Onggy Hianata

Hidup Melarat, Memotivasi, hingga Film “Terbang Menembus Langit”

Hidup Melarat, Memotivasi, hingga Film “Terbang Menembus Langit”
Memulai program "Edunet Global" tahun 2003 dengan training andalannya "Value Your Life, A Life Changing Bootcamp", Onggy Hianata mulai mengabdikan dirinya di bidang pendidikan mental, karakter, pola pikir, leadership dan spiritual. ( Foto: networkingtimes.com )
Fajar Widhiyanto / FW Rabu, 4 April 2018 | 14:59 WIB


Lahir dari keluarga yang berada di garis kemiskinan, menempa Onggy Hianata, pria kelahiran Tarakan, 6 Maret 1962 menjadi sosok pria yang tahan banting dan tak kenal putus asa saat menjalankan usaha. Tak sedikit ia harus menemui kegagalan saat berbisnis. Bahkan ia juga tak luput menjadi korban penipuan saat menjalankan usaha.

Kendati demikian ia tetap berpikiran positif dan tak menyerah untuk kembali memulai usahanya dari bawah. Terbukti, memulai usaha dari nol bukanlah hal yang mustahil. Onggy telah membuktikannya, dan ia kini telah dikenal sukses mengelola sejumlah instrumen investasinya, dan kini ia bisa menikmati kemerdekaan secara finansial, plus kebebasan dari sisi waktu.

Kesuksesan yang ia rasakan saat ini mendorongnya untuk membagi pengalaman dan berusaha memberikan motivasi dan membangun mental masyarakat. Dimulai dengan melahirkan Edunet Global tahun 2003 dengan training andalannya Value Your Life, A Life Changing Bootcamp, Onggy Hianata mulai mengabdikan dirinya di bidang pendidikan mental, karakter, mindset, leadership dan spiritual.

Inti programnya adalah membangun Gerakan Perubahan Hidup dan menginspirasi masyarakat agar mampu membangun kehidupan, sampai bisa “Terbang Menembus Langit kehidupan”. Program ini dilansir melalui Bootcamp yang digelar bersama timnya dan berlangsung selama 3 hari untuk satu angkatan. Dikatakan Onggy di Jakarta, Rabu (4/4), program ini juga telah membantu ribuan orang di lima benua.

Disamping itu, Onggy juga mendirikan komunitas "Freedom Faithnet Global (FFG)" tahun 2003. Komunitas ini berporos di Indonesia dan saat ini sudah beranggotakan lebih dari 70 negara di 5 benua. Komunitas yang menitik beratkan pendidikan mental dan gerakan sosial ini, memecahkan 5 rekor dunia (Guinness World Record).

Ketika ditanya, apa yang ingin diraih dengan semua hal tersebut, Onggy menyatakan menginginkan terjadinya perubahan hidup terjadi pada begitu banyak orang di berbagai belahan dunia. “Sesungguhnya ke depan saya ingin menjadikan kondisi Indonesia lebih baik, demikian juga keadaan dunia menjadi lebih damai. Secara tidak langsung, saya ingin berpartisipasi memajukan Indonesia,” ujarnya.

Pengembangan kepribadian baginya merupaka satu komponen amat penting dalam mencapai kemajuan personal, karena menurut Onggy pada dasarnya setiap orang menginginkan hidupnya berada dalam kondisi yang damai. Baik itu berdamai dengan diri, keluarga, dan juga lingkungan sekitar. “Saya terpanggil melakukan hal ini, karena melihat setiap hari baik di Indonesia dan juga dunia, banyak yang tidak sesuai seperti seharusnya,” imbuhnya.

Lewat Bootcamp yang ia gelar, ia mengaku ingin mengajak masyarakat mengubah “mindset” atau pola pikir sehingga begitu usai mengikuti program, masyarakat tak lagi diberatkan oleh segala masalah yang merintang, dan siap untuk kembali bergerak dan berjuang. “Selama mengikuti bootcamp, semua masalah yang memberatkan dalam hidup, akan dibuang dalam kotak sampah, dengan harapan tidak akan muncul lagi di kemudian hari,” paparnya.

Idealnya, kata Onggy, tidak ada lagi orang yang masih miskin secara ekonomi, maupun pada aspek yang lain jika berlaku kondisi seperti yang ia terapkan selama ini. Lewat motivasinya, Onggy juga menularkan salah satu warisan nilai-nilai yang diajarkan kedua orang tuanya, yakni sesulit apapunkita jangan sampai mengeluh. “Karena bagaimanapun mengeluh tidak akan menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Justru tanpa mengeluh, energi akan tersalur untuk berpikir keluar dari kesulitan yang dihadapi,” paparnya. Filosofi inipun masih dipegang Onggy sampai saat ini

Saat ini selain menuangkan pengalaman hidupnya dalam bentuk buku, Onggy kerap berkeliling Indonesia dan dunia, untuk membagi pengalaman hidupnya. Ia melihat banyak orang yang berlatar belakang miskin, akhirnya menjadi tidak percaya diri. Ia berharap dirinya bisa ambil bagian membantu mereka yang punya latar belakang yang sama seperti dirinya dulu, hingga bisa keluar dari situasi tersebut.

Sedikit soal Onggy Hianata, sejak kecil ia sudah merasakan tantangan finansial yang dialami kedua orang tuanya yang bekerja sebagai karyawan toko kelontong. Anak ke delapan dari 9 bersaudara ini langsung duduk di kelas 3 SD saat bersekolah, karena situasi politik dan kondisi finansial orang tuanya yang tidak memungkinkan.

Sekitar umur 8 tahun, Onggy bekerja membantu orang tuanya seperti mencari kayu bakar di hutan, bercocok tanam, memelihara ayam dan hewan lain, mengangkat air dari sumur yang jaraknya sekitar 300 meter dari rumah dan sebagainya.

Lulus SMA tahun 1983, Onggy meneruskan kuliah di Surabaya sambil bekerja dan melakukan usaha yang bisa menopang hidupnya. Jatuh bangun usaha, bekerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain, dan menghadapi banyak tantangan dalam berusaha, dan serentetan perjuangan memperkaya pengalaman hidupnya.

Hampir 99% usaha yang dilakukannya gagal pada saat itu. Tetapi hal ini tidak membuat Onggy menyerah dan terus berjuang. Pada akhirnya ia terus mencari jalan menuju ke puncak sukses. Bekerja keras bagi Onggy tidak menjadi masalah, karena sudah sejak kecil ia terbiasa melakukan hal itu. Sekaligus ia juga menyadari, bekerja keras saja bukan jawaban untuk memperbaiki kondisi finansial dan aspek hidup yang lain.

Tahun 1992, dirinya memulai usaha yang berkembang ke berbagai negara. Dari sana, Onggy mulai mencari rahasia sukses melalui buku-buku, termasuk juga mendengarkan kisah sukses dari kaset, mengikuti seminar, training pengembangan kepribadian dan dengan sengaja bertemu, atau belajar dari orang yang sebelumnya telah berhasil.

Pada saat kondisi finansial mulai sedikit membaik, Onggy mulai terbang keluar negeri menghadiri berbagai pelatihan kepemimpinan dan super soft skill yang lain. Onggy yang merasa “kecanduan training,” belajar di sejumlah negara mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Tiongkok sampai India termasuk juga hingga ke Australia, Eropa, dan Amerika.

Pada tahun 2001, Onggy akhirnya mencapai kebebasan finansial plus kebebasan waktu. Ia pun dijuluki inspirator dunia karena pengalaman dan perjuangan hidupnya yang menginspirasi. Terilhami oleh perjalanannya, seorang sutradara merangkaikan perjalanan dan perjuangan hidupnya dalam satu film layar lebar berjudul “Terbang Menembus Langit.”



Sumber: Majalah Investor
CLOSE