Pertemuan IMF-Bank Dunia Gairahkan Ekonomi


Aditya L Djono / ALD Minggu, 7 Oktober 2018 | 17:12 WIB

Mangupura - Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Bali dipilih menjadi lokasi rangkaian pertemuan yang dimulai Senin (8/10) hingga Minggu (14/10).

Menjelang dan saat dimulainya pertemuan, kritik dilontarkan sejumlah kalangan di dalam negeri. Mereka menilai, penyelenggaraan pertemuan tahunan merupakan pemborosan anggaran, karena menghabiskan dana hingga Rp 855 miliar. Apalagi, di saat bersamaan Indonesia tengah berduka lantaran bencana alam beruntun, berupa gempa bumi di Lombok dan Sulawesi Tengah.

Penyelenggaraan pertemuan tahunan yang melibatkan banyak tokoh keuangan, baik 189 negara anggota dianggap tidak berempati dengan duka para korban bencana alam. Para pengkritik pun menyerukan agar pertemuan itu dibatalkan, dan dananya dialihkan untuk penanganan pascagempa.

Tanpa mengurangi simpati dengan para korban bencana, penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia harus disadari merupakan kesempatan emas bagi Indonesia untuk mengambil manfaat, terutama secara ekonomi. Membatalkan agenda pertemuan yang sudah di depan mata tentu juga bukan pilihan yang bijak, mengingat sudah banyak anggaran yang dikeluarkan untuk mempersiapkan event akbar ini dalam setahun terakhir. Justru kerugian yang akan didapat jika acara ini dibatalkan.

Pemerintah pada hakikatnya adalah kerja kolektif. Dengan demikian, ada delegasi tugas dan kewenangan sehingga penanganan korban gempa, baik di Lombok maupun Sulteng, tidak terabaikan, dan pada saat bersamaan penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia bisa berjalan lancar dan sukses. Tak hanya itu, perhelatan Asian Para Games ke-3 di Jakarta pun tak terganggu.

Tak bisa dimungkiri, pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali merupakan peluang untuk menggairahkan perekonomian setempat dan perekonomian nasional. Bagi Bali, khususnya, ada investasi pemerintah untuk membangun infrastruktur dan sarana pendukung. Anggaran penyelenggaraan yang mencapai Rp 855 miliar mayoritas terserap untuk pembangunan dan perbaikan infrastruktur, seperti perluasan apron di Bandara Ngurah Rai untuk menampung lebih banyak pesawat yang membawa puluhan ribu delegasi dari dalam dan luar negeri, pembangunan under pass untuk memperlancar lalu lintas dari bandara menuju kawasan Nusa Dua tempat berlangsungnya acara, serta pembangunan dan perbaikan infrastruktur pendukung lainnya.

Semua investasi pemerintah tersebut tentu sangat bermanfaat bagi perekonomian Bali di masa mendatang. Perluasan apron di bandara, misalnya, membuka peluang Bali menerima kunjungan lebih banyak wisatawan. Demikian pula pembangunan infrastruktur under pass, ke depan akan memperlancar arus lalu lintas, sehingga wisatawan merasa nyaman tak terjebak kemacetan parah. Dengan kata lain, biaya besar yang dikeluarkan tidak hilang, namun menjadi warisan yang bermanfaat bagi Bali, dan pada akhirnya bermuara pada kepentingan ekonomi nasional.

Selain itu juga ada dampak tak langsung yang dirasakan. Misalnya, penciptaan lapangan kerja selama pembangunan infrastuktur dan sarana penunjang, serta kebutuhan tenaga relawan untuk membantu kelancaran acara. Sektor-sektor perekonomian Bali, baik formal maupun informal, menangguk keuntungan dari event tersebut. Hal ini berarti ada peningkatan pendapatan masyarakat.

