Pemeran film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Herjunot Ali (kanan) dan Pevita Pearce berfoto usai konferensi pers film tersebut di Jakarta, Selasa (19/11).

Jakarta - Rumah produksi Soraya Intercine Films mengakui film "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" yang diadaptasi dari novel mahakarya sastrawan sekaligus budayawan Haji Abdul Malik Karim Amarullah atau Hamka menjadi film termahal yang diproduksi selama ini.

Sutradara sekaligus produser film, Sunil Soraya menegaskan hal itu dikarenakan harus membuat suasana cerita film seperti yang dikisahkan pada tahun 1930-an sesuai dengan era novel.

Banyaknya riset dan hal-hal yang wajib dipenuhi guna mendapatkan gambar yang maksimal menjadi ongkos produksi tinggi.

"Ini menjadi film termahal yang pernah diproduksi, mungkin selamanya. Film ini akan 100 persen sama dengan buku karya Buya Hamka dengan judul yang sama. Saya kalau bikin adaptasi 100 persen sama, supaya penonton merasakan visualnya," kata Sunil di kantor Soraya Intercine Films, Jakarta, Selasa (19/11), yang enggan menyebutkan rincian nilainya.

Observasi, proses pra-produksi, casting, sampai penulisan skenario pun dimulai sejak tahun 2008. Berarti sudah lima tahun berjalan guna merampungkan film terbesarnya. Bahkan, Sunil pun sempat ragu film ini dapat diselesaikan karena cukup panjang prosesnya.

Salah satu elemen tersulit adalah menemukan kapal yang menyerupai kapal Van Der Wijck ditahun 1930-an. Akhirnya dibuat ulang replika kapal tersebut dengan memesan kapal dari Belanda yang memang produsen asli kapal Van Der Wijck.

"Kita cari kapal yang mirip Van Der Wijck itu susah di sini. Akhirnya kita minta blueprint dari Belanda dan kita membuat kapal itu. Proses mencari kapalnya sendiri tiga tahun, proses pembuatan kapal setahun. Makanya kita agak susah produksinya. Hal inilah yang membuatnya menjadi lama,” ungkap dia.

Semua itu dilakukan agar penonton yang telah membaca novel mendapat gambaran tentang kapal dan diciptakan semirip mungkin dengan aslinya, mulai dari bentuk, warna, hingga bobotnya.

Begitu juga dengan mobil yang berlalu-lalang harus sama dengan yang beredar di sekitar tahun tersebut yang dicari dari kolektor mobil era lama.

Kesulitan lainnya adalah sang sutradara juga mencari laut yang tidak memiliki ombak kencang karena kapal Van Der Wijck dikisahkan tenggelam bukan karena ombak besar. Padahal tempat syuting lautnya kencang sekali.

Akhirnya tim produksi mendatangkan tenaga ahli dari luar untuk menampilkan efek tenggelam tanpa menggunakan animasi.

"Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" dibintangi Pevita Pearce sebagai Hayati, Herjunot Ali sebagai Zainuddin, dan Reza Rahadian sebagai Aziz.

Film berdurasi 2 jam 45 menit ini akan tayang di bioskop seluruh Tanah Air pada 19 Desember 2013.

Suara Pembaruan

Penulis: H-15/FEB

Sumber:Suara Pembaruan