Geger N Maulana, Plt Direktur Utama BNI Life

Sukses Itu Bukan Kebetulan

Sukses Itu Bukan Kebetulan
Geger Mulyana. ( Foto: Istimewa )
Totok Subagyo / AB Selasa, 6 Februari 2018 | 15:26 WIB

Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Sesuatu tidak turun begitu saja dari langit, melainkan harus diperjuangkan dan disongsong dengan persiapan yang matang. Bahkan, kesempatan seseorang untuk meraih kesuksesan turut ditentukan oleh persiapan yang dilakukannya.

Nilai-nilai inilah yang selalu diyakini Geger N Maulana dalam mengarungi samudera kehidupan, termasuk dalam berkarier. Itu sebabnya, pria kelahiran Bandung, 11 Desember 1961 ini punya definisi sendiri tentang kesuksesan.

“Bagi saya, sukses itu bukan suatu kebetulan. Sukses adalah suatu pertemuan yang ideal antara persiapan kita dengan suatu kesempatan. Tugas kita adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin,” ujar Geger yang kini menakhodai PT BNI Life Insurance (BNI Life), perusahaan asuransi joint venture PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dengan Sumitomo Life Insurance Company.

Dalam menyongsong kesuksesan, Geger Maulana menyatukan tiga kekuatan, yaitu cinta, ilmu, dan nilai tambah. Ketiganya ibarat tombak trisula yang meluncur ke sasaran.

“Mencintai dan menyenangi pekerjaan akan menguatkan kita untuk terus belajar dalam meningkatkan kompetensi diri dan memberikan nilai tambah bagi lingkungan pekerjaan,” paparnya.

Geger Maulana banyak berkisah tentang perjalanan hidup, karier, keluarga, dan prinsip hidupnya. Berikut wawancara dengannya.

Bagaimana cerita awal mula Anda bergabung dengan BNI Life?
Sebenarnya, setelah meraih gelar sarjana ekonomi akuntansi dari Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung pada 1985, saya memulai karier sebagai dosen di kampus almamater.

Namun, saya hanya menjalaninya sekitar dua tahun saja. Saya tak puas hanya mengupas teori, sehingga akhirnya memutuskan untuk mendirikan perusahaan konsultan bersama teman. Saya sempat menjadi konsultan Bank Dunia di Cirebon, sebelum mendapat panggilan kerja di PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) di Jakarta.

Saya memulai karier di industri perbankan pada 1987, sebelum diterbitkannya paket kebijakan deregulasi perbankan pada era Orde Baru, yang dikenal dengan Paket Kebijaksaan Oktober 1988 atau Pakto 88.

Jadi, saya mengalami masa industri perbankan sedang pesat-pesatnya, di mana jumlah bank meningkat dan agresif berekspansi pascapenerbitan Pakto 88, hingga akhirnya muncul krisis ekonomi moneter 1998.

Saya menapaki tangga karier di Bank BNI lebih banyak di bagian keuangan. Sempat ditempatkan di kantor wilayah setelah melewati tes internal untuk masuk dalam kelompok future leader.

Saat krisis ekonomi moneter, saya menjadi tim restrukturisasi. Saya ikut menangani restrukturisasi salah satu nasabah top BNI yang masuk penanganan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Setelah dua tahun mengurusi restrukturisasi di BPPN, saya kembali ke BNI, menangani consumer business dan mengembangkan kartu kredit.

Empat tahun kemudian, Pak Arwin Rasyid yang saat itu menjabat sebagai wadirut Bank BNI menarik saya kembali ke bagian keuangan. Satu tim dengan Pak Arwin Rasyid, sampai saya menjadi General Manager-Head of Financial Controller Division BNI.

Salah satu tugas saya yang paling berkesan adalah saat saya ditunjuk menjadi ketua due diligence untuk rights issue Bank BNI. Sukses, hampir US$ 1 miliar yang masuk sebagai equity sehingga rasio kecukupan modal (CAR) bank cukup kuat untuk ekspansi.

Sekitar sebulan setelah perayaan keberhasilan rights issue Bank BNI, saya ditugasi ke anak perusahaan, BNI Life. Saya dan teman-teman diminta memperbaiki keuangan BNI Life karena disiapkan untuk menggandeng strategic partner. Setelah pembenahan sekitar dua tahun, kami mengundang 16 calon strategic partner, kemudian menyusut menjadi lima. Akhirnya yang ditunjuk adalah Sumitomo Life.

Demikianlah, sebagai bankir, kini saya juga belajar asuransi. Ini kombinasi keilmuan yang bagus, antara keuangan dan aktuaris. Itulah sekelumit perjalanan karier saya hingga menjabat sebagai wakil direktur utama BNI Life sejak 2011, dan sekarang menjadi pelaksana tugas direktur utama BNI Life untuk mengembangkan bisnis asuransi jiwa.

Hal paling berkesan dalam perjalanan karier Anda?
Yang paling berkesan, hampir setiap empat tahun saya dipindahtugaskan. Jadi, saya mesti terus belajar. Begitu masuk dunia baru, saya belajar hal baru lagi. Walaupun orang keuangan, saya tetap belajar marketing, kredit, dan lain-lain.

Kita tidak boleh berhenti belajar. Saat berada di lingkungan baru, kita harus berusaha memiliki nilai tambah. Kita harus bermanfaat bagi lingkungan itu. Kalau saya ada atau tidak ada, lalu hasilnya sama saja, itu tidak baik karena berarti saya tidak memiliki niai tambah.

Anda bisa mencintai bidang pekerjaan yang berbeda-beda, apa kuncinya?
Kita seyogianya tidak boleh berhenti belajar, apalagi jika sebenarnya pekerjaan itu bisa dipelajari. Memang untuk menikmati dan menyenangi tugas tidaklah gampang. Tetapi, itulah filosofinya. Kita harus punya niat belajar karena di setiap pekerjaan pasti ada ilmunya.

Saya pun berpindah-pindah bidang pekerjaan, walau tetap ada kaitannya dengan ilmu yang saya kuasai di bidang keuangan. Sebagai catatan lain, mutasi kerja saya melalui dua jalur, yakni melalui jalur tes internal dan promosi atau penunjukan oleh manajemen puncak. Jadi, saya pindah tugas bukan karena meminta atau bosan.

Jika dirunut, seperti ada siklus empat tahunan dalam fase karier profesional saya di perbankan. Setiap empat tahun, saya selalu deg-degan karena pasti dimutasi. Di tempat baru pada tahun keempatnya kembali deg-degan, dan benar, dimutasi lagi.

Saya adalah produk pendidikan di BNI, mulai officer development program, management development program, hingga executive development program. Alhamdulillah, saya melalui itu semua. Setelah lulus program, biasanya saya dimutasi. Kecuali di BBPN, itu lain cerita. Karena top 10 debitur BNI saat itu luar biasa, nilai kreditnya sampai hampir Rp 60 triliun.

Definisi sukses menurut Anda?
Ada yang menarik membicarakan tentang kata "sukses". Bagi saya, sukses itu bukan suatu kebetulan. Tidak ada yang kebetulan di muka bumi. Masuk surga pun bukan suatu kebetulan.

Menurut saya, berdasarkan perjalanan hidup dan perenungan, sukses adalah suatu pertemuan yang ideal antara persiapan kita, dengan suatu kesempatan. Begitu kesempatan itu ada, tetapi kalau kita tidak siap, ya tidak akan sukses. Kalaupun kita sudah persiapkan, tetapi kesempatan itu tidak ada, juga tidak jadi sukses.

Jadi, pertemuan yang ideal antara kesiapan kita dengan kesempatan, itulah sukses. Persiapan itu menjadi penting karena akan menimbulkan kesempatan. Jadi, tugas kita adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Supaya siap harus bagaimana?
Kita harus mencintai, menyenangi, dan belajar sungguh-sungguh. Maka, ketika kesepatan itu ada, kita akan relatif bisa menjalankannya dengan baik. Orang yang diberi kesempatan tetapi tidak siap, akan terseok-seok dulu, atau perlu belajar lama.

Reaksi Anda saat diminta menangani BNI Life?
Prinsipnya, saya selalu profesional, siapa pun pemimpin saya. Saya akan selalu menjalankan tugas dengan baik dan sungguh-sungguh. Kalau ada masalah, kita seyogianya tetap bilang ada masalah, tetapi kita juga berkewajiban mengajukan solusinya. Dengan demikian, pimpinan akan merasa terbantu, bukan sebaliknya malah merasa terbebani.

Ketika pimpinan itu naik jabatan yang lebih tinggi dan membutuhkan tim yang siap dan mumpuni, dia sudah punya pilihan. Pengalaman saya sebagai ketua due diligence saat rights issue Bank BNI mungkin yang dianggap memenuhi kreiteria untuk menangani pengembangan BNI Life.

Sebenarnya, saya sempat merenung dan tidak gembira ketika diminta menangani BNI Life. Dirut BNI, Pak Gatot Suwondo waktu itu bilang,“Kok, kamu diam saja?”

Saya sampaikan bahwa saya tidak punya bekal untuk terjun ke industri asuransi karena selama 20 tahun hanya berkarier di perbankan. Saya sampaikan bahwa saya butuh waktu untuk berpikir, tidak bisa memutuskan langsung.

“Berapa lama?” tanya Pak Gatot.

Saya jawab satu sampai dua bulan. “Terlalu lama. Seminggu saja,” kata Pak Gatot.

Pertimbangan Anda hingga akhirnya bersedia memimpin BNI Life?
Nah, ini memang urusan pribadi. Pada akhirnya saja bertekad untuk memilih belajar lagi dan bermanfaat dalam masalah proteksi jiwa atau kesehatan orang.

Saya mendapat pemahaman bahwa asuransi menjadi sangat penting dari realitas para pensiunan BNI yang tak memiliki bekal cukup dari sisi keuangan dan bermasalah ketika sakit.

Saya juga terinspirasi oleh Surat Yusuf (salah satu surat dalam kitab suci Alquran). Selama kita sedang sejahtera, kita harus menyisihkan sebagian uang untuk masa depan. Jadi, kita perlu perlindungan atau proteksi.

Langkah strategis Anda pada awal memimpin BNI Life?
Selain sudah membawa bekal penugasan dari manajemen Bank BNI, saya menemui Serikat Pekerja Bank BNI. Saya menampung apa yang diharapkan dan komplain mereka terhadap BNI Life. Sebab, fokus BNI Life saat itu adalah asuransi kesehatan karyawan BNI. Saya makan siang bersama mereka, apa sih komplainnya.

Kami mencatat setidaknya ada puluhan jenis komplain tentang layanan BNI Life. Utamanya tentang sulitnya klaim asuransi, maupun layanan contact center, call center, hingga tentang profesionalitas.

Hal-hal itulah yang kami segera benahi. Sekarang pelayanan klaim BNI Life menjadi yang tercepat di Indonesia. Call center juga kami bernahi, dulu cuma dua nomor layanan, sekarang 10 nomor layanan.

Mengapa dimulai dari call center?
Saya punya pengalaman yang berkesan oleh hal yang tak mengenakkan. BNI Life pernah menempati peringkat pertama pemenang tender di Toshiba. Saya hadir bersama tim BNI Life untuk memenuhi permintaan direksi Toshiba dan melakukan presentasi produk-produk BNI Life. Saat itu, direksi Toshiba tanya apakah BNI Life punya call center.

Saya jawab,“Punya.” Namun, ketika dites, tiga kali ditelepon tak ada yang menjawab. Wah, merah muka saya waktu itu. Kami langsung gugur. Akhirnya peringkat kedua yang menjadi pemenangnya karena punya call center yang lebih baik. Itu pengalaman yang membuat kami membenahi call center hingga sekarang berhasil menjadi the best di Indonesia.

Dari sisi SDM?
Saat awal menangani BNI Life, kami evaluasi posisi-posisi strategis yang perlu perbaikan. Kami memutuskan untuk merekrut karyawan baru. Yang surprise, banyak yang tidak ingin bergabung dengan BNI Life. Kami hanya bisa mendapatkan karyawan di layer kedua dan ketiga, layer satu tidak mau gabung BNI Life.

Ya sudah, tidak apa-apa. Kami jalan dan bertekad menunjukkan kinerja dulu. Kondisinya sekarang jauh berbeda. Sekarang malah banyak karyawan BNI Life yang dibajak oleh perusahaan asuransi lain. Itu semua adalah buah dari program pelatihan di BNI Life.

Apa nilai lebih karyawan BNI Life?
Kompetensi yang tercermin dari pertumbuhan kinerja BNI Life. Kami menjalankan komunikasi internal dua arah yang baik. Secara periodik ada kegiatan makan bersama direksi dengan karyawan. Saya selalu menanyakan nama, alamat, bidang pekerjaan, lama bekerja, dan harapan hingga keluhannya untuk kami perbaiki. Kami berdiskusi untuk perubahan yang lebih baik dan menularkan nilai-nilai yang baik.

Kami juga melakukan transformasi budaya kerja. Tim kami kumpul untuk menggali pendapat dari bawah, untuk merumuskan dan menegaskan ulang visi dan misi serta nilai-nilai budaya kerja.

Kami punya lagu mars BNI Life, yang mengusung pentingnya nilai-nilai kejujuran, inovasi, kesungguhan hati, perbaikan tiada henti, customer oriented, dan lain-lain.

Nilai-nilai budaya kerja itu kami aplikasikan pada penamaan ruang di kantor pusat BNI Life. Ada pula ruang kantor yang mengusung nama-nama pulau di Indonesia. Tujuannya adalah kebersamaan dari keberagaman atau kebinekaan karyawan BNI Life.

Kami ada rapat direksi tiap minggu. Kami evaluasi kinerja tim. Kami saling belajar antartim, juga melakukan mutasi sebagai terapi kejut.

Ada perubahan pada perilaku karyawan?
Ya. Dahulu kalau tidak ada surat keputusan (SK), perintah tak bisa jalan, meski sudah dirapatkan. Sekarang sudah tidak lagi. Responsibilitas karyawan meningkat. Engagement dalam tiga tahun terakhir meningkat. Dulu, 90 persen karyawan jalan di tempat, hanya 6 persen yang ingin maju, dan 4 persen yang ingin menarik ke belakang, sehingga perusahaan tidak bisa maju pesat.

Sekarang kami mendekati standar internasional. Kami telah menjadi "The Best Employee Engagement Platinum", juga penghargaan "Exceptional Call Center, Exceptional E-mail Center, Contact Center Service Excellence Award" sejak 2015.

Perubahan itu tercermin pada kinerja keuangan BNI Life?
BNI Life berhasil mencapai lonjakan profit. Laba BNI Life sampai akhir 2017 meningkat 105 persen dibanding tahun sebelumnya. Itu adalah angka lonjakan yang cukup fantastis.

Pertumbuhan pendapatan premi tahun 2018 kami targetkan di atas 30 persen, lebih tinggi dari target Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) yang berkisar 10-30 persen.

Salah satu strategi BNI Life adalah memperbanyak portofolio produk baru dan makin agresif menggenjot pemasaran melalui empat saluran distribusi, yaitu agency, bancassurance, employee benefits, dan syariah.

Total aset BNI Life pada akhir 2016 sebesar Rp 13,06 triliun dan laba bersih Rp 183,95 miliar. Sedangkan rasio solvabilitas (risk based capital/RBC) pada 2014, 2015, dan 2016 masing-masing sebesar 2.413,20 persen, 1.718,28 persen, dan 1.124,24 persen, atau di atas ketentuan pemerintah sebesar 120 persen.



Sumber: Investor Daily