Raja Juli Antoni

Ritual Demokrasi, Banyak Aktor Tak Berkualitas

Ritual Demokrasi, Banyak Aktor Tak Berkualitas
Sekretaris Jenderal PSI, Raja Juli Antoni. ( Foto: dok. beritasatu.com )
Nurlis E Meuko / NEF Selasa, 27 Maret 2018 | 16:18 WIB

Kendati baru berdiri, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mendapat sorotan yang ramai. Kini partai yang muncul pada 2014 ini sudah lolos menjadi kontestan Pemilu 2019.

Beberapa gerakan PSI dinilai berani. Mulai dari penetapan pengurusnya yang tak boleh lebih dari usia 45 tahun, hingga kedekatannya dengan Presiden RI Joko Widodo.

PSI memang mewujudkan dirinya sebagai partainya anak-anak muda di Indonesia. “Kami bukan hanya partai baru pada kulitnya saja, tetapi juga isi-isinya juga baru,” kata Raja Juli Antoni, Sekretaris Jenderal PSI. Bahkan PSI tak menerima pengurus yang pernah menjadi pengurus di partai lain sebelumnya.

Untuk mengetahui lebih jauh soal PSI, Wartawan BeritaSatu.com Nurlis E Meuko mewawancarai Raja Juli Antoni di DPP PSI, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pekan lalu.

Berikut petikannya:

Sebagai partai baru, PSI dilarang kampanye presiden?
Ini masih sesuatu yang masih didiskusikan. Disebutkan itu sebagai konsekuensi logis dari pasal 222 Undang-undang Pemilu. Disitu disebutkan, partai baru tak punya hak mengusung calon presiden, jadi diintepretasikanbahwa PSI tak boleh mengkampanyekan, kandidat juga tidak boleh mendapatkan dana dari partai baru.

Prinsipnya kami menerima keputusan Mahkamah Konstitusi bahwa kami tak boleh mengusulkan, mengusung, dan mencalonkan calon presiden. Tapi kalau hanya mendukung, menurut saya itu hak konstitusi partai politik.

Bahkan personal dan relawan juga boleh kok, mengapa harus dibatasi, apa masalahnya? Saya berharap KPU berhati-hati menginterpretasikan undang-undang itu, jangan sampai bertentangan atau justru membatasi hak warga negara.

Langsung mendukung Jokowi, apa pengaruhnya untuk PSI?
Kami belum berfikir tentang buah politik yang akan kami petik, tetapi secara objektif kami melihat Pak Jokowi berhasil memimpin Indonesia dalam kurun waktu 4 tahun ini, bahkan sejak awal Pak Jokowi ini adalah ideal tipe yang menjadi idola dan menginspirasi kelahiran PSI. Pak Jokowi ini adalah buah konkrit dari demokrasi itu sendiri.

Kita tahu bahwa hanya dengan demokrasilah orang samacam pak Jokowi yang bukan anak siapa-siapa, bukan dari keluarga kaya, bahkan pernah menjadi korban penggusuran saat keluarga tinggal di bantara sungai, tapi karena demokrasilah orang berkualitas dapat dipercaya oleh rakyat. Mulai dari walikota, gubernur, hingga menjadi presiden.

Bagaimana kaitannya dengan politik anak muda di PSI?
Saya kira itu juga adalah impian anak-anak muda, di mana Indonesia yang mereka cintai membuka ruang kepada anak-anak muda untuk dapat mengartikulasikan kualitas dan kapasitas yang mereka miliki.

Itulah sebabnya, Pak Jokowi menjadi semacam tipe ideal bagi PSI, dia yang berasal dari orang biasa-biasa bisa memimpin negeri ini karena kualitas.

Selain itu, Pak Jokowi juga memperbaharui politik Indonesia dengan konsep partipasi. Jika semula semua orang menganggap partisipasi dalam politik itu mustahil, tetapi Pak Jokowi membuktikan bisa melakukannya dengan dukungan rakyat.

Bagaimana PSI melihat Indonesia pada 2030 nanti?
Masalah memang masih banyak, namun kami tak setuju dengan prediksi yang menyebutkan tahun 2030 Indonesia akan bubar. PSI adalah generasi muda yang optimis yang melihat gelas setengah penuh bukan setengah kosong.

Benar, ada banyak masalah yang kita hadapi, tetapi data-data memperlihatkan bahwa kita berada ke arah yang benar. Apalahi nanti kita akan berada dalam bonus demografi, angkatan produktif. Justru 2030 itu, Indonesia berada pada sentral pertumbuhan ekonomi yang luar biasa.

Bagaimana kekuatan PSI menjaring generasi optimis itu?
Ketika partai ini didirikan, banyak orang pesimis dengan menyebutkan bahwa anak-anak muda kita telah apatis melihat politik. Tidak mau terlibat politik.

Saya agak ragu dengan hipotesis itu. Bahkan kami membuat kriteria bagi pengurus PSI yaitu berusia di bawah 45 tahun dan belum pernah menjadi pengurus partai politik lainnya.

Mereka hanya menjadi objek politik, dimobilisasi untuk kepentingan politik tertentu, tetapi tak pernah menjadi aktor aktif, bahkan menjadi korban pertarungan politik.


Beberapa kawan-kawan menyebutkan itu bunuh diri, mereka menyebutkan politik itu milik orang-orang tua yang sudah berpengalaman di partai politik. Disebutkan, kami mempersulit diri kami dengan membatasi usia itu.

Faktanya bagaimana?
Kami buktikan ada segmen politik yaitu anak-anak muda yang sangat konsen dengan politik dan sangat peduli pada politik, tetapi mereka tak pernah diberi ruang paritisipasi aktif sebagai subjek politik.

Mereka hanya menjadi objek politik, dimobilisasi untuk kepentingan politik tertentu, tetapi tak pernah menjadi aktor aktif, bahkan menjadi korban pertarungan politik.

Jadi dengan terbentuknya partai ini dari Sabang sampai Merauke, telah menunjukkan bahwa anak-anak muda sangat konsen pada politik, banyak yang mengatakan generasi milinenial antipolitik, tetapi justru tak seperti itu.

Benarkah anak-anak muda itu memahami politik?
Sebenarnya, mereka sangat paham politik tetapi ekspresi politiknya itu berbeda dibandingkan dengan generasi kakak-kakak atau bapak-bapaknya.

Mereka tak mau masuk kepada institusi-institusi politik formal, tetapi apa yang mereka lakukan adalah ekspresi yang bersifat politik, misalnya bike to work, mengajak Indonesia berkebun, sebenarnya itu ekspresi bersifat politis.

Tugas kami sekarang adalah mengajak teman-teman muda itu untuk mengobrol bahwa tuntutan-tuntutan serupa yang menjadi movement selama ini hanya akan sustain apabila ada kebijakan yang mengikat gagasan mereka, itu bisa dilakukan melalui partai politik.

Setelah PSI lolos, targetnya apa saja?
Ketua Umum selalu mengatakan bahwa target kami adalah dua digit, bahkan pada pemilu berikutnya kami harus bisa mencalonkan presiden sendiri dari PSI. Artinya kami harus dapat 20 persen.

Apakah mungkin?
Rasanya itu bukan suatu hal yang mustahil untuk dicapai. Alasanya, sebagai konsekuensi logis kita menerima demokrasi sebagai cara kita mengelola kepentingan bernegara dan berbangsa, bahwa pemilu itu selalu ada lima tahun sekali.

Tetapi sayangnya aktor utama dari ritual demokrasi yaitu pemilu itu banyak yang tidak berkualitas. Bahkan, partai-partai politik maupun insitusi parlemen dalam berbagai survei selalu menempati tempat yang sangat rendah.

Maka mau tak mau harus hadir sebuah partai yang baru tidak hanya hanya kulitnya saja yang baru tetapi isinya juga baru, cara berfikir yang baru, membuka peluang bahwa PSI akan menjadi partai alternatif.

Alasan lainnya?
Sebanyak 89 persen masyarakat Indonesia yang tidak memiliki hubungan emosional dengan partai apapun, ini ruang yang sangat besar. Ini segmen yang sangat besar dan potensial yang diraih oleh PSI.

Mengapa itu bisa terjadi?

Partai politik memegang peran yang sangat signifikan dalam demokrasi. Kalau kita lihat secara praktis saja ada 514 kabupaten kota, tetapi kepala daerah yang mampu menunjukkan kebaharuan itu tidak lebih dari jumlah jari kita. Kita paksakan, 10 pun tidak ada. Itu menurut saya itu indikasi kegagalan partai politik.

Partai politik itu semacam sekolah kepemimpinan, dimana jebolannya harus menjadi kepala daerah yang memikirkan nasib rakyat. Jadi, kalau di seluruh Indonesia jumlahnya tak sampai 10 orang, maka itu adalah kegagalan partai politik.

Padahal desain negara kita pasca reformasi adalah desentralisasi yaitu otonomi daerah. Indonesia itu dibangun dari pinggiran. Kita tidak bisa bergantung kepada pemerintah pusat.

Inti persoalannya berada di mana sebenarnya?
Problemnya, masyarakat tak bergairah ikut memilih di pilkada, bahkan angka golput jauh lebih besar dari angka orang yang mencoblos pada pilkada, karena partai gagal menunjukkan calon pemimpin yang berkualitas dan memikirkan rakyat.

Partai politik gagal menampilkan orang-orang terbaiknya, disebabkan politik transaksional. Akibatnya, orang-orang terbaik itu terpinggirkan, misalnya para akademisi yang lebih paham dan jelas dalam memikirkan bagaimana membangun daerah, tak bisa muncul dalam pilkada.

Mereka dikeluarkan karena tak memiliki “gizi”, walau mereka memiliki visi dan misi yang bagus. Miskin sekali orang-orang baik.

Apakah PSI akan mengubahnya, bagaimana caranya?

Salah satunya dengan pola rekrutmen, di sini gizi tak menjadi faktor utama dalam merekrut calon-calon kepala daerah. Paling utama adalah bagaimana mereka memiliki track record yang baik, memiliki visi dan misi yang clear bagaimana melakukan kesejahteraan umum di tempat tertentu, soal pendanaan adalah tanggungjawab partai.

Saya berfikir, dengan konsep Indonesia harus dibangun dari pinggiran, maka kepemimpinan lokal di sebuah provinsi akan sangat menentukan. Seandainya ada protitipe di satu atau dua kabupaten dan kota, maka akan menjadi standar baru dan membuat rakyat di kabupaten dan kota lainnya di provinsi itu menjadi cemburu, dan menginginkan hal yang sama.

Itu yang menjadi tujuan PSI dimana setelah kami memiliki kursi di DPR di seluruh Indonesia, kita akan mencari satu atau dua kabupaten percobaan. Kalau ini berhasil, maka memiliki efek kepada kabupaten yang lain.

Di situlah sistiem berpolitik kita akan berubah. Siapapun yang menjadi presiden, maka kerjanya menjadi lebih mudah sebab memiliki jaringan yang benar, dan klop dengan desain pembangunan nasional.

Rekrutmen PSI sangat terbuka, apakah ini membuka perlawanan?
Idealnya justru apa yang kami tawarkan ini, dan berharap, partai-partai lain mulai berfikir untuk melakukan hal yang sama. Kami persilahkan partai-partai melakukan rekrutmen yang transparan.

Jadi saya tak terlalu terganggu dengan orang yang mulai gelisah dengan PSI, saran saya apa yang sudah baik silahkan mengadopsinya. PSI juga nggak perlu jumawa dengan konsepnya ini.

Mengapa harus mendirikan partai?
Intinya kami, melihat bahwa membuat kultur baru dengan kenderaan baru itu jauh lebih mudah, fisibel, ketimbang mengubah sebuah kultur yang sudah establish yang sudah melekat erat di partai yang ada.

Dengan segala kekurangan kami, kami mencoba membuat kendaraan baru dengan mesin yang baru juga.



Sumber: BeritaSatu.com