Perjuangan Sultan Agung Mataram Melawan Belanda Akan Difilmkan

Perjuangan Sultan Agung Mataram Melawan Belanda  Akan Difilmkan
Sultan Agung Mataram ( Foto: Ist / Ist )
Mardiana Makmun / MAR Kamis, 24 November 2016 | 15:12 WIB

Jakarta - Perjuangan Sutan Agung Mataram melawan penjajah Belanda di Batavia akan diangkat ke layar lebar. Rencananya, film akan dibuat tahun 2017 mendatang dan diputar di seluruh bioskop di Tanah Air.

“Insya Allah, film ini akan menjadi film Indonesia berkualitas untuk tontonan masyarakat Indonesia. Cuma saya harap, ending film ini harus menampilkan kemenangan Sultan Agung melawan Belanda,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhajir Effendy saat memberi sambutan dalam seminar Bedah Sejarah Sultan Agung Mataram 1628 di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Kamis (24/11).

Mooryati Soedibyo, yang memproduksi film ini sangat mendukung proses kreatif film nasional untuk mengangkat tema sejarah perjuangan Sultan Agung Hanyokrokusumo Mataram 1628. Mooryati berharap fim ini dapat menanamkan nilai-nilai patriotisme dan heroisme di kalangan generasi muda.

"Generasi muda bisa mengambil contoh, nilai-nilai dari film ini, termasuk strategi dan semangat patriotisme Sultan Agung untuk diterapkan di masa kini," kata Mooryati Soedibyo.

Sutradara film Sultan Agung Mataram, Zainal Darma Abidin mengatakan, film ini akan memberikan inspirasi kegigihan semangat juang masyarakat Indonesia secara keseluruhan. “Terutama kalangan genersi muda yang hidup di tengah gempuran modernisasi agar nilai-nilai luhur sejarah, patriotisme, nasionalis, dan humanis, tetap tertanam dalam diri mereka,” kata Zainal.

Film ini, ungkap Zainal, akan dikemas dalam frame seorang puteri dari Keraton yang mengambil jurusan sejarah di Univesitas Indonesia. Dalam skripsinya, puteri bernama Mustika itu menulis tentang Sultan Agung Mataram 1628 melakukan penyerangan VOC di Batavia. Putri, yang juga penari Keraton lalu membentuk forum pemerhati dan penyelamat aset sejarah Nusantara, bersama sahabat-sahabatnya.

Dalam proses penyusunan skripsi tersebut, Mustika banyak bertanya pada sang eyang, Ratu. Ratu adalah tokoh wanita yang gigih memperjuangkan nilai-nilai sosial dan budaya. Sang eyang berusia 89 tahun itu menjadi sumber ilham dan inspirasi bagi Mustika.

“Kekuatan film ini adalah mengangkat semangat perjuangan heroik dalam mengusir penjajah/kolonial VOC, dengan darah pasukan Mataram yang berkorban atas titah Sultan Agung Hanokro Kusumo. Bahwa, jangan pernah kembali ke bumi Mataram jika Batavia belum ditaklukan!” tegas Zainal.

Diakui Zainal, ada banyak sekali persiapan yang dilakukan, termasuk riset. “Untuk menyusun cerita yang kuat, saya mengadakan riset selama empat tahun, mulai 2007 sampai 2011,” ungkap Zainal.

Riset dilakukan di Leiden University, Museum Amsterdam, Suku Batav (etnis Belanda), Kota Gede sisa-sisa Mataram, Keraton Yogya, Keraton Solo/Kartasura, Makam-makam Raja Imogiri, diskusi pakar sejarah, bukit-bukit bersejarah, Kota Tua Jakarta dan Pelabuhan Sunda Kelapa, hingga sisa kastil VOC.

Sementara itu, Mooryati menegaskan, perlu digarisbawai, perjuangan Sultan Agung Mataram ternyata tidak kalah dan tidak menyerah kepada VOC. Hanya saja saat itu perjuangan terpaksa berhenti untuk menghindari banyaknya rakyat jatuh korban akibat persenjataan yang tak imbang antara pasukan Sultan Agung Mataram dan Belanda.

Sesudah wafatnya Jan Pieter Zoon Coen dan Sultan Agung Mataram, perjuangan masih meresap dalam masyarakat Indonesia. Para kepala daerah di pulau-pulau luar Jawa, bergantian melakukan pemberontakan terhadap berdirinya negara Nederland Hindia Belanda.

"Perjuangan Sultan Agung tidak sia-sia dan masih kita lanjutkan sampai sekarang,” tegas Mooryati.

Sultan Agung Hanyokro Kusumo (1593-1646) adalah raja ke-tiga Kerajaan Mataram yang memerintah pada 1613-1646. Putra dari pasangan Susuhunan Prabu Hanyakrawati (raja ke-2 Mataram) dengan Ratu Mas Adi Dyah Banawati itu lahir dengan nama Raden Mas Jatmika atau terkenal juga dengan sebutan Raden Mas Rangsang.





Sumber: Investor Daily
CLOSE