Prihatin Tayangan Televisi, Komunikasi UMM Gelar Pesta Film Anak i

Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, menggelar Pesta Film Anak, yang diadakan di Aula Bougenville, Taman Sengkaling UMM.

Oleh: Aries Sudiono / FER | Kamis, 5 Januari 2017 | 22:15 WIB

Malang - Minimnya film anak di tayangan televisi Indonesia mendorong Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ingin lebih banyak memproduksi dan mempromosikan film anak bagi khalayak, melalui gelaran Pesta Film Anak, yang diadakan di Aula Bougenville, Taman Sengkaling UMM, belum lama ini.

Pada kegiatan ini, sebanyak 17 film anak karya mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM diputar dan disaksikan ratusan anak-anak didampingi orang tuanya.

"Pesta film anak yang kita gelar akhir tahun 2016 menyongsong malam Tahun Baru 2017 ini merupakan salah satu tugas praktikum Audio Visual (AV) 1 mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM Semester 5," ujar Novin Farid Setyo Wibowo selaku dosen pembimbing praktikum AV 1 dalam percakapan dengan SP, didampingi Kepala Humas dan Protokoler UMM, Rina Wahyu Setyaningrum M.Ed.

Farid, panggilan akrab Novin Farid Setyo Wibowo lebih lanjut menyatakan, televisi Indonesia masih belum mampu menghadirkan film anak yang berkualitas, artinya film yang benar-benar memberikan edukasi kepada anak tentang aneka kehidupan. Tayangan yang ada di televisi, lanjut Novin, kebanyakan sinetron yang melibatkan aktor anak tanpa ada nilai edukasi bagi anak itu sendiri.

"Hampir tidak ada film atau tayangan yang benar-benar menargetkan anak sebagai penontonnya," ujar Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) itu.

Saat ini, papar Novin, tayangan televisi hanya menampilkan judulnya saja yang terkesan anak-anak. Bertolak belakang dengan judulnya, isi film tersebut malah menggambarkan kehidupan orang dewasa sepertu pacaran, kekerasan dan sebagainya.

"Dengan dibuatnya tugas praktikum ini, semua mahasiswa bisa paham bahwa perfilman di Indonesia harus dibenahi. Salah satunya dengan menghidupkan kembali film anak," jelasnya.

Lebih lanjut, Novin menjelaskan, sebanyak 176 orang mahasiswa yang terbagi dalam 17 kelompok mengangkat isu yang beragam tentang anak dengan bertemakan "Mengembalikan Identitas Anak Bangsa Dari Modernitas Perfilman".Menurut dia, tayangan televisi yang semakin modern, sedikit demi sedikit menggeser kebiasaan anak dalam kesehariannya.

"Paling tidak, pesta film anak yang digelar tersebut bisa menjadi pemantik awal, yang akan dijadikan patokan untuk praktikum-praktikum selanjutnya. Ke depan, praktikum AV 1 akan didesain seperti ini. Mahasiswa akan ditugaskan membuat film yang mengangkat sejarah-sejarah dan kearifan lokal yang tetap dalam lingkup dunia anak," ungkap Novin.

Salah satu judul yang ditayangkan adalah Ngider (berkeliling berkunjung ke rumah tetangga). Film yang mengangkat isu asyiknya mencari uang persenan dari para orang-orang tua tetangga pada waktu Hari Raya.

Ariel Pratama Effendi, salah satu kru film Ngider menjelaskan, pada saat lebaran anak-anak akan berkumpul untuk berkeliling meminta uang saku mirip tunjangan hari raya (THR) sembari berjabat tangan dan bermaaf-maafan ke setiap rumah.

"Dengan mengangkat film ini, harapan kami tradisi memaafkan saat lebaran tetap terjaga dan penonton bisa lebih paham makna lebaran melalui media film,” ujar mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 5 itu.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT