Ilustrasi Pemilu

Berkaca dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, sejumlah ekonom menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia setahun sebelum Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres), tidak akan banyak terpengaruh dinamika politik. Bahkan, pertumbuhan akan dibantu oleh belanja iklan partai politik. Apalagi, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan 11 partai politik (parpol) yang berhak mengikuti Pemilu 2014.

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Firmanzah mengingatkan stabilitas ekonomi perlu dijaga bersama menjelang dan selama 2014. Menurutnya, ekonomi, demokrasi dan penegakan hukum akan terus saling menguatkan. “Kita sudah melalui tiga pemilu pascareformasi (1999, 2004, 2009, Red), sehingga kedewasaan bangsa Indonesia untuk melanjutkan agenda reformasi akan terus terjaga. Dengan hal-hal tersebut maka investor tidak perlu risau," ujarnya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Indeks kepercayaan konsumen yang terus meningkat juga menjadi cermin positifnya ekonomi pada 2013 dan 2014. Sejalan dengan itu, minat investasi juga terus meningkat. Tahun lalu, realisasi investasi mencapai Rp 313 triliun dan target BKPM tahun ini diharapkan melampui Rp 390 triliun.

Konsumsi domestik dan percepatan pembangunan infrastruktur akan mendorong minat investasi lokal ataupun asing ke Indonesia. Apalagi, sampai sekarang APBN mematok pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8 persen. Ditambah, belanja iklan selama 2012 yang meningkat menjadi lebih dari Rp 87 triliun. Jumlah ini akan semakin meningkat pada 2013 dan 2014 dengan adanya iklan politik.

“Selain itu, belanja politik 2014 akan meningkatkan pesanan atribut politik, seperti poster, spanduk, pamflet dan lain-lain. Ini juga akan menggerakkan sektor riil di Tanah Air,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Ekonom Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa, ekonom Unika Atma Jaya Jakarta, Agustinus Prasetyantoko, dan pengamat ekonomi Aviliani.

Purbaya menyatakan seandainya pemilu akan berdampak pada ekonomi, maka dampaknya akan positif. “Partai-partai politik akan belanja untuk kampanye dan lain-lain, yang akan meningkatkan belanja rumah tangga, juga karena ada tambahan pendapatan. Sementara itu, karena masyarakat kita sudah lebih dewasa dalam berdemokrasi, peluang terjadinya kekacauan dalam pemilu menjadi lebih kecil,” ucapnya.

Prasetyantoko menambahkan, pemilu secara umum tidak akan berpengaruh banyak terhadap pergerakan ekonomi pada tahun ini. Sebab, sebenarnya pelaku ekonomi tidak terlalu terpengaruh dinamika politik. “Sepanjang masih ada prospek dan potensi, mereka tetap akan masuk dan bertahan. Mungkin ada sentimen sedikit, tapi begitu mulai tenang (investor, Red) masuk lagi, terutama di pasar modal,” imbuhnya.

Aviliani mengatakan pengaruh politik menjelang pemilu terhadap pertumbuhan ekonomi tidak begitu besar. Yang justru meningkat adalah dari sisi konsumsi. Menjelang pemilu, tingkat konsumsi akan meningkat karena masyarakat membeli atribut partai politik yang didukung. “Pemilu tidak akan mengganggu pertumbuhan ekonomi itu sendiri,” tegasnya.

Namun, tambah Aviliani, tahun ini juga tidak akan ada investasi besar-besaran sehingga tingkat pertumbuhan ekonomi akan stabil pada 6,1 persen. “Kalaupun ada investasi besar-besaran, rasionya akan berada di 6,6-7 persen,” ujarnya.

Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2013 sekitar 6,3-6,5 persen. Menurutnya, mendekati pemilu, pertumbuhan ekonomi biasanya lebih terpicu karena aktivitas pengeluaran masyarakat meningkat.

Sebagai contoh, pembelian spanduk atau atribut partai dalam jumlah besar, serta penggunaan kendaraan untuk kampanye. “Mungkin tambahan pertumbuhan akibat aktivitas pemilu kepada pertumbuhan GDP itu sekitar 0,2 persen,” ujarnya.

Prediksi yang sama juga dikatakan Ekonom Standard Chartered, Erick Sugandi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 6,5 persen tahun ini. Sebab, pada akhir tahun 2013 dan awal 2014 pertumbuhan ekonomi akan terdongkrak oleh konsumsi pemilu.

Pandangan berbeda dilontarkan ekonom dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, Dahnil Anzar Simanjuntak. Menurutnya, pemerintah bakal meninjau ulang target pertumbuhan bukan sekadar alasan eksternal, yakni gagalnya Pemerintah Amerika Serikat (AS) menekan defisit anggaran pada 2013, tapi faktor internal, seperti inflasi yang tinggi pada tahun ini, serta faktor tahun politik 2013 dan 2014.

Menurutnya, faktor tahun politik 2013 dan 2014 akan banyak mempengaruhi realisasi pencapaian target pertumbuhan ekonomi tahun 2013 demikian pula 2014 nanti. “Memang pasar telah terbiasa dengan dinamika politik di Indonesia, khususnya pasar modal dan pasar uang, tetapi tidak demikian dengan pasar ekonomi riil,” ujarnya.

Dahnil memaparkan, investor masih menunggu kepastian perbaikan kebijakan pemerintah berkaitan dengan infrastruktur dan birokrasi, terutama yang berkaitan dengan perizinan di daerah. “Tahun politik juga menyebabkan realisasi anggaran di seluruh kementerian akan terganggu, apalagi dengan kasus-kasus korupsi yang masih menjadi isu politik di tahun politik jelang Pemilu 2014 nanti,” paparnya.

Optimistis
Sementara itu, Wakil Presiden Boediono optimistis kemajuan ekonomi Indonesia hingga 2014 akan berlanjut sekalipun dalam 10 bulan ke depan merupakan tahun penyelenggaraan pemilihan umum yang merupakan kegiatan politik.]

“Saya yakin pada 2014 akan ada dorongan baru dalam memperkuat reformasi dan pembaruan. Saya optimistis tentang prospek itu,” kata Wapres Boediono saat memberikan sambutan kunci “Economist Conference Indonesia Summit 2013”, belum lama ini.

Menurut Boediono, fakta selama ini menunjukkan Indonesia tetap menjadi salah satu tempat yang kondusif dengan iklim ekonomi yang baik, sehingga menjadi alasan kuat untuk tetap optimistis. Bukti itu, diperlihatkan saat Indonesia berhasil melewati krisis global tahun 2008 yang nyaris tanpa melalui kesulitan.

“Memang ada beberapa sektor yang tumbuh negatif, tetapi kemudian dengan cepat pulih, dan sejak itu kami telah mampu mempertahankan pertumbuhan kami lebih dari 6 persem dengan penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan,” katanya.

Sepanjang periode tersebut, Boediono mengungkapkan stabilitas keuangan dan ekonomi tetap dipertahankan. Saat ini perekonomian Indonesia sangat bergantung pada dua pilar stabilitas, yaitu politik dan makroekonomi.

Indonesia memiliki sumber daya alam yang luas dan beragam dengan konsumsi domestik yangb mencapai sekitar 60 persen. Dari sisi permintaan, perekonomian Indonesia juga sangat kuat dengan pertumbuhan konsumsi dan investasi yang akan membaik selama dua hingga tiga tahun ke depan.

Hal lain yang menjadikannya optimistis dengan perekonomian nasional adalah kondisi politik yang stabil, meski banyak negara yang mengalami krisis politik. “Meskipun banyak rintangan awal, reformasi berjalan dengan baik. Demokrasi baik di tingkat pusat maupun daerah juga berjalan baik,” imbuh Boediono.

Rekor Baru
Dalam sektor pasar modal tercatat bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus memecahkan rekor barunya. Salah satunya dipicu derasnya arus keuangan pihak asing yang masuk ke Indonesia.

Senior ASEAN Economist UBS, Edward Teather, memprediksi investasi di Indonesia pada 2013 masih akan tetap ramai. Masalah politik diperkirakan tidak terlalu memberi sentimen terhadap pergerakan IHSG ke depan. “Investor asing tetap memasukkan uangnya ke Indonesia. Ini terlihat dari harga indeks (IHSG, Red) yang sampai 4.800,” katanya.

Kepala Riset UBS Securities, Joshua Tanja memprediksi bahwa sektor properti mempunyai peningkatan tumbuh paling pesat pada 2013, yakni sampai 43 persen. Industri semen juga cukup baik peningkatan pertumbuhannya, sekitar 20 perseb. Sementara industri perbankan dan industri perdagangan, masing-masing diprediksi mengalami pertumbuhan sebesar 17 persen dan 13 persen.

“Indonesia masih cukup baik dalam hal investasi. Kondisi di negara lain jauh lebih buruk, misalnya Inggris. Jadi secara relatif Indonesia masih tetap baik. Investor masih tanam uangnya di Indonesia,” imbuhnya.

Dengan kondisi global yang masih kisruh belakangan ini, kata Joshua, asing masih memiliki ketertarikan yang besar untuk berinvestasi di Indonesia.

“Eropa, Amerika Serikat, dan banyak negara lain perekonomiannya masih belum tumbuh dengan stabil. Jadi meskipun masih banyak masalah, orang luar menganggap Indonesia masih bagus untuk investasi baik di pasar modal,” tegasnya.

Kendati demikian, Joshua mengingatkan ada beberapa hal yang perlu diwaspadai dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, yakni pergolakan politik meski diyakini pelaksanaannya berlangsung aman.

“Rakyat kita sudah letih dengan pesta demokrasi yang panjang, sehingga tidak akan terjadi gejolak dan diperkirakan akan berjalan aman," ungkapnya.

Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan menyebutkan, faktor politik, sekitar 20 persen sampai 30 persen akan mempengaruhi IHSG.

Di sisi lain, pelaku pasar sudah cukup kebal dengan berita-berita politik. Bila dilihat sebelum tahun 2000-an, isu politik memang bisa mendorong pasar, tapi sekarang faktor teknis lebih kuat ketimbang faktor politik.

“Ada berita politik sedikit, indeks langsung turun. Tapi sejak tahun 2000-an hingga sekarang trennya cenderung kebal. Cenderung tahan banting. Pelaku pasar seolah tidak mau ambil pusing. Jadi politik mau ngapain juga, indeks tetap jalan terus,” tuturnya yang memprediksi IHSG bisa tembus 6.000 pada akhir 2013.

Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang mengaku sejak awal tahun pihaknya optimistis. “Tahun 2013 lebih ringan dibanding 2012. Semester I saja IHSG bisa tembus minimal 4.700 yang men-drive market adalah likuditas. Net buy asing sudah Rp 13,1 triliun sehingga market kita anomali dengan bursa regional dan asing. Institusi lokal banyak yang belum aktif untuk beli. Jadi, aji mumpung ketimbang IPO di 2014 banyak faktor,” katanya yang berharap banyak perusahaan go public tahun ini.

Namun, pada semester II tahun ini, dia memprediksi laju IHSG akan volatile berkaitan dengan munculnya daftar calon tetap pemilu. Dia memprediksi, parpol akan saling menghantam, sehingga investor asing menahan diri untuk melakukan investasi, khususnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

“2014 tahun pemilu. Kita mengacu sama seperti 2004, tidak tahu siapa presidennya. Jadi membuat market volatilitasnya tinggi dan akan ada koreksi bagi market,” jelas Edwin.

Suara Pembaruan

Penulis: O-2/AB

Sumber:Suara Pembaruan