Carmelita Hartoto, Ketua INSA
Carmelita tercatat sebagai nakhoda Grup Andhika Lines, perusahaan pelayaran yang mapan dan disegani.

Kiprah Carmelita Hartoto dalam industri pelayaran bukanlah sesuatu yang direncanakan. Semua itu bermula ketika sang ayah, Hartoto, mantan ketua umum Asosiasi Pengusaha Pelayaran Nasional Indonesia (Indonesian National Shipowners Association/INSA) yang juga pendiri Grup Andhika Lines, wafat pada 1994. Carmelita terpaksa meninggalkan karier yang dirintisnya di sebuah perusahaan trading di London demi membesarkan  bisnis keluarganya itu.

Kini, hampir dua dekade kemudian, Carmelita tercatat sebagai nakhoda Grup Andhika Lines, perusahaan pelayaran yang mapan dan disegani. Ia juga dikenal luas sebagai ketua umum INSA, jabatan bergengsi yang kebetulan juga pernah disandang mendiang ayahnya.

Apa saja tantangan mengelola perusahaan keluarga? “Saya ibaratnya yang diberi kepercayaan, karena di keluarga hanya saya yang masuk dan terlibat langsung di perusahaan ini. Saya berupaya menjawabnya dengan  tetap  yakin dan berpikiran positif untuk bisa memajukan perusahaan  dalam situasi apa pun,” papar Carmelita di kantornya, belum lama ini.

Tekun dan serius ternyata menjadi kunci sukses Carmelita. “Bila segala sesuatu dilakukan dengan tekun dan serius, insya Allah hasilnya akan positif. Saya juga mengganggap pekerjaan sebagai hobi, kesenangan, bukan beban,” tuturnya.

Carmelita adalah eksekutif yang selalu menjunjung tinggi integritas. Ia sadar betul bahwa moral yang baik merupakan  kunci utama menjalani hidup ini. “Untuk apa pandai kalau tidak bermoral? Bermoral dalam bekerja, berkeluarga, dan bergaul harus dijadikan pedoman hidup,” tegasnya.

Apa kiat dan strategi bisnis yang diterapkan Carmelita? Apa pula obsesinya tentang industri pelayaran nasional?  Berikut hasil wawancara dengan ibu tiga anak yang berulang tahun pada 22 Juni.

Bagaimana perjalanan karier Anda dan kisah sukses apa yang sudah berhasil Anda torehkan?
Saya tidak ingin mengatakan ini suatu success story, karena arti suatu kesuksesan, biarlah orang lain yang menilainya. Beranjak ketika saya lulus dari college di London, saya bekerja di sebuah trading company. Tetapi setelah ayah saya meninggal karena stroke pada 1994, saya yang tadinya hanya berlibur di Indonesia, harus meninggalkan Inggris.

Saya berhenti bekerja, dan membantu Ibu saya meneruskan bisnis keluarga di Indonesia, yakni bisnis shipping yang didirikan ayah. Dalam kondisi tersebut, saya mulai belajar mengenai shipping, pergudangan, dan kepelabuhan.

Semuanya saya pelajari dari pengalaman dan mentoring dari profesional kolega-kolega saya. Saat itu saya memiliki partner, yakni orang-orang yang dulu membantu ayah saya dulu. Saya dikelilingi partner ayah dan orang-orang yang mempunyai loyalitas terhadap perusahaan.

Butuh berapa lama untuk menyesuaikan diri dan bisa menjadi pemimpin grup perusahaan pelayaran?
Awalnya, saya masuk di pelabuhan untuk belajar lebih dulu di cabang-cabang perusahaan kami, baik di bidang keagenan, kantor grup, terminal, warehouse pelabuhan, dan sebagainya.

Dari situ, kemudian saya  masuk kantor pusat. Dan, mulailah saya menjadi  direktur utama Andhika Lines dan direktur perusahaan lain, baik itu yang masih satu grup maupun usaha lain. Saya dipercaya oleh para pemegang saham untuk menjadi pucuk pimpinan Andhika Lines sejak  2005 sampai sekarang.

Apa tantangan dalam menjalani bisnis keluarga?
Banyak hal yang menjadi tantangan saya. Ini mengingat apa yang dibangun oleh keluarga, saya ibaratnya yang diberi kepercayaan. Dari keluarga hanya saya yang masuk ke perusahaan ini, kendati adik dan ibu saya juga menjadi komisaris. Jadi, tantangan banyak seperti situasi perekonomian dunia saat  ini. Saya berupaya untuk tetap yakin dan berpikiran positif  untuk bisa memajukan perusahaan dalam situasi apa pun.

Jadi, kondisi bisnis pelayaran niaga sedang menurun?
Ya, angkutan ekspor kita memang sedang menurun karena permintaan menurun. Lihat saja pembelian batu bara dari China dan India, menurun. Tapi untungnya angkutan impor agak naik. Sebenarnya juga kondisi pasar domestik  masih baik, jadi hanya angkutan ekspor-impor tidak seperti dulu.

Kita juga harus melihat kondisi pelayaran di Eropa dan Amerika Serikat  pun dalam keadaan susah, sehingga saat ini kita masih baik situasinya. Mudah-mudahan kita bisa mempertahankannya.

Industri pelayaran nasional sulit bersaing dengan industri pelayaran asing, apakah industri pelayaran membutuhkan dukungan pemerintah?
Benar, kami meminta pemerintah  untuk menerapkan kebijakan setara dengan kebijakan yang dibuat negara tetangga, khususnya Singapura dan Malaysia, seperti pembebasan sejumlah pajak (free tax).

Di Singapura dan Malaysia, banyak jenis pajak di sektor pelayaran telah dihilangkan. Kami juga meminta kebijakan serupa agar bisa bersaing.

Pemerintah  juga harus aware untuk memproteksi industri pelayaran nasional dengan menjalankan asas cabotage, sehingga dalam keadaan darurat, seperti perang, kita punya armada besar dan kekuatan armada angkutan barang dalam negeri juga tangguh.

Bagaimana semestinya peran industri pelayaran asing menurut Anda?
Saya kira peran asing difokuskan saja untuk investasi yang besar-besar, yakni yang nilainya triliunan rupiah dan berteknologi tinggi. Pokoknya untuk bidang yang industri pelayaran nasional belum sanggup menangani. Kalau investasi masih bisa dijalankan oleh pelaku industri lokal, lebih baik kita yang handle saja. 

Anda adalah ketua umum INSA dan aktif di Kadin Indonesia, bisa diceritakan mengenai hal itu?
Saya senang bergaul dan bersosialisasi, sehingga saya mempunyai network yang luas. Oleh karenanya saya aktif di INSA dan Kadin. Pada periode 2002-2008, saya mengepalai bidang hubungan luar negeri di INSA. Pada periode 2008-2011, saya menjadi bendahara umum, lalu pada periode 2011-2015 saya dipercaya menjadi ketua umum INSA. Sedangkan di Kadin pusat, saya dipercaya menjadi ketua Komite Tetap Perhubungan Laut.

Apa kiat Anda untuk mencapai kesuksesan dalam meniti karier dan menjalani kehidupan pribadi?
Saya tidak tahu apakah ini suatu kiat atau apa, tetapi semua itu saya jalani dengan tekun, dan semua mengalir begitu saja. Dengan demikian saya berkesimpulan, bila segala sesuatu kita lakukan dengan tekun, serius, baik itu urusan pekerjaan ataupun menjalani kehidupan pribadi, insya Allah akan menghasilkan sesuatu yang positif.

Selain itu saya juga mengganggap pekerjaan sebagai hobi, kesenangan, bukan beban. Dan, saya yakin hal itu akan membuat hasil pekerjaan saya lebih baik.

Anda menerapkan kiat dan gaya kepemimpinan seperti apa?
Belajar dari gaya kepemimpinan ayah saya, di mana beliau menginginkan perusahaan dikelola oleh profesional. Demikian pula saya untuk urusan kantor atau perusahaan, pengelolaannya kami serahkan kepada profesional.

Pemilik saham yang duduk di perusahaan hanyalah saya. Mengenai gaya kepemimpinan, saya lebih nyaman menggunakan gaya kekeluargaan. Kalau karyawan bersalah, ya saya marahi dan saya nasihati. Tetapi kalau berprestasi, ya saya apresiasi. Semuanya dalam koridor kekeluargaan, sehingga tidak perlu melukai hati seseorang.

Bagaimana strategi Anda memajukan perusahaan?
Dalam bisnis shipping yang bermodal besar, namun pertumbuhannya lambat seperti ini, diperlukan strategi yang berkesinambungan. Saya sangat memperhatikan kebutuhan pelanggan. Memberikan pelayanan kepada pelanggan sesuai kebutuhannya bahkan melebihi harapannya, akan membuat pelanggan memberikan pesanan ulang atau repeat order.

Gebrakan paling fenomenal apa yang telah Anda lakukan di perusahaan?
Memenangi tender pengangkutan batu bara dan minyak, kemudian menambah jumlah armada kapal. Perusahaan kami memang mengalami pasang surut seiring terjadinya beberapa krisis ekonomi, mulai saat didirikan ayah saya pada 1973.

Apa filosofi hidup Anda dalam bekerja dan berkeluarga?
Kami menjunjung tinggi integritas. Dalam hidup ini jujur dan bermoral adalah kunci utama yang kami pegang teguh. Untuk apa kita pandai, kalau tidak bermoral. Bermoral dalam bekerja, berkeluarga, dan bergaul harus dijadikan pedoman hidup.

Selain itu, saya berprinsip untuk selalu memegang janji, karena  yang bisa dipegang dari seseorang adalah  omongannya.  Dalam bisnis pelayaran yang notabene bisnis layanan (service), filosofi seperti itu harus selalu dipegang.

Apa obsesi Anda yang sudah dan belum tercapai di perusahaan maupun secara pribadi?
Untuk perusahaan, saya berobsesi perusahaan ini masih akan terus eksis dan  sejajar dengan perusahaan-perusahaan pelayaran lainnya di Indonesia, melanglang buana ke segenap penjuru dunia.

Sedangkan dalam kehidupan pribadi, saya sebenarnya ingin mendirikan usaha yang benar-benar sesuai dengan hobi saya.

Bagaimana Anda menyeimbangkan hidup dalam bekerja, berkeluarga, dan bermasyarakat?
Kebetulan saya senang traveling dan bersosialisasi. Jadi, kesenangan saya inilah yang saya jadikan sebagai alat untuk menyeimbangkan hidup dalam bekerja, berkeluarga, dan bermasyarakat.

Dengan traveling bersama keluarga, hubungan tetap terjaga. Dan gathering dengan kawan-kawan, bersosialisasi, membuat nilai silaturahmi tetap terjaga.

Apa yang Anda kejar dalam hidup ini?
Saya sedang tidak mengejar sesuatu. Semua saya jalani dengan tekun begitu saja dan  mengalir. Dan, ketika saya sudah berenang di dalamnya, tentu kita akan berusaha sedemikian rupa agar tetap mengapung, menyeimbangkan diri, dan menyamankan diri di atasnya, dalam arus kehidupan, baik dalam keluarga maupun karier.

Bagaimana peran keluarga dalam karier Anda?
Saya bersyukur memiliki suami dan anak-anak yang sangat mendukung perjalanan karier saya. Kebetulan juga anak-anak sudah tumbuh dewasa, sehingga sudah memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Di tengah kesibukan saya di perusahaan maupun organisasi, saya kadang menyuruh anak-anak menemui saya di kantor  untuk mengobrol atau makan siang.

Apa kegiatan Anda  di luar jam kerja yang padat?
Hobi saya traveling, makan-makanan eksotis, dan berenang. Saya juga  melakukan  kegiatan itu  bersama keluarga di waktu senggang. Bila ada long weekend, biasanya kami juga makan bersama di luar atau melakukan traveling.


Penulis: