Gigih Prakoso

Sosok Tepat Awaki PGN di Masa Transisi

Sosok Tepat Awaki PGN di Masa Transisi
Direktur Utama PT PGN (Persero) Tbk Gigih Prakoso ( Foto: istimewa / Istimewa )
Merdhy Pasaribu / MPA Selasa, 30 Oktober 2018 | 16:30 WIB

Jakarta-Setelah potensi minyak bumi yang sudah banyak digali, gas adalah warisan alam yang belum digarap maksimal. Seturut dengan strategi menguatkan sektor energi nasional yang merupakan faktor kunci mengembangkan rupa-rupa industri hilir, kini pemerintah menggenjot peran lebih besar dari para pemain bisnis gas.

Salah satu gebrakkan yang patut diacungi jempol adalah langkah mensinergikan perusahaan negara yang bermain di sektor gas. Lebih jauh, pemerintah memfusikan perusahaan negara bidang energi di bawah bendera PT Pertamina.

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) selaku pengemban misi  menciptakan kedaulatan energi nasional, telah mengayuh harapan pemerintah. PGN telah jadi bagian Pertamina, dan telah mengambilalih kendali PT Pertamina Gas atau Pertagas.

Di tengah program menguatkan “kuda-kuda” sektor energi itu, hadir Gigih Prakoso ditunjuk sebagai nakhoda PGN. Bagi lingkungan PGN, nama Gigih tak asing terdengar.

Sosok Gigih merupakan cerminan pegawai perusahaan pelat merah yang “tahan banting”. Dia memupuk karir dari level bawah di Pertamina, hingga pada akhirnya menjabat beberapa pos strategis.

Tak pelak, karena pengalaman dan “daya tempur” yang dimiliki, Gigih dianggap tepat mengawaki PGN dalam masa transisi. “Karena legowo dan amanah, saya bisa menjalankan tugas apa pun dan di mana pun saya ditempatkan,” tutur Gigih.

Dia menyadari bahwa masa transisi akan memberikan tantangan yang tak mudah. Apalagi, berbarengan dengan itu, lanskap industri energi kian menuntut adanya nilai efisiensi, ramah lingkungan, serta ketersediaan pasokan yang membuat pelaku industri gas berpacu meningkatkan kualitas serta melancarkan ekspansi ke berbagai penjuru negeri.

Namun semua tantangan itu, bagi Gigih bukanlah momok menakutkan. Karakter sosok inipun sesuai nama depan “Gigih” sebagai pembelajar dan petarung yang membela kepentingan nasional.

“Saya suka bertemu banyak orang untuk berdiskusi, untuk mendapat ilmu-ilmu baru. Intinya, sharing knowledge adalah kunci untuk terus mengasah kemampuan,” papar dia.

Paling tidak, Gigih mempunyai impian sederhana selama kepemimpinan di PGN yang kelak digantungkan kepada kekuatan manajerial PGN. "Saya bercita-cita agar PGN memberikan manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat, terutama para ibu rumah tangga agar mereka bisa menikmati gas bumi setiap pagi di dapurnya selama 24 jam,” papar dia.

Untuk lebih mengenal sosok Gigih serta mengupas beragam strategi yang telah disusun PGN pada masa transisi dan pergeseran lanskap industri energi, Tim Redaksi telah mewawancarainya secara khusus, beberapa waktu. Berikut petikan wawancara tersebut:

Bagaimana dampak pembentukan holding migas bagi kinerja PGN?

Seperti yang sudah diketahui bersama bahwa Pertamina, Pertagas dan PGN bergerak di bisnis yang sama, yaitu bisnis gas. Dan sama-sama mengembangkan infrastruktur di bidang gas. Jadi, sudah layaknya dan akan lebih baik jika ketiganya diintegrasi. Sehingga bisnis gas yang akan dikembangkan oleh PGN, Pertagas dan Pertamina akan jauh lebih kuat dan lebih efisien. Serta pengembangan infrastruktur ke depannya akan jauh lebih cepat. Mungkin alasannya kenapa integrasi dilakukan, ingin dibentuk sinergi, suatu kerja sama, suatu integrasi yang kuat di antara ketiganya.

