Saatnya Berharap pada Pemain Muda


Iman Rahman Cahyadi / HA Minggu, 4 November 2018 | 07:56 WIB

Jakarta – Tahun ini prestasi timnas sepakbola Indonesia masih belum memenuhi harapan. Meski demikian, ada titik cerah yang diperlihatkan pasukan Garuda Muda mulai dari level U-16, U-19 dan U-23.

Apa yang diperlihatkan Pasukan Garuda Muda di beberapa kompetisi internasional menunjukkan progres. Setelah berhasil menjuarai Turnamen Jenesys di Jepang, awal 2018 lalu, pasukan Fachri Husaini mengokohkan posisinya sebagai yang terbaik di Asia Tenggara dengan meraih gelar juara di Piala AFF U-16.

Sayang ambisi mentas di Piala Dunia U-17 di Peru, tahun depan kandas. Langkah mereka terhenti di babak perempat final Piala Asia setelah kalah 2-3 dari Australia.

Meski gagal, apresiasi tetap layak diberikan pada para pemain. Deputi Pembudayaan Olahraga Kemenpora Raden Isnanta memuji penampilan Bagus Kahfi dan kawan-kawan.

“Pemerintah selama ini terus membantu performa Timnas Indonesia U-16, hasilnya bisa dilihat, delapan besar Asia, bukan di kawasan Asia Tenggara," kata Isnanta di Kemenpora, Rabu (3/10).

"Ada impian yang belum terwujud, tapi masuk delapan besar Asia sungguh luar biasa. Berarti kita sudah membuktikan Timnas U-16 sudah sejajar dengan raksasa lainnya," ucapnya.

Kemajuan juga diperlihatkan di level U-19. Pasukan yang dibesut Indra Sjafri ini mampu memunculkan harapan cerah meski harus terhenti langkahnya di babak perempat final Piala AFC (Piala Asia) U-19. Indonesia harus mengakui kekalahan 0-2 dari Jepang.

Namun sebelum itu, Timnas U-19 mampu memperlihatkan penampilan menjanjikan ketika dikalahkan Qatar 5-6 dan menang 1-0 atas Uni Emirat Arab. Indra Sjafri menilai sepakbola Indonesia, khusus di level yunior sebenarnya tidak tertinggal jauh dari negara-negara kuat Asia.

“Saya merasa sepakbola Indonesia akan lebih baik lagi dan akan bersaing di Asia,” ujar Indra optimistis.

Keyakinan serupa juga diutarakan mantan kapten timnas, Ponaryo Astaman yang menilai apa yang sudah dilakukan tim U-16 dan U-19 sudah cukup baik karena sudah berjuang maksimal pada Piala AFC di kelasnya masing-masing. Ia berharap kualitas pemain tetap dikawal terus perkembangannya sehingga bisa mencetak prestasi di masa depan.

"Mari kita semua termasuk PSSI yang lebih berperan besar dalam menjaga hingga nantinya mereka berkembang di level senior. Mereka harus mendapatkan kesempurnaan bertanding di level klub. Semua itu memerlukan kompetisi yang baik," jelasnya.

Sebelumnya di level U-23, timnas mampu menunjukkan posisinya tidak jauh tertinggal di kancah Asia. Berlaga di ajang Asian Games 2018, Timnas U-23 terhenti langkahnya di babak 16 besars setelah kalah dalam drama adu pinalti melawan Uni Emirat Arab. Berlaga di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, kedua tim bermain imbang 2-2 pada 120 menit.

Kini, tinggal giliran menanti kiprah timnas senior yang akan berlaga di Piala AFF yang akan mulai digelar pada 9 November. Meski sangat disayangkan terjadinya pergantian kepelatihan setelah Luis Milla tak lagi menangani timnas dan digantikan oleh Bima Sakti.

Persiapan Indonesia cukup menjanjikan. Berhasil mengalahkan Mauritius 1-0 pada 11 September lalu dilanjurkan dengan melibas Myanmar 3-0 pada 10 Oktober di Stadion Wibawa Mukti Cikarang.

Di Piala AFF 2018, Indonesia berada di Grup B bersama juara bertahan Thailand, Filipina, Singapura, dan Timor Leste.

Dari 23 pemain yang dipanggil Bima Sakti, banyak diantaranya adalah punggawa U-23 dan juga satu orang pemain dari U-19 yakni Saddil Ramdani.

Ajang ini memang tepat untuk memberikan kesempatan kepada para pemain muda Indonesia merasakan atmosfer persaingan yang tinggi dan tentunya pengalaman bertanding. Febri Hariyadi, kiper Awan Setho, Septian David dan beberapa pemain muda lainnnya juga dituntut untuk bisa memberikan penampilan terbaik di lapangan.

Selain berpartisipasi dlm berbagai turnamen internasional, Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah berbagai turnamen internasional, di level AFF & AFC. Setelah sempat 'tertidur', kini sepakbola Indonesia bangkit. We are back, alive & stronger!,” tulis PSSI lewat akun Twitter-nya.



Sumber: BeritaSatu.com

Misi Menghapus Gelar “Raja Runner-up”


Jaja Suteja / JAS Minggu, 4 November 2018 | 10:37 WIB

Jakarta - Piala AFF akan kembali digelar mulai 8 November mendatang. Tim Nasional Indonesia pun telah mempersiapkan untuk bertarung di ajang kejuaraan sepakbola antarnegara paling bergengsi di Asia Tenggara itu.

Indonesia sebagai negara yang disegani di Asia Tenggara ternyata tak beruntung di ajang ini. Dalam 11 edisi Piala AFF yang telah diikuti antara 1996-2016, Indonesia tak pernah juara.

Gelar yang melekat pada tim Merah-Putih justru sebagai “Raja Runner-up” alias raja peringkat kedua. Ya, Indonesia memang menjadi tim yang paling sering menyabet gelar runner-up. Dalam 11 gelaran Piala AFF, Indonesia telah lima kali menjadi finalis dan lima kali pula kalah di partai pamungkas.

Misi Timnas Indonesia kali ini tentunya sama seperti sebelumnya, menyabet gelar juara sekaligus ingin menghapus status sebagai “Raja Runner-up”.

Indonesia sebenarnya menghadapi kejuaraan yang diikuti 10 negara ini dalam kondisi tidak ideal terutama di sektor pelatih. Bima Sakti akhirnya ditunjuk sebagai pelatih kepala setelah PSSI gagal “merayu” Luis Milla untuk bertahan. 

Namun dalam keadaan darurat, Bima Sakti adalah pilihan terbaik. Mantan pemain PSSI Primavera ini cukup lama mendampingi Milla ketika menangani timnas senior dan U-23. Bima bahkan bisa disebut sebagai “penyambung lidah” Milla kepada pemain.

Saat tim bermain, Bima lah yang lebih sering memberikan instruksi kepada pemain dari sisi lapangan. Soal strategi di lapangan, Bima juga diperkirakan bakal mengadopsi taktik yang selama ini diterapkan pelatih asal Spanyol itu.

“Sebetulnya, terlalu cepat Bima mengambil alih tim senior, tetapi dia sudah ditetapkan PSSI. Jadi, mari kita dukung Bima,” ungkap pengamat sepakbola Kusnaeni.

Materi pemain yang dipanggil pun sebagian besar adalah skuat Timnas U-23 yang tampil di Asian Games. “Dengan pengalaman yang masih terbatas, wajar kalau Bima memilih materi pemain mayoritas eks Asian Games karena dia sudah kenal mereka dan tahu kemampuan mereka. Waktu juga mepet. Jadi, Bima enggak mau coba-coba,” papar sosok yang aktif sebagai komentator siaran olahraga di televisi ini.

Hal senada diungkapkan pengamat sepakbola Yusuf Kurniawan. Menurutnya, sangat wajar jika sekitar 75 persen skuat Indonesia di Piala AFF ini terdiri dari pemain muda eks Timnas U-23 yang turun di Asian Games.

“Wajar karena mereka sudah banyak memiliki jam terbang sejak di U-19, U-23, dan sekarang di timnas senior saatnya mereka memberikan kontribusi dengan kualitas terbaik. Evan Dimas, Hansamu Yama, Ricky Fajin, Septian David Maulana, Sekarang ada lagi pendatang baru Irfan Jaya,” ungkapnya.

“Jadi normal saja Bima Sakti mengandalkan mereka karena kita tidak hanya butuh pemain dari sisi pengalaman tapi juga tenaga dan performa mereka yang kini sedang membaik. Sangat wajar kalau mereka diandalkan,” katanya.

Bima sebelumnya memanggil Saddil Ramdani yang bersinar ketika memperkuat Timnas U-19. Pemain Persela ini juga tak asing dengan anggota Timnas U-23 karena namanya termasuk dalam skuat Indonesia di Asian Games lalu.

Namun Saddil terantuk masalah hukum karena dituduh melakukan kekerasan terhadap teman wanitanya. Namanya pun dicoret. Namun sebelum resmi mencoret Saddil, Bima sebenarnya telah memanggil Andik Vermansyah lebih dulu.

“Materi pemain secara umum bagus. Masuknya Andik mengganti Saddil sudah pas karena kita memang butuh pengalaman Andik. Di event seperti Piala AFF di mana lawan sudah sangat saling mengenal, pengalaman dan kecerdikan Andik akan bermanfaat,” papar Kusnaeni.

Namun Kusnaeni menyayangkan tidak dipanggilnya bek tengah Persib, Victor Igbonefo. Menurutnya, kemampuan dan pengalaman pemain naturalisasi asal Nigeria ini penting untuk tim. Igbonefo juga sukses membawa Persib ke papan atas.

“Yang dipanggil malah Bagas Adi yang lebih banyak menjadi cadangan di klubnya. Apa boleh buat, ini pilihan Bima. Dia tentu punya perhitungan dan pertimbangan sendiri. Apalagi dia lama kenal Bagas di timnas U-23,” ungkap Kusnaeni lagi.

Sementara pengamat sepakbola lainnya, Tommy Welly, menyebut ada beberapa nama yang sangat layak dipanggil tetapi tak masuk skuat Piala AFF kali ini. Mereka adalah Sandi Sute (Persija), Esteban Vizcarra (Sriwijaya FC), Paulo Sitanggang (Barito Putera), Alfin Tuasalamony (Arema FC), Boaz Sollosa (Persipura), dan Ilham Udin (Selangor).

“Menurut saya mereka sangat layak dipanggil berdasarkan performa di kompetisi,” papar Tommy.

Dia juga menyoroti sektor pelatih tim ini. “Bima Sakti bisa saja potensial sebagai pelatih tetapi jenjang karier atau pengalaman Bima masih sangat minim. Bima belum pernah menangani klub sebagai pelatih begitu juga Kurniawan (Dwi Julianto),” ungkapnya.

Pada babak awal Piala AFF kali ini Indonesia berada satu grup dengan Thailand, Filipina, Timor Leste, dan Singapura. Namun hasil undian di Grup B sedikit tak menguntungkan Indonesia.

Indonesia mendapat jatah menjadi tuan rumah menghadapi tim-tim yang di atas kertas bisa diatasi yakni Timor Leste dan Filipina. Sementara melawan tim tangguh Thailand dan Singapura justru kita menjadi tamu.

“Itu risiko undian ya. Yang berat mungkin cuma di Thailand. Kalau melawan Singapura, rasanya suporter Indonesia nanti pasti banyak juga di sana. Kemungkinan Indonesia untuk lolos dari babak grup masih sangat besar. Apalagi Thailand juga nggak full team,” ungkap Kusnaeni.

Lantas mengapa dalam 11 edisi Indonesia tak pernah juara. Tim Merah Putih kini cuma menyandang status “Raja Runner-up”.
“Ini saya lihat lebih ke faktor mentalitas. Ini kejuaraan jenis turnamen tentu banyak aspek-aspek yang berpangaruh,” ungkap Yusuf.

Menurutnya, ini tidak bisa dijadikan dasar untuk menilai bahwa Indonesia tidak mampu bersaing. "Di final itu banyak hal yang belum bisa kita tuntaskan. Ini pekerjaan rumah yang harus dipecahkan oleh Bima Sakti,” paparnya.

Yusuf sepakat jika sekaranglah saat yang paling tepat untuk menjadi juara. “Jangan sampai kita menjadi runner-up untuk keenam kalinya karena ini kesempatan terbesar bagi kita,” paparnya.

Kusnaeni pun setuju jika sekarang adalah peluang terbaik Indonesia untuk menjadi juara sekaligus menghilangkan status sebagai “Raja Runner-up” Piala AFF.

“Seharusnya iya. Momentum penampilan bagus di Asian Games harus bisa dijadikan starting point. Apalagi kekuatan lawan-lawan tradisional kita sedang menurun,” kata Kusnaeni.

Perkiraan Susunan Tim Indonesia di Piala AFF
Formasi 4-3-3
K: Andritany Ardhiyasa:
B: Putu Gede, Hansamu Yama, Ricky Fajrin, Rizki Pora
T: Evan Dimas, Hargianto, Stefano Lilipaly:
D: Andik Vermansyah, Alberto Goncalves, Febri Hariyadi

Skuat Indonesia di Piala AFF 2018
Kiper
1. Andritany Ardhiyasa (Persija),
2. Muhammad Ridho (Borneo FC),
3. Awan Setho ( Bhayangkara FC)

Belakang
4. I Putu Gede (Bhayangkara FC)
5. Gavin Kwan (Barito Putera)
6. Hansamu Yama (Barito Putera)
7. Fachruddin Aryanto (Madura United)
8. Bagas Adi (Arema FC)
9. Ricky Fajrin (Bali United)
10. Alfath Fathier (Madura United)
11. Rizki Pora (Barito Putera)

Gelandang
12. Zulfiandi (Sriwijaya FC)
13. Muhammad Hargianto (Bhayangkara FC)
14. Bayu Pradana (Mitra Kukar)
15. Stefano Lilipaly (Bali United)
16. Evan Dimas (Selangor FA)
17. Septian David (Mitra Kukar)
18. Irfan Jaya (Persebaya)
19. Andik Vermansyah (Kedah)
20. Febri Hariyadi (Persib)
21. Riko Simanjuntak (Persija)

Striker
22. Dedik Setiawan (Arema FC)
23. Alberto Goncalves (Sriwijaya FC).

Jadwal Tanding Timnas Indonesia di Piala AFF 2018
9 November 2018 Singapura vs Indonesia Stadion National, Kallang
13 November 2018 Indonesia vs Timor-Leste SUGBK, Jakarta
17 November 2018 Thailand vs Indonesia Stadion Rajamangala, Bangkok
25 November 2018 Indonesia vs Filipina SUGBK, Jakarta

Pencapaian Indonesia di Piala AFF
1996 Semifinal
1998 Peringkat 3
2000 Runner-up
2002 Runner-up
2004 Runner-up
2007 Babak grup
2008 Semifinal
2010 Runner-up
2012 Babak grup
2014 Babak grup
2016 Runner-up



Sumber: BeritaSatu.com

Membangun Sepakbola Tak Bisa Instan


Jaja Suteja / JAS Minggu, 4 November 2018 | 08:45 WIB

Jakarta - Publik sepakbola Indonesia akhir-akhir ini mendapat sajian aksi-aksi menarik dari anak-anak muda di lapangan sepakbola. Dimulai dari Tim Nasional U-23 asuhan Luis Milla yang beraksi di Asian Games, lalu pasukan Timnas U-16 yang ditangani Fachri Husaini di Piala Asia U-16, serta skuat Timnas U-19.

Hal yang sangat menarik, semua penampilan timnas tak peduli senior bahkan hingga kelompok umur paling junior, selalu mendapat perhatian yang gegap-gempita. Stadion selalu penuh jika timnas bertanding.

Sayangnya, baik Timnas U-23, Timnas U-16, dan Timnas-U-19 gagal meraih prestasi maksimal. Tim-tim kita hanya mampu melewati fase grup dan terhenti di putaran kedua atau perempat final. Padahal jika mampu lolos ke semifinal, maka Timnas U-16 dan U-19 bakal tampil di ajang tertinggi yakni Piala Dunia U-17 dan Piala U-20.

Namun, jika melihat pembinaan pemain usia muda yang ada di Indonesia saat ini, prestasi tersebut sebenarnya bisa disebut sudah luar biasa.

“Penampilan dan prestasi kita saat ini sudah sampai di limit terbaik kemampuan kita, dengan berbagai keterbatasan fasilitas dan dukungan yang ada,” kata salah satu pemerhati sepakbola Indonesia, Yusuf Kurniawan.

Sosok yang biasa dipanggil Yuke ini justru melihat hikmah dari kegagalan pasukan Indnesia melaju ke Piala Dunia U-17 dan Piala Dunia U-20.

“Kalau kita sampai lolos maka federasi (PSSI) dan pemerintah bisa berkata, 'Kita bisa kok ke Piala Dunia dengan persiapan dan dukungan apa adanya,” paparnya lagi.

“Infrastruktur sepakbola kita payah,” ungkap Yusuf yang aktif menggelar kejuaraan usia muda ini.

Pengamat sepakbola Tommy Welly juga mengungkap betapa pentingnya kompetisi usia muda yang berjenjang dan berkesinambungan.

“Seberapa penting? Tentu sangat penting karena kompetisi usia muda adalah fondasi. Ini hal yang fundamental dalam pembinaan atau pengembangan sepakbola,” papar Tommy.

Menurut Tommy, PSSI harus memberi perhatian dan porsi besar dalam membangun kompetisi usia muda yang merata di seluruh daerah.

“Sekarang sudah dimulai dengan Liga 1 U-16 dan U-19. Ini sudah lumayan namun ini tidak cukup karena usia muda itu usia sekolah maka kompetisinya harus berjenjang dan fokus di provinsi masing-masing misalnya untuk kelompok umur usia 12-17 tahun,” papar pria yang pernah menjabat Direktur Kompetisi Amatir PSSI ini.

Sebagai konsekuensi dari hal ini, ujar Tommy, kompetisi harus digelar di daerah masing-masing agar tidak mengganggu pendidikan para pemain usia muda ini.

“Jadi kalau bicara kompetisi usia muda PSSI harus bergandengan dengan Asprov dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” dia menambahkan.

Sementara menurut Yusuf, idealnya setiap klub anggota Federasi disediakan wadah kompetisi oleh federasi, di semua jenjang usia, dari 8 hingga 17 tahun. Federasi di sini dimulai dari asosiasi kabupaten/kota dan provinsi.

“Faktanya ini ini tidak terjadi. Kalaupun ada kegiatan, banyaknya berbentuk festival atau turnamen singkat. Bukan kompetisi,” imbuh Yusuf.

Menurut Yusuf, PSSI saat ini juga masih sangat jauh dari ideal dalam mengupayakan kompetisi usia muda yang menjadi fondasi perkembangan sepakbola. “PSSI juga sama. Sebagai induk federasi, PSSI hanya menyediakan Piala Soeratin yang sifatnya turnamen singkat. Ini sama sekali tidak cukup,” katanya.

“Pemain berkualitas itu berasal dari kompetisi berkualitas juga, bukan dari turnamen atau festival seperti yang banyak menjamur saat ini di Indonesia,” kata Yusuf lagi.

Kondisi ini membuat pelatih memiliki sumber yang terbatas dalam merekrut pemain untuk membentuk tim. “Pelatih timnas U-16 Fakhri Husaini, misalnya banyak mencari pemain dari kompetisi 'swasta' seperti Liga Topskor dan Liga Kompas, karena kualitas pemain yang dihasilkan lebih baik dibanding Piala Soeratin,” paparnya.

Lantas apa sebenarnya kendala sehingga PSSI kesulitan menyelenggarakan kompetisi berjenjang dan berkesinambungan? “Pertama tentu saja pendanaan, selanjutnya rendahnya tingkat kepercayaan stakeholder (pemangku kepentingan), dan kurang kuatnya kesungguhan,” ungkap Yusuf.

“Karena pembinaan itu identik dengan cost center, mereka cuma mau mengurusi yang senior saja karena produknya bisa langsung dijual, cepat menghasilkan,” tuturnya.

Pentingnya komitmen serius untuk mengembangkan pemain muda di Indonesia juga diungkapkan pelatih tim nasional U-19, Indra Sjafri.

"Komitmen itu penting agar mereka kelak menjadi pemain siap pakai di tim nasional senior," ujar Indra usai skuatnya ditaklukkan Jepang dengan skor 0-2 pada laga perempat final Piala U-19 Asia 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (28/10) malam.

Menurut pelatih asal Sumatera Barat itu, salah satu cara untuk menjaga pesepakbola-pesepakbola berbakat Indonesia di tim nasional kelompok umur adalah dengan menunjuk pelatih timnas U-16, U-19 dan U-22.

Indra Sjafri hanya melatih Indonesia sampai Piala U-19 Asia 2018, artinya setelah turnamen itu, posisi pelatih timnas U-19 kosong, sama seperti timnas U-16 dan timnas U-22 yang tanpa pelatih usai juru taktik sebelumnya masing-masing Fakhri Husaini dan Luis Milla menunaikan tugasnya.

"Harus tetap ada program jangka panjang untuk para pemain, siapapun pelatih timnas, seperti Jepang yang menargetkan juara dunia di tahun 2050 dan sudah membuat langkah menuju ke sana. Selain itu, keberadaan pelatih juga penting untuk mengawasi kinerja para pemain timnas yang berlaga di klub masing-masing," tutur Indra.

Mantan pelatih Bali United ini juga menolak ide pemain menjalani pemusatan latihan dalam jangka waktu lama.

Para pesepakbola itu diharapkan matang di kompetisi, seperti timnas U-19 saat ini yang hampir semua pemainnya berlaga di Liga 1 maupun Liga 2 Indonesia.

Membangun sepakbola memang tak bisa instan. Butuh kesabaran, kemauan keras, dan komitmen tinggi dari para pemangku kepentingan.



Sumber: BeritaSatu.com

Ingin Prestasi, PSSI Perlu Direformasi


Hendro D Situmorang / HA Minggu, 4 November 2018 | 07:41 WIB

Jakarta – Pecinta sepakbola Indonesia tentunya sudah lama merindukan prestasi. Harapan untuk bisa manggung di pentas dunia terus digaungkan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) meski pada kenyataanya, untuk bisa menunjukkan eksistensinya di level Asia Tenggara saja sangat sulit.

Kebangkitan sepakbola Indonesia adalah keniscayaan, tetapi tidak akan tercapai jika itu tidak dimulai dari induk organisasi PSSI. Pengamat sepakbola Rayana Djakasurya menegaskan jika sepakbola nasional kita ingin maju di tingkat internasional, maka hulunya ini harus dibenahi.

“Evaluasi, itu yang selalu dikatakan pihak PSSI dan jangan berikan janji-janji saja tapi tak ada tindakan yang konkret dan tak ada pembenahan di dalam. Tim-tim yang tampil di Piala Dunia itu memiliki struktur organisasi sepakbola yang kuat. Nyatanya tim kita kalah karena belum adanya sikap profesional dari PSSI," ujar Rayana ketika dihubungi, Jumat (2/11).

Menurutnya, pasca-dibekukan pemerintah, PSSI diharapkan masyarakat ada perbaikan yang berarti dan menghasilkan prestasi. Namun, ternyata tidak ada perubahan dan tetap nol besar.

Diakui banyak pengurus PSSI yang memiliki saham atau kontribusi di klub-klub sepakbola baik Liga 1 maupun 2, sehingga ketika terjadi masalah di klub tersebut, Komdis hanya memberikan hukuman yang ringan dan PSSI tidak bertindak tegas serta bersikap profesional. Dengan kata lain tejadi conflict of interest. Hal ini berbeda jauh dengan di luar negeri.

Selain skuat muda Indonesia gagal ke Piala Dunia, pelatih timnas yang berkualitas seperti Luis Milla asal Spanyol pun tak mampu dipertahankan karena, menurut Rayana, bobroknya PSSI yang dinilai tidak becus dan tidak profesional mengurus sepakbola Indonesia.

"Ada baiknya bubarkan kepengurusan PSSI saat ini dan ganti dengan yang benar-benar baru. Jangan ada lagi orang-orang lama yang saat ini masih bercokol di dalamnya. Lihat saja, kepengurusan era sebelumnya, orangnya itu lagi itu lagi pengurus di dalamnya. Meski berganti ketua umum PSSI saja. Mereka seakan menggurita di dalamnya," ungkap Rayana.

Roadmap PSSI
Direktur Media PSSI Gatot Widagdo mengklaim pihaknya sudah memiliki rancangan program dalam roadmap PSSI menuju 2045 baik di bidang organisasi, pengembangan sepakbola Indonesia, dan kompetisi. Pada 2018-2019, PSSI fokus pada perbaikan dan pengembangan di tiga bidang tersebut. Timnas merupakan proyek penting dan PSSI fokus membangun ekosistem khususnya di area pembangunan kompetisi.

Untuk tahun 2020 hingga 2024, PSSI fokus pada kinerja dan prestasi dengan menciptakan kompetisi yang terbaik di ASEAN, masuk delapan besar liga terbaik di Asia. Di tahun 2034 masuk tiga besar terbaik di Asia dan terakhir di 2045 masuk 15 liga terbaik di dunia.

Sementara terkait pelatih Luis Milla, PSSI menilai hasil kerja yang diraih menjadi ukuran penilaian apakah mencapai target atau tidak. Kalau pencapaiannya tidak berhasil dan mengalami kekalahan, maka wajar diganti karena semua dievaluasi.

"Hal ini berlaku untuk semua pelatih, baik pelatih Indonesia maupun luar, semua laga-laga yang dijalani dievaluasi termasuk soal target terpenuhi atau tidak. PSSI pasti ada tindakan terkait hasil yang dicapai," tutup Gatot.

Mau Menang Sendiri
Kritikan juga diutarakan Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot Dewa Broto yang mengimbau PSSI jangan terlalu percaya diri dan mau menang sendiri dengan program-program roadmap yang telah disusun.

Hal itu melihat prestasi Timnas Indonesia U-16 yang gagal melangkah ke Piala Dunia U-17 di Peru, tahun depan. Langkah mereka terhenti di babak perempat final setelah kalah 2-3 dari Australia. Begitu juga dengan Timnas Indonesia U-19 gagal mewujudkan mimpi lolos ke Piala Dunia U-20 usai kalah 0-2 dari Jepang pada babak perempatfinal Piala Asia U-19 2018.

"Ada baiknya PSSI kembali membuka diri kembali dengan membuat dialog ke publik agar masyarakat mengetahui semua program maupun rencana dari induk sepakbola Indonesia mau bawa ke mana sepakbola kita ini. PSSI memang sudah menyusun roadmap pembinaan muda dan ada kemajuan dari era kepengurusan sebelumnya. Namun ujung-ujungnya bila dilihat prestasi di lapangan tetap mentok. Jadi saran saya biarkan masyarakat mengkritisi dan memberi masukan yang positif dengan dialog interaktif," jelas Gatot ketika dihubungi Sabtu (3/11).

Diakui, PSSI pun sangat jarang membuka dialog dan komunikasi dengan pemerintah dalam hal ini Kempora, sehingga tidak mengetahui setiap perkembangan yang terjadi didalamnya. Namun ketika sepakbola Indonesia terkait masalah, barulah PSSI membuat laporan.

"Contohnya saja prestasi sepakbola di Asian Games 2018 kemarin yang tak sesuai target yang diinginkan, sampai sekarang belum ada laporannya. Saya juga tidak tahu kenapa, apakah karena mereka (PSSI) takut dikritisi, padahal memang itulah tugas kami sebagai sebagai lembaga pengawasan semua cabang olahraga. Kami akui dialog PSSI dan pemerintah tidak optimal," ungkapnya.



Sumber: Suara Pembaruan

CLOSE