Dua Tokoh Pluralis Berhadapan di Pilgub Jabar


Markus Junianto Sihaloho / Heru Andriyanto / HA Sabtu, 5 Mei 2018 | 01:23 WIB

Jakarta – Pemilihan gubernur Jawa Barat makin mengerucut menjadi ajang pertarungan dua tokoh yang dikenal sangat pluralis, yaitu Ridwan Kamil sebagai calon gubernur dan Dedi Mulyadi sebagai calon wakil gubernur di kubu lawan.

Empat pasangan calon berkompetisi di provinsi tersebut, tetapi berbagai jajak pendapat belakangan ini menunjukkan hanya dua pasangan yang bersaing ketat di posisi atas.

Sebagian besar survei menunjukkan elektabilitas pasangan Ridwan Kamil- Uu Ruzhanul Ulum berada di posisi teratas, ditempel ketat pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi.

Dua pasangan lainnya yaitu Tubagus Hasanuddin-Anton Charliyan dan Sudrajat-Ahmad Syaikhu relatif belum menunjukkan peningkatan signifikan dan tertinggal jauh dalam survei.

Dedi, yang menjabat bupati Purwakarta dua periode, mengemuka namanya karena nyaris kehilangan kesempatan untuk dicalonkan oleh Partai Golkar. Selain itu dia kerap menjadi pemberitaan nasional karena sikap gigihnya mempertahankan prinsip kebinekaan.

Ridwan sebagai wali kota Bandung yang baru berusia 46 tahun adalah tokoh paling populer di antara semua kontestan Pilgub Jabar, terutama di kalangan generasi milenial. Seperti halnya Dedi, dia dikenal sebagai tokoh nasionalis pejuang kebinekaan, yang kemudian merangkul tokoh Islam Uu untuk mendongkrak perolehan suara.

Butuh 40 Persen
Dalam wawancara terpisah dengan Beritasatu belum lama ini, Dedi dan Ridwan menunjukkan sikap sedikit berbeda menanggapi berbagai hasil survei yang telah diumumkan.

Dedi mengatakan lega bahwa popularitas dia dan Deddy Mizwar beranjak naik dan semakin menempel pasangan unggulan Ridwan -Uu.

"Dari hasil survei mana pun di dua minggu ini, memang banyak hasil survei yang menunjukkan itu," kata Dedi.

Dia mengklaim tak terlalu sensitif dengan hasil survei, entah yang memenangkan dirinya atau yang tidak, karena menurutnya yang lebih menentukan kemenangan adalah sejauh mana seorang calon bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Karena itu, sejak ditetapkan menjadi pasangan calon bersama Deddy, Dedi setiap saat selalu berusaha bekerja dan berkomunikasi langsung dengan masyarakat.

"Saya sapa langsung masyarakat, terutama masyarakat desa, dan berusaha menyelesaikan problem masyarakat. Ternyata hasilnya memuaskan berdasar peningkatan elektabilitas kami di survei," kata Dedi.

"Survei itu bagi saya alat memicu saja akan bekerja dengan baik. Bagi saya angka yang sekarang ini saja sudah bagus dan di luar dugaan."

Ke depan, agar semakin meningkat, Dedi mengatakan dirinya akan lebih banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat, karena kuncinya adalah berada di tengah masyarakat.

Di pihak lain, Ridwan yang sejak awal memimpin dalam survei mengklaim tidak terlalu risau dengan peningkatan elektabilitas lawannya yang makin mendekati dia. Bagi dia, survei hanyalah pengingat atau reminder untuk bekerja lebih keras lagi.

“Survei itu kadang-kadang metodenya berbeda, naik dikit turun dikit wajarlah. Kalau hasilnya bagus kita jangan lengah, kalau hasil belum bagus kita harus kerja keras -- berarti selama ini kita terlalu slow. Bagi saya hanya itu saja,” kata Ridwan.

“Kalau gapnya jauh, baru itu signifikan. Kalau beda 1 persen, plus minusnya masih sama.”

Dengan adanya empat pasangan calon dalam pemilihan kali ini, maka menurut perhitungan Ridwan dia hanya butuh 40 persen suara untuk menjadi gubernur.

“Dari awal saya menghitung kalau empat pasang bisa dapat 40 persen saja itu sudah juara. Saya ada strong voter 25 persen hasil beberapa survei, jadi modal dasar saya yang tidak berubah itu 25 persen,” kata Ridwan dalam program Real Politics Beritasatu News Channel tayang Kamis (4/5).

“Kalau boleh jujur hasil beberapa kajian elektabilitas saya itu maksimalnya di 40 persen. Karena itu saya membutuhkan wakil saya Pak Uu untuk menambahi jadi 41 kah atau 45 kah atau 50 kah. Saya tugasnya menjaga 40an persen ini jangan turun, tugas wakil menambahi.”

Pluralis
Ridwan mengatakan bersyukur bahwa Pilgub Jabar ini diikuti empat pasangan calon.

“Bagi saya banyak calon lebih baik. Bagi masyarakat Jawa Barat pilihan jadi lebih banyak. Kalau cuma dua pasang biasanya terjadi polarisasi, terjadi isu-isu yang akhirnya hitam putih seperti Jakarta,” kata Ridwan, merujuk pemilihan gubernur sebelumnya di Jakarta.

“Maka saya menikmati Pilkada Jawa Barat ini, relatif lebih damai. Debat-debat pilgub Jawa Barat ada humornya. Itulah Jawa Barat, kita berdemokrasi tapi dengan budaya yang santun, budaya yang nyaman.”

Ridwan tidak menampik bahwa politik identitas merupakan sebuah realita di Indonesia, sehingga dia menggandeng tokoh Islam sebagai wakilnya.

Namun, pria lulusan University of California, Berkeley, itu menegaskan bahwa politik identitas harus memperkuat kebinekaan dan pluralisme di Indonesia, bukan malah merusaknya.

“Saya kira itu khasnya Indonesia. Kombinasi nasionalis religious, ini dua-duanya penting,” kata Ridwan.

“Pancasila harus tegak di Jawa Barat, NKRI harus selalu tegak di Jawa Barat karena gabungan dari semua dimensi, di mana politik partai itu kan berindentitas. Nasionalis atau Islam atau agamis, dua-duanya digabung, kalau satu satu kurang kuat.”

Dedi juga fasih bicara soal kebudayaan dan pluralisme. Bukan rahasia, dia dikenal dan mungkin sekaligus dibenci sebagian kalangan karena keras memperjuangkan pluralisme di Jawa Barat. ‎Apakah hal ini menghambat kerja pemenangan di pilkada?

Dedi menjawab tidak sama sekali. Dijelaskannya, di Indonesia, persoalan pluralisme dan sejenisnya cuma sekedar merek. Termasuk mileanisme, kata Dedi, itu layaknya sebuah merek, dan tak ada kaitan sama sekali dengan sikap dalam menghadapi atau melakukan perubahan sosial.

"Jadi itu hanya gaya dan style saja. Hari ini, anak-anak muda sudah mulai menyukai terhadap apa yang saya lakukan. Bahkan ada yang mengangkat saya mewakili kaum milenial," kata Dedi.

Lalu bagaimana dia dengan pasangannya, Deddy Mizwar, yang kadung dikenal sebagai sosok dekat dengan agama dan dua periode menjadi wakil gubernurnya Ahmad Heryawan yang kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS)? Apakah sikap membela pluralismenya bentrok dengan Deddy?

Dedi tertawa ketika awalnya ditanyakan soal hal itu. Menurut dia, isu bentrok karena perbedaan sikap sama sekali tak benar.

Dia menjelaskan bahwa sebenarnya stigma Deddy Mizwar sebagai tokoh terkait agama karena kerap memerankan karakter yang saleh dalam film-filmnya. Dan stigma itu juga sejalan dengan kesehariannya.

Namun, walau Dedi hidup dengan keseharian yang berbudaya Sunda, keduanya bisa sejalan. Sebagai contoh, adalah kebiasaan Dedi memakai ikat kepala sebagai simbol kesundaannya.

"Pak Deddy yang minta saya justru jangan mengubah kebiasaan itu. Dia minta agar apa adanya saja. Dia tak seret saya dengan gaya kesantrian," kata Dedi.

Keduanya, diklaim Dedi, sama-sama memahami bahwa kesantrian adalah bukan gaya, tapi sifat yang berpihak kepada kebudayaan dan keberagaman.

"Saya dibebaskan luar biasa oleh dia (Deddy). Ruangnya terbuka," imbuhnya.

Saling Melengkapi
Dedi menambahkan kombinasi dia dengan Deddy Mizwar menghasilkan pasangan dengan jaringan pemilih yang luas dan unik, yang akan menjadi penentu kemenangan melawan Ridwan-Uu.

Pasangan bernomor urut empat itu menurut Dedi adalah sosok yang tak dibuat-buat alias apa adanya. Deddy Mizwar disebutnya sebagai wakil dari kalangan artis yang berpolitik yang mempengaruhi kalangan perkotaan dan berusia di atas 50 tahun.

Sementara dirinya adalah simbol kalangan aktivis dengan usia di bawah 50 tahun dan berasal dari pedesaan. Kata Dedi, sebagai orang desa, dirinya dekat dengan kehidupan tani dan nelayan, serta kebudayaan adiluhung Jawa Barat.

"Dua simbol ini menyatu dan melahirkan dua segmen. Peta Jabar sekarang bukan lagi pada isu pluralisme. Jabar adalah masyarakat kota dan masyarakat desa. Lalu kesenjangan wilayah utara-selatan, pengakuan budaya Sunda Kulon dan Betawi yang juga harus jadi kekuatan," ulasnya.

Di kubu lawan, pasangan nomor urut 1 Ridwan-Uu punya jawaban yang sama.

“Saya menyadari kuat di kota lemah di desa, hasil surveinya begitu. Kuat di menengah atas kurang di menengah bawah,” kata Ridwan.

“Pak Uu kan kuat di desa. Pernah ketua DPRD, pernah bupati (Tasikmalaya) dua periode, bupati terbaik di bidang pertanian se-Indonesia, jadi banyak positifnya. Punya jaringan pesantren. Jadi beliau mengisi daerah-daerah yang saya mungkin kurang kuat.”

“Kalau urusan milenal, urusan perkotaan itu saya.”

Bicara Program
Ridwan menambahkan dia lebih tertarik mengkampanyekan program kerja kalau terpilih sebagai gubernur, daripada menghabiskan waktu untuk meningkatkan popularitas dirinya.

“Setengah kampanye kita bercerita siapa saya, nah itu mungkin sudah lewat masanya. Sekarang untuk menaikkan elektabilitas kita tidak bicara lagi siapa Ridwan Kamil, tidak bicara lagi siapa Pak Uu, tapi apa programnya,” kata Ridwan.

Dia mencontohkan Kabupaten Bekasi yang menghadapi masalah kesenjangan ekonomi dan pengangguran, padahal wilayah itu dikenal sebagai kawasan industri.

Di samping itu, Kabupaten Bekasi merupakan salah satu wilayah terbesar di Jawa Barat dengan jumlah pemilih lebih dari 2 juta orang.

“Sangat penting, menang di Kabupaten Bekasi, menang di Jawa Barat,” kata Ridwan saat ditanya arti wilayah itu bagi dirinya.

“Banyak yang mengeluh industri ada tapi warganya tersingkirkan. Kita ada program kepada industri-industri untuk bikin sekolah di daerah industri sehingga warga lokal bersekolahnya di daerah industri, lulus langsung bisa diterima kerja, bukan hanya di level bawah.”

“Jangan sampai industri nasionalnya ada di Bekasi, menyumbang devisa dan nilai ekonomi besar tapi waganya jalan di tempat, ini yang bahaya. Syaa ingin mereka ikut sejahtera.”

Untuk wilayah seperti Bekasi, Ridwan mengajukan program “satu desa satu perusahaan” dengan adanya sekolah industri untuk warga setempat.

Untuk pemberdayaan ibu rumah tangga di keluarga miskin, Ridwan-Uu menjanjikan program pinjaman usaha produktif tanpa bunga dan tanpa uang muka maksimal Rp 30 juta melalui Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Lalu bagaimana dengan visi pembangunan Deddy-Dedi?

Menurut Dedi, dia akan memastikan pembangunan infrastruktur yang dinisiasi pemerintah pusat harus bermanfaat dan dirasakan masyarakat, khususnya menciptakan lapangan pekerjaan. Jika terpilih, dia akan mendorong penguatan sektor pendidikan. Dedi akan memperjuangkan agar pemerintahan daerah memiliki kewenangan soal pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan kejuruan.

"Infrastruktur itu harus diarahkan menjadi sebuah industri. Dan industri itu butuh orang terdidik. Mereka akan butuh anak SMA yang berbasis pada keahlian," katanya.

Saat ini cukup banyak proyek pemerintah pusat di Jawa Barat, seperti Bandara Kertajati dan jalur kereta Sukabumi.

Di wilayah yang dibangun bandara, Dedi akan mendorong dibangun sekolah kejuruan terkait. Begitupun yang berbasis kelautan, sekolah harus mengikuti.

"Jadi mendorong job creation dengan memperbaiki pendidikan," katanya.

Berikutnya, Pemerintah Daerah jangan ragu membangun sekolah yang mendidik siswanya sejak awal untuk memiliki kewirausahaan yang kuat. Dirinya sudah mencoba di Purwakarta saat menjadi bupati.

"Sekarang banyak yang lulusannya sudah jadi manajer," katanya.

Terobosan lain yang akan dilakukannya adalah mendorong ditumbuhkannya lembaga sertifikasi keahlian di Jawa Barat. Dasarnya, banyak tenaga ahli di bidang elektronika dan otomotif yang tak tamat sekolah namun berkemampuan. Akhirnya, mereka hanya bisa bermain di pinggiran dan tak dihargai.

"Nah itu cukup pemerintah bangun lembaga kredibel di bidang kejuruan, membuat program sertifikasi, uji kompetensi. Jadi yang tak lulus sekolah, bisa lulus uji kompetensi, bisa bekerja di sektor formal yang sama dengan lulusan S1 atau S2," kata dia.

Baginya, hal sama kerap terjadi di birokrasi pemerintahan maupun swasta. Saat menjadi bupati, Dedi bercerita ada stafnya yang bernama Galih dan ahli berkemampuan tinggi di bidang teknologi informasi. Namun tak bisa naik pangkat karena hanya lulusan SMA.

"Kalau pendekatan birokrasi dan produktivitas didasarkan penjenjangan sekolah, tak pernah jadi negara besar kita. Itu hambatan kita, sebuah hambatan psikologis struktural yang harus diperbaiki," ulasnya.

"Intinya sih yang sekolah ya bagus. Tapi yang punya keahlian tapi tak berkesempatan menyelesaikan sekolahnya, ya harus diberi jalan juga. Salah satunya dengan lembaga sertifikasi," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com

CLOSE