Java Heat, Men-Jawa-kan Hollywood atau Meng-Hollywood-kan Indonesia? i

FILM JAVA HEAT - (dari kiri ke kanan) Para pendukung film Java Heat, Verdi Solaiman, Mike Lucock, Atiqah Hasiholan, Sutradara Conor Allyn dan Ario Bayu saat hadir dalam konfrensi pers di Jakarta.

Oleh: Teddy Kurniawan | Selasa, 16 April 2013 | 19:11 WIB

Jakarta - Belum muncul di bioskop, film Java Heat sudah menjadi pembicaraan banyak orang. Banyak yang menggadang-gadangkan, Java Heat akan mengalahkan kesuksesan The Raid, film fenomenal yang dibintangi aktor laga Iko Uwais.

Tentu anggapan tersebut bukanlah sekedar ucapan belaka. Dibandingkan The Raid yang banyak menampilkan aktor lokal, meski disutradarai Gareth Evans, sederet nama pesohor dari Hollywood tampil di film Java Heat yang dibesut Conor Alyyn tersebut.

Sebut saja aktor Hollywood Kellan Lutz dan Mickey Rourke. Mickey Rourke terakhir bermain di film Iron Man 2, sebagai Ivan Vanko, musuh Iron Man. Sementara Kellan Lutz namanya semakin melambung saat membintangi film The Twilight Saga.

Dua nama itu sudah menjadi sebuah jaminan, tontonan film Java Heat akan menarik. Terlebih dengan tampilnya si cantik Atiqah Hasiholan dan Ario Bayu, semakin menambah anggapan, film Java Heat memang layak untuk ditonton.

Meski kisah yang dibangun tergolong rumit, namun keindahan gambar menjadi pemuas mata yang memandang.

Kisah yang bermula dari sebuah insiden bom bunuh diri tersebut, membuat Hashim (Ario Bayu), anggota Densus 88 harus berhadapan dengan Jake (Kellan Lutz). Jake yang mengaku hanya asisten dosen, ternyata bukanlah warga negara asing biasa.

Meski digarap ala Hollywood, bukan berarti film Java Heat hadir sempurna. Alur cerita yang terkesan lambat membuat penonton harus banyak berpikir tentang teka teki yang tersembunyi di balik peledakan bom. Namun semua itu bisa terobati manakala penonton melihat sejumlah adegan aksi yang mengadaptasi dari cerita-cerita film bergenre aksi Hollywood. Trik kamera, membuat aksi ledakan bom di atas gedung, mobil terbalik dan tembak-tembakkan tampak nyata.

Artis Hollywood di Indonesia

Menghadirkan aktor Hollywood, bukanlah cerita baru bagi perfilman tanah air. Saat nama Cynthia Rothrock mendunia, ia pun pernah mencicipi bermain di Indonesia. Bahkan ia sampai bermain di empat judul film dalam kurun waktu 1990 - 1992, yakni Bidadari Berambut Emas, Membela Harga Diri, Tiada Titik Balik, dan Pertempuran Segi Tiga.

Sebagai bintang laga, Cynthia sukses meraih perhatian masyarakat Indonesia. Empat judul film yang dibintanginya pun laris manis di pasar tanah air.

Selain itu, aktor Hollywood lainnya, Frank Zagarino pun sempat beradu akting di tanah air dengan Ayu Azhari dalam film Without Mercy. Namun sayang, film tersebut mendapat banyak kecaman, lantaran cuplikan adegan panas Ayu Azhari dan Frank beredar luas.

Pangsa pasar perfilman tanah air yang masih menjanjikan, akhirnya membuat para sineas dari negeri yang terpisah benua pun kembali hadir di tanah air.

Seperti yang Conor Allyn sampaikan saat menyambangi kantor Beritasatu.com, Selasa (16/4). Ia melihat, banyak hal yang bisa digarap di tanah air dan diwujudkan dalam sebuah judul film.

Karena itu, Conor pun seakan 'betah' berlama-lama meraih pasar Indonesia, terbukti dengan raihan yang memuaskan di film Merah Putih, Darah Garuda, dan Hati Merdeka.

Apa yang dilakukan Conor perlu diapresiasi, lantaran ia mau membuat film-film bernapaskan perjuangan bangsa Indonesia meski dirinya tidak memiliki darah Indonesia.

Ditambah dengan besutan terbarunya, Java Heat yang menonjolkan budaya Jawa, membuat dirinya semakin yakin 'mencintai' Indonesia.

"Sudah ada tiga skrip (naskah) lagi film yang akan dibuat di Indonesia," ujarnya sambil merahasiakan tema dari calon garapan selanjutnya tersebut. Ia pun tak ingin membicarakan saat ditanya tentang apakah teman budaya yang akan kembali diangkat.

Memang, ketika berbicara produk (film), ada unsur bisnis di dalamnya. Namun, bukan berarti tak ada pelajaran yang dapat diambil dari aksi Conor tersebut. Ini bukanlah mempresentasikan penjajahan di dunia perfilman tanah air dalam arti yang negatif. Namun, jika memang niatnya untuk meng-Hollywood-kan Indonesia, kenapa harus ragu untuk belajar banyak dan banyak belajar dari Conor?


Sumber:
ARTIKEL TERKAIT