Nurhayati Subakat

Sukses dari Keteladanan

Sukses dari Keteladanan
Nurhayati Subakat. ( Foto: Istimewa )
Mardiana Makmun / AB Jumat, 13 Juli 2018 | 11:53 WIB

Siapa sangka produk-produk kosmetik Wardah yang sangat populer di kalangan kaum hawa ternyata dimulai dari industri rumahan? Ya, PT Paragon Technology and Innovation yang didirikan 33 tahun silam awalnya hanya home industry. Perlahan tetapi pasti, Paragon tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan besar.

Kini, produsen kosmetik dengan merek Wardah, Make Over, Putri, IX, dan Emina itu, tercatat sebagai salah satu produsen kosmetik papan atas di Tanah Air. Bahkan, Wardah yang menyumbang 80 persen penjualan Paragon, bertengger di posisi puncak untuk kategori pelembap wajah, mengalahkan produk-produk kosmetik multinasional ternama.

Kesuksesan itu tak lepas dari tangan dingin Nurhayati Subakat, pendiri sekaligus chief executive officer (CEO) PT Paragon Technology and Innovation. Membawahkan sekitar 10.000 karyawan, Nurhayati menerapkan keteladanan yang dilandasi oleh disiplin, kerja keras, dan mengutamakan kejujuran serta "sentuhan tangan" Yang Maha Kuasa.

“Keteladanan ke bawah merupakan corporate culture yang terus kami pelihara di perusahaan ini. Kami di jajaran BOD (board of directors) memberi contoh kepada segenap karyawan untuk selalu bekerja berlandaskan disiplin, kerja keras, dan mengutamakan kejujuran,” kata Nurhayati Subakat di Jakarta, baru-baru ini.

Kesuksesan Wardah sebagai merek kosmetik yang cepat sekali melejit tergolong fenomenal. Nurhayati pun membuka rahasianya. “Saya selalu bilang, selain karena formula 4P, yaitu product, pricing, positioning, dan promotion, juga ada 1P, yakni pertolongan dari Allah SWT,” tutur perempuan kelahiran Padang Panjang, 27 Juli 1950 tersebut.

Nurhayati menganggap jalan Paragon masih panjang. Ia masih memendam sejumlah obsesi untuk perusahaan tersebut. “Saya ingin Paragon melalui Wardah menjadi global brand, masuk 10 besar brand kosmetik dunia. Sekarang semua langkah yang kami lakukan menuju ke sana,” tegas sarjana farmasi lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

Entrepreneur ini paham betul bahwa untuk sampai ke sana, Paragon harus menjadi raja terlebih dahulu di pasar domestik, baru kemudian berekspansi ke luar negeri.

“Saat ini, pasar kosmetika di Indonesia mencapai Rp 30-40 triliun per tahun. Perusahaan lokal asli Indonesia, termasuk Paragon, baru menguasai 20 persennya. Kalau Paragon bisa menguasai pasar dalam negeri, insyaallah bisa masuk 10 besar brand kosmetik dunia,” papar Nurhayati yang punya filosofi bahagia bisa membahagiakan orang lain.

Ditemani putranya, Salman Subakat yang juga chief marketing officer (CMO) PT Paragon Technology and Innovation, Nurhayati bercerita tentang perjalanan karier dan kerja kerasnya membangun Paragon. Berikut wawancara dengannya:

Bisa cerita awal karier dan kiprah Anda di dunia kosmetik?
Saya pernah bekerja di Wella Cosmetic, dari tahun 1979 sampai 1985 sebagai manajer quality control. Setelah di Wella selama lima tahun lebih, CEO baru meminta saya bekerja full time. Sebelumnya saya bekerja dengan waktu yang lebih fleksibel karena anak-anak masih kecil. Anak saya tiga waktu bekerja di sana, kebayang repotnya karena saya tinggal di daerah Ulujami, Jakarta Selatan, sementara tempat bekerja ada di Bogor. Akhirnya saya memilih mundur.

Setelah itu Anda langsung mengembangkan Wardah?
Pertama, sebenarnya saya membuat merek Putri, itu produk salon. Baru Wardah, kemudian Makeover, IX, dan terakhir Emina. Dengan latar belakang lulusan terbaik farmasi ITB dan manajer quality control Wella, pada 1985 saya bikin Putri, produk salon dengan skala home industry. Walaupun home industry, produknya berkualitas dengan harga bersaing.

Dari sisi permodalan bagaimana?
Modal uang saat itu enggak besar. Namun, saya punya rumah dan mobil sebagai aset. Mobil untuk berjualan dan rumah untuk produksi. Saya juga dapat kepercayaan dari para supplier. Awalnya saya jual Putri di salon-salon pinggiran daerah Tangerang. Putri berkembang terus. Saya sampai punya pabrik seluas 1.500 m2.

Lalu, ada kenalan, kenapa enggak buat produk Islami? Pada 1995, saya membuat Wardah. Nama itu saya ambil karena dasarnya ingin Islami, jadi kiblatnya ke Arab. Saat itu ada tiga nama yang didaftarkan sebagai merek, saya lupa apa saja. Yang saya ingat, yang diterima Wardah. Wardah itu artinya bunga mawar.