Pemerintah memperkirakan, dampak langsung penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia terhadap perekonomian Bali selama tahun 2017-2018 mencapai Rp 5,9 triliun. Jumlah itu terdiri dari Rp 3 triliun investasi infrastruktur dan sisanya diharapkan dari belanja delegasi yang hadir di Pulau Dewata.

Kondisi tersebut tentu juga berdampak terhadap perekonomian nasional, terutama dari sektor pariwisata. Pasalnya, pariwisata menjadi sektor andalan untuk mendukung strategi kebijakan penguatan cadangan devisa. Ribuan tamu mancanegara yang hadir tentu akan membawa devisa dan menukarnya dengan rupiah. Ini tentu akan berdampak pada penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Selain itu, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dengan sendirinya meningkat, dan tren pendapatan devisa dari sektor ini juga bertambah. Pada tahun 2017, sebanyak 14 juta wisman hadir ke Indonesia. Tahun ini, ditargetkan sebanyak 17 juta wisman, dan meningkat menjadi 20 juta wisman pada 2019. Devisa dari sektor pariwisata juga terdongkrak, dan diperkirakan menjadi Rp 280 triliun pada tahun depan.

Komitmen Investasi
Pengalaman dari negara lain yang menjadi tuan rumah event internasional selalu memberi keuntungan positif bagi perekonomian. Selain keuntungan secara ekonomi, ada juga keuntungan nonfinansial yang bisa menjadi peluang untuk dimanfaatkan di masa mendatang. Keuntungan non-finansial dimaksud, di antaranya, terciptanya jejaring dengan delegasi yang hadir. Hal ini bisa melahirkan kerja sama antarperusahaan, memperkuat pemasaran, dan memperkenalkan destinasi wisata baru.

Keuntungan lain adalah kompetensi Indonesia menggelar event berskala besar semakin dikenal dan diakui. Hal ini akan membantu untuk memperbesar kesempatan menjadi tuan rumah event serupa di masa mendatang. Selain itu, menjadi tuan rumah juga berkesempatan dikenal seluruh dunia melalui promosi dan pemberitaan melalui media.

Pemerintah juga memanfaatkan momentum pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia ini untuk mempromosikan potensi investasi. Diperkirakan, akan ada Rp 300 triliun komitmen investasi yang ditandatangani di Bali.

Semua ini merupakan manfaat yang bisa dipetik, yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat kondisi ekonomi nasional, yang saat ini tengah menghadapi tekanan eksternal, seperti tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan dampak perang dagang AS dan Tiongkok. Pemerintah dan semua pihak, baik pengusaha maupun seluruh elemen masyarakat, harus mampu memanfaatkan momentum emas ini.



Sumber: Suara Pembaruan

Luhut: Biaya Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia Sangat Hemat


Nasori / NAS Selasa, 9 Oktober 2018 | 02:14 WIB

Nusa Dua, Bali —Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan membantah tuduhan bahwa Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 yang berlangsung 8-14 Oktober 2018 di Nusa Dua, Bali diselenggarakan dengan terlalu mewah dan menelan dana hingga Rp 1 triliun. Sebaliknya, kegiatan ini dilakukan dengan anggaran yang sangat hemat.

Ia mengungkapkan, berdasarkan pagu anggaran tahun 2017-2018, dana yang disiapkan untuk kegiatan ini mencapai Rp 855,6 miliar. Namun, hingga kini dana yang dimanfaatkan baru mencapai Rp 566 miliar dengan pembayaran untuk penyelenggaraan yang sudah dilakukan mencapai Rp 192 miliar.

“Saya sebagai ketua penyelenggara, angka ini sangat hemat. Saya tanggung jawab. Mudah-mudahan tokoh yang ada di luar sana dengar omongan saya ini. Saya dan Gubernur BI dan Menteri Keuangan tidak mau korupsi dana ini, dan kami tidak gila,” kata Luhut yang juga Ketua Panitia Nasional Annual Meetings International Monetery Fund-World Bank Group ( IMF-WBG) 2018 dalam konferensi pers di Nusa Dua, Senin (8/10).

Ia memaparkan, peserta yang ikut acara pertemuan tahunan ini mencapai 34.223 orang yang terdiri atas peserta dari asing mencapai 14.003 orang. Sementara 23.220 dari dalam negeri termasuk panitia, perbankan, pengusaha, dan media.

“Peserta asing itu banyak yang datang bersama keluarganya. Biarkan saja mereka datang dan mereka bayar sendiri. Kita sama sekali tidak bayar anggota keluarga peserta,” tandas dia.

Luhut mengatakan, kalau pembangunan infrastruktur yang dilakukan untuk mendukung acara ini dianggap pemborosan, maka hal itu salah. Misalnya pembangunan underpass di Bali itu untuk meningkatkan jumlah wisatawan menjadi sekitar 1,2 juta wisman per tahun. Demikian juga pembangunan apron bandara Banyuwangi di Jawa Timur, itu ditujukan untuk meningkat wisatawan 250%.

Begitu juga, lanjut dia, dengan peningkatan bandara di Danau Toba yang meningkatkan jumlah wisatawan hingga 350%. “Semua untuk percepatan pembangunan infrastruktur itu terkait dengan peningkatan pariwisata, tidak hanya karena IMF-WBG,” tegas dia.

Hal senada juga disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Biaya pembangunan infrastruktur di beberapa destinasi pariwisata seperti pembangunan perpanjangan bandara tidak bisa dimasukkan ke dalam dana penyelenggaraan acara. Karena itu rencana pemerintah dalam jangka panjaang untuk tujuan peningkatan wisatawan.

Misalnya, kata dia, pembangunan apron bandara Banyuwangi yang menelan biaya hingga Rp 2,3 triliun itu karena untuk meningkatkan jumlah wisatawan. “Bahkan saya dengar biasanya di Banyuwangi itu kalau Oktober low season, tetapi bulan Oktober ini malah tinggi dan ini berpengaruh ke Bali,” tegas dia.



Sumber: Investor Daily

Berikut 4 Tema Prioritas RI di Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia


Nasori / NAS Selasa, 9 Oktober 2018 | 01:43 WIB

Nusa Dua, Bali – Indonesia akan memperjuangkan empat tema prioritas di bidang keuangan dalam Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 yang berlangsung 8-15 Oktober mendatang di Nusa Dua, Bali. Ini dilakukan agar Indonesia bisa mengambil manfaat sebesar-besarnya sebagai tuan rumah kegiatan tersebut.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan, tema pertama adalah mengenai kebijakan ekonomi global, khususnya harmonisasi kebijakan antarnegara untuk pemulihan global dan mengatasi ketidakpastian global. Pembahasan ini diangkat agar pemulihan yang baik tak hanya dialami oleh negara maju, namun juga negara berkembang.

Menurut Perry, Indonesia ingin mendorong terciptanya pengaruh yang signifikan dari negara-negara berkembang terhadap pembentukan pertumbuhan ekonomi global sehingga dinamika perekonomian dunia tidak hanya dikendalikan oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS).

"Agar terjadi penguatan koordinasi harmonisasi kebijakan antarnegara untuk bersama-sama memulihkan ekonomi global dan mengatasi ketidakpastian global, di antaranya agar pertumbuhan ekonomi di dunia tidak hanya didukung Amerika Serikat, tapi negara lain khususnya emerging market," ujar Perry dalam jumpa pers di Nusa Dua, Bali, Senin (8/10), bersama Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan Menteri Kominfo Rudiantara.

Pertemuan tahunan dua lembaga multilateral terbesar di dunia ini digelar di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat normalisasi kebijakan moneter AS dan perang dagang global dua pemain utama dunia yakni AS dan Tiongkok. Para regulator dan pelaku ekonomi dunia menyebut perekonomian saat ini sedang memasuki fase normal baru (new normal).

Oleh karena itu, Perry menyebutkan dalam Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 ini, Indonesia juga akan mendorong percepatan pemulihan ekonomi global yang lebih seimbang antarnegara. "Harmonisasi kebijakan ini juga terkait normalisasi kebijakan moneter, kenaikan suku bunga, ketegangan perdagangan di berbagai negara, agar pemulihan ekonomi global lebih seimbang," ujar Perry.

Misi kedua Indonesia, kata Perry, adalah memperbanyak alternatif untuk pembiayaan infrastruktur agar tidak hanya mengandalkan instrumen fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Infrastruktur menjadi sektor prioritas pembangunan di negara-negara berkembang agar mempercepat laju pertumbuhan ekonomi.

Tema kedua adalah pembiayaan infrastruktur. Dalam beberapa tahun terakhir, menurut Perry, Indonesia dari sisi infrastruktur tumbuh sangat cepat, yang mendatangkan apresiasi dari dunia internasional. Topik ini diangkat agar pembiayaan tak hanya datang dari APBN namun juga sumber lain seperti obligasi maupun penanaman modal untuk investasi infrastruktur.

Tema ketiga adalah ekonomi digital. Pembahasan antara lain akan berkisar kepada bagaimana ekonomi digital dapat dilakukan untuk pembiayaan UMKM serta teknologi finansial. “Selain itu, akan dibahas pula mengenai bagaimana pengaruh ekonomi digital bagi bank sentral, khususnya terhadap sistem pembayaran serta keamanan digital,” ucap Perry.

Tema keempat adalah ekonomi dan keuangan syariah. Kesempatan ini digunakan untuk menunjukkan kepada dunia internasional mengenai pencapaian dan potensi besar yang dimiiki Indonesia dalam bidang tersebut. Pertemuan tahunan kali ini pun menandai pertama kalinya tema ekonomi syariah mendapat porsi pembahasan yang cukup besar.



Sumber: Investor Daily

Luhut: Peserta Pertemuan IMF-World Bank 34.223 Orang


I Nyoman Mardika / YUD Senin, 8 Oktober 2018 | 18:48 WIB

Nusa Dua - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman (Menkomaritim) Luhut Binsar Pandjaitan menyebut total jumlah peserta Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia (IMF-WB) 2018 di Bali mencapai 34.223 orang.

"Per hari ini kita sudah tutup pendaftaran," kata Luhut dalam konferensi pers persiapan Pertemuan Tahunan IMF-WB di Nusa Dua, Bali, Senin (8/10).

Jumlah tersebut mencakup 14.003 peserta yang mendaftar melalui jalur Meeting Team Secretariat (MTS) dari pihak IMF-WB secara daring dan 20.220 peserta mendaftar melalui Indonesia Planning Team yang dikelola oleh panitia nasional.

Selain perwakilan IMF dan Bank Dunia, pertemuan tahunan ini juga dihadiri oleh pengusaha dan bankir, yang disebut Luhut akan membuka banyak peluang kerja sama ekonomi.

"Pertemuan mereka kita fasilitasi, sehingga bisa terjadi banyak kesepakatan ekonomi di sini. Itu akan menguntungkan kita secara langsung maupun tidak langsung," tutur dia.

Pertemuan yang diselenggarakan pada 8-14 Oktober 2018 ini juga diyakini akan semakin menggairahkan sektor pariwisata di Bali, dan daerah sekitarnya seperti Banyuwangi dan Labuan Bajo.

Untuk menyambut Pertemuan Tahunan IMF-WB, pemerintah Indonesia sebagai tuan rumah telah mengembangkan fasilitas pariwisata antara lain perpanjangan apron Bandara Ngurah Rai di Bali, serta perluasan Bandara Banyuwangi.

Perbaikan tersebut meningkatkan jumlah kunjungan turis dan tingkat hunian hotel di Bali dari 60 persen menjadi 70-80 persen.

"Kita membuat untung Republik ini dengan memperbaiki pariwisata, pada situasi 'trade war' (perang dagang) sekarang ini justru pariwisata yang bisa membantu ekonomi kita," kata Luhut selaku Ketua Panitia Nasional IMF-WB 2018.

Sebelumnya, Luhut menyatakan bahwa jumlah peserta Pertemuan Tahunan IMF-WB melebihi ekspektasi semula yakni 19.000 orang.

Jumlah peserta yang fantastis ini menunjukkan bahwa misi pemerintah Indonesia bukanlah sekadar menjadi tuan rumah yang baik, tetapi juga lebih dari itu, Pertemuan Tahunan IMF-WB juga ajang membuktikan bahwa pemerintah Indonesia mampu mengelola negara dengan baik di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu.

"Saya tidak mau main-main. Saya ingin bahwa ini bukan hanya soal penyelenggaraan, tapi menunjukkan kepada dunia kalau Indonesia bisa mengatur dengan baik dalam keadaan ekonomi dunia situasi begini," ujar Luhut.



Sumber: Suara Pembaruan

Delegasi IMF-WB Ada yang Sudah Kunjungi Tanah Lot


I Nyoman Mardika / WBP Senin, 8 Oktober 2018 | 19:52 WIB

Denpasar - Para delegasi negara peserta Dana Internasional Moneter-Bank Dunia (IMF-World Bank/WB) yang digelar di Nusa Dua, sudah mulai berdatangan di Bali sebelum acara resmi dibuka Senin (8/10) malam. Memanfaatkan waktu luang, sejumlah delegasi sudah mulai mengunjungi obyek wisata di Kabupaten Tabanan.

Informasi yang dihimpun SP, Senin (8/10) ada delegasi dari tiga negara yang berkunjung ke DTW Tanah Lot. Hal itu dikatakan Kepala Divisi Humas Tanah Lot, Putu Erawan.

Menurutnya, sebelum kunjungan resmi delegasi IMF yang dijadwalkan Rabu (10/10) di Daerah Tujuan Wisata (DTW) Tanah Lot, sudah ada sejumlah delegasi yang mulai melaksanakan free program ke Tabanan khususnya obyek wisata yang terkenal dengan keindahan pantainya ini.

Dari data kunjungan, pada Senin (8/10) pukul 12.15 Wita tiba kunjungan dari Financial Secretary of Mauritius Mr. Dharam Dev Manraj dan Minister of Financial Service and Good Governance of Mauritius Mr. Dharmendar Sesungkur, dari Mauritius didampingi dua orang dan petugas dari Staf Kemlu RI.

Selanjutnya pukul 17.15 Wita, disusul kunjungan dari Governor Bank of Hungary Mr. Daniel Palotai didampingi istri dan petugas dari Staf Bank Indonesia.

Selain dua negara tersebut, kunjungan dari delegasi Somalia sebanyak tiga orang yakni Gubernur Bank Somalia, Dubes dan Asisten Gubernur datang pada pukul 17.40 Wita. Semua delegasi mendapat pengawalan dari pihak kepolisian.

“Mereka sangat terkesan dengan keindahan Tanah Lot, sangat indah alamnya, bersih kawasannya serta sangat aman, dan mereka akan datang lagi bersama teman-teman dan keluarganya,” terang Erawan.

Sementara terkait persiapan 200 kunjungan delegasi ke Tanah Lot yang diagendakan tanggal 10 Oktober, Manager DTW Tanah Lot, Toya Adnyana mengatakan, pihaknya sudah melakukan beragam persiapan yakni menekankan kebersihan areal obyek wisata dan penyiapan lahan parkir.

Kunjungan sekitar 200 delegasi tersebut rencananya akan disambut dengan kesenian khas Kabupaten Tabanan yakni Okokan. “Tabanan terkenal dengan kesenian Okokan, inilah yang nantinya kami siapkan untuk penyambutan para delegasi ke Tanah Lot,” ucap Toya Adnyana.



Sumber: Suara Pembaruan

CLOSE