Stephen Riady

Keseimbangan Antara Bisnis dan Filantropi

Keseimbangan Antara Bisnis dan Filantropi
Executive chairman OUE Limited, Dr Stephen Riady (tengah), adalah pemenang penghargaan EY Asean Entrepreneurial Excellence 2018. ( Foto: Istimewa )
Heru Andriyanto / HA Senin, 29 Oktober 2018 | 22:49 WIB

Singapura - Dr Stephen Riady, executive chairman OUE Limited dan juga pemenang penghargaan EY Asean Entrepreneurial Excellence 2018, mungkin lebih dikenal karena ketajaman bisnisnya. Apalagi, dia juga memiliki salah satu bisnis paling sukses di Asia Tenggara.

Namun, pengusaha berusia 58 tahun itu juga dikenal dunia berkat kegiatan-kegiatan filantropisnya.

Dia mendirikan Stephen Riady Group of Foundations pada 2010 melalui kolaborasi dengan Credit Suisse Private Banking, yang menjadi basis kegiatan filantropi bagi tujuh yayasan yang berada di Singapura dan Hong Kong.

Di bawah panduan falsafah pribadinya, kelompok yayasan ini didedikasikan untuk mengangkat derajat lapisan bawah masyarakat melalui pendidikan, akses ke ilmu pengetahuan, dan keahlian mencari nafkah (life skills). Semua ini pada akhirnya akan membantu mereka untuk mendapatkan mata pencaharian dan mengejar ketertinggalan dari kelompok lain di masyarakat, dan juga mampu membantu pihak lain.

Mendorong Generasi Masa Depan
Sejak didirikan, Stephen Riady Group of Foundations telah banyak memberikan donasi untuk berbagai aktivitas penting di Hong Kong dan Singapura dengan harapan bisa menginspirasi generasi mendatang untuk terus ikut memberi.

Bidang-bidang pokok yang diberi sokongan adalah pendidikan (program-program trainee, beasiswa, dan kewirausahaan sosial), kemanusiaan, dan pembangunan sosial.

Di Singapura, Stephen Riady Foundation telah memberikan donasi untuk The President’s Challenge, Stephen Riady Centre di University Town, National University of Singapore (NUS), Singapore Business Federation Foundation, NTUC Auditorium, dan belum lama ini juga The Stephen Riady Young Entrepreneur Scholarship Program di NUS.

“Melalui Stephen Riady Group of Foundations, saya berharap bahwa kami bisa membuat sebuah perbedaan dan meningkatkan kehidupan orang-orang yang berasal dari kelompok bawah, kurang beruntung, dan miskin melalui pendidikan, pemberdayaan, dan pertemanan," kata Stephen seperti dikutip media Singapura, The Business Times, edisi Senin (29/10).

Pada 2012, Stephen membuat dunia korporasi kaget dan terkesan ketika perusahaan miliknya OUE -- saat itu dikenal sebagai Overseas Union Enterprise -- memimpin sebuah kelompok untuk mencoba mengambil alih perusahaan papan atas Fraser and Neave (F&N) senilai 13,1 miliar dolar Singapura, bersaing dengan triliuner Thailand Charoen Sirivadhanabhakdi yang memiliki perusahaan Beverage.

Meskipun akhirnya Stephen mundur dari persaingan sengit yang berlangsung selama dua bulan itu tanpa membawa hasil, dia sudah menyebarkan citra sebagai seorang pengambil risiko (risk-taker) dan pemburu peluang (go-getter).

Hal-hal seperti ini, menurut executive chairman OUE tersebut, merupakan esensi yang harus dimiliki para pemimpin bisnis, khususnya jika mereka ingin sukses di kawasan ini.

"Kita harus mengembangkan sebuah karakter yang berani ambil risiko, penuh tekad, dan berwawasan ke depan. Berani ambil risiko maksudnya kita siap masuk ke pasar-pasar yang baru atau peluang-peluang baru, bahkan meskipun peluang untuk sukses dinilai sulit," ujarnya kepada The Business Times.

"Ambil contoh Singapura dan Tiongkok Daratan. Di Singapura, jika Anda berkata ke seseorang bahwa bisnis ini punya peluang sukses 70 persen, orang-orang mungkin akan mengatakan ke Anda bahwa mereka tidak siap dengan risikonya. Di Tiongkok, yang terjadi sebaliknya. Mereka akan bertarung untuk memastikan peluang sukses bahkan meskipun kurang dari 20 persen. Mereka memiliki semangat juang dan ingin mengambil risiko."

Stephen juga menekankan pentingnya kegigihan ketika memasuki pasar yang baru, dan untuk selalu mendapat informasi tentang perkembangan terakhir bisnis yang dilakukannya, sehingga dia bisa melihat tren yang akan terjadi di masa depan.

Kemampuan untuk melihat tren masa depan inilah yang mungkin menyebabkan OUE melakukan transformasi dalam hal pemakaian gedung dan ruang. Perusahaan tersebut mengakuisisi DBS Building Towers pada 2010 senilai 870,5 juta dolar Singapura dan membangun ruang multi-guna di sana, lengkap dengan hunian dan tempat belanja dengan tenant yang fokus pada konsep F&B.

"Kami melihat potensi untuk mentransformasi 6 Shenton Way menjadi proyek multi-guna sejalan dengan rencana pemerintah untuk membuat Singapura menjadi kota yang penuh semangat untuk bekerja, menjalani hidup, dan bersenang-senang," kata Stephen.

Selain harus inovatif, menurut Stephen para wirausahawan muda juga harus bisa menangkap peluang dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) untuk memperluas bisnis mereka.

"Setiap tumbuhan yang berada di pot kecil punya ruang terbatas untuk tumbuh sampai ke potensi penuhnya, kecuali Anda menanamnya di kebun. Hal yang sama berlaku dalam bisnis. Setiap model bisnis yang bagus harus punya kemampuan untuk berkembang biak atau menyebar," paparnya.

Peluang untuk Tumbuh
Singapura adalah tempat yang bagus untuk memulai bisnis, tetapi pasarnya terlalu kecil, menurut penilaiannya. Namun, Asean adalah kawasan yang dihuni beberapa negara dengan kekuatan ekonomi salah satu yang terbesar di dunia, seperti Indonesia, Filipina, dan Vietnam.

"Seperti sebuah tanaman, Anda butuh ruang untuk tumbuh dan melipatgandakan model bisnis. MEA adalah 'halaman belakang' bagi para pengusaha muda di mana mereka bisa melipatgandakan model bisnis mereka dan menemukan peluang untuk tumbuh."

Misalnya, mereka bisa mengintegrasikan bisnis dengan rantai pasokan regional. Mereka juga bisa memanfaatkan pengalaman dalam Asean untuk membantu bisnis mencapai skala tertentu, melakukan diferensiasi, dan efisiensi agar bisa berkompetisi di pasar global.

Bagi OUE sendiri, ekspansi bukan hal baru -- tidak hanya secara geografis, tetapi juga merambah pasar yang berada di luar bisnis intinya yaitu properti.

Tahun lalu, perusahaan melakukan pengambilalihan International Healthway Corporation (IHC), dan sekarang bernama OUE Lippo Healthcare (OUELH).

Bulan kemarin, grup tersebut mengakuisisi Bowsprit, manager First Reit yang merupakan layanan jasa kesehatan pertama di real estate investment trust (Reit) Singapura. Perusahaan juga membeli saham di First Reit.

"Kami melihat potensi bisnis dalam industri jasa kesehatan di kawasan ini, digerakkan oleh tiga faktor utama: pertama, populasi yang menua, kedua, potensi belanja pemerintah yang lebih tinggi di bidang kesehatan, dan ketiga, sektor kesehatan secara bertahap makin terbuka di emerging markets di kawasan ini," kata Stephen.

Pembelian First Reit oleh OUE membawa grup tersebut lebih dekat kepada tujuan akhirnya yaitu menciptakan landasan manajemen aset yang terdiri dari beberapa Reits yang berbeda.

Menurut Stephen, Reits adalah platform yang efisien modal untuk mendaur ulang aset-aset produktifnya dan menghasilkan modal bagi peluang-peluang reinvestment dengan pertumbuhan lebih tinggi. Pada saat yang sama, Reits juga memungkinkan OUE untuk memiliki pendapatan yang stabil dari saham miliknya di berbagai Reits.

Menghadapi Disrupsi
Ke depan, tantangan terbesar bagi grup ini adalah bagaimana menghadapi laju perubahan dan disrupsi yang diakibatkan oleh teknologi baru dan revolusi digital.

"Dalam sektor kesehatan, misalnya, big data dan artificial intelligence (AI) mentransformasi perawatan dan pengiriman jasa medis. Hari ini, layanan kesehatan sudah meningkatkan value chain," kata Stephen.

Dia menunjukkan bagaimana big data memungkinkan adanya layanan kesehatan yang lebih personalized atau pribadi dengan analisis kesehatan yang lebih canggih dan fokus pada pencegahan, perangkat yang bisa dipakai sehari-hari (wearable devices), dan obat-obatan presisi.

AI juga mentransformasi pengambilan keputusan klinik yang tradisional dengan membantu para petugas klinik untuk lebih memahami diagnosa, proses perawatan, variabilitas perawatan, dan hasil pasien, imbuhnya.

"Untungnya bagi kami, sektor properti, khususnya properti prima, tidak terlalu terdampak oleh disrupsi," kata Stephen.

"Namun, kami tetap perlu mengantisipasi apa yang bakal menjadi tren baru di sektor properti yang diakibatkan oleh e-commerce, jejaring ujung-ke-ujung (peer-to-peer networking), aktivitas ekonomi bersama, dan konsep kantor co-working. Tantangannya adalah untuk tetap berada di depan dan mengantisipasi semua tantangan ini sebelum kami tertinggal di belakang."



Sumber: The Business Times
CLOSE