Meski Holding Migas baru terbentuk, kami tentunya berharap kinerja perusahaan bisa terus dan semakin baik. Seperti yang sudah kami laporkan kepada regulator dalam hal ini Bursa Efek Indonesia dan OJK, kinerja perusahaan pada semester 1 tahun 2018 mencatatkan pencapaian yang signifikan. Perusahaan mengalami peningkatan penjualan gas dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu bertumbuh sebesar 12% yang semula 749 BBTUD (Billion British Thermal Unit per Day) menjadi 836 BBTUD. Peningkatan penjualan gas tersebut dikontribusikan peningkatan pertumbuhan kebutuhan gas untuk sektor kelistrikan, pertumbuhan kebutuhan gas untuk sektor industri. Dari sisi pengelolaan niaga gas bumi, market share PGN sekitar 73% dari total niaga gas bumi di Indonesia.

Apakah pembentukan holding mengubah budaya perusahaan (corporate culture)?

Pada dasarnya tidak ada perubahan yang sifatnya signifikan. Namun, saya ingin memastikan bahwa integrasi ini bertujuan ke arah yang lebih baik. Dan saya yakin dengan kemampuan dan kompetensi rekan-rekan karyawan di PGN dalam menjalankan bisnis gas. Sehingga, dengan integrasi ini, ke depan bisnis gas akan semakin besar dan semakin kuat posisinya di Indonesia bahkan mungkin di luar Indonesia.

Selain itu, agar terus bertumbuh dan berkembang, PGN hingga saat ini terus meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dengan leadership program dan program sertifikasi keahlian khusus agar program kerja perusahaan dapat dijalankan sesuai dengan visi dan misi perusahaan.

 Gaya leadership seperti apa yang bapak terapkan di era Holding Migas?

Yang pertama adalah, integrasi ini harus bisa mengciptakan value. Dan saya yakin PGN, pertagas dan Pertamina mampu untuk menciptakan value tersebut, melalui integrasi ini. Kedua adalah ini sudah menjadi suatu program kerja pemerintah. Karena Pak Jokowi sudah memberikan persetujuan melalui PP No.6 Tahun 2018, maka motivasi saya, ini harus direalisasikan.

 Bagaimana masa depan industri gas di Indonesia mengingat RI telah menjadi net importer untuk minyak?

Secara pribadi saya melihat kenapa bisnis gas di Indonesia belum menjadi primadona, karena memang infrastrukturnya masih belum terbangun secara menyeluruh di seluruh Indonesia. Padahal sumber daya gas di Indonesia sangat besar. Dan kita di satu sisi, masih mengandalkan produk2 energi yang kita impor. Contohnya Elpiji dan produk-produk BBM. Sedangkan gas yang kita miliki sangat banyak. Yang kita tinggal lakukan adalah membangun infrastruktur agar sumber gas yang dihasilkan oleh beberapa wilayah di Indonesia ini bisa kita salurkan ke beberapa wilayah yang memang bisa menggunakan gas untuk sumber energi. Ini semua tinggal bagaimana kemauan kita untuk menciptakan infrastruktur ke depan.

Strategi PGN menghadapi era industri 4.0?

PGN telah memiliki grand strategi utama di bisnis inti melalui 3 hal yaitu penguasaan pasar, optimalisasi dan pengembangan pasar. Sedangkan untuk diversifikasi bisnis dilakukan malalui 3 sub strategi yaitu : inisiatif penguatan bisnis inti, inisiatif terkait energi dan bisnis baru. Semua strategi dimaksud telah tertuang dalam Master Program Korporat Perusahaan. Master Program ini memberikan guidance kepada seluruh satuan kerja dan anak perusahaan agar dapat berkolaborasi dan tumbuh berkelanjutan.

Untuk selalu update dengan bisnis yang terus berubah, PGN juga melakukan innovation untuk memunculkan ide kreatif dan ide bisnis yang akan dijalankan PGN agar tetap kompetitif dan dinamis. Di sisi lain, PGN juga menyadari bahwa perusahaan tidak akan tumbuh lebih besar serta berkelanjutan tanpa keikutsertaannya dalam membangun kewilayahan, karena dengan tumbuhnya wilayah secara merata di indonesia akan menumbuhkan market energi yang baru juga.

 Transformasi seperti apa yang dilakukan PGN dalam menghadapi era digital saat ini?

Transformasi di PGN dilakukan sebagai respons untuk menghadapi tantangan pertumbuhan bisnis (faktor internal) sekaligus menyikapi tuntutan dari lingkungan bisnis (faktor eksternal). Tantangan pertumbuhan bisnis yang dimaksud adalah bagaimana PGN dapat mewujudkan visinya sebagai perusahaan kelas dunia yang memiliki tanggung jawab untuk mengelola sejumlah entitas yang berbeda (anak perusahaan) sekaligus mengelola lingkup usaha yang beragam (khususnya sepanjang rantai bisnis gas sebagai bisnis inti perusahaan) sebagai konsekuensi dari adanya diversifikasi bisnis. Sedangkan yang dimaksud tuntutan eksternal adalah adanya regulasi yang menghendaki dilakukannya pemisahan (unbundling) antara usaha niaga gas dan infrastruktur gas (pengangkutan dan operasi).

Tantangan internal dan tuntutan eksternal tersebut dijawab oleh perusahaan dengan melakukan transformasi perusahaan. Secara garis besar, transformasi perusahaan meliputi dua hal, yaitu: pembentukan perusahaan holding serta unbundling bisnis gas.

Terdapat dua bentuk transformasi yang dilakukan terkait pembentukan perusahaan holding, yaitu pembentukan struktur organisasi holding dan tata kelola holding. Sasaran yang dituju melalui kedua bentuk transformasi ini adalah menjadikan PGN sebagai perusahaan induk yang secara umum akan bertindak sebagai strategic leader holding bagi anak-anak perusahaan. Untuk mewujudkan tujuan ini, maka struktur organisasi dibentuk seramping mungkin; dilakukan pemisahan terhadap ketiga fungsi besar organisasi dalam pengelolaan korporasi, yaitu fungsi strategis, fungsi pengelola bisnis, dan fungsi support; serta dibentuk model model organisasi fungsi supporting yang tersentral dan mengarah pada shared service supporting.

Melengkapi struktur organisasi holding, maka dilakukan pula transformasi tata kelola holding yang mengatur bagaimana peran perusahaan terhadap anak-anak perusahaan. Transformasi tata kelola dituangkan dalam empat bentuk pengaturan, yaitu: pengaturan hubungan antara anak perusahaan dengan PGN sebagai pemegang saham, pengaturan hubungan antara anak perusahaan dengan PGN sebagai induk perusahaan (parent company), pengaturan lingkup usaha anak perusahaan, serta pemberlakuan framework penyusunan perencaan korporat group PGN.

 Nilai-nilai apa saja yang Bapak selalu pegang sehingga sukses dalam meniti karier?


Selama saya menjalani tugas saya, ada nilai yang selalu saya pegang yakni: sikap legowo dan amanah tanpa membawa kepentingan apa-apa. Kenapa sikap ini menjadi acuan saya, sebab dengan sikap legowo dan amanah, kita selalu bisa iklas dan bekerja tanpa tendensi apapun. Selain itu, tingkat stress di lokasi kerja dapat ditekan karena dengan amanah dan ikhlas saya bisa menjalankan tugas apapun dan di manapun saya ditempatkan.

Saya sudah bertugas di Pertamina sejak lama. Dan selama bertugas, saya sudah diberi kesempatan untuk mengawal direktorat yang berbeda-beda. Sebelum di PGN ini, saya menjabat sebagai Direktur Manajemen Investasi dan Risiko Pertamina. Saya juga pernah mendapat tugas untuk menjadi Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis di PGN. Kembali ke sikap amanah dan legowo itu tadi, saya menjadikan seluruh pekerjaan yang ditugaskan kepada saya sebagai ibadah yang harus saya jalankan dengan sebaik-baiknya karena ini bukan untuk kepentingan saya, melainkan kepentingan bangsa dan negara dan orang banyak.

Selain itu, saya juga selalu mengutamakan Allah dalam setiap langkah hidup saya. Saya percaya, nafas yang boleh saya hirup hari ini, pengalaman yang bisa saya rasakan hingga saat ini semuanya karena Allah selalu membimbing saya. Shalat lima waktu merupakan amalan dalam hidup saya yang wajib saya laksanakan. Bagi saya, menjalankan shalat dan menghentikan pekerjaan sebentar tidak akan membawa kerugian apapun, justru Allah akan selalu mendampingi kita



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE