Harni Koesno, Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia
Penggunaan alat kontrasepsi menjadi peranti utama  membantu menstabilkan perekonomian keluarga secara mikro.

Wajah Harni Koesno MKM terlihat begitu segar. Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia (IBI) masa jabatan 2008-2013 ini bersemangat menjalani hari-hari sibuknya.

Ia memberikan edukasi terpadu kepada para bidan di Indonesia.

Saat ditemui di Kantor Pusat IBI di bilangan Salemba, Jakarta Pusat, Harni banyak bercerita mengenai program bagi para bidan tahun 2013 serta pencapaian tahun-tahun sebelumnya.

Saat ini, ia dan jajarannya tengah sibuk menyiapkan agenda tahunan IBI yang sifatnya wajib dilakukan semua bidan di Indonesia. Kegiatan itu adalah bakti sosial setiap bulan Mei untuk menyambut Hari Bidan Indonesia pada 24 Juni.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para bidan akan memberikan pelayanan serta konsultasi dan edukasi gratis secara serentak di seluruh Indonesia.

Semangat memberikan edukasi secara benar dan tepat kepada masyarakat juga didukung PT Bayer Indonesia dengan program Duta Oral Contraception (OC). Kegiatan itu merupakan ajang bagi para bidan yang secara nyata memberikan kontribusi dengan melakukan penyuluhan serta sosialisasi oral kontrasepsi.

“Dengan adanya Program Duta OC, peran bidan dapat menjadi lebih aktif dalam memberikan edukasi yang sangat diperlukan demi meningkatkan kesadaran untuk merencanakan Keluarga Sejahtera, karena sekarang bidan harus lebih menyentuh masyarakat secara langsung,” papar Harni.

Dikatakan, walaupun sosialisasi alat kontrasepsi sudah cukup tinggi, dan dibantu dengan tabel Alat Bantu Pengambil Keputusan bagi keluarga untuk memilih alat kontrasepsi yang tepat, pihaknya masih memerlukan sarana penyampaian yang tepat dan dinamis ke penggunanya.

Khusus mengenai penggunaan OC yang tidak hanya mencegah kehamilan, tapi juga mampu memberikan manfaat lebih bagi pengguna. “Melalui kegiatan Duta OC, diharapkan pengertian masyarakat dapat lebih baik lagi,” tambahnya.

Peran bidan bagi keluarga sangat besar. Secara statistik, penggunaan alat kontrasepsi menjadi peranti utama untuk membantu menstabilkan perekonomian keluarga secara mikro.

Tugas bidan tidak hanya memberikan konsultasi dan memasang alat kontrasepsi, tapi juga membantu masyarakat agar mengerti lebih jauh mengenai pentingnya merencanakan keluarga yang sejahtera sejak dini melalui konsultasi berkala.

Cerita keberhasilan para bidan memang dapat menginspirasi wanita Indonesia. Selain bermanfaat bagi lingkungannya, mereka juga mampu melakukan karya nyata bagi bangsa.

Harni berbagi cerita tentang seorang bidan bernama Desti, asal Muara Bungo, Jambi, yang dinobatkan menjadi Bidan Teladan pada usia 25 tahun. Desti sukses melakukan komunikasi-edukasi alat reproduksi untuk wanita sejak usia dini.

Bidan Desti mengadakan kelas reproduksi remaja yang dimulai dari SMP. Desti terus berkiprah, meski lingkungannya menganggap hal tersebut tabu, Dia mampu melihat cara bagaimana mengatasi permasalahan kehamilan muda dengan jelas.

Edukasi seperti itu pada akhirnya sanggup membantu masyarakat untuk mengambil keputusan yang tepat dalam berbagai hal, mulai dari umur pernikahan, jarak kelahiran, jumlah anak, sampai kesehatan, dan kesejahteraan keluarga di masa depan.

Harni juga menceritakan tentang bidan Siti Rogayah yang sukses menjadi pebisnis andal dengan membangun rumah sakit bersalin yang kini memiliki lima cabang di Jabodetabek.

Siti merupakan contoh teladan bagi Bidan Praktek Mandiri yang kemudian dengan tekun mengembangkan kemampuannya secara profesional menjadi pengusaha.

Dengan banyaknya lulusan bidan di seluruh Tanah Air, diharapkan penggunaan alat kontrasepsi oleh keluarga Indonesia dapat meningkat.

Tahun 2012 lalu, angka kelulusan bidan mencapai 70.000 orang dari 729 sekolah bidan di seluruh Indonesia. Para lulusan itu diserap berbagai unsur pusat pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit, puskesmas, puskesdes, dan praktik bidan mandiri.

 

Penulis: