Mohamad Feriadi

Semangat Berbagi dan Ikhlas

Semangat Berbagi dan Ikhlas
Mohamad Feriadi. ( Foto: Istimewa )
Totok Subagyo / AB Selasa, 21 Agustus 2018 | 09:46 WIB

Sebagai putra mahkota, bisa saja Mohamad Feriadi langsung menduduki tampuk pimpinan perusahaan. Namun, ia tak menempuh jalan pintas itu. Baginya, untuk mengarungi samudra karier tak cukup berpelampung gelar kesarjanaan saja.

Pria kelahiran Jakarta, 3 Februari 1969, yang akrab dipanggil Feri ini meyakini nilai-nilai moral yang memanusiakan manusia juga penting agar ia tak salah arah menjalankan perusahaan. Dan, pelajaran berharga itu tak bisa didapatkan di pendidikan formal.

Sepulang memburu gelar master business administration (MBA) bidang marketing dari Okhlahoma University, Amerika Serikat (AS) tahun 1996, Feri bergabung dengan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE Express). Namun, di perusahaan yang didirikan sang ayah, Soeprapto Soeparno, ia memulai dari level yang berkaitan dengan penjualan, pemasaran, dan operasional.

“Pengalaman puluhan tahun di posisi itu memberikan berbagai pelajaran berharga, dari mulai bagaimana menjaga amanah masyarakat kepada JNE, hingga berempati kepada karyawan di level bawah,” tutur Mohamad Feriadi di Jakarta, belum lama ini.

Setelah hampir 20 tahun, tepatnya pada 2015, barulah Feri menduduki posisi puncak di JNE Express. Sebagai nakhoda, ia teguh memegang prinsip bahwa setiap langkah bisnis JNE harus mampu meningkatkan kesejahteraan serta manfaat lainnya bagi karyawan dan orang banyak.

“Semakin besar perusahaan, manfaat yang harus diterima oleh karyawan maupun masyarakat luas harus semakin banyak,” tegas Feri yang dikenal memiliki kepedulian tinggi pada pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Semangat dan nilai-nilai yang dipraktikkan Mohamad Feriadi untuk terus berbagi ditopang kuat keluarga, terutama orangtuanya yang banyak memberikan bimbingan, tuntunan, dan inspirasi. Bagaimana Feri mengejawantahkan nilai-nilai itu dalam aspek kepemimpinan dan pengembangan korporasi? Apa obsesi yang masih dipendam ketua umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) ini? Berikut wawancara dengannya:

Lompatan bisnis JNE begitu jauh, dengan brand yang begitu kuat, bahkan mampu menggeser perusahaan besar, bisa Anda jelaskan?

Mohon jangan dikatakan menggeser (salah satu perusahaan besar) karena kami bersama perusahaan jasa pengiriman ekspres, pos, serta logistik lainnya juga sama-sama tergabung dalam Asperindo (Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia), di mana kami semua menjunjung semangat "bersaing namun tetap bersanding".

Dalam berbagai kesempatan lain, kami pun selalu menyampaikan bahwa saat ini adalah era kolaborasi untuk mengatasi beragam tantangan, baik kolaborasi atau sinergi dengan pelaku usaha lainnya, mitra JNE, maupun dengan pemerintahan terkait regulasi.

Mengenai progres JNE saat ini, bisa kami sampaikan bahwa jumlah pengiriman telah mencapai rata-rata 19 juta per bulan dengan kapasitas tertinggi 20 juta pada peak season Lebaran lalu. Kami saat ini memiliki 6.000 titik layanan di Indonesia, termasuk 56 kantor cabang utama. Kami didukung 40.000 karyawan, termasuk karyawan mitra atau agen JNE.

Konsep pengembangan JNE ke depan seperti apa?
Fokus pengembangan saat ini adalah di dalam negeri karena terdorong keinginan kami untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri pada era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Untuk pengiriman internasional, JNE bekerja sama dengan mitra-mitra strategis di luar negeri agar dapat mengirimkan paket dengan tujuan ke lebih dari 250 negara di semua benua.

Strategi Anda memajukan JNE?
Salah satu strategi bisnis JNE adalah mengeksplorasi peluang, di antaranya meningkatkan kolaborasi serta sinergi dengan para pemangku kepentingan dalam ekosistem penunjang e-commerce, yaitu seller, buyer, marketplace, financial technology, dan logistik.

Kolaborasi dilakukan dengan pihak-pihak di dalam ekosistem atau stakeholder JNE untuk menyelenggarakan program maupun acara, dan penyediaan fasilitas atau fitur untuk pelanggan.

Selain itu, kami membuka peluang kerja sama bisnis dengan masyarakat melalui program kemitraan atau keagenan, menyediakan JLC (JNE Loyalty Card) agar tiap aktivitas pengiriman pelanggan setia member JLC mendapatkan berbagai benefit, serta upaya-upaya lainnya yang dapat memperkuat fondasi bisnis JNE.

SDM juga menjadi perhatian utama Anda?
Tentu saja secara internal, JNE pun selalu meningkatkan kapabilitas perusahaan agar senantiasa dapat memberikan kualitas pelayanan prima kepada pelanggan. Sektor–sektor penting ditingkatkan, seperti bidang teknologi informasi (TI), infrastruktur maupun jaringan, dan sumber daya manusia (SDM).

Seluruh strategi, baik dalam bentuk langkah bisnis atau melalui program dan acara, kami jalankan dengan semangat tagline "connecting happiness", yang bermakna mengantarkan kebahagiaan. Bukan hanya sebatas kebahagiaan pengirim dan penerima paket, tetapi juga masyarakat luas.

Dengan semangat terus berbagi kebahagiaan, kami yakin dapat memberikan manfaat bagi banyak orang. Harapan selanjutnya, berdampak nyata terhadap perekonomian nasional dan kemajuan bangsa, sehingga JNE pun akan turut berkembang dengan baik.

Bagaimana Anda memaknai keberadaan JNE dalam perekonomian nasional?
Salah satunya melalui pertumbuhan perusahaan yang senantiasa membuka lapangan kerja dan peluang kemitraan dengan masyarakat untuk menjadi titik layanan atau agen JNE. Kedua hal tersebut dapat menjadi pendukung perekonomian nasional.

Soal kontribusi JNE dalam perekonomian nasional belum ada riset yang spesifik. Namun, dalam industri pengiriman ekspres dan logistik, berdasarkan riset yang dilakukan Frost & Sullivan, market share JNE di Indonesia sebesar 22 persen.

Sedangkan riset iDEA dan Taylor Nelson Sofres menyebutkan, nilai transaksi perdagangan dalam jaringan (perdagangan secara elektronik) atau e-commerce di Indonesia akan mencapai US$ 130 miliar. Angka itu meningkat 5,7 kali lipat dibanding tahun 2016 sebesar US$ 22,6 miliar. Jika 13 persennya dipergunakan untuk belanja kebutuhan pengiriman ekspres, pos, serta logistik, maka market size industri ini mencapai US$ 16,9 miliar atau sekitar Rp 219,7 triliun, dan JNE merupakan salah satu yang terdapat di dalamnya.

Nilai pasar industri logistik di Tanah Air mencapai Rp 2.100 triliun, sedangkan pertumbuhannya tahun ini mencapai 14,7 persen. Jumlah paket yang beredar pada 2017 sekitar 800 juta paket, sebagian besar saat ini diperkirakan berhubungan dengan e-commerce.

Apa saja hambatan industri jasa logistik dan apa harapan Anda kepada pemerintah?
Tantangan dalam industri pengiriman ekspres dan logistik tentu saja kondisi geografis Indonesia dan belum maksimalnya infrastruktur. Oleh karena itu, percepatan pembangunan infrastruktur oleh pemerintah saat ini harus terus berjalan dengan maksimal dan diiringi penerapan regulasi yang mendorong kemajuan industri ini.

Itu sangat penting agar proses distribusi barang yang dijalankan perusahaan jasa pengiriman semakin lancar dan efisien, baik secara waktu maupun biaya. Dengan demikian, biaya pengiriman dapat terus ditekan dan disparitas harga antarwilayah dapat diminimalisasi, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah–daerah di Nusantara secara merata.

Pengalaman Anda yang paling monumental di JNE?
Sebelum dipercaya memegang tampuk kepemimpinan JNE yang telah berdiri selama 26 tahun dan telah meraih berbagai penghargaan di bidang jasa pengiriman ekspres serta logistik, saya memulai langkah dari posisi yang bersentuhan langsung dengan konsumen. Saya berpanas-panas atau berhujan-hujan mengunjungi agen atau membuka peluang menambah keagenan.

Pengalaman selama bertahun-tahun di posisi yang berkaitan dengan penjualan, pemasaran, dan operasional ini memberikan berbagai pelajaran berharga. Saya dapat memperkirakan hal-hal yang menjadi kebutuhan pelanggan, bahkan turut merasakan hal yang dialami pelanggan ketika menitipkan amanah berupa pengiriman paket kepada JNE. Saya juga bisa berempati pada tugas dan tanggung jawab karyawan.

Pengalaman tersebut berpadu dengan ilmu marketing yang saya pelajari di Okhlahoma University. Namun, bagi saya, ilmu yang paling berharga, bahkan menjadi pedoman utama saya dalam bekerja, justru datang dari organisasi terkecil dalam hidup, yaitu keluarga. Begitu juga dengan orangtua saya, yaitu almarhum Soeprapto Soeparno yang banyak memberikan bimbingan, tuntunan, dan inspirasi.

Filosofi dan nilai-nilai hidup yang Anda pegang?
Dalam menjalankan amanah kepemimpinan, ada prinsip yang terus saya pegang teguh, yaitu berbagi. Makna dari prinsip itu sangat dalam. Maksud dari kata berbagi bukan hanya tentang harta, tetapi langkah dan daya upaya yang merupakan hasil dari kerja keras, yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan banyak orang, baik karyawan maupun masyarakat.

Prinsip berbagi tersebut membentuk gaya kepemimpinan dan karakter saya sebagai seorang pimpinan perusahaan. Bagi saya, menjadi seseorang yang open minded dan menjalin hubungan baik dengan seluruh karyawan akan memperkuat jalinan kerja sama dan gotong royong secara dengan ikhlas, serta membawa kebahagiaan.

Berada di tengah-tengah karyawan dan ikut terjun langsung menangani berbagai hal membuat saya memiliki kesempatan untuk memberikan contoh yang baik. Juga memberikan banyak manfaat bagi saya dalam memberikan arahan yang tepat untuk mencapai tujuan perusahaan.

Dengan berjuang bersama-sama, nilai-nilai perusahaan, yaitu jujur, disiplin, tanggung jawab, dan visioner, dapat tertanam dalam diri masing-masing karyawan, sehingga heterogenitas atau berbagai perbedaan di dalam organisasi perusahaan dapat disatukan. Dengan begitu, visi maupun misi perusahaan dapat terlaksana dengan baik.

Hal tersebut tentu berdampak pada kemajuan bisnis dan perkembangan JNE. Tentu saja prinsip berbagi yang saya pegang teguh pun terus dilakukan seiring dengan pertumbuhan perusahaan. Semakin besar perusahaan maka manfaat yang harus diterima oleh karyawan maupun masyarakat luas harus semakin banyak.

Tantangan ke depan bagaimana?
Dalam perkembangannya, banyak tantangan yang harus dihadapi oleh JNE. Saya selalu menyampaikan kepada teman-teman dan karyawan bahwa tidak ada kendala, yang ada adalah tantangan yang harus diatasi. Oleh karena itu, penting bagi saya untuk terus meningkatkan kinerja agar dapat memahami berbagai aspek, baik aspek eksternal maupun aspek internal perusahaan.

Pemahaman terhadap aspek-aspek tersebut membuat saya mengetahui di mana posisi kami berada, faktor-faktor apa yang menjadi tantangan untuk diatasi, dan sebagainya, sehingga adaptasi perusahaan terhadap perkembangan yang terjadi dapat dilakukan dengan baik. Tentu saja tujuan utamanya adalah agar JNE terus berkembang dan dapat terus memenuhi beragam kebutuhan konsumen untuk pengiriman berbagai jenis, jumlah, serta ukuran paket, di dalam maupun ke luar negeri.

Obsesi yang masih ingin Anda capai?
Obsesi saya pribadi adalah bagaimana terus menjadikan JNE ada di hati masyarakat. Bukan hanya menjadi bagian hidup, tetapi juga menjadi kebanggaan rakyat Indonesia, sekarang maupun pada masa mendatang.

Selain itu, sebagai perusahaan nasional yang didirikan oleh anak bangsa, tentu harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan tagline "connecting happiness". Tagline tersebut memiliki makna yang dalam, karena JNE harus dapat mengemban amanah dan mengantarkan kebahagiaan dari pengirim kepada penerima paket untuk setiap pengiriman barang yang dilakukan oleh rakyat Indonesia yang kini berjumlah sekitar 260 juta.

Bukan hanya tentang distribusi barang, connecting happiness pun merupakan semangat JNE di mana setiap langkah bisnis maupun program yang dijalankan harus dapat meningkatkan kesejahteraan dan berbagai manfaat lain bagi karyawan maupun orang banyak. Dengan demikian, ekosistem di mana JNE berada dapat tumbuh pula dengan baik.

Cara Anda berbagi kepada karyawan dan masyarakat?
Untuk karyawan JNE terdapat program peningkatan kualitas diri personel, baik meningkatkan skill maupun spiritual karyawan, seperti pelatihan, pemberangkatan karyawan untuk ibadah ke Tanah Suci, dan sebagainya. Begitu pula dengan program untuk masyarakat luas, dukungan nyata JNE diberikan terhadap berbagai hal positif di bidang olahraga, budaya, sampai program acara edukatif untuk pemberdayaan komunitas maupun UKM.

Setiap langkah bisnis JNE melibatkan banyak orang, seperti membuka peluang kerja sama dengan masyarakat berupa kemitraan sebagai titik layanan atau jaringan JNE. Lalu, penyediaan wadah bagi produsen produk lokal, yaitu makanan khas Nusantara dengan Pesona (Pesanan Oleh-oleh Nusantara) maupun produsen produk kreatif lainnya.

Selain itu, dengan kapabilitas yang kami miliki, program sosial untuk membantu sesama di seluruh Indonesia tentu harus terlaksana, seperti pendistribusian bantuan kemanusiaan bagi korban bencana, penyediaan fasilitas untuk memudahkan kehidupan masyarakat di pelosok, dan program kemanusiaan lainnya. 

 



Sumber: Investor Daily