Setelah dirilis, apakah Wardah langsung sukses?
Wardah dulu susah jualnya. Enggak langsung sukses. Kami jual lewat berbagai cara direct selling, lewat MLM (multi-level marketing). Kemudian generasi kedua, masuk Salman dan pada 2003 bisnis melalui MLM turun. Kami perbaiki branding dan pemasaran Wardah. Pada 2004 mulai diperbaiki branding-nya. Pada 2009, Wardah rebranding besar-besaran. Setelah itu penjualan naik terus. Malah penjualan pada 2012-2013 pernah melonjak sampai 100 persen.

Sekarang kami punya sekitar 10.000 karyawan terbaik di bidangnya di seluruh Indonesia. Setiap tahun, kapasitas produksi kami lebih dari 95 juta produk personal care dan make up. Untuk pabrik, kami punya 15 hektare dan baru saja tambah lagi 4 hektare di Jatake, Tangerang. Saat ini, kontribusi penjualan brand Wardah mencapai 80 persen, Make Over 15 persen, selebihnya dikontribusi Emina, IX, dan Putri.

Seperti apa budaya kerja di Paragon?​​
Sebenarnya kulturnya sudah terbentuk sejak awal. Diteruskan oleh generasi kedua-ketiga. Karyawan sudah bertambah banyak. Kami membuat agent of changes agar kultur ini tetap terjaga. Kultur kami adalah ketuhanan, keteladanan, kekeluargaan, tanggung jawab, fokus pada pelanggan, dan inovasi.

Yang paling penting yaitu keteladanan. Dalam keteladanan, saya sebagai CEO dan anggota BOD lain selalu bekerja dengan disiplin, kerja keras, mengutamakan kejujuran. Dan bagaimana kami bisa memberikan keteladanan itu ke bawah. Bagi kami, keteladanan adalah modal yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan.

Customer focus juga penting. Dengan customer yang semakin demanding, kami harus mempertahankan apa yang sudah kami buat dan memperbaiki apa yang perlu kami tingkatkan lagi.

Cara Anda mengatasi konflik di perusahaan?
Yang paling penting leadership yang kuat. Selama ini alhamdulillah tidak ada konflik karena kami mengutamakan kekeluargaan.

Apa kunci sukses Wardah hingga cepat sekali melejit?
Memang banyak orang bertanya bagaimana Wardah bisa melejit. Saya selalu bilang, selain karena formula 4P, yaitu product, pricing, positioning, dan promotion, juga ada 1P, yakni pertolongan dari Allah SWT. Sebab, pada 2009 kami melakukan rebranding Wardah, pada tahun itu juga pehijab (hijaber) mengalami booming. Momennya pas, Wardah pun melejit.

Kami bersaing dengan perusahaan-perusahaan multinasional. Tahun ini kami bisa menang satu kategori, yaitu kategori pelembap wajah. Itu karena orang-orang secara ikhlas mempromosikan Wardah di seminar-seminar atau pengajian-pengajian. Secara spontan mereka menyebut nama Wardah.

Paragon sudah 33 tahun berdiri dengan banyak pencapaian sukses. Apalagi yang ingin Anda capai?
Obsesi hidup saya untuk Paragon, saya ingin Paragon melalui Wardah menjadi global brand. Masuk sebagai 10 besar brand kosmetik di dunia. Sekarang semua langkah yang kami lakukan menuju ke sana. Untuk itu, Paragon harus menjadi raja terlebih dahulu di pasar dalam negeri, baru kemudian ke luar negeri.

Saat ini, nilai pasar industri kosmetik di Indonesia mencapai Rp 30-40 triliun per tahun. Sementara itu, perusahaan lokal asli Indonesia, termasuk Paragon, baru menguasai sekitar 20 persennya. Jadi, kalau Paragon bisa menguasai pasar dalam negeri, insyaallah bisa masuk 10 besar brand kosmetik di dunia.

Filosofi yang menjiwai bisnis dan kehidupan Anda?
Filosofi saya, bahagia bisa membahagiakan orang lain.

Anda selalu menggandeng desainer fashion, khususnya busana muslim, apa alasannya?
Dahulu industri kosmetik enggak besar, baru dua pemain lokal. Di global pun, industri kosmetik tidak sebesar industri yang lain, misalnya makanan. Mau enggak mau, kami ciptakan sendiri brand image kami. Kami pilih fashion, karena fashion dan make up tidak bisa dipisah-pisahkan. Kami melihat orang-orang fashion sebagai sumber kreativitas. Ketika orang ganti-ganti baju, make up-nya juga ganti. Akhirnya keterusan sampai sekarang, terutama untuk busana modest. Impact-nya memang tidak langsung untuk brand image.

Pemerintah juga meminta kami untuk bantu industri fashion. Sekarang ini orang bilang proporsi kami di fashion sudah berlebihan. Namun, kami memang ingin membantu. Jadi, sesuatu yang membanggakan ketika hijab booming, ikonnya orang Indonesia. Kami ingin menjaga mereka tetap di sana. Dian Pelangi, misalnya, dikenal di dunia internasional sebagai ikon dari Indonesia.

 



Sumber: Investor Daily
CLOSE