Dari Cara Konvensional Hingga Mutakhir


Senin, 19 Maret 2012 | 07:00 WIB
Pengawasan dari pemerintah daerah setempat dinilai minim, karena alasan medan yang berat, serta kurangnya sumber daya manusia.

Modus operandi penyelewengan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi semakin berkembang dan tak jarang menggunakan teknologi yang mutakhir. Hal itu menyulitkan aparat penegak hukum, terlebih melihat wilayah Indonesia yang luas dan minimnya pengawasan, terutama di tingkat perbatasan negara.

Beberapa di antaranya yang paling sering ditemui adalah memodifikasi tangki mobil pengirim BBM, melakukan transaksi dan pembayaran di laut (kencing di laut), menggunakan pihak ketiga (outsourcing) hingga cara konvensional seperti bolak-balik menggunakan kendaraan bermotor.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas Polda) Kalimantan Timur, Antonius Wisnu Sutirto mengatakan, modus operandi tersebut terus berkembang setiap harinya, dan tidak menutup kemungkinan ada cara-cara lain yang hingga kini belum terdeteksi.

Indikasi tersebut semakin kuat, karena menurut salah satu sumber dari staf Tim Pengendalian Pengamanan Bahan Bakar Minyak Berubsidi, praktik ini dilakukan oleh oknum-oknum bermodal besar, dan dimungkinkan dengan banyaknya minat dari perusahaan tambang serta perkebunan.

“Namun kalau untuk dijual ke luar negeri saya rasa tidak, karena asing juga tidak mau membeli bahan bakar yang kualitasnya rendah. Sementara alasan demografi yang luas dan terjal menjadi faktor lain, kami sendiri tidak tahu kalau dipelosok laut yang sangat banyak riamnya (bebatuan dan berarus) ada praktik pengoplosan dan penyelewengan BBM,” tutur sumber tersebut kepada Beritasatu.com, Jumat (16/3).

Terlebih, pengawasan dari pemerintah daerah setempat dinilai minim, karena alasan medan yang berat, serta kurangnya sumber daya manusia (SDM). Hal itu semakin memperkuat modus penyelewengan BBM bersubsidi di Indonesia.

Untuk modus operandi yang cukup mutakhir, oknum penyelundup melakukan penyadapan pipa-pipa minyak milik perusahaan minyak seperti
Pertamina di laut dan kemudian memompanya ke kapal-kapal tanker, untuk kemudian dijual ke industri.

“Pipa-pipa tersebut diameternya hampir satu dekapan manusia dan kalau dijajarkan panjangnya mencapai ratusan kilometer. Sehingga Anda bisa bayangkan berapa banyak minyak yang bisa mereka dapatkan secara ilegal setiap harinya,” jelasnya.

“Sementara apabila tertangkap, mereka sering berdalih hanya mengambil sisa-sisa minyak yang tidak digunakan, sehingga dikatakan bukanlah pencurian, meskipun minyak tersebut bukan menjadi haknya,” lanjut dia.

Sumber:

CLOSE