Hashim Djojohadikusumo

Indonesia Hadapi Masalah Stunting

Indonesia Hadapi Masalah Stunting
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo memberi paparan dalam kunjungannya ke Kantor Redaksi BeritaSatu Media Holdings, Jakarta, 11 Oktober 2018. ( Foto: BeritaSatu Photo / Uthan A Rachim )
Hotman Siregar / AB Sabtu, 20 Oktober 2018 | 18:25 WIB

Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo bersama tim sukses Prabowo-Sandiaga menggelar diskusi terbatas dengan jajaran BeritaSatu Media Holdings (BSMH) di Jakarta Selatan, pertengahan Oktober 2018. Sejumlah hal didiskusikan, tetapi Hashim sangat memberi perhatian pada penanganan pertumbuhan badan dan otak anak yang tidak sempurna (stunting). Berikut petikannnya: 

Apa saja program ekonomi Prabowo-Sandiaga?
Perekonomian kita selalu defisit, defisit terus. Kita tahun ini kalau enggak salah defisit anggaran Rp 341 triliun. Kalau kita sama dengan Thailand atau sama India, kita bisa surplus Rp 800 triliun. Selisih Thailand dengan Indonesia 8,6% dengan GDP saya dengar Rp 13.000 triliun atau Rp 14.000 triliun. Kita seharusnya ada surplus Rp 850 triliun dan kita bisa gaji polisi, hakim, sehingga mereka enggak korupsi, juga guru dan profesor.

Jadi progamnya Pak Prabowo dan saya sangat setuju, kita sistemnya agak keliru. Saya bangga dengan kapitalis, tetapi saya merasa sistem ekonomi kita harus diperketat. Eksportir harus diwajibkan untuk simpan hasil ekspornya di dalam negeri. Saya saksikan sendiri tahun 90-an atau 80-an, negara-negara kapitalis kayak Korsel dan Thailand, sudah wajibkan devisa ekspor kembali ke negara asal untuk menjaga likuiditas perbankan. Indonesia lain, devisa kita tersimpan di Hong Kong, Singapura, dan negara lainnya. Itu masalahnya dan ini yang harus diluruskan. Akibat ini semua, ekonomi kita lemah. Karena ekonomi kita lemah, muncul persoalan, misalnya stunting growth.

Bagaimana dengan stunting growth?
Nah, kenapa saya mendukung Prabowo, bukan karena dia kakak saya. Sesungguhnya no. Belum tentu kakak beradik cocok. Saya cocok sama kakak saya. Kenapa saya dukung dia sebagai capres. Itu satu contoh saja.

Mengenai stunting growth, menurut kakak saya sudah 12 tahun menjadi salah satu masalah bangsa Indonesia. Belum ada Gerindra, belum ada pemikiran bikin partai, dia masih di Golkar. Saya masih pengusaha, waktu itu tidak ada niat buat masuk politik. Waktu itu mami sakit kanker, saya pulang dari London, saya dipanggil ke kantor kakak saya, kita bicara susu sapi perah.

Saya bingung juga bicara dairy milk. Saat itu dia ketum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, Red). Kakak saya itu kutu buku, bisa baca 6-7 buku dalam seminggu. Prabowo pun bicara mengenai susu untuk (mengatasi) stunting growth. Dia sudah amati dari 12 tahun yang lalu, ini sudah dialami 30% anak-anak di Indonesia. Itu saat 2006, sekarang ini lebih buruk ke 32-38%.

Ini suatu hal yang tidak disadari mengenai gizi buruk anak-anak. Prabowo sudah pikirkan itu 12 tahun lalu. Sebagai bukti kita bikin suatu film namanya Harimau Lapar pada 2008. "Harimau" itu lapar. Indonesia seharusnya kuat, tetapi lemah. Anak-anak "harimau" ini lemah karena kurang gizi. Nah, kenapa jadi serius karena stunting growth itu adalah fenomena di mana anak-anak dan ibu-ibunya lemah, karena tidak bisa kasih air susu yang cukup dan anak-anak kurang gizi. Mereka tidak lapar karena dikasih makanan raskin, supaya tidak menangis dan yang penting diam. Diam tetapi memble. My brother (Prabowo) dia pikirkan 12 tahun lalu. Ini akan jadi malapetaka bagi Indonesia,.

Ya, penduduk kita banyak. Mungkin ekonomi Indonesia masuk lima besar ekonomi di dunia, tetapi bisa saja populasinya 38% jadi pendek, kerdil, dan bodoh.Mereka menjadi beban bangsa, bukan aset bangsa. Bagi negara-negara supplier beras, garam, ini akan menguntungkan karena Indonesia sebagai negara pengimpor.

Prabowo yakinkan saya, pada 2030 hingga 2045, (Indonesia) akan menjadi bangsa yang lemah. Kita bicara era industri 4.0, apa itu? Populasinya 38%, baca pun enggak bisa, apalagi mengerti digital. Ini elite Indonesia, saya lihat banyak yang tidak mengerti atau tidak sadar atau tidak peduli, saya tidak tahu. Saya berharap mereka tidak sadar, maka kita harus sadarkan ini.

Provinsi NTT paling parah 56%, mayoritas anak-anak NTT stunting. Ini kasihan, itu bukan salah mereka, dikasih beras raskin, tidak ada protein, tidak telur, tidak ada susu, tidak ada ikan, terus dikasih raskin biar enggak rewel dan diam. Mereka tumbuh, mereka cari pekerjaan gagal dan akan gagal terus. Mau jadi polisi enggak bisa, PNS enggak bisa, menjadi tentara enggak bisa, guru enggak bisa, mau jadi apa? Kuli bangunan? Kuli pun saya ragu-ragu, karena kan harus ada basic skill. Dapat petunjuk dari mandor, tahu-tahunya salah lakukan. Wajar kalau jembatan ada jatuh, bangunan ada yang kolaps. SDM enggak mampu. Oke itu satu. Itu salah satu progam penting soal gizi. Prabowo sudah dari dulu bahas itu untuk selamatkan bangsa Indonesia. Kita bicara lima tahun dari sekarang.

Selanjutnya saya bicara pendidikan. Maaf ya, pendidikan nasional Indonesia, sejak kita perhatikan itu semakin bad dan getting worst. Ada survei yang dilakukan Pearson, ada juga PISA (The Programme for International Student Assessment). Kalau Pearson, Indonesia berada di peringkat 40. Kita terburuk dalam 10 tahun terakhir. Kita the worst. Terbaik Korsel, Singapura dan Finlandia, lalu disusul Jepang. Jadi kalau kalian ingin studi sains, engineering, dan matematika, kirim ke Korsel. Kayak Samsung, mereka enggak punya apa-apa, enggak punya minyak, enggak punya batu bara, enggak punya utang. Mereka enggak punya apa-apa, kita punya semua, tetapi penghasilan mereka 12 kali lipat dari kita. Banyak produk mereka yang terkenal, kayak LG, Hyundai, Daewoo. Tahun 60-an, menurut Bank Dunia, Indonesia di atas Korsel, bahkan Korsel lebih miskin dari indonesia. Lalu 40 tahun kemudian mereka salip kita. Mereka negara kaya, kita negara miskin.

Letak masalahnya di mana?
Menurut saya, Prabowo, dan tim, itu di pendidikan. Pendidikan kita lemah, mereka prima. Itu satu studi. Lalu studi lain dari PISA, ini yang buat saya terkejut. Mereka survei 72 negara, puji Tuhan, kita bukan terburuk. Kita di posisi 62 dan Singapura nomor 1. Yang bikin saya terkejut, Vietnam nomor 8 di dunia. Vietnam pernah mengalami perang 30 tahun. 1 juta gugur. Kita tidak, kita dalam keadaan damai.

Begitu parah sistem pendidikan kita. Saya enggak bilang manusia Indonesia bodoh, tetapi pendidikan kita yang bodoh. Ayah saya pendek, tetapi enggak bodoh, pintar, mungkin karena makan tempe atau telur waktu itu. Waktu itu enggak ada istilah raskin. Tahun 1917, enggak ada itu minum susu. Ayah saya beruntung, tetapi 38% anak-anak Indonesia tidak beruntung. Diperparah dengan pendidikan Indonesia yang rusak. Kita lihat banyak anak sekolah yang drop out kelas 5 SD.

Lalu, saya tanya ke Bank Dunia, apa yang salah di Indonesia? Apa anggaran kita enggak cukup? Mereka bilang cukup. Terus saya tanya lagi, lalu apa masalahnya? Mereka bilang ini manajerial problem. Lalu saya tangkap, ini a man, a people problem, yang mengelola sistem kita, di situ kelemahannya. Anggaran Indonesia, 48% itu dikendalikan pusat, 52% dikendalikan pemda. Itu problem.

Problem yang mengelola sistem?
Sebanyak 48 persen (anggaran) dikendalikan pusat dan 52 persen pemda. Tidak ada quality control, enggak tahu spending gimana. Banyak guru enggak berkualifikasi. Manajemen sistem yang harus diperbaiki..

Begitu juga dengan harga makanan di Indonesia termahal di dunia. Jakarta dua kali dari New Delhi. Ini mengejutkan, kenapa kita lebih mahal dari India. Jakarta lebih mahal dari Singapura. Harga transportasi mahal. Ada mafia kartel pangan..

Ketahanan energi mengerikan. Lima tahun lagi, minyak kita habis, 25 tahun gas habis, dan 40 tahun batu bara hab

Bagaimana masa depan bangsa Indonesia?
Prabowo akan berdayakan hutan rusak, reboisasi masif, dan tanam pohon untuk energi. Harus ada grand strategy. Rumput laut harus terjaga. Kalau enggak, ikan mati. Ini saya kira prioritas Prabowo juga.

Di bidang kesehatan, pendidikan, dan lingkungan hidup, ini yang dilupakan pemerintah sekarang. Pemerintah hanya satu dimensi, hanya infrastruktur. Saya prihatin, oleh sebab itu, kakak saya harus menang.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE