil, saya masuk ke PT Pelabuhan Indonesia II atau Pelindo II (Persero).

Ketika itu, Pelindo yang sebelumnya berstatus perusahaan negara (PN) beralih menjadi perusahaan umum (perum). Itu terjadi pada 1983. Kebetulan saya masuk pada 9 September 1983 dan menjadi bagian dari tim yang perlu melalui masa transisi perubahan status perum selama 1,5 tahun.

Begitu bekerja di sana, saya langsung menjabat sebagai kepala seksi budgeting. Jadi, sejak awal saya tidak pernah menjadi staf, tetapi langsung dipercaya memegang jabatan di kantor pusat.

Saya cukup lama berada di kisaran jabatan yang sama, hampir 11 tahun. Suatu ketika saya mencoba membaca alasan keputusan atasan saya. Saya menyadari, orang yang masuk dalam tim transisi tidak dapat berpindah sampai tugasnya selesai. Akhirnya saya ikut dalam tim satu, dua, maupun tiga. Bahkan, saya ikut menyusun beberapa buku pedoman Pelindo II yang masih digunakan hingga sekarang.

Pasti tidak mudah, bagaimana Anda menghadapinya?
Secara pribadi, saya bukan tipikal orang yang senang memasang target. Maka, selama 11 tahun itu saya hanya berpikir, selesaikan saja semua tanggung jawab yang diberikan atasan. Bahkan, pada masa 11 tahun itu, saya juga pernah berpindah tugas ke rumah sakit milik Pelindo II.

Ketika itu saya menjadi kepala keuangan, umum, dan sumber daya manusia (SDM). Begitu masuk, saya langsung bertanggung jawab membuat berbagai aturan di rumah sakit itu, yang sebelumnya tidak ada. Meski secara tiba-tiba, saya terima tanggung jawab yang diberikan.

Setelah mengurus rumah sakit selama tiga tahun, saya kembali ke kantor pusat Pelindo II. Saat itu saya kembali menjabat di level yang sama. Cuma, saya sudah lebih paham bahwa sebetulnya karyawan baru umumnya baru boleh memegang jabatan minimal setelah masa kerja lima tahun. Sedangkan saya begitu masuk langsung menjadi kepala seksi budgeting. Jadi, ya sudah dijalani saja.

Bagi saya, 100 atau 300 sama saja. Tidak berarti 300 lebih bagus dari 100. Wong kita mau apa sih dalam hidup ini? Bukannya yang penting bisa makan?

Kembali lagi, cita-cita saya adalah mampu melaksanakan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Urusan besok jangan terlalu dipikirkan hari ini. Di sisi lain, berpindah-pindah juga tidak lantas membuat kita lebih baik. Maka jalani saja. Saya berkeyakinan bahwa saya tidak memiliki kuasa untuk menciptakan hidup.

Oleh sebab itu, saya tidak perlu memikirkan hal yang memang di luar kewenangan saya. Hal yang utama adalah kerjakan yang sudah menjadi kewajiban. Tidak perlu saya berandai-andai menjadi dan menginginkan apa. Hidup itu tidak perlu begitu, kecuali kalau kita ingin stres.

Apa yang terjadi setelah Anda kembali ke kantor pusat?
Suatu ketika, saat saya menjabat sebagai senior manager akuntansi Pelindo II, saya dipindah ke Divisi Internal Audit. Padahal, itu bukan bidang yang disukai dan cenderung dianggap sebagai tempat pembuangan.

Tetapi di situ, saya tidak hanya ingin sekadar survive. Saya mencoba berkreasi dan melakukan perubahan. Secara perlahan, saya ubah pola Divisi Internal Audit, dari sebelumnya dikenal sebagai pengawas yang selalu mencari kesalahan orang, menjadi divisi yang memiliki hubungan baik dengan divisi lain, seperti rekanan.

Internal audit menjadi lebih sebagai advisor, sehingga saat itu semua berjalan lebih menyenangkan. Sampai kemudian, saya kembali pindah penugasan.

Selama di Divisi Internal Audit, saya berpikir bahwa keberadaan saya di sana harus bermanfaat. Bahkan, lebih tepatnya, di mana pun kita berada harus menjadi orang baik, sehingga bermanfaat bagi orang lain. Apa pun yang terjadi, rumusnya adalah khoirunnaas anfa'uhum linnaas. Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.

Nah, setelah beberapa waktu berlalu, saya diberi penugasan oleh atasan untuk menyiapkan anak perusahaan, yang bisnisnya merupakan hasil pemisahan (spin off) dari beberapa divisi yang sebelumnya ada di Pelindo II. Perusahaan itu tiada lain PT Jasa Armada Indonesia (JAI).

Berdasarkan akta pendirian perusahaan, JAI didirikan pada 2013. JAI bergerak di bidang pemanduan dan penundaan kapal. Berawal dari divisi yang rugi akhirnya menjadi untung. Pada 2012, rugi bersih yang bersumber dari divisinya mencapai Rp 114 miliar, lalu menurun sampai sekitar Rp 80 miliar pada 2013.

Penurunan dimungkinkan karena begitu ada mandat untuk mendirikan perusahaan, saya diperbolehkan memberikan instruksi. Kebetulan saat itu saya menjabat sebagai kepala audit.

Karena pernah menjabat sebagai manager keuangan di kantor cabang, saya paham penanganan kapal. Kemudian sebagai kepala internal audit, saya juga memegang banyak data. Maka, dengan kemampuan yang ada, saya berikan instruksi dan melakukan perubahan. Buah dari usaha itu, divisi yang kemudian menjadi JAI rugi bersihnya menurun.

Anda ingin membawa JAI ke level mana?
Saat ditugaskan ke JAI, target yang saya terima hanya satu, yakni jangan rugi. Nah, hal itu sudah terpenuhi karena sejak menjadi JAI, perusahaan tidak lagi mencatatkan rugi. Kami sedang menyiapkan IPO saham JAI.

Pada 2016, saya pernah memaparkan potensi IPO PT JAI di forum. Temanya waktu itu memang tentang rencana masa depan perusahaan. Kebetulan saya memahami cara menghitung valuasi perusahaan. Saya sampaikan potensi IPO ke depan.

Saat mengetahui apa yang saya sampaikan, beberapa pihak terkejut. Direktur Utama Pelindo II, Pak Elvyn G Masassya, tidak mengira valuasinya saya yang buat sendiri.

Tidak lama berselang, pada pertengahan 2016, Kementerian BUMN meminta agar anak perusahaan BUMN dapat melakukan IPO. Ketika diminta untuk mengisi daftar, Pelindo II langsung mencatumkan nama JAI.

Setelah beberapa waktu, akhirnya secara resmi JAI diputuskan untuk IPO. Kala itu, saya ditanya Pak Elvyn (Dirut Pelindo II), apakah kami siap? Saya bertanya kembali, apakah beliau siap untuk memberikan instruksi? Setelah JAI diputuskan untuk IPO, kami menyatakan siap bertanggung jawab menjalankan tugas.

Sejauh mana dukungan Pelindo II kepada JAI?
Pelindo II selalu memberikan dukungan sebagaimana porsi yang perlu dilakukan induk usaha. Belum lama ini, Pelindo II memberikan inbreng aset berupa 21 kapal kepada JAI. Ini merupakan komitmen dukungan Pelindo II terkait rencana IPO saham JAI. Dengan penambahan kapal ini, secara total JAI memiliki 23 kapal dan mengoperasikan 75 kapal.

Apa filosofi bisnis Anda?
Cara saya menjalankan bisnis biasa saja, tetapi saya selalu berpegang pada prinsip bahwa jika ingin tumbuh tidak perlu saling membunuh (bisnis orang lain). Kompetisi itu wajar dan merupakan pemanis. Jadi, alangkah baiknya kita berkompetisi, tetapi secara rukun. Setiap orang memiliki jatah rezeki masing-masing, kok.

Buktinya, coba tengok dan belajar dari para pedagang sayur di pasar. Lapaknya bersebelahan, tetapi mereka bisa berkompetisi secara sehat. Minimal pedagang yang ingin pulang lebih dahulu, pasti baru pulang setelah pukul 10.00 lewat. Soalnya, itu adalah batas waktu yang mereka tetapkan untuk dapat kembali meraih modal usaha. Bila ingin pulang lebih dahulu, mereka pasti menitipkan barang jualan atau justru menjual dengan harga yang jauh lebih murah kepada tetangganya. Mengapa kita tidak dapat belajar dari mereka saat menjalankan bisnis?

Dalam hidup, lebih baik banyak, tetapi berkah. Ini bukan pernyataan yang sombong atau salah. Itulah bentuk image building. Jangan bilang apa yang diterima sedikit, tetapi disebut banyak. Kalau kita pikir sedikit, lantas bagaimana kita siap untuk berbagi? Kita tidak akan mampu bersyukur kalau sejak awal kita memandangnya sedikit.

Gaya kepemimpinan Anda?
Bagi saya, jabatan adalah bonus. Nah, kita tidak pernah bisa menargetkan dan tahu berapa bonus yang dapat diraih. Apa pun yang diperoleh saat ini merupakan kesempatan yang diberikan Allah, termasuk jika sekarang saya mendapati tim atau karyawan JAI yang solid dan berkualitas, itu semua karena Allah. Jika ada yang saya anggap kurang tepat, sebagai atasan, saya bantu dan berikan petunjuk. Namun selebihnya, kembali kepada orang itu. Sebab, keputusan kita adalah tanggung jawab pribadi.

Namun saya selalu yakin bahwa kualitas atau karakter seseorang selalu tercermin pada cara dia membina hubungan dengan orangtua dan Allah. Untuk seseorang yang mungkin tidak membina hubungan yang baik dengan orangtua dan Allah, saya mungkin tidak berani mempromosikan. Ini bukan hanya soal kelangsungan perusahaan, tetapi tanggung jawab saya. Apa pun yang saya putuskan di kehidupan juga harus saya pertanggung jawabkan di akhirat kelak.

Bagaimana Anda membagi waktu dengan keluarga?
Sejak dahulu saya tidak manja kepada orangtua. Nilai-nilai itu juga saya terapkan kepada anak-anak saya. Mereka bisa menerima kesibukan dan pekerjaan saya. Sebagai orangtua, tanggung jawab saya adalah memberikan keluarga saya makan, melindungi, merawat, dan mendidik mereka. Adapun untuk orangtua saya, saya selalu berupaya untuk tidak lupa pulang. Berapa pun usia saya, saya tetap anak-anak di mata orangtua. Itu pula yang saya pikirkan tentang anak saya. Meski sudah dewasa, mereka tetap anak-anak saya.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT