Budi Waseso

Bekerja untuk Perut Masyarakat Indonesia

Bekerja untuk Perut Masyarakat Indonesia
Budi Waseso. ( Foto: B1/Primus Dorimulu )
Farouk Arnaz / AB Sabtu, 28 April 2018 | 11:25 WIB

Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno resmi menunjuk Komisaris Jenderal (Purn) Budi Waseso menjadi menjadi direktur utama Perum Bulog menggantikan Djarot Kusumayakti. Penunjukan Buwas--begitu Budi akrab disapa--mengonfirmasi isu yang beredar seminggu ini tentang purnawirawan polisi bintang tiga yang diplot menjadi dirut Bulog.

Gebrakan apa yang akan dilakukan Buwas di kursi barunya itu?

Berikut wawancara Beritasatu.com dengan Buwas saat dihubungi Jumat (27/4) malam.

Kapan diberitahu mau dilantik jadi dirut Bulog ?
Tadi (Jumat, 27/4) diberitahu pagi dan disuruh ke kantor menteri BUMN terus dikasih surat keputusan.

Terus apa yang diamanatkan menteri kepada Anda ?
Ya, belum banyak ya. Garis besarnya yang jelas sih berkaitan Bulog saat ini berkaitan dengan beras. Bagaimana masalah suplai dan demand, beras apalagi mendekati puasa, Lebaran, berkaitan dengan penyediaan stok dan penyaluran. Baru sampai situ saja. Tetapi kan tugasnya banyak. Besok (Sabtu pagi, Red) saya harus ke Solo ikut kegiatannya beliau (menteri) yang mengumpulkan seluruh direksi-direksi BUMN se-Indonesia.

Anda termasuk baru di isu-isu Bulog, tetapi dalam konteks masalah pangan, kan waktu jadi kabareskrim, Anda pernah menyasar mafia daging sapi. Nah, kalau jangka pendeknya adalah Ramadan dan Lebaran, kalau jangka panjangnya apa yang kira-kira Anda lakukan? Apakah mereka yang disebut sebagai mafia pangan juga harus dibersihkan?
Saya sebenarnya belum tahu seperti apa (mafia itu, Red). Itu baru isu yang saya terima, semua masih informasi. Saya sebagai mantan polisi tentunya harus berangkat dari fakta dan begini, sebagai pelayan masyarakat kita sebagai penanggung jawab persediaan beras ya. Kepastian harga kita harus tahu suatu permasalahan semuanya harus tahu. Tentunya ini tidak akan terjadi (kenaikan harga) manakala tak ada suatu permasalahan.

Permasalahan ini yang harus kita petakan. Ada masalahnya apa? Mudah-mudahan sih tidak ada masalah ya. Tetapi kan isunya macam-macam. Ada mafialah, kerja sama (hitam)-lah, penimbunanlah. Kita kan belum tahu benar atau tidaknya, tetapi nanti akan saya cek keseluruhannya.

Kita juga tahu beberapa komoditas pangan, karena suplai di dalam negeri memang kurang, sehingga harus impor. Apakah seorang Buwas tidak anti-impor kalau memang itu dibutuhkan Republik ini?
Nanti kita lihat, saya kan belum tahu datanya. Gini lho, kalau impor itu kenapa, iya kan? Alasannya untuk apa? Nanti kan harus kita lihat secara keseluruhan. Ini kan saya baru, hitungannya baru beberapa jam di posisi ini. Saya bahkan belum tahu kantornya di mana, baru menerima skep (surat keputusan)-nya tadi. Nanti kita petakan.

Yang paling saya harus tahu dahulu adalah tugas pokok Bulog itu apa dengan visi misinya, terus apa yang dihadapi, permasalahannya, terutama ke internal dulu dong. Apakah di internal sudah siap menghadapi situasi dalam menciptakan pelayanan, serta masalah demand dan suplay tadi. Nah, itu kan yang harus kita benahi semua. Bagaimanapun kalau belum tertata dengan baik, belum terjadi komitmen di dalam dengan baik, kita tidak bisa maksimal. Ini yang sekarang saya akan dahulukan dan istilah saya pemetaan dululah.

Terakhir, kita mencatat saat Anda duduk di beberapa jabatan di masa lalu selalu jadi berita besar, seperti menangkap Pak Susno Duadji saat menjabat di Propam, mengungkap megakorupsi TPPI ketika menjadi kabareskrim, sampai ide penjara dengan buaya saat di BNN, lalu kini kira-kira gebrakan apa yang akan Anda lalukan?
Saya belum tahu pemetaannya. Nanti kalau sudah tahu pemetaannya saya tahu akan berbuat apa dan apa yang menjadi sasaran prioritas saya, di mana, dan seterusnya. Saya baru akan bangun langkah saat itu. Saya ini masih gelap saat ini, masih raba-raba, saya belum tahu apa-apa. Kalau program-program, ya saya akan buat A, B, C. Ada langkah-langkahnya. Ibaratnya kalau ada masalah, seperti penimbunan, mafia, ya saya kira kita tindak. Tetapi mudah-mudahan tidak ada. Tergantung nanti.

Saya ini berlatar belakang penegak hukum, sehingga langkah-langkah saya (mencerminkan) sebagai mantan polisi. Hukum itu untuk ketertiban. Segala sesuatu harus didahului dengan tertib, sesuai relnya. Diikuti saja (kinerja saya). Saya bekerja untuk kepentingan bangsa dan negara ini, khususnya kini perutnya masyarakat Indonesia.



Sumber: BeritaSatu.com