Kasad Muda untuk TNI yang Peka Zaman


Heru Andriyanto / Markus Junianto Sihaloho / HA Jumat, 23 November 2018 | 03:12 WIB

Jakarta - Andika Perkasa meroket kariernya untuk menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) dan mendapatkan pangkat Jenderal TNI pada usia baru 53 tahun.

Pelantikannya, Kamis (22/11), dilakukan ketika geopolitik global mengalami perubahan drastis di mana the remaining super power Amerika Serikat mulai menahan diri dan lebih fokus pada kepentingannya sendiri di bawah Presiden Donald Trump, sementara di pihak lain militer Rusia, Tiongkok, Korea Utara, dan Iran makin agresif di kancah regional.

TNI sebagai salah satu kekuatan militer terbesar Asia Tenggara, sementara itu, masih berkutat dengan masalah klasik seperti kesejahteraan prajurit, sistem persenjataan yang ketinggalan zaman, dan keterbatasan jumlah SDM untuk menjaga wilayah yang demikian luas.

Dan khusus untuk Angkatan Darat, mungkin masih ada dilema unik yaitu kerinduan untuk kembali menguasai panggung politik nasional seperti era Orde Baru yang menempatkan mereka sebagai kelompok dengan privilege terbesar. Memori yang bisa menghalangi setiap upaya untuk mewujudkan profesionalisme TNI.

Zaman sudah berubah dan Orde Baru adalah sejarah. Sekarang, seorang kolonel aktif tidak bisa lagi menjadi bupati. Di luar sana, perubahan yang terjadi lebih drastis lagi di mana konflik militer bukan lagi perang dalam maknanya yang tradisional.

Ilmu militer zaman sekarang mengenal proxy war, di mana negara-negara besar bertikai tetapi mereka sendiri tidak berhadapan langsung. Dalam proxy war juga terlibat aktor non-negara.

Perang Suriah adalah contoh paling nyata untuk proxy war ini. Militer AS terlibat membantu pasukan pemberontak, sementara militer Rusia terang-terangan memberi bantuan kepada rezim Presiden Bashar al-Assad. Perang juga melibatkan aktor non-negara yaitu kelompok militan ISIS.

Bagaimana bisa sebuah organisasi bawah tanah seperti ISIS pernah menguasai Mosul di Irak dan banyak wilayah lain di Suriah?

Andika, lulusan Harvard University, tentu memahami perkembangan global sekarang ini untuk bisa mengambil kebijakan paling tepat di tubuh Angkatan Darat. Usia mudanya adalah keunggulan terbesar dibandingkan para pendahulunya yang rata-rata menjabat hanya 2-3 tahun sebelum usia pensiun tiba.

“Beliau masih punya waktu yang panjang untuk menghadapi tantangan dan ancaman pertahanan negara saat ini. Sehingga ke depan beliau memimpin TNI AD, peka terhadap tantangan zaman," kata anggota Komisi I DPR Charles Honoris.

Jika memperhitungkan usia pensiun perwira TNI yaitu 58 tahun, maka Andika masih punya waktu hingga 21 Desember 2022 untuk melakukan reformasi di matra yang dipimpinnya itu. Atau jika itu belum puncak kariernya, dia bisa melakukan itu sebagai panglima kelak.

Latar belakang akademis yang dimiliknya bisa dibilang sempurna. Selain pendidikan militer, dia juga merampungkan kuliah kebijakan publik di George Washington University.

Namun bagi Presiden Joko Widodo, alasan terpenting ketika dia menunjuk Andika sebagai Kasad adalah rekam jejak kariernya.

“Kita melihat rekam jejak. Pak Andika ini pernah di Kopassus, Kodiklat, Pangdam, Kostrad, kemudian sebelumnya pernah di Penerangan juga. Saya kira tour of duty-nya komplet. Pernah juga menjadi Komandan Paspampres,” kata Presiden usai pelantikan.

Andika adalah sosok yang dibutuhkan untuk memimpin Angkatan Darat di tengah perkembangan global sekarang ini. Keterangan Presiden itu menegaskan bahwa Andika adalah gabungan militer akademisi dan prajurit tempur. Selain bertahun-tahun kuliah di Amerika Serikat, pria kelahiran Bandung ini pernah menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) sejak 23 Juli 2018.

Indonesia butuh TNI yang makin kuat dan profesional karena ancaman proxy war bukan hanya di atas kertas. Banyak pakar mengatakan bahwa Indonesia adalah salah satu sasaran ISIS atau gerakan khilafah lainnya, yang bisa memecah belah bangsa ini.

