Festival Film Indonesia 2014 Lakukan Beberapa Terobosan Baru

Festival Film Indonesia 2014 Lakukan Beberapa Terobosan Baru
FFI 2014 ( Foto: Hendro Situmorang )
Hendro D Situmorang / FAB Sabtu, 18 Oktober 2014 | 07:43 WIB

Jakarta - Ajang penghargaan insan film, Festival Film Indonesia (FFI) 2014 dinilai banyak melakukan terobosan baru untuk menghasilkan karya-karya yang terbaik. Piala Citra, lambang supremasi tertinggi perfilman Indonesia, dikembalikan pada bentuknya seperti semula.

Ketua Pelaksana FFI 2014, Kemala Atmojo mengatakan, Piala Citra sempat mengalami perubahan bentuk sejak Festival Film Indonesia (FFI), yang digelar 2008. Padahal sebelumnya, desain piala tersebut menggunakan konsep rancangan seniman pematung Sidharta.

"Dalam penyelenggaraan FFI 2014 yang akan berlangsung pada 6 Desember di Palembang, Sumatera Selatan, panitia pelaksana FFI memutuskan untuk mengembalikan bentuk Piala Citra seperti semula. Ini atas permintaan banyak insan perfilman, akhirnya Piala Citra kami kembalikan ke bentuk semula. Piala Citra juga dimodifikasi ulang oleh seniman Dolorosa Sinaga," katanya di JS Luwansa Hotel, Jakarta, Jumat (17/10).

Sementara itu konsep acara FFI 2014 akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dengan mengusung tema "Bangga Film Indonesia", ia bertekad untuk mengembalikan kejayaan perhelatan film nasional.

"Dengan semangat perubahan dan mengembalikan Piala Citra sesuai bentuknya, semula jelas akan merubah konsep acara FFI. Tahun ini penyelenggaraan FFI akan lebih semarak, karena diramaikan oleh banyak aktor dan aktris," ungkap dia.

FFI 2014 juga melakukan perubahan terhadap proses penjurian, khususnya pada film layar lebar hingga melibatkan akuntan publik independen.

Hasil penilaian dewan juri akan dikirim ke akuntan publik independen, Deloitte, satu dari empat perusahaan akuntan dan konsultan investasi terbesar di dunia untuk direkapitulasi. Dengan model seperti ini, diharapkan tingkat kredibilitas dan obyektivitas hasil penilaian dapat terjaga. Selain itu, dengan makin melibatkan banyak orang, akseptabilitas FFI juga makin meningkat.

"Penjurian akan kita ubah. Akan ada akuntan publik dari Deloitte, dan kita akan buat acara malam puncak sebagus mungkin. Tahun ini, sistem penjurian film bioskop melibatkan sebanyak mungkin insan film dan nonfilm untuk menjadi dewan juri. Total Dewan Juri film bioskop berjumlah 100 orang. Sedangkan untuk film pendek, animasi, film televisi dan film dokumenter masing-masing berjumlah lima orang," ujar Kemala.

Sejumlah dewan juri yang dilibatkan dari berbagai komponen masyarakat. Mulai dari budayawan, tokoh, seniman, psikolog, insan film dan kalangan intelektual. Mereka itu antara lain, Niniek L Karim, Seno Gumira Ajidarma, Widyawati, Reza Rahardian dan Irwan Usmar Ismail dan lainnya.

Pendaftaran film peserta sudah dimulai sejak 1 Oktober lalu hingga penutupan pada 30 Oktober 2014. Sampai saat ini sudah ada 25 judul film yang sudah didaftarkan oleh pihak produser untuk ajang FFI 2014.

Dewan juri yang sudah ditunjuk akan menilai seluruh film yang masuk ke panitia. Mereka diberi kesempatan untuk menilai film-film peserta di rumah masing-masing, dengan menggandakan compact disk (CD) film peserta. Namun untuk film terbaru akan ditonton bersama.

“Hanya film pendek, animasi dan film TV yang dinilai di Sekeretariat FFI di Gedung Film. Hasil penilaian juri akan dikirim langsung ke akuntan publik independen Deloitte, satu dari empat perusahaan akuntan dan konsultan investasi terbesar di Indonesia,” kata Kemala.

Menurutnya, Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang baru dibentuk awal tahun ini langsung mendapat tantangan besar menangani perhelatan FFI tahun ini. Lembaga ini pun mulai merombak kembali sistem penilaian dengan mengadopsi cara yang dilakukan Academy Award atau Oscar untuk pertama kalinya. 

Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE