Presdir PT. Bumi Resourse Tbk., Ari S. Hudaya (kanan) didampingi VP Investor Relation & Chief Economist PT. Bumi Resources Tbk., Reza Widjaja (kiri) dan Director & Corporate Secretary PT. Bumi Resources Tbk., Dileep Srivastava (tengah) seusai memberikan keterangan pers pada Public Expose Insidentil di Jakarta. FOTO: David Gitaroza/INVESTOR DAILY
BUMI harus menghadapi sejumlah persoalan yakni di-deadline utang jatuh tempo dan menurunnya harga komoditas batubara di pasar global.

Satu lagi 'cuci-cuci gudang' keluarga Bakrie akan dilakukan perusahaannya di bidang pertambangan batubara PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Sudah menjadi rahasia umum, BUMI sudah lama  menjadi mesin uang Bakrie Group. Sayangnya, saat ini BUMI tersangkut polemik dengan Nathaniel Rotschild salah satu pemegang saham di Bumi Plc, perusahaan yang tercatat di bursa London. Sebagai gambaran, Bumi Plc adalah induk usaha BUMI.

Di sisi lain, BUMI juga harus menghadapi sejumlah persoalan yakni di-deadline utang jatuh tempo dan menurunnya harga komoditas batubara di pasar global.

BUMI berniat menjual tiga anak usahanya, yaitu PT Bumi Resources Minerals (BRMS), PT Fajar Bumi Sakti (FBS), dan PT Pendopo Energi Batubara (PEB). Dana hasil penjualan tiga perusahaan itu akan digunakan untuk membayar utang

“Ada beberapa pihak yang tertarik membeli tiga perusahaan itu, tapi nama-namanya belum bisa kami sebutkan. Yang pasti, kami akan menerima penawaran terbaik,” kata Direktur BUMI, Dileep Srivastava, belum lama ini.

Dileep enggan menyebutkan target dana penjualan saham tiga perusahaan itu. Dia juga belum dapat menyebutkan jumlah saham yang bakal dilepas. “Kami bersikap fleksibel terhadap semua penawaran. Jika ada pihak yang mau membeli kepemilikan kami dengan harga yang menarik, tentunya kami akan menerimanya,” kata Dileep.

Dileep juga belum dapat memastikan tiga transaksi itu akan dieksekusi. Perusahaan batubara termal terbesar nasional itu akan membuat pengumuman ke publik begitu transaksi telah dilakukan.

BUMI saat ini memiliki 87 persen saham BRMS, 50 persen saham FBS, dan 84,5 persen saham PEB.  BRMS adalah anak usaha BUMI yang menggarap pertambangan mineral. Adapun FBS dan PEB adalah perusahaan tambang batubara. Ketiga perusahaan itu merupakan aset noninti BUMI. Adapun aset inti BUMI adalah PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC).

Menurut Dileep, induk usaha peseroan, Bumi Plc, sempat menawar 75 persen saham BRMS senilai US$2 miliar pada 2011. Namun, rencana itu kandas, seiring berkecamuknya krisis utang Eropa.

Selama 2012-2017, total utang BUMI yang jatuh tempo mencapai US$3,7 miliar. Sebanyak US$17 juta jatuh tempo kuartal IV tahun ini dan US$254 juta tahun depan. Selanjutnya pada 2014, utang jatuh tempo BUMI mencapai US$1,2 miliar, 2015 sebesar US$1 miliar, 2016 sebanyak US$530 juta, dan 2017 sebesar US$700 juta.

Dileep memastikan, perseroan akan membayar seluruh utang yang jatuh tempo. Selain dari penjualan aset, sumber dana pelunasan utang berasal dari kas internal, pencairan investasi di Grup Recapital, dan pembayaran piutang PT Bukit Mutiara.

Bila empat sumber dana itu belum cukup, perseroan akan me-refinancing utang dengan bunga yang lebih murah. “Kami berupaya memompa volume penjualan agar arus kas dari operasional bertambah. Kami berharap harga batubara membaik, sehingga kinerja keuangan kami meningkat,” kata dia.

Terkait investasi di Recapital, Dileep menuturkan, nilainya mencapai US$231 juta. Sedangkan piutang ke Bukit Mutiara mencapai US$251 juta.

Perseroan, ungkap Dileep, juga membuka opsi untuk menambah modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) atau non preemptive rights issue (NPRI). Jumlah saham yang bisa dilepas maksimal 10 persen. Perseroan membuka diri terhadap kemungkinan masuknya mitra strategis.

Polemik Rotschild
Selain persoalan utang, Bakrie Group dan BUMI juga tengah dilanda prahara menyusul polemik dengan Nathaniel Rotschild salah satu pemegang saham di Bumi Plc, perusahaan yang tercatat di bursa London. Sebagai gambaran, Bumi Plc adalah induk usaha BUMI.

Proposalnya membeli kembali (buyback) seluruh aset PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di Bumi Plc menemui jalan terjal. Pasalnya, Nathaniel siap menjegal langkah tersebut dengan menyiapkan dana US$270 juta (Rp2,7 triliun).

Kabarnya, konsorsium Rothschild menggandeng Hashim Djojohadikusumo, pengusaha asal Indonesia sekaligus adik calon presiden Pemilu 2014 Prabowo Subianto. Hasyim turut bergabung dengan mengucurkan sekitar US$50 juta.

Persoalan BUMI semakin meradang menyusul merosotnya harga batu bara hingga separuh sejak September 2012. Hal ini disinyalir akibat pasokan berlebih di pasar internasional.

Kini harga batu bara berkisar hanya US$60-70 per ton. Padahal sebelumnya, harga batu bara mencapai 130 dolar AS per ton.

Tahun ini, BUMI menargetkan volume penjualan naik 10 persen menjadi 75 juta ton. Harga jual rata-rata (average selling price/ASP) diperkirakan berkisar US$82-85 per ton.


Daftar Utang PT Bumi Resources Tbk (BUMI)

Kuartal IV-2012 US$17 juta
2013 US$254 juta
2014 US$1,23 miliar
2015 US$1,062 miliar
2016 US$530 juta
2017 US$700 juta



Penulis: