Agus Harimurti Yudhoyono

Tak Mau Gegabah

Tak Mau Gegabah
Agus Harimurti Yudhoyono. ( Foto: BeritaSatu Photo / Ruht Semiono )
Carlos KY Paath / AB Kamis, 1 Maret 2018 | 12:18 WIB

Nama Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) muncul dalam sejumlah hasil survei terkait calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Meski begitu, AHY mengaku dirinya tak ingin gegabah untuk memutuskan maju atau tidaknya pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019.

Menurut putra sulung Presiden ke-6 RI sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut, peta koalisi menjelang pilpres masih belum terlihat jelas. AHY menganalogikannya dengan "kabut tebal".

Berikut wawancara khusus redaksi Suara Pembaruan dengan AHY di Agus Command Center (ACC), Jakarta, Senin (26/2).

Bagaimana kalau Anda dipinang sebagai cawapres untuk Pilpres 2019. Kabarnya, sudah ada yang melirik Anda menjadi cawapres?
Lirik-lirikan okelah. Saling lirik kita. Tetapi yang saya pahami semua lagi shopping atau melihat-lihat figur, termasuk ada yang shopping terhadap saya mungkin. Dilihat, dicek, diikuti. Saya akan mengambil keputusan. Semua akan saya pertimbangkan dengan baik. Masak-masak.

Berarti sama seperti ketika Anda memutuskan mengikuti Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017, ketika itu Anda kalkulasikan matang sebelum akhirnya maju sebagai calon gubernur (cagub)?"
Saya meninggalkan pengabdian di TNI, beralih ke politik itu dengan perhitungan matang. Walau waktunya sangat pendek saat itu. Keputusan yang saya ambil, tidak saya sesali. Walau, hasilnya belum seperti diharapkan.

Kalau nanti ada panggilan baru dan sejarah menentukan saya ikut kompetisi lagi di level lain, saya akan pertimbangkan semua dengan matang. Saya akan hitung semua dengan baik supaya tidak gegabah. Baik untuk semua, tidak hanya diri sendiri, tetapi juga masyarakat.

Sepertinya Anda memantau terus pembicaraan publik mengenai pilpres. Ada lembaga-lembaga survei yang juga sudah membuat simulasi capres dan cawapres. Benar demikian?
Saya ikuti spekulasi oleh publik, pengamat yang memasang-masangkan ini dan itu. Kalau dengan ini bagaimana. Saya ikuti terus. Tetapi belum ada yang konkret. Saya juga tidak berandai-andai sekarang, karena itu sangat penting. Kalau dipinang, siapa yang meminang?

Saya mencegah komentar-komentar yang bakal diajak. Belum tentu juga, karena ajakan seseorang bisa jadi ancaman bagi yang lain. Koalisi harus sepakat semua. Misalnya, koalisi enam partai, apakah semua menerima (capres dan cawapres yang diajukan). Kabutnya masih tebal, belum tahu kita.

Sekarang baru ada dua kubu yang kemungkinan bersaing dalam pilpres. Pertama, kubu Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kedua, kubu Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto. Kira-kira ke mana arah dukungan Demokrat? Kapan diputuskan?
Saya enggak bisa sampaikan secara pasti. Ini masih kerja semua. Agustus 2018 pendaftaran pilpres. Berarti di Juli nanti baru bisa (ketahuan). Sampai hari ini belum ada keputusan final (Demokrat dukung Jokowi atau Prabowo). Banyak hal dipertimbangkan.

Terus terang kabutnya masih tebal. Masih tebal. Sekarang terlalu dini. Masih ada sekian bulan, banyak hal yang bisa terjadi. Jangankan pilpres, pilkada (pemilihan kepala daerah) saja ada (partai) yang cabut last minute. Kalau tidak dihitung benar, benar-benar bisa salah perhitungan.

Saya pikir yang bisa kita lakukan sekarang itu komunikasi terus dengan semua. Tetapi, sekarang terlalu tebal kabutnya.

Anda digadang-gadang publik maju pilpres, khususnya posisi cawapres. Tingkat elektabilitas lumayan tinggi berdasarkan survei. Bagaimana Anda menanggapinya?
Bersyukur kalau ada survei yang tempatkan kita baik. Saya anggap sebagai penyemangat. Kalau ada yang tidak baik nilainya, saya anggap sebagai cambuk. Tiap dua minggu ada survei. Ada tren serupa walau angkanya beda-beda sedikit. Ada harapan dari publik, mungkin juga sebagian generasi muda, mereka ingin alternatif pemimpin ke depan. Tidak hanya 2019, tetapi setelahnya.

Saya akan terus keliling daerah, bertemu masyarakat. Betul-betul ingin menyapa masyarakat sebanyak-banyaknya. Saya ingin dengar dan interaksi langsung. Mengenalkan diri, nama, muka dan gagasan saya. Setelah itu, baru bisa saya memosisikan diri saya.

Saya orang yang tahu diri. Saya itu tidak ambisius sekali. Buru-buru, tergesa-gesa, tidak begitu. Proses ini harus dilewati, tetapi bukan berarti tanpa tujuan. Saya punya optimisme, saya punya tujuan, tetapi juga berproses dengan baik.

Sekarang ini, tingkat pengenalan saya ke publik antara 70 sampai 80 persen. Masih ada sekitar 20 persen untuk saya lebih mengenalkan diri. Untuk ukuran pendatang baru ini lumayan. Saya anggap kekalahan saya dalam pilgub itu hikmah. Orang kenal dan alhamdulilah diterima dengan baik.

Beberapa waktu lalu, Anda diangkat menjadi ketua Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Demokrat untuk pemenangan Pemilu 2019. Bisa dijelaskan?
Saya diberikan amanah sebagai ketua Kogasma. Selain saya menggunakan jaket The Yudhoyono Institute dan AHY Foundation, saya sudah basah bersama Partai Demokrat. Tetapi bukan saya mengunci dalam lingkungan Partai Demokrat.

Tetapi saya terus komunikasi dengan berbagai kalangan partai politik (parpol) lain, tokoh, elite nasional dan daerah. Karena saya ingin membangun sinergi dengan mereka semua. Tentu dengan amanah baru saya, saya berjuang untuk bisa bangkitkan suara Partai Demokrat.

Ketika Pemilu 2009, Partai Demokrat pernah jadi pemenang dengan suara 20 persen sekian. Lalu pada 2014, turun tinggal 10 persen sekian. Harapannya kita ada rebound, peningkatan kembali di 2019.

Kalau kita punya suara signifikan, itu juga yang akan digunakan untuk 2024. Mudah-mudahan kalau itu baik, maka Partai Demokrat dengan yang lain bisa mengusung kader terbaik untuk Pilpres 2024.

Berapa target perolehan suara Demokrat untuk Pemilu 2019?
Kita harap 15 persen. Kita tetap rasional, tidak ingin muluk-muluk. Kerja keras, karena membangun kepercayaan publik enggak mudah. Bangun 10 persen ke 15 persen itu sudah luar biasa.

Kira-kira Pilpres 2019 nanti akan terjadi berapa poros pasangan capres dan cawapres?
Bisa jadi (dua poros) atau tiba-tiba ada move politic lain, ada poros ketiga. Tetapi paling banyak tiga poroslah menurut saya. Selebihnya ya rakyat yang akan menentukan. Paling tidak parpol sekarang sedang bekerja terus.

Kami Partai Demokrat bekerja untuk terus komunikasi, membangun trust (kepercayaan) dan sebagainya. Karena harus dibangun koalisi. Tidak ada satu partai yang bisa mengusung kader sendirian.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) baru saja mengusung Jokowi. Bagaimana komentar Anda?
Peta hari ini, Pak Jokowi dapat support sekitar 53 persen dari partai-partai. Kalau tidak berubah sampai akhirnya. Pasti kan masing-masing partai ingin jadi cawapres. Kalau enggak, kompensasinya apa? Paling tidak ada hasrat.

Pak Jokowi pening juga. Begitu pilih ini, yang ini bisa marah. Bisa ke sana, bisa bikin (koalisi) lagi. Jadi, tetap kartunya masih dipegang rapat semuanya. Baru last minute dikeluarkan.

Misalnya, kita maunya begini. Begitu tak diakomodasi,"Sorry Pak, saya ingin jadi cawapres, kalau enggak out (keluar dari koalisi)." Bersekutu dengan yang lain atau bangun poros baru.

Jokowi pernah berikan kriteria bahwa cawapres harus mempunyai elektabilitas, kemudian tidak terlalu tua. Tetapi yang bisa melanjutkan kepemimpinan nasional 2024. Seperti apa tanggapan Anda?
Ketika saya menghadap beliau, mengundang untuk hadir dalam peresmian The Yudhoyono Institute. Dalam suasana santai sambil makan bubur dengan Mas Gibran (putra Jokowi). Beliau (Jokowi) banyak berharap kepada generasi muda. Beliau ingin anak-anak muda ke depan tampil, tidak hanya dalam ekonomi digital, tetapi juga kehidupan politik. (Jokowi) menyampaikan ke saya agar bergerak terus, ke lapangan, daerah-daerah.

Elektabilitas tentu, seharusnya wakil itu bisa menambah, bukan mengurangi. Kadang kala begitu bagus perolehan, dikawinkan (dipasangkan dengan capres) malah merosot. Paling tidak harapan beliau tidak mengurangi, tetapi syukur-syukur bertambah. Sangat rasional.

Anda sepertinya memang cocok untuk Pilpres 2019 atau paling tidak Pilpres 2024?
Mohon doanya. Saya berjuang saja terus pokoknya. Kalau saya, analoginya seperti tentara. Kita mempersiapkan diri, melatih diri. Kapan perangnya kita enggak tahu, yang penting kita menyiapkan diri. Begitu dibutuhkan, negara membutuhkan, rakyat mengharapkan, ya kita siap.

Anda punya sikap egaliter yang harus dipertahankan. Komentar Anda?
Saya pernah ke Papua, saya datang ke Pasar Mama-mama. Mereka senang. Semakin kita dekat tak berjarak. Kekayaan seseorang di zaman ini kalau kita adaptif. Bicara dengan diplomat harus paham. Begitu turun ke bawah tidak canggung.

Saya dari letnan dua. Sebagai prajurit kehidupan sangat membumi. Berbulan-bulan saya mandi di sungai ketika bertugas di Aceh. Saya punya mentalitas, sehingga saya tidak canggung. Bagi saya, justru masyarakat yang harus didatangi. Jangan mereka yang datangi kita. Nilai seperti itu harus kita pertahankan.



Sumber: Suara Pembaruan