Poster film Sokola Rimba

Awalnya Sokola Rimba adalah judul sebuah buku yang merupakan catatan pengalaman Butet Manurung, mengajar di Hutan Bukit Duabelas, Jambi. Namun rupanya, jalan cerita yang menarik, membuat Miles Film mengubahnya dalam bentuk audio video.

Riri Riza bertindak sebagai penulis dan sutradara, sementara Mira Lesmana menjadi produser. 'Duet maut' itu kerap menghasilkan karya-karya yang berkualitas.

Film Sokola Rimba mengisahkan interaksi Butet Manurung dengan anak-anak Rimba Hutan Bukit Duabelas, Jambi, yang lucu dan cerdas, serta pertemuan Butet yang mengesankan dengan salah satu murid terbaiknya, Nyungsang Bungo. Petualangan dan persahabatan Butet dan Bungo harus menghadapi tantangan besar baik dari dunia luar, maupun dari dalam masyarakat Rimba sendiri. Film Sokola Rimba menyajikan dengan indah gambaran kehidupan salah satu masyarakat adat yang tinggal di pedalaman dan jarang digambarkan dalam film Indonesia.

"Saya sangat senang dengan difilmkannya buku Sokola Rimba ini. Saya berharap film ini dapat menyampaikan kepada masyarakat luas tentang perjuangan Orang Rimba dan komunitas-komunitas adat lainnya di pelosok Indonesia,” ungkap Butet Manurung, penulis buku Sokola Rimba.

Inspirasi untuk memfilmkan buku Sokola Rimba tercetus setelah Riri dan Mira membaca buku catatan pengalaman Butet tersebut. Kekaguman mereka terhadap Butet yang memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap masyarakat marjinal di Indonesia dan keunikan kultur Orang Rimba inilah yang mendorong mereka memfilmkan Sokola Rimba.

"Saya sudah sering mendengar tentang suku Anak Dalam, yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai Orang Rimba, namun baru betul-betul memahami siapa dan bagaimana mereka hidup setelah membaca buku yang ditulis oleh Butet Manurung ini. Saya ingin pemahaman yang saya dapatkan dari pengalaman Butet juga dirasakan oleh masyarakat banyak,” ungkap Mira Lesmana.

"Saya merasa cerita ini bisa membawa kita ke sebuah pengalaman yang seru dan menarik dalam melihat sebuah komunitas masyarakat Indonesia yang berbeda dengan mayoritas kita umumnya. Mereka punya cita-cita yang tidak terlalu rumit dalam menjaga hidup mereka, semuanya masih didasarkan pada adat. Saya merasa mendapatkan ruang bermain yang asyik untuk membuat sebuah film,” tutur Riri Riza.

Film berdurasi 90 menit ini menampilkan Prisia Nasution sebagai Butet Manurung serta anak-anak Rimba dari Hutan Bukit Duabelas, Jambi. Sejak awal Mira dan Riri memang sudah memutuskan untuk mengajak anak-anak Rimba berperan dalam film ini. Menurut Mira, sangat dibutuhkan otentisitas dalam memerankan tokoh orang orang Rimba, yang mereka yakini akan sangat sulit dan butuh waktu panjang bila diberikan kepada aktor lain.

"Dari pengalaman bekerja dengan "non-aktor" dan masyarakat asli suatu daerah seperti di film Laskar Pelangi dan film terakhir kami Atambua 39'C, kami yakin akan kemampuan mereka dalam berperan,” ujar Mira.

"Kami ingin membuat film yang baik dan mengajak warga Rimba untuk berpartisipasi di dalamnya,” ungkap Riri.

Untuk memerankan tokoh-tokoh dalam film Sokola Rimba, Mira dan Riri tetap melakukan proses casting untuk menemukan siapa yang tepat untuk memerankan tokoh yang tertulis dalam skenario.

"Dan menurut kami Prisia Nasution memiliki berbagai kelebihan untuk memerankan Butet Manurung. Selain kemampuan aktingnya yang tak perlu diragukan, secara fisik ia juga sangat cocok. Prisia memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi. Tidaklah mudah untuk bisa dengan cepat mempelajari bahasa Rimba dan juga untuk tinggal di hutan selama persiapan maupun syuting film ini,” ujar Mira.

Film Sokola Rimba menghabiskan waktu kurang lebih 3 bulan dari pra produksi sampai proses syuting selesai. Syuting film ini banyak mengambil lokasi di Kota Bangko kabupaten Merangin, Desa Transmigrasi SPG dan SPA, Kabupaten muara tebo serta Makekal hulu Hutan Duabelas, Jambi.

Hadirnya film ini diharapkan dapat menjadi tontonan yang bisa memberi pemahaman kepada masyarakat, kepada penonton khususnya untuk lebih mengenali lagi salah satu kehidupan masyarakat marjinal Indonesia yang sangat unik ini dan sekaligus merasa bangga pada kekayaan dan keragaman Indonesia kita. Film ini akan mulai diputar di bioskop pada 21 November 2013.

Penulis: Teddy Kurniawan