Fadli Zon

Apakah Bisa Melihat Sisi Positif Jokowi?

Apakah Bisa Melihat Sisi Positif Jokowi?
Fadli Zon. ( Foto: Antara )
Nurlis E Meuko / Adi Prasetya / Rizta Pratama / NEF Senin, 26 Maret 2018 | 09:00 WIB

Foto hitam-putih Soekarno-Hatta tepat berada di dinding sebelah kanan ruang kerja Wakil Ketua DPR-RI, Fadli Zon (periode 2014-2019). Berada di posisi tengah-tengah, di foto itu ada tulisan: “Lebih baik kami melihat Indonesia tenggelam ke dasar lautan daripada melihatnya sebagai embel-embel abdi suatu negara asing”.

Lahir di Jakarta 1 Juni 1971, salah satu pendiri Partai Gerindra ini sangat sering mengkritisi kebijakan Presiden Joko Widodo. Bahkan ia dikenal sebagai politisi yang paling akrab dengan media sosial. Akunnya sangat aktif, apalagi jika menyangkut mengkritik kebijakan pemerintah.

Ia menjadi salah satu sentral politik Partai Gerindra. Itulah sebabnya, tim wartawan BeritaSatu.com, Nurlis E. Meuko dan Adi Prasetya serta Rizta Pratama, menemuinya untuk wawancara khusus di ruang kerjanya di Gedung DPR-RI, Senayan, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Berikut petikannya:

Menarik membaca kalimat dalam foto Soekarno-Hatta di dinding ruang kerja Anda, apa maknanya?
Maknanya sangat mendalam, ucapan dari Bung Hatta, bapak proklamator kita, dwi tunggal Soekarno-Hatta. Itu menunjukkan kita sebagai bangsa besar yang menentukan nasibnya sendiri. Saya kira ini bukan semata-mata untuk masa penjajahan saja, setelah merdeka sekarang ini kita tidak ingin berada di bawah kendali bangsa asing yang tidak penting, itulah makna dari tidak menjadi embel-embel asing.

Kita ini harus menjadi player utama di dunia. Karena kita mempunyai latar belakang historis yang cukup besar dan panjang dan kita ini bhinneka, berbeda-beda tapi tunggal ika, kita bisa menjadi bangsa yang satu karena kesamaan cita-cita. Menurut saya ini yang sekarang seringkali dipidatokan menjadi retorika tetapi tidak mampu memaknainya secara filosofis.

“Lebih baik kami melihat Indonesia tenggelam ke dasar lautan daripada melihatnya sebagai embel-embel abdi suatu negara asing”.

Apakah ada kaitannya dengan kondisi sekarang?
Kita ini melanjutkan apa yang mereka (Soekarno-Hatta) perjuangkan. Pelanjut ini harus tahu apa yang pernah dibuat oleh para founding father, kita berharap ada suatu estafet sehingga tidak lupa. Cita-cita kita ini, sebagaimana dikatakan Bung Hatta, adalah untuk menciptakan kebahagiaan untuk rakyat, kesejahteraan rakyat, kemerdekaan, dan perdamaian.

Jadi kebahagian rakyat itu apa, misalnya cukup pangan yang bergizi, dan ingat kita 262 juta penduduk berarti 262 juta mulut yang harus diberi makan tiga kali sehari, kemudian cukup papan dan sandang, ada jaminan hari tua, inilah yang menjadi cita-cita mereka yang kini kita teruskan. Tidak boleh melenceng.

Sepanjang kemerdekaan, apakah ada situasi yang melenceng?
Ya beberapa kali. Pada suatu masa kita waktu itu keterpaksaan harus menerima Republik Indonesia Serikat, lalu ada demokrasi parlementer, lalu ada demokrasi terpimpin yang absolut, kemudian ada demokrasi Pancasila, sekarang di era reformasi sekarang ini kita berada dalam situasi demokrasi liberal.

Itu mengindikasikan apa?
Belum ada keadilan sosial, pemerataan, kan harusnya seperti kata Bung Hatta yang menulis pasal 33 UUD 1945, bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan yang sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Sekarang belum terjadi. Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya itu masih dikuasai orang tertentu, bahkan ada pihak asing yang tentu saja untuk kemakmuran mereka atau kemakmuran sedikit orang.

Bukankah kondisi ini sudah terjadi sejak Indonesia berdiri?
Ada satu periode yang seperti itu, namun sekarang lebih parah.

Menurut Anda apa yang harusnya dilakukan?
Yang bisa dilakukan adalah memberikan keleluasaan oportuniti terutama untuk sebagian besar rakyat kita, mayoritas rakyat kita ini petani, nelayan, buruh, pedagang pasar dan UMKM, ini yang harus diberikan. Terutama pertanian yang menyerap tenaga kerja sangat besar, dan mereka yang paling miskin. Sebenarnya kalau mau mensejahterakan rakyat Indonesia sangat sederhana, cukup dengan mensejahterakan petani, nelayan, dan buruh.

Saya melihat pemerintah sekarang, tidak terlalu memberikan perhatian pada sector-sektor tenaga kerja yang paling besar. Orientasinya kepada infrastruktur, padahal yang dikampanyekan adalah revolusi mental tetapi yang dibangun adalah fisik. Revolusi mental itu bukan begini caranya, menurut saya ada ketidaksingkronan antara yang diucapkan dengan yang dilakukan. Seharusnya yang dibangun itu manusianya. Kekuatan daya saingnya, kekuatan daya belinya, kan begitu.

Bukankah pembangunan fisik itu penting juga?
Pembangunan fisik itu penting, tetapi harus sesuai dengan kemampuan kita dan kebutuhan. Misalnya jika kita hanya mampu membangun jalan satu kilometer jangan memaksakan diri dengan berutang. Karena dengan berutang itu berarti kita memberi beban kepada generasi yang akan datang.

Seharusnya ada re-orientasi, kembalilah kepada sector agrikultur, kepada nelayan. Soal nelayan, program Ibu Susi (Menteri Kelautan Susi Pujiastuti) saya kira baik, mau memprotek laut kita dari illegal fishing, tetapi perlu dipikirkan apakah nelayan sudah sejahtera. Misalnya dengan melarang cantrang, itu para nelayan complain, mereka tidak mendapat penghasilan yang cukup dan mereka menderita, sementara pengganti belum tersosialisasi dengan baik. Belum ada solusi yang komprehensif.

Apakah tidak ada yang positif dari Pemerintahan Jokowi?
Kelebihannya menurut saya tentu di satu sisi ada pembagunan-pembangunan yang terlihat, meskipun kritik saya pada pembangunan infrastruktur ini adalah dari data statistik tidak ada stimulus terhadap ekonomi, karena industri logam dasar seperti baja dan semen tetap turun, penyerapan tenaga kerja di sektor kontruksi juga turun, padahal logikanya kan harus naik. Lapangan kerja yang seharusnya kita berikan untuk masyarakat kita, ternyata diisi oleh buruh-buruh asing.

Jadi sebetulnya semangat dari pemerintah ini bagus, tetapi pada pelaksanaannya bisa berbahaya sebab menggerus ABPN dan dana-dana lainnya yang sangat besar. Selain itu, karena kejar tayang dan etalase-etalase politik mengakibatkan hasil kerja yang kurang berkualitas, inilah yang menyebabkan beberapakali terjadi insiden, ada yang ambruk dan rusak.

Apakah ada sesuatu yang baik dalam pemerintah Jokowi?
Apa yang dilakukannya yang baik tentu saja ada, tetapi itu memang kewajiban yang harus dilakukannya. Itu memang tugasnya kok. Kalau ada sesuatu yang kurang itu harus kita ingatkan. Itu bagian dari kecintaan kita kepada NKRI.

Kembali ke kalimat Soekarno-Hatta itu, apakah Anda yakin Prabowo mampu mewujudkannya?
Saya sangat yakin, karena orientasi ekonominya adalah ekonomi kerakyatan, jadi pasal 33 UUD 1945 itulah yang menjadi ideologi ekonomi kita, dan bahkan perintah konstitusi kita. Saya kira kita harus kembali ke kalimat itu yang impratif, merupakan perintah konstitusi.

Kalau kita hanya mengandalkan sistem ekonomi liberal maka yang terjadi adalah pembangunan di Indonesia bukan pembangunan Indonesia, yang terjadi adalah bukan menggusur kemiskinan tetapi menggusur orang-orang miskin. Harusnya menggusur kemiskinan. Orang yang kuat yang akan eksis dan orang miskin tersingkir, ini tidak boleh terjadi. Kita harus kembali kepada ekonomi kerakyatan, yang lemah perlu dibantu dan yang kuat bisa berjalan sendiri. Kita bukan anti kepada kemapanan.

Mengapa Gerindra yakin mengusung Prabowo lagi?
Sekarang ini, aspirasai seluruh kader Gerindra semuanya menginginkan Pak Prabowo menjadi calon presiden, betul-betul calon presiden. Peluang untuk menjadi presiden pun masih sangat terbuka, karena seluruh survei mengatakan hanya ada dua calon, yaitu Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Ini peluang yang sangat besar.

Karena itu Pemilu 2014 adalah modal politik bagi kami, dengan persiapan yang sangat rendah pun perbedaan sangat kecil hanya 3-4 persen waktu itu, itu pun kami mengajukan catatan-catatan kecurangan di sejumlah daerah. Tetapi setelah MK memutuskan maka Pak Probowo menghormati itu, dan menyatakan mendukung Pak Jokowi sebagai presiden pada waktu, sebagai suatu kebesaran jiwa yang jarang dimiliki oleh tokoh-tokoh bangsa sekarang ini.

Sekarang, tentu saja kami harus bertarung kembali dalam arti pertarungan yang damai dan konstitusional di dalam bingkai demokrasi kita.

Bagaimana Anda melihat survey Jokowi yang tetap teratas?
Ya saya pikir wajar sekali Jokowi mendapatkan survey yang tertinggi, ia hampir tiap hari diliput dan mendapat perhatian dari media dan masyarakat. Semua itu dalam tanda petik dapat dikatakan sebagai kampanye politik terstruktur, walaupun sebagai presiden ya sah-sah saja melakukannya.

Tetapi secara keseluruhan kita melihat apakah kehidupan masyarakat sekarang ini apakah makin mudah atau makin susah, makin makmur atau makin sengsara. Saya bertanya kemana-mana, kehidupan masyarakat sekarang ini makin susah, bukan karena saya opisisi, Anda silahkan bertanya ke masyarakat.

Mungkin Anda bertanya pada kader Gerindra, maka jawabannya begitu?
Ada pendukung saya, ada yang masyarakat bebas. Di kampus saya bertanya, di berbagai tempat saya tanyakan, pada umumnya jawabannya seperti itu.

Kembali ke capres, siapa yang dipersiapkan Gerindra untuk mendampingi Prabowo?
Gerindra tak bisa mengusung sendiri, harus bicara dengan partai-partai yang akan berkoalisi. Saya kira partai-partai itu memiliki kriteria yang sama untuk calon wakil presiden, elektalibilitas, kapasitas, kapabilitas, dan integritas serta kemampuan komplementeri, substitusi dari pak Prawono. Memang belum ada yang tetap. Saya kira semua baru resmi setelah keluar surat resmi dari KPU.

Bagaimana dengan Anies Baswedan?
Sajauh ini, Anies tentu harus berkonsentrasi sebagai gebernur sampai selesai. Itu komitmen.

Anda meyakini, Prabowo memenangkan pemilihan presiden?
Saya sangat yakin. Sebab masyarakat membutuhkan perubahan sekarang ini. Kepemimpinan yang tegas dan visioner, kebijakan-kebijakan ekonomi yang menguntungkan. Pencitraan yang dibangun sekarang ini tidak mencerminkan yang sesungguhnya. Kalau Pak Prabowo terpilih pasti akan kembali ke ekonomi kerakyatan.



Sumber: BeritaSatu.com