Selain itu, agresivitas kekuatan regional makin mengemuka di berbagai belahan bumi. Di Asia, Tiongkok sudah mulai membangun pangkalan militer di pulau-pulau tak berpenghuni di wilayah Laut China Selatan, sembari mengklaim sebagian besar kawasan itu sebagai miliknya. Korea Utara sudah berkali-kali mengetes rudal jarak jauh dan menunjukkan kepada dunia kemampuannya memproduksi hulu ledak nuklir.

Di Timur Tengah, Iran aktif dalam perang di Suriah dan juga Yaman, sementara Arab Saudi memimpin koalisi menggempur kubu pemberontak di Yaman yang dibantu Iran.

Selain adu senjata, juga terjadi perang intelijen memanfaatkan teknologi digital. Amerika Serikat meyakini bahwa Rusia melakukan campur tangan dalam pemilihan presiden 2016 lewat kekuatan sibernya.

TNI harus peka dengan perubahan zaman untuk menghadapi semua tantangan domestik dan global ini, sehingga bisa mengambil pendekatan yang tepat dalam melakukan reformasi. Sebagai contoh, wacana wajib militer atau bela negara untuk memenuhi kebutuhan SDM bidang militer belum juga terealisasi karena masih belum ditemukan formula kebijakan atau alasan yang paling tepat yang bisa diterima generasi muda.

Dan yang terpenting adalah waktu yang cukup untuk menjalankan reformasi itu secara konsisten, tidak dibatasi masa jabatan pemimpin yang hanya dua atau tiga tahun.

Andika adalah sosok yang dipandang tepat untuk menjalankan peran ini, dan semoga Kasad pilihan Presiden ini tidak keliru.



Sumber: BeritaSatu.com

Profil Andika Perkasa


Danung Arifin / Iman Rahman Cahyadi / HA Jumat, 23 November 2018 | 01:05 WIB



Sumber: BeritaSatu.com

Jokowi Tidak Titip Tugas Khusus kepada Andika Perkasa


Carlos KY Paath / AMA Kamis, 22 November 2018 | 11:39 WIB

Jakarta - Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) yang baru dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi) Andika Perkasa memastikan bahwa Presiden Jokowi tidak menitipkan tugas khusus untuk dirinya selama menjabat sebagai Kasad.

“Hanya, beliau memberikan kepercayaan kepada saya. Saya secara otomatis kemudian harus menerjemahkan, bahwa tugas ini harus saya jaga. Kepercayaan dari Bapak Presiden yang telah memberikan kesempatan,” kata Andika di Istana Negara, Jakarta, Kamis (22/11).

Sementara terkait netralitas TNI pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) akan digelar pada 17 April 2019, mantan Danpaspamres itu menegaskan bahwa hal itu adalah sebuah keniscayaan.

“(Netralitas) itu memang perintah Bapak Presiden sendiri berapa bulan yang lalu. Bukan kepada saya, tapi seluruh prajurit. Kita harus bisa menjaga kepercayaan masyarakat. Angkatan Darat (AD) harus netral, dan itu harus kita tunjukkan. Itu yang harus saya lakukan dengan serius. Saya yakin prajurit AD memahami kewajiban itu,” ujarnya.

Ia berharap, seluruh pihak tidak meragukan netralitas TNI pada Pileg dan Pilpres 2019. “Netralitas kita kan harus, karena memang itu harapan semua masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Pada bagian lain, ia berkomitmen untuk membangun komunikasi dengan seluruh senior di TNI AD karena usianya yang masih tergolong muda. “Saya menyadari itu (golongan muda). Banyak senior saya di dalam struktur AD. Saya pasti akan menjalin komunikasi seperti yang selama ini sudah kami lakukan juga. Itu bagi saya hal terpenting. Tanpa dukungan senior-senior enggak mungkin saya bisa berjalan sesuai arah yang mungkin mereka harapkan,” ujar Andika.

Langkah yang akan dilakukannya setelah resmi menjabat Kasad yaitu orientasi. “Saya orientasi dulu, pelajari. Setelah itu kita lihat apakah perlu (ada program) diubah. Tapi yang jelas banyak yang perlu dilanjutkan dari kepemimpinan Pak Mulyono (mantan Kasad),” imbuh Andika.



Sumber: Suara Pembaruan

Ditanya Peran Hendropriyono Dalam Penunjukan Kasad, Begini Jawaban Andika Perkasa


Carlos KY Paath / WM Kamis, 22 November 2018 | 12:55 WIB

Jakarta - Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Andika Perkasa merupakan menantu mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono. Andika suami dari anak pertama Hendropriyono, Dyah Erwiyani.

Disinggung awak media mengenai kemungkinan adanya peran Hendropriyono dalam penunjukannya sebagai Kasad, Andika menanggapi terlalu jauh. “Itu tadi monggo (silakan), mau ngomong apa juga. Saya gini, dari dulu juga gini. Enggak ada yang saya komentar lagi, terserah,” kata Andika.

Hal itu disampaikannya seusai pelantikan dirinya sebagai Kasad oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta, Kamis (22/11). Andika juga enggan berkomentar lebih lanjut terkait begitu cepatnya naik pangkat.

Baginya, ia mempersilakan anggapan-anggapan yang muncul di publik. “Orang kalau mau ngomong apa saja monggo. Saya kan enggak bisa komentar yang nggak perlu. Semuanya beliau (Presiden) yang memutuskan, saya tidak tahu apa yang ada di dalam penilaian beliau,” tegasnya.

Sebelum menjabat Kasad, Andika dipercaya sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) sejak 23 Juli 2018. Lulusan Akademi Militer tahun 1987 tersebut, mengawali karier dengan bergabung di Komando Pasukan Khusus (Kopassus) sebagai komandan peleton (danton).

Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 21 Desember 1964 itu lama berkiprah di Kopassus dengan berbagai posisi yang diemban. Tercatat, ia pernah Danton 32 Grup 3/Sandha Kopassus pada 2002. Andika juga sebagai lulusan terbaik Sekolah Staf Komando TNI Angkatan Darat (Seskoad) pada 2000.

Ia pernah menempuh pendidikan di Harvard University, Amerika Serikat hingga meraih gelar Master of Science (MSc) dan Doctor of Philosophy (PhD). Andika sempat menjabat Komandan Korem 023/Kawal Samudera di Sibolga pada awal 2013.

Pada 8 November 2013, Andika diangkat menjadi kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) dengan pangkat brigadir jenderal (brigjen). Pada 22 Oktober 2014, Andika mendapat promosi sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden.

Pangkatnya naik menjadi mayor jenderal (mayjen). Andika lantas dimutasi menjadi Panglima Kodam XII/Tanjungpura pada Mei 2016. Awal Januari 2018, Andika kembali mendapat promosi kenaikan pangkat menjadi letnan jenderal (letjen).

Posisinya sebagai Komandan Pembina Doktrin, Pendidikan dan Latihan (Dankodiklat) TNI. Tujuh bulan kemudian, Andika menjabat Pangkostrad. Andika resmi menyandang jenderal bintang empat, karena diangkat sebagai Kasad menggantikan Jenderal Mulyono yang memasuki masa pensiun.

Hal itu sesuai Keppres Nomor 98/TNI/2018. “Menaikkan pangkat satu tingkat lebih tinggi kepada perwira tinggi TNI atas nama Letnan Jenderal Andika Perkasa menjadi Jenderal TNI,” demikian Sesmilpres Marsda Trisno Hedardi saat membacakan petikan Keppres.



Sumber: Suara Pembaruan

Kasad Andika Jamin Netralitas TNI AD dalam Pemilu 2019


Aichi Halik / AHL Kamis, 22 November 2018 | 15:54 WIB

Jakarta - Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Andika Perkasa menjamin seluruh jajaran TNI Angkatan Darat (AD) bisa menjaga netralitas dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Menurut Andika, komitmen ini sesuai pesan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang disampaikan kepada seluruh personel TNI.

"Kami harus bisa menjaga kepercayaan masyarakat, jadi Angkatan Darat harus netral dan itu harus kami tunjukkan," kata Andika usai dilantik sebagai KSAD di Istana Negara, Jakarta, Kamis (22/11).

Seluruh personel TNI AD, kata Andika, sudah memahami jika mereka dituntut bersikap netral, dan yang paling penting adalah mengimplementasikan.

"Jadi ga usah kita ngomong tapi nanti praktek tahu-tahu enggak (netral). Jadi itu yang harus saya lakukan dan saya yakin prajurit AD juga memahami kewajiban itu," ucapnya.

Letjen Andika ditunjuk menjadi Kasad menggantikan Jenderal Mulyono yang akan memasuki masa pensiun pada Januari 2019.

Jabatan terakhir Andika adalah Pangkostrad menggantikan Eddy Rahmayadi yang maju di Pilgub Sumatera Utara pada 13 Juli 2018.



Sumber: BeritaSatu TV

CLOSE