Foto Close Up Soegeng Sardjadi
Soegeng dikenal sebagai peneliti yang terbuka, berbicara ceplas-ceplos, dan melakukan kritik tajam demi mewujudkan demokrasi yang sesungguhnya.

Begitu banyak pemimpin di negeri ini, namun yang berkualitas terbilang sangat terbatas. Kondisi ini jelas merugikan Indonesia sebagai bangsa yang memiliki penduduk besar. Untuk itu, dibutuhkan pemimpin yang paham benar tentang kenegaraan dan kewarganegaraan.

Oleh karena itu, pengusaha sukses Soegeng Sarjadi kemudian mengabdikan diri tanpa pamrih pada kegiatan nirlaba. Ia terpanggil untuk meningkatkan kegiatan penelitian serta edukasi kenegaraan dan kewarganegaraan serta kepemimpinan dengan menggagas dan mendirikan Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) pada 2 Januari 2001.

Hal itu sebagai respons atas proses demokratisasi yang sedang berkembang di negeri ini. Ia menaruh harapan agar proses demokratisasi tersebut berjalan pada rel yang benar dan berupaya membangun kesadaran mewujudkan demokrasi yang lebih baik di Indonesia.

Selama 12 tahun ia dan para peneliti lainnya menganalisis berbagai kebijakan di bidang politik, ekonomi, dan sosial, melalui riset dan survei, yang kemudian disampaikan kepada siapa pun yang membutuhkan.

Menurutnya, semua manusia adalah elemen politik. Manusia tidak lepas dari kehidupan politik. Sepanjang 2012, dunia perpolitikan Indonesia mengalami karut-marut. Dia menyebut tahun 2012 sebagai tahun politik yang terbalik.

“Berpolitik itu semestinya melakukan aktivitas bernegara. Di luar itu bukan, seperti membuat partai hanya untuk meraih kekuasaan saja. Kalau kita hidup di Indonesia, bernegara itu adalah menghargai dan menghayati konstitusi yang memakmurkan rakyatnya,” ucapnya saat peringatan 12 tahun SSS sekaligus peluncuran novel politik untuk segala umur berjudul Slank 5 Hero Dari Atlantis di Jakarta, baru-baru ini.

Tetapi sayangnya, lanjut aktivis 66 itu, perpolitikan pada 2012, salah tempat dan posisi, serta tanpa etika dan moral. Kekuasaan dan uang telah menjadi episentrum politik dekonstruktif yang membelokkan arah politik dari tujuan negara.

Kepercayaan Rakyat Merosot
Kepercayaan rakyat terhadap pejabat negara maupun DPR pun kian merosot karena perilaku politisi yang banyak melanggar undang-undang dan di luar konteks politik yang sebenarnya. Elite politik terlalu sibuk berkonflik dan tanpa keteladanan. Akibatnya, rakyat mulai ragu dan lelah mengikuti perkembangan politik Tanah Air.

Menurut Soegeng, kericuhan elite politik ini juga menular ke lapisan masyarakat. Rakyat pun menjadi lebih sering menampilkan sikap mudah tersinggung, marah, susah dikendalikan, dan tidak mudah diatur. Akhirnya, masyarakat mendekati kondisi yang sulit diatur karena politik-hukum yang kacau dan tidak adanya keteladanan.

Mantan ketua HMI Cabang Bandung itu menegaskan dalam bernegara dan konstitusi berfungsi untuk membangun peradaban, tata nilai, dan semangat bangsa yang lebih baik. Tidak ada cara instan menuju semua itu dan harus tetap sejalan dengan konstitusi negara.

Dia tetap berharap generasi muda sekarang bisa memperbaiki kondisi bangsa, di tengah pesimisme publik yang tinggi terhadap kaum muda yang terjebak politik kotor dan korup.

Potensi Generasi Muda
Mantan politisi PDI itu meminta seluruh warga bangsa tidak meremehkan potensi anak muda yang bergerak di bidang ekonomi kreatif. “Jangan meremehkan anak-anak muda, seperti Slank. Mereka produktif di bidang ekonomi kreatif. Lagu-lagu mereka juga tidak melupakan masalah bangsa, dan menyemangati bangsa. Saya yang sudah tua ini malah ingin belajar lagu mereka dengan gitar. Anak-anak muda seperti mereka justru masih menghidupkan asa kita. Jangan hanya dilihat dari tongkrongan mereka,” ucap pendiri lembaga Soegeng Sarjadi Government of School itu.

Selama ini Soegeng dikenal sebagai peneliti yang terbuka, berbicara ceplas-ceplos, dan melakukan kritik tajam demi mewujudkan demokrasi yang sesungguhnya. Bahkan, pada 2011, pendiri Yayasan Soegeng Sarjadi (YSS) itu sempat menghebohkan dunia perpolitikan karena menantang SBY lewat debat politik bernegara.

Pria asal Pekalongan ini memang dikenal mahir meniti kehidupan politik. Dia pernah terjun ke dunia politik sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) pada 1967-1968. Setelah itu pada Pemilu 1992, ia merapat ke PDI. Pada masa Soeharto, dia sempat menjadi anggota DPR mewakili mahasiswa pada masa-masa awal Orde Baru. Setelah itu, Soegeng beralih haluan dan menjadi pengusaha sukses, tetapi tak pernah berhenti memantau perkembangan politik nasional.

Penulis: