Jackson Tandiono

"Jadilah yang Pertama, Bukan Hanya yang Terbesar"

Jackson Tandiono. ( Foto: Istimewa )
Rangga Prakoso / AB Senin, 12 Maret 2018 | 14:24 WIB

Berpikir jauh ke depan dan jeli melihat peluang bisnis merupakan gambaran dari sosok Jackson Tandiono. Bisnis panel solar atau tenaga surya yang digelutinya sempat mendapatkan cibiran. Namun setelah 10 tahun berselang, bisnis tersebut sangat menjanjikan dan mempunyai prospek yang sangat bagus. Kini pria kelahiran 1975 itu akan membawa perusahaannya, PT Sky Energy Indonesia, menuju pasar bursa. Tujuannya bukan semata-mata mendapatkan tambahan modal, tetapi ingin mempromosikan perusahaan yang dipimpinnya kepada masyarakat. Berikut wawancara dengannya.

Bagaimana awalnya Anda memilih bisnis panel solar?
Saya sekolah di Amerika dan lulus pada 1998. Tahun 1999 saya kembali ke Indonesia dan memulai karier saya dengan bergabung perusahaan yang memproduksi baterai otomotif, yaitu baterai mobil dan motor. Perusahaan ini adalah perusahaan keluarga dan saya merupakan generasi ketiga.

Sampai sekarang perusahaan ini sudah berkecimpung di dunia baterai otomotif hampir 50 tahun. Tahun 1991 perusahaan ini go public dan menjadi satu-satunya perusahaan produsen baterai otomotif dengan status terbuka (Tbk) di Indonesia. Kakek dan ayah saya punya filosofi, kalau kita go public akan diketahui oleh masyarakat luas, sehingga ke depan kita dapat membuat perusahaan lebih profesional, tetap berdiri, dan terus berkembang.

Saya melihat kakek saya sudah membangun bisnis baterai mobil. Dilanjutkan ayah saya mengembangkannya ke baterai motor. Saya berpikir tidak cukup hanya baterai mobil dan motor saja. Lalu mulailah untuk coba membuat variasi baterai lain, seperti baterai untuk BTS, UPS, dan data center. Bahkan, saya juga membuat baterai untuk panel solar dan forklift. Saat ini, kami juga yang pertama memproduksi baterai sejenis litium di Indonesia.

Indonesia mempunyai 17.000 pulau tersebar di seluruh wilayah. Masih begitu banyak pulau yang belum mendapatkan suplai listrik. Sampai hari ini, tantangan di Indonesia adalah bagaimana pulau-pulau tersebut bisa mendapatkan suplai listrik.

Di tahun 2008, di mana terjadi climate change di dunia, beberapa negara mulai mencoba menggunakan panel solar sebagai suplai listrik. Namun, saat itu panel solar harganya masih sangat tinggi, kira-kira 10 kali lipat dari sekarang sehingga minat sangatlah minim.

Di saat yang bersamaan, dengan melihat peluang yang begitu besar di masa yang akan datang dan turut membantu masyarakat Indonesia, maka saya mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang panel solar, PT Sky Energy Indonesia, dengan target suplai listrik.

Saat Anda bekerja itu merintis dari bawah atau langsung mendapat posisi?
Saat saya ke Indonesia di tahun 1999, saya masuk pertama kali di bagian gudang. Enam bulan kemudian saya masuk ke bagian produksi. Itu pun supervisor bukan manager.

Pada 2001 sering terjadi demo kepada pemerintah, dan saya masih ingat ketika itu saya pun ikut turun tangan di proses produksi baterai mobil, karena operatornya ikut berdemo di luar. Saat itu kami sedang mempersiapkan empat kontainer yang akan kami ekspor, tetapi masih kurang 200 buah baterai. Sayang kan kalau karena para operator yang ikut berdemo mengakibatkan produksi tersendat, dan ekspor terancam tidak sesuai pesanan. Maka, saya bersama pimpinan-pimpinan pabrik langsung turun tangan meneruskan produksi, sehingga semuanya lancar dan empat kontainer bisa terkirim ke pelanggan di Timur Tengah.

Jadi, saya benar-benar belajar dari bawah, mulai dari gudang, produksi, lalu ke quality, baru kemudian dipercaya menjadi plant manager. Tahun 2006, saya dipercaya menjadi direktur, sehingga saya punya pengalaman cukup baik.

Memulai karier dari bawah itu apakah permintaan orangtua?
Itu adalah inisiatif saya sendiri. Sebenarnya sebagai anak pimpinan tertinggi dan pemilik perusahaan, saya bisa saja langsung menduduki posisi kepemimpinan. Namun, saya pikir paling baik mulai dari bawah dahulu, sehingga kita tahu bagaimana me-manage perusahaan. Kalau kita langsung dari atas, nanti ke bawah susah. Kalau naik pesawat itu lebih enak dari kelas ekonomi ke kelas bisnis. Daripada dari kelas bisnis turun ke kelas ekonomi, kaget kan.

Apa tantangan yang Anda hadapi di bisnis ini?
Tantangan bisnis yang pertama adalah pada saat itu tidak banyak yang mengetahui manfaat dan fungsi tenaga surya, karena itu kami perlu ekstra effort untuk menyosialisasikan dan mempromosikan betapa pentingnya menggunakan tenaga surya. Letak Indonesia berada di equator line, atau khatulistiwa, yang berarti mendapat banyak sinar matahari, sehingga mempunyai potensi sangat besar.

Sebenarnya obsesi Anda apa?
Saya ingin to be the first bukan hanya the biggest. Ini tantangan yang luar biasa bagi saya. Kita satu-satunya perusahaan di Indonesia yang memproduksi solar cell. Obsesi saya di masa depan adalah bagaimana ini bisa bermanfaat untuk masyarakat.

Waktu saya putuskan berbisnis panel solar, banyak yang menentang. Bahkan, ayah mempertanyakan untuk apa ke desa-desa. Namun, justru karena ayah saya berbicara seperti itu, menjadi tantangan tersendiri buat saya jalani.

Untuk pengembangan bisnis, mengapa pasar modal yang jadi pilihan?
Dalam waktu dekat, perusahaan kami memang akan listing di pasar modal dengan melakukan IPO. Namun, IPO di sini bisa juga diibaratkan bahwa kami mau mempromosikan keberadaan kami. Apalagi perusahaan panel solar di Indonesia, belum ada yang sedemikian maju dan besar. Saya selalu mencoba menjadi yang pertama, sekaligus mempromosikan ke pemerintah bahwa kita ada.

Kalau di luar negeri semuanya sudah jalan. Apalagi di negara tetangga kita, seperti Malaysia, Thailand, semua sudah besar. Namun, di dalam negeri kita teknologi masih belum berkembang. Memang banyak yang meragukan jika kami bisa membuat panel solar. Apalagi, kita punya pesaing Tiongkok. Namun, buktinya kami sudah melakukan ekspor ke Amerika dan Eropa dan sudah terbukti kualitas produk kami memadai. Nah, ini yang saya inginkan, yakni memberikan wawasan kepada pemerintah dan masyarakat.

Apa filosofi Anda dalam meraih kesuksesan?
Saya coba pasang target di perusahaan, sehingga membuat saya senang kalau achieve. Ini trigger saya untuk terus berkembang. Belajar dan laksanakan terus tanpa pamrih. Sukses itu adalah salah satu dari banyaknya kegagalan.

Bagaimana Anda menyeimbangkan kerja dan keluarga?
Sesibuk apa pun saya dalam bekerja, tetapi weekend tetap untuk keluarga. Menurut saya, balancing itu harus ada.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE