Perry Warjiyo

Anak Petani di Pucuk Pimpinan BI

Anak Petani di Pucuk Pimpinan BI
Perry Warjiyo. ( Foto: Antara / Puspa Perwitasari )
Lona Olavia / Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Kamis, 24 Mei 2018 | 10:55 WIB

Jakarta – Perry Warjiyo sah menjabat gubernur Bank Indonesia (BI) menggantikan Agus DW Martowardojo. Jabatan gubernur BI disandang Perry usai mengucapkan sumpah di hadapan Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali dalam suatu upacara yang digelar di Ruang Prof Dr Mr Kusuma Atmadja Tower, Mahkamah Agung RI, pada Kamis (25/5)

"Demi Allah saya bersumpah bahwa saya menjadi gubernur secara langsung atau tidak langsung dengan nama dan dalih apa pun tidak berikan atau menjanjikan sesuatu ke siapa pun. Saya bersumpah dalam melakukan atau tidak melakukan sesuatu tidak akan menerima langsung atau tidak langsung dari siapa pun suatu janji atau pemberian dalam bentuk apa pun. Saya bersumpah saya akan melaksanakan kewajiban gubernur BI dengan sebaiknya dan penuh rasa tanggung jawab. Saya bersumpah saya akan setia terhadap negara konstitusi dan haluan negara," ucap Perry.

Perry berjanji akan membawa BI untuk secara penuh menjalankan mandatnya menjaga stabilitas ekonomi. Secara khusus inflasi dan nilai tukar rupiah yang belakangan ini cenderung melemah.

“Tentu saja dalam menjaga itu, saya tetap mendukung stabilitas ekonomi. Saya juga pro-growth (mendukung pertumbuhan),” katanya.

Dalam melaksanakan tugas, Perry menyatakan akan melaksanakan lima hal.

Pertama, memprioritaskan penjagaan stabilitas yaitu kebijakan moneter.

Kedua, mendorong peningkatan ekonomi dengan merelaksasi kebijakan makro prudent, mendorong sektor perumahan yang jadi leading sektor. Dengan dorongan itu akan terjadi pertumbuhan ekonomi.

Ketiga adalah mempercepat pendalaman pasar keuangan, khususnya pembiayaan infrastruktur. Sekuritas berbagai obligasi untuk pembiayaan infrastruktur itu juga pro-growth dengan koordinasi dengan pemerintah dan OJK.

Keempat, sistem pembayaran untuk mendukung strategi nasional untuk ekonomi keuangan digital. Kebijakan itu juga gerbang pembayaran nasional fintech.

Kelima adalah adalah memperkuat akselerasi pengembangan ekonomi syariah, seperti industri halal. Pihaknya akan mengembangkan keuangan syariah, maupun pengembangan research, serta kampanye gaya hidup halal.

"Kebijakan moneter itu pro-stability, tetapi yang empat lainnya adalah pro-growth,” katanya.‎

Sebelumnya, Perry lolos uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Komisi XI DPR setelah diajukan sebagai calon tunggal oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggantikan Agus Martowardojo. DPR pada sidang paripurna, 3 April 2018 secara resmi menetapkan Perry sebagai Gubernur BI, periode 2018–2023.

Menteri Koordinator Perekonomian yang pernah juga menjabat sebagai gubernur BI 2010-2013 Darmin Nasution menilai, Perry adalah sosok yang tepat untuk menjadi pucuk pimpinan tertinggi otoritas moneter mengingat kariernya yang sudah lama di BI. “Sudah ngelotok ilmunya. Dia juga komplit tidak hanya sekedar monetary tapi juga perhatian pada para pegawai. Jadi, menurut saya orangnya cukup mumpuni,” ungkapnya usai memberi ucapan selamat ke Perry Warjiyo.

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai, memasuki suasana ekonomi yang sedang penuh tantangan, sosok Perry diharapkan bisa memberikan stabilisasi. Pemerintah akan mendukung penuh tugas Perry secara efektif, kredibel dan diharapkan bisa menenangkan pasar, masyarakat dan lingkungan BI.

“Saya siap bekerja sama secara penuh dan kuat dalam era baru ini. Pemerintah dan BI harus fokus kepada stabilitas supaya tidak menimbulkan suasana yang tidak menentu,” ungkapnya.

Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso berharap Gubernur BI yang baru bisa lebih memberikan kontribusi pada stabilitas sistem ekonomi dan keuangan. “Dan kita tunggu gebrakan yang akan dilakukan apalagi kondisi saat ini perlu sekali kebijakan di sektor moneter khususnya BI yang memberikan dampak positif di saat kondisi akhir-akhir ini yang sedang tinggi volatilitasnya,” katanya.

Sementara Wakil Ketua Komisi XI DPR Achmad Hafisz berharap agar Gubernur BI dan Deputi Gubernur Bank Indonesia terpilih dapat menjaga stabilitas perekonomian nasional dalam menghadapi potensi gejolak ekonomi global. "Stabilitas perekonomian tersebut harus dilakukan dengan kebijakan moneter yang dititikberatkan pada upaya untuk memelihara stabilitas nilai rupiah," ujarnya.

DPR juga meminta agar Gubernur BI dapat meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah, OJK, dan DPR RI terkait dengan kebijakan Bank Indonesia di bidang moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dengan tetap menjaga independensi Bank Indonesia. "Akhirnya, kami berharap agar kebijakan-kebijakan Bank Indonesia ke depan dapat memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat, mengurangi kemiskinan dan mengatasi permasalahan kesenjangan ekonomi di Indonesia," jelasnya.

Karier dari Bawah
Mengutip laman resmi bi.go.id Perry Warjiyo lahir di Sukoharjo pada 1959. Pria yang memiliki 3 anak dan 2 cucu ini sebelumnya menjabat sebagai deputi gubernur BI sejak 15 April 2013 untuk masa jabatan 2013-2018.

Sebelumnya Perry menduduki posisi asisten gubernur untuk perumusan kebijakan moneter, makroprudensial dan internasional di BI. Perry juga pernah menjabat sebagai direktur eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI. Pada 2009 Perry pernah menduduki posisi direktur eksekutif di International Monetary Fund (IMF) mewakili 13 negara anggota yang tergabung dalam South East Asia Voting Group.

Karier Perry di BI dimulai sejak 1984 khususnya area riset ekonomi dan kebijakan moneter, isu-isu internasional, transformasi organisasi dan strategi kebijakan moneter, pendidikan dan riset kebanksentralan, pengelolaan devisa dan utang luar negeri, serta kepala Biro Gubernur.

Selain menjadi anggota Dewan Gubernur, Perry juga menjadi dosen pasca-sarjana di Universitas Indonesia bidang Ekonomi Moneter dan Ekonomi, di samping itu dia juga sebagai dosen tamu di sejumlah universitas di Indonesia.

Ia mengenyam pendidikan sarjana dengan gelar sarjana ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1982. Perry kemudian melanjutkan pendidikan magister di Iowa State University, AS, dan lulus pada 1989 dengan gelar master of science (Msc) di bidang ekonomi moneter dan internasional. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan doktoral di universitas yang sama dan memperoleh gelar PhD di bidang ekonomi moneter dan keuangan internasional pada 1989 dan 1991.

Saat ini Perry telah menulis dan mempublikasikan sejumlah buku, jurnal dan makalah di bidang ekonomi, moneter dan isu internasional.

Perry merupakan seseorang yang sudah sangat paham asam garam sisi moneter, makroekonomi dan ke-banksentralan dengan sederet prestasi dan pengalaman di dalam tubuh bank sentral sendiri. Buku-buku soal kebanksentralan karya Perry Warjiyo sudah banyak beredar.

Anak Desa
Dalam paparan di fit and proper test di Komisi XI DPR, Perry menyampaikan bahwa dia adalah orang desa dan berasal dari keluarga petani. "Saya adalah orang desa, berasal dari keluarga petani. Lima tahun lalu, saya duduk di sini untuk pemilihan deputi gubernur BI, tiga kali saya tidak berhasil, tapi akhirnya kami belajar komunikasi politik yang baik. Alhamdulillah saya menjalankan mandat dan proaktif dorong pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Perry di Ruang Rapat Komisi XI DPR, Jakarta, Rabu (28/3).

Dia menambahkan, sudah 34 tahun di BI banyak yang sudah dilakukan olehnya untuk Indonesia. "Begitu banyak yang sudah dibaktikan tak hanya untuk ekonomi nasional tapi juga untuk internasional. Sejak saat itu ini jadi bekal kami untuk mengabdi, jika ini jadi amanah (Gubernur BI) saya akan tunaikan secara amanah dan berdedikasi tidak hanya untuk BI tapi juga untuk Indonesia dan kita bersama," ucap Perry.

Dalam salah satu paparan visi misinya, Perry menjelaskan saat ini suku bunga acuan atau BI 7 days Repo Rate sudah turun cukup banyak dibandingkan dengan penurunan bunga kredit. Sayangnya hal ini tidak dibarengi dengan penurunan bunga kredit perbankan sehingga, dampaknya kurang dirasakan sektor riil.

Dari data yang dihimpun, suku bunga kebijakan BI telah turun sebanyak 175 basis  point (bps) dalam kurun waktu Januari 2016 sampai Maret 2018 sebelum pada RDG pekan lalu, suku bunga acuan dinaikkan 25 bps. Adapun suku bunga saat ini berada di posisi 4,5 persen.

"Sebenarnya bagaimana efektivitas kebijakan itu, penurunan suku bunga acuan harusnya bisa diikuti bunga di bank. Tapi bunga kredit masih 11 persenan jadi ada margin 5 persen sampai 6 persen di sini, ini terlalu tinggi untuk Indonesia dibanding negara kawasan," kata Perry.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE