Tjiu Thomas Effendy

Seperti Pohon Beringin

Tjiu Thomas Effendy. (Istimewa)

Oleh: Damiana Ningsih / AB | Senin, 8 Januari 2018 | 12:46 WIB

Kamis, 23 November 2017 merupakan salah satu momen paling istimewa dalam hidup Tjiu Thomas Effendy. Maklum, pada hari itu ia dianugerahi gelar doktor honoris causa oleh Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Yos Johan Utama. Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk ini diganjar gelar kehormatan bidang ilmu sosial ekonomi peternakan dari Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip.

Thomas yang sudah hampir empat dekade malang melintang di industri peternakan, memang layak menerima gelar tersebut. Banyak gagasannya yang--jika diimplementasikan--dapat memajukan industri peternakan unggas, terutama peternakan rakyat, di Tanah Air. Salah satunya tentang sistem peternakan tertutup.

Saat ini, sekitar 80 persen sistem peternakan di Indonesia menggunakan sistem terbuka. Dalam hitung-hitungan Thomas, jika 50 persen saja peternakan kandang terbuka dimodifikasi menjadi kandang tertutup, bakal ada penghematan nasional minimal Rp 700 miliar per tahun.

Dalam pandangan eksekutif kelahiran Pontianak, 30 Januari 1958 ini, pemeliharaan ayam dengan sistem kandang tertutup lebih efisien. Selain dapat memproteksi ayam dari penyakit dan mengurangi biaya produksi, sistem tertutup mampu meningkatkan kapasitas skala ekonomi kepadatan ayam.

Karena itu pula, ia terobsesi mendorong transformasi sistem peternakan di Indonesia dari terbuka menjadi tertutup. “Untuk menuju sistem tertutup, industri peternakan mesti didorong melalui pola kemitraan,” kata Tjiu Thomas Effendy, baru-baru ini.

Selain memiliki gagasan-gagasan yang segar dan brilian, Thomas merupakan tipe pemimpin bertangan dingin. Ia jeli dalam melihat dan mengelola sumber daya manusia (SDM) di perusahaan. Dalam promosi karyawan, misalnya, ia tak mau menggunakan filosofi pohon kelapa.

“Jangan seperti pohon kelapa, tetapi harus seperti pohon beringin,” ujar Thomas yang sudah dua kali memimpin Charoen Pokphand Indonesia dalam dua periode yang berbeda.

Apalagi gagasan Tjiu Thomas Effendy mengenai industri peternakan? Mengapa ia memilih filosofi pohon beringin daripada pohon kelapa? Berikut penuturan lengkap orang nomor satu di emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham CPIN itu.

Bagaimana awal Anda berkarier hingga memimpin PT Charoen Pokphand Indonesia?
Terus terang, awalnya saya tidak menyangka akan bekerja dan berkarier di perusahaan yang bergerak di bidang pakan dan peternakan ini. Latar belakang pendidikan saya adalah akuntansi, saya bekerja di perusahaan ini karena diajak teman. Apalagi saat itu banyak yang ingin bekerja di Charoen Pokphand Indonesia.

Jadi, awalnya, bisa dibilang setengah terpaksa masuk ke perusahaan ini. Ternyata Charoen Pokphand Indonesia adalah organisasi yang luar biasa. Perusahaan ini memiliki rasa dan ikatan persaudaraan yang tinggi.

Ikatan kekeluargaan seperti apa?
Ada satu kultur di Charoen. Yang namanya manusia kan ada masa-masa merayakan kehidupan, juga ada musibah. Kami saling gotong royong sebagai satu keluarga.

Itulah antara lain yang membuat saya dan rekan-rekan betah dan lama bekerja di perusahaan ini. Saya sendiri masuk pada 1980. Charoen Pokphand Indonesia adalah perusahaan tempat saya berkarier, yang pertama dan akan menjadi yang terakhir.

Anda pernah menangani bidang apa saja?
Setelah berkarier di bidang keuangan selama sekitar 12 tahun di Charoen Pokphand Indonesia, saya mendapat tantangan baru. Saat itu, saya sempat dipindahkan dari Jakarta ke Surabaya. Merintis bisnis perusahaan di bidang pembibitan jagung, BISI International (PT BISI International Tbk).

Saat itu, regenerasi bibit berkualitas turun drastis, sehingga produksi semakin rendah. Untuk pertama kalinya, kami memperkenalkan bibit hibrida. Kemudian kami terus mengembangkan yang lainnya, yaitu varietas BISI-2 yang sampai sekarang tetap eksis.

Lalu, sekitar tahun 1990, saya dipindahkan ke bagian keuangan divisi akuakultur, budidaya udang, dan pakan ikan. Pada Maret 1992, saya kembali ke Jakarta dan diperintahkan mengurus bidang yang enggak pernah saya pikirkan, yaitu mengurusi bidang human resources development (HRD) atau pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Saya sampaikan ke bos, pendidikan saya akuntansi kok disuruh ngurusi HRD? Bos saya mengatakan bahwa perusahaan membutuhkan managerial skill, karena divisi itu kurang eksis.

Bekal saya nol, apalagi yang berhubungan dengan Undang-Undang Perburuhan. Pokoknya saya tidak tahu banyak soal ketenagakerjaan. Saya lalu pelajari. Saya bahkan mengikuti banyak pelatihan bidang kepersonaliaan, HRD. Kalau enggak mengerti, bagaimana saya bisa mengembangkan SDM di perusahaan ini?

Yang Anda lakukan waktu itu?
Prinsip saya adalah di mana pun ditempatkan, saya harus membuat divisi itu eksis dalam organisasi. Apa pun yang kita tangani harus eksis dan organisasi mengakui kita ada.

Lalu, saya tanya kepada teman-teman di HRD, apakah mereka selama ini merasa seperti tong sampah? Kalau ada yang bagus enggak diinformasikan, tetapi begitu ada demonstrasi dan kasus, HRD yang disuruh mengurus.

Saya tanya kepada mereka, mau eksis atau enggak? Kalau mau eksis, mereka harus berkomitmen. Sebab, saya ingin menjadikan HRD sebagai divisi yang eksis dan dibutuhkan semua divisi di PT Charoen Pokphand Indonesia.

Saya katakan kepada teman-teman di HRD waktu itu bahwa agar dibutuhkan, kita harus memiliki kemampuan, keterampilan, serta mengetahui dan menguasai betul apa yang kita tangani. Dengan begitu, saat ada masalah, kita bisa menjawab pertanyaan dan memberikan jalan keluar.

Pada zaman saya dahulu, program paling eksis adalah promosi pelatihan (training). Jadi, setiap orang harus mengikuti training dulu sebelum mendapat promosi. Mereka harus sempurna dari sisi keahlian dan proper (pantas).

Saya selalu berkeyakinan bahwa menciptakan organisasi jangan berdasarkan orang, tetapi harus terlebih dahulu membentuk dan merancang organisasinya. Lalu, cari siapa the right man on the right place (orang yang tepat di posisi yang tepat). Itu program saya.

Prinsipnya, promosi jangan seperti pohon kelapa, hanya satu cabang. Ketika orang yang ada di satu posisi itu sudah tua, organisasi akan kehilangan orang-orang yang memiliki potensi besar. Akibatnya, enggak ada lagi potensi yang tertinggal atau tersisa. Jadinya enggak sehat.

Promosi yang ideal seperti apa?
Promosi harus seperti pohon beringin, rantingnya banyak. Itu membuat teman-teman memiliki motivasi, ada perhitungan masa depan, potensinya berkembang bersama perusahaan. Sebab, semakin banyak kesempatan semakin ada posisi, dan semua yang memiliki kemampuan mendapatkan kesempatan itu.

Saya hanya sekitar 2,8 tahun di divisi HRD. Hasilnya cukup baik. Lalu, saya kembali lagi ke divisi keuangan. Pada 2008-2013, saya kemudian ditunjuk menjadi presiden direktur PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. Kemudian hasil RUPS menempatkan saya sebagai wakil presiden komisaris pada 2013-2016. Dalam kurun waktu tersebut, pertumbuhan perusahaan memang agak lambat. Pada 2016, saya kembali ditunjuk sebagai presiden direktur.

Anda meraih gelar doktor honoris causa dari Undip, bagaimana prosesnya?
Saya sebelumnya menolak tawaran tersebut karena masih banyak putra-putri bangsa yang jauh lebih berjasa. Saya tanya, kenapa memilih saya? Saya menolaknya secara halus.

Lalu, Pak Rektor mengatakan, penjahit top sekalipun enggak bisa mengukur bajunya sendiri. Artinya, yang menilai apakah kita sudah berkontribusi atau belum adalah orang lain. Akhirnya saya pertimbangkan. Sekitar dua bulan saya berpikir.
Pada saat bersamaan, saya mengikuti dan menjalani proses untuk memenuhi persyaratan sambil mencari tahu sejarah pemberian gelar kehormatan doktor honoris causa oleh Undip.

Sebab, saya enggak mau dikasih gelar yang tidak ada nilai atau maknanya. Saya mencari tahu, Undip yang notabene masuk dalam jajaran universitas teratas di Indonesia, memberikan gelar serupa kepada siapa saja. Ternyata enggak banyak. Bahkan, oleh Fakultas Peternakan dan Pertanian, baru ini yang pertama, juga yang pertama disematkan kepada profesional pebisnis. Artinya betul-betul selektif. Karena itu, saya mau menerima.

Untuk menerima gelar ini kan saya harus menulis karya ilmiah. Saya menuangkan pemikiran-pemikiran saya, bagaimana supaya peternakan kita di masa depan semakin berdaya saing. Tulisan saya dalam pidato ilmiah ini belum tentu dilaksanakan di Charoen Pokphand Indonesia. Tetapi ini akan menjadi visi dan misi untuk mengarahkan nasib peternakan rakyat di Indonesia pada masa depan.

Seperti apa pemikiran tersebut?
Sistem peternakan ayam di Indonesia harus didorong ke sistem tertutup. Dari sekitar 3,5 miliar ekor populasi unggas saat ini, sekitar 80 persen atau 2,8 miliar ekor di antaranya merupakan kandang terbuka. Padahal, dengan peternakan sistem kandang tertutup, biaya produksi bisa lebih hemat. Belum lagi penerapan kandang terbuka rentan terhadap penyakit epidemi dan isu biosecurity.

Bagaimana hitung-hitungan ekonominya?
Daya saing produksi unggas bergantung pada harga pokok produksi per kilogram ayam hidup. Perbedaan harga pokok produksi kandang tertutup dan kandang terbuka berkisar Rp 500-1.000 per kilogram. Apabila 50 persen dari peternakan kandang terbuka saat ini atau sekitar 1,4 miliar ekor dimodifikasi menjadi kandang tertutup, akan ada penghematan nasional minimal Rp 700 miliar per tahun.

Pemeliharaan ayam dengan sistem kandang tertutup dapat memproteksi ayam dari penyakit, mengurangi biaya produksi, intinya lebih efisien karena mampu meningkatkan kapasitas skala ekonomi kepadatan ayam. Kandang tertutup memungkinkan pertumbuhan lebih optimal, dengan uniformity yang lebih baik.

Apa yang ingin Anda terapkan sebagai tanggung jawab atas gelar tersebut?
Ke depan, saya ingin mendorong transformasi sistem peternakan di Indonesia dari terbuka menjadi tertutup karena sistem terbuka risikonya banyak, termasuk penyakit. Memang tidak bisa mengharapkan langsung semua selesai besok. Harus bertahap.

Karena itu, industri peternakan mesti didorong dengan mengembangkan pola kemitraan. Di Charoen sendiri, kami sudah mulai menjalankan skim kemitraan. Prinsip kemitraan sebenarnya sama saja di semua perusahaan, hanya perhitungan angka-angkanya saja yang berbeda. Yang jelas, ada inti dan ada plasma. Di negara lain yang sistem peternakannya sudah lebih maju pun begitu. Pola kemitraan didorong.

Gelar honoris causa ini membebani Anda?
Kalau dari gelar enggak ada hubungannya. Tetapi tentu saya harus bertanggung jawab dengan gelar yang diberikan ini, membuktikan seperti apa yang diamanatkan rektor.

 




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT