Melli Nuraini Darsa

Kesuksesan Harus Diperjuangkan

Kesuksesan Harus Diperjuangkan
Melli Nuraini Darsa. ( Foto: ID/Emral Firdiansyah )
Euis Rita Hartati / AB Selasa, 23 Januari 2018 | 11:56 WIB

Kerap melanglang buana dan tinggal di berbagai negara mengikuti sang ayah yang bekerja sebagai diplomat membuat hidup Melli Nuraini Darsa penuh warna dan kaya pengalaman. Namun, hidup adalah misteri yang penuh kejutan. Ketika sang ayah pergi untuk selama-lamanya, Melli harus kembali ke Tanah Air dan hidup mandiri. Hingga suatu kesempatan membawanya masuk ke dunia hukum yang belakangan justru memikat hatinya.

Dengan ketekunan dan kegigihannya, Melli yang sebelumnya adalah gadis pendiam dan pemalu, memantapkan diri menjadi pengacara (lawyer). Perlahan tetapi pasti, kariernya melesat hingga akhirnya dia berhasil mendirikan perusahaan kantor firma hukum, Melli Darsa & Co yang kemudian berkolaborasi dalam jaringan firma global PriceWaterhouse Coppers (PwC) sejak 17 Juli 2017.

Lalu, benarkah kesuksesan tidak bisa diraih secara instan? Mengapa di balik kesuksesan ada kejujuran, kerja keras, independen, tetapi tetap merendah (humble)? Berikut penuturan Melli Nuraini Darsa di kantornya di Jakarta, belum lama ini.

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga sampai posisi sekarang?
Saya sudah 27 tahun bekerja di bidang hukum, khususnya sebagai advokat, yaitu sejak 1990. Sejak menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia (UI), saya aktif sebagai pegiat hukum di lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Dalam perjalanan karier sebagai advokat, jalur karier saya dimulai dari bawah, mulai dari associate, junior associate, senior associate, main local partner, lalu international partner.

Lulus dari UI, saya melanjutkan kuliah di Harvard Law School, Amerika Serikat. Di sana saya tak hanya kuliah, tetapi juga bergabung dengan kantor advokat yang banyak memberikan pengalaman mendalam. Saya pernah bergabung di Makarim & Taira S. Saya juga pernah bergabung di Wilmer, Cutler & Pickering di Washington DC. Juga di Hadiputranto Hadinoto & Partners (HHP), kemudian menjadi international partner di Baker & McKenzie. Selain itu, saya tergabung di American Bar Association.

Pada 22 November 2003 saya membuka kantor firma hukum sendiri. Jadi, Melli Darsa & Co (MDC) sudah masuk usia ke-15. Quantum leap dalam perjalanan karier saya berikutnya adalah sinergi MDC dengan PwC sejak 17 Juli 2017. Sinergi tersebut menjadikan firma hukum kami sedikit berbeda dengan yang lain, karena kami menjadi bagian dari suatu institusi dan global network yang multidisipliner, lintas keilmuan, lintas keahlian. Kami adalah firma hukum pertama yang masuk jajaran Big Four.

Kenapa Anda tertarik terjun ke bidang hukum?
Sewaktu kecil saya banyak menghabiskan waktu di Amerika Serikat (AS) dan Swiss. Saya banyak tinggal di negara di mana hukum berperan secara baik. Namun, saya tidak pernah berpikir sedikit pun untuk menjadi lawyer karena tipe pribadi saya juga bukan seperti itu. Guru saya bilang, saya orangnya pendiam, pemalu, dan bukan orang yang suka berdebat.

Saya suka bidang ekonomi dan politik, juga sastra. Saya banyak berdiskusi tentang ekonomi dan politik dengan ayah saya yang bekerja di Departemen (Kementerian) Luar Negeri.

Itulah mengapa saya memutuskan untuk mengambil kuliah di Georgetown University di AS, jurusan foreign services. Saya belajar ekonomi dan politik. Ini adalah salah satu universitas terbaik untuk politik. Banyak tokoh terkenal dihasilkan di sini, seperti Bill Clinton dan Gloria Macapagal Arroyo.

Namun, memang itulah jalan hidup. Ayah meninggal dan kami kembali ke Indonesia, sekitar tahun 1984. Saya menganggur, menunggu untuk sekolah lagi. Saya pun mencari kegiatan.

Saya coba "ketuk pintu" United Nation, saya say hello dan katakan bahwa saya mahasiswa dari Georgetown University yang tengah menanti kepastian untuk kelanjutan beasiswa saya dan mencari kesempatan untuk magang. Saya menawarkan diri apa yang saya bisa lakukan.

Lalu saya diminta ke Majalah Prisma. Kebetulan mereka butuh seseorang yang membantu joint publication Human Rights Forum dengan LBH dalam bahasa Inggris. Yang menjadi mentor saya pertama adalah bapak Aswab Mahasin. Di sana saya juga dikenalkan kepada Bapak Todung Mulya Lubis yang merupakan ketua Yayasan LBH saat itu dan saya menjadi volunteer di sana.

Dari situlah perspektif saya mulai terbuka. Ditambah kepastian dari Georgetown tak kunjung datang, lalu Mulyana W Kusuma yang juga dari LBH, menyarankan saya mencoba masuk UI saja. Saya tidak pernah bercita-cita menjadi lawyer. Jadi, saya masuk ke hukum semata-mata karena melihat bahwa ternyata keadilan masih menjadi masalah di Indonesia.

Sebagai anak yang orangtuanya bekerja di Departemen Luar Negeri selaku duta besar, awal-awalnya saya tidak pernah tahu bahwa Indonesia memiliki banyak permasalahan. Untungnya, ibu saya juga tidak melarang saya masuk LBH. Selama dua tahun pertama dari kuliah saya di UI, saya terus bekerja untuk Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Saya ingin membiayai kuliah sendiri. Memang setelah ayah meninggal, saya bertekad tidak mau membebani ibu saya. Lagi pula, biaya kuliahnya masih murah sekali waktu itu. Untuk mendapatkan uang tambahan, saya juga bekerja sebagai penerjemah.

Saya juga boleh dikatakan cukup beruntung karena selalu berkesempatan kerja dengan orang-orang baik sebagai mentor, sebut saja Nono Anwar Makarim, Hafzan Taher, Hotman Paris Hutapea, Tuti Hadiputranto, Timothy Manring, dan masih banyak mentor saya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Bagaimana Anda bisa berafiliasi dengan PwC dan apa tujuannya?
Saya sudah sempat eksperimen berafiliasi dengan sesama firma hukum berskala global, tetapi akhirnya saya pilih "The Big-4".

Dari semua "The Big-4", PwC merupakan pilihan yang menarik, karena mereka punya sistem yang berhasil membangun human capital dengan baik, termasuk di Indonesia, di mana sebagian besar sarjana yang dipekerjakan adalah lulusan lokal.

Saya lihat PwC secara global, termasuk di Indonesia, berkembang sebagai sebuah organisasi yang amat besar. An organization of people. Kuncinya menurut saya karena PwC mampu mengelola SDM dengan sangat baik, meski mereka tersebar di mancanegara dengan berbagai latar belakang ilmu serta keahlian bidang profesi dan budaya yang beragam.

Dalam kaitannya dengan MDC, seperti founder-founder lainya, tentu saya ingin meninggalkan kantor saya yang saya bangun dalam kondisi yang lebih baik dibanding ketika pertama saya dirikan dan saya bangun. Kalaupun nanti saya tidak begitu aktif lagi, saya yakin MDC dengan sistem yang sudah saya bangun, bersama PwC dan didukung jaringan global mereka, akan terus dikembangkan dan tetap berjalan dengan amat baik.

Apa saja tantangan bisnis ini?
Bisnis ini dibutuhkan secara praktis seperti dalam hal litigasi, drafting, dan negosiasi kontrak. Namun, utamanya ini bisnis yang harus menjual dan men-deliver reputation capital.

Membedakan kualitas satu firma hukum atau lawyer dengan yang lain mungkin tidak mudah. Karena itu, branding akhirnya sangat penting. Namun, branding tidak bisa kosong karena di belakangnya harus ada values.

Bekerja sama dengan PWC sangat menguntungkan kami karena bisa memberikan keyakinan yang lebih kepada klien bahwa apa yang kami lakukan telah memenuhi standar dan prosedur yang penuh kehati-hatian. Kalau kita nyatakan suatu perusahaan layak go public, misalnya, tentu perusahaan itu benar-benar layak. Lebih dari itu, dalam bisnis ini kita harus bisa memberikan nilai tambah kepada klien dan terus up-to-date dengan perkembangan zaman.

Ada kesulitan mencari SDM berkualitas di bidang hukum?
Selain pernah kuliah di fakultas hukum (FH) UI, saya juga pernah menjadi ketua alumni FH UI. Dari situ saya mendapatkan banyak insights tentang tantangan dunia pendidikan di Indonesia secara lebih menyeluruh. Seperti SDM di banyak bidang lainnya, harus diakui perlu adanya penyempurnaan dari sistem pendidikan hukum di Indonesia. Kenyataannya, firma hukum di Indonesia kalau mempekerjakan lulusan dari fakultas hukum, masih harus banyak melatih mereka untuk siap sebagai profesional.

Memang Undang-Undang Advokat pun menyebutkan perlu dua tahun magang. Di Amerika, begitu lulus, kita benar-benar siap pakai karena law school itu benar-benar professional school. Bahkan tidak bisa kerja sebelum lulus ujian advokat.

Di mana akar persoalannya?
Yang tetap menjadi pertanyaan bagi fakultas-fakultas hukum di Indonesia adalah benarkah sudah memberikan yang terbaik dalam melahirkan sarjana hukum? Menurut saya, masih banyak sekali yang harus diperbaiki, karena pada dasarnya masih banyak gap antara dunia akademisi dan praktisi. Terkadang akademisi juga menutup diri pada praktisi. Ditambah lagi sekarang paradigma hukumnya cepat berubah. Banyak bidang hukum yang mulai usang dari kebutuhan yang ada.

Sekalipun ada gap, harusnya dari bonus demografi kita bisa mendapatkan ahli hukum dalam jumlah cukup yang diperlukan negeri ini. Nyatanya banyak perguruan tinggi mencetak sarjana S1, S2, dan S3 tanpa proses sortir yang ketat. Jangan sampai sistem pendidikan kita mengorbankan kualitas lulusan-lulusannya dan lebih mementingkan kuantitas lulusan.

Anda setuju bahwa negeri ini memiliki masalah di bidang kepastian hukum?
Masalah kepastian hukum memang bukan hal yang bisa dimungkiri. Masalahnya, belum ada pemimpin nasional yang benar-benar menguasai hukum, karena hukum itu dianggap suatu "alat", a force, hambatan atau gangguan yang tidak perlu sehingga harus ditiadakan.

Kalau melihat kelakuan oknum tertentu, baik praktisi hukum maupun penegak hukum, kita bisa mengerti mengapa pandangan seperti ini ada. Di lain pihak, harus juga diakui bahwa sesungguhnya sudah banyak upaya dan progres untuk pembenahan institusi hukum tertentu seperti Mahkamah Agung (MA) dan Kejaksaan. Proses ini sudah berjalan dan kita sebagai bagian dari anggota masyarakat perlu terus dukung dan kawal.

Realitasnya kondisi kita memang masih jauh dari ideal. Menurut saya, salah satu permasalahan utamanya adalah korupsi, termasuk korupsi dari professional values. Korupsi tidak hanya masalah kerugian keuangan, tetapi juga yang lainnya, termasuk korupsi waktu.

Korupsi merupakan masalah fundamental yang telah menggerogoti nilai, perilaku, budaya, dan lebih seramnya sudah dianggap sebagai bagian dari budaya kita. Di satu pihak, masyarakat paham tentang tindakan korupsi atau tindakan yang dianggap grey area, tetapi tetap melakukannya atau membiarkannya.

Ini momok yang besar karena ada budaya korupsi dalam arti luas, yang merongrong segala hal, sampai hukum itu sendiri dianggap sebagai hambatannya. Padahal, hukum harus dan mampu membuat masyarakat sejahtera.

Oleh karena itu, menurut saya, antikorupsi harus dibangun mulai dari kultur kita sendiri. Integrity as a lifestyle. Antikorupsi dibangun sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari budaya masyarakat.

Siapa panutan Anda?
Saya punya banyak panutan untuk hal yang berbeda. Saya selalu belajar sesuatu yang berbeda dari banyak orang, karena saya yakini setiap manusia punya sesuatu yang baik dalam dirinya.

Saya mendapat ilmu dan pengalaman dari banyak orang. Prinsipnya adalah terus belajar. I am an open book and the world is big university. Kita bisa belajar dari banyak orang. Setiap hari harus lebih baik dari kemarin. Kita harus belajar dari keberhasilan maupun kegagalan. Bahkan sebuah kegagalan itu baik selama kita mau belajar dari kegagalan itu.

Inspirasi saya datangnya tidak jauh-jauh dari rumah. Both of my parents are my biggest inspiration. Mereka mengajarkan dan mencontohkan bagaimana bersikap jujur, tekun, dan kerja keras. Ayah saya, di sela-sela kesibukannya sebagai pegawai negeri, masih menyempatkan bekerja dan belajar hal-hal lain, terkadang sampai subuh. Dia belajar sendiri tujuh bahasa asing. Saya juga belajar banyak dari ibu saya agar menjadi wanita yang kuat dan independen.

Sebagai profesional perempuan, tokoh perempuan profesional yang saya kagumi adalah Christine Lagarde (managing director Dana Moneter Internasional/IMF), dia sempat menjadi atasan saya sewaktu saya bekerja di Baker & McKenzie International Law Firm. Melalui dia, saya melihat bahwa perempuan bisa maju dan mencapai cita-cita, atau bahkan melebihinya. Beliau orangnya sangat kompeten, tegas, profesional, tetapi tetap humble.

Jadi, di balik kesuksesan itu ada kejujuran, ketekunan, kerja keras, kuat, independen, kompeten, tegas, profesional, dan tetap humble. Itu prinsip dan nilai-nilai yang saya anut dan ingin saya tularkan kepada teman-teman, anak, karyawan, dan di lingkungan masyarakat, di mana saya bekerja dan berkarya.

Obsesi yang ingin Anda raih?
Saya sudah 51 tahun, jadi lebih kalem. Obsesi saya saat ini lebih ke bagaimana membuat MDC lebih tumbuh, sehingga ketika pensiun saya bisa meninggalkan perusahaan yang saya dirikan dan bangun dalam kondisi yang lebih baik dan ready to embrace the future.

Saya juga ingin Harvard University memberi perhatian ke Indonesia, considering that Indonesia is and will be one of the major players in global socio economy. Untuk itu, sebagai alumni Harvard dan UI, saya mencoba menjembatani hubungan keduanya.
Saya harap melalui berbagai diskusi akademik, joint research, pertukaran pelajar, dan berbagai knowledge sharing activities lainnya, hubungan yang lebih baik antara kedua universitas dapat terjalin. Tentunya masyarakat Indonesia bisa memperoleh hal yang baik dari hubungan kedua universitas besar ini.

Sebagai contoh, bersama-sama dengan Harvard Club Indonesia, dalam rangka Hari Anti Korupsi Dunia, kami baru-baru ini mengundang Profesor Matthew C Stephenson dalam sebuah diskusi bertajuk "A Global Fight Againts Corruption". Saya sungguh senang melihat partisipasi dan respons yang begitu positif dari berbagai pihak.



CLOSE