Keluarga Militan Teror Surabaya


Farouk Arnaz / Antara / HA Senin, 14 Mei 2018 | 04:31 WIB

Surabaya - Satu keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan empat anak mereka melakukan serangan bom bunuh diri terkoordinasi di tiga gereja di Surabaya dalam rentang waktu 30 menit, Minggu (13/5).

Metode serangan berbeda-beda. Sang Ayah, Dita Oepriarto, meledakkan bom mobil di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, Jalan Arjuno.

Istrinya, Puji Kuswati, dengan mengenakan bom sabuk mengajak dua putri mereka FS (12) dan FR (8) berjalan kaki dan mencoba masuk Gereja Kristen Indonesia, Jalan Diponegoro, sebelum meledakkan diri di depan pintu.

Dua putra mereka, Yusuf Fadhil (17) dan FH (15) mengendarai sepeda motor dan membawa bom di pangkuan menuju Gereja Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel Madya. Bom meledak di dekat gereja.

Sampai berita ini diturunkan, korban tewas dalam tiga serangan itu mencapai 13 orang, sementara korban luka berat dan ringan 43 orang.

“Pelaku diduga satu keluarga yang melakukan serangan. Seperti di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno yang menggunakan mobil Avanza diduga adalah bapaknya bernama Dita Oepriarto," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

"Semuanya adalah jenis bom bunuh diri, namun jenis bomnya berbeda."

Sampai saat ini, tim Laboratorium Forensik Polda Jatim masih menyelidiki bahan peledak yang dipakai para pelaku.

Pelaku, lanjutnya, merupakan anggota kelompok yang tak lepas dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang merupakan pendukung utama ISIS di Indonesia yang dipimpin oleh Aman Abdurahman.

Malam harinya di Sidoarjo, sebuah bom meledak di Rumah Susun Wonocolo dan menewaskan tiga orang yang menurut polisi adalah keluarga teroris juga -- pemilik bom itu sendiri. Mereka yang tewas diidentifikasi sebagai Anton Febrianto (47), istrinya bernama Puspita Sari (47), dan anak mereka RAR (17).

Kantor Berita Antara menyebutkan bahwa saat polisi tiba di lokasi ledakan, Anton ditemukan masih memegang saklar sehingga akhirnya ditembak untuk mengeliminasi risiko. Tiga anak berusia 10, 11, dan 15 tahun yang diduga anggota keluarga itu sekarang dirawat di rumah sakit.

Lokasi Rusun Wonocolo Sidoarjo hanya berjarak sekitar 10 km dari tiga gereja Surabaya yang menjadi target serangan pagi harinya.

Polisi menolak menyebut mereka yang tewas di rusun itu sebagai korban, karena mereka diduga adalah pelaku teror yang sedang mempersiapkan serangan namun bom meledak lebih dulu.

Kendala Hukum
Meskipun polisi tahu siapa saja yang pulang dari perang Suriah, tetapi tidak bisa bertindak begitu saja karena UU tentang Terorisme nomor 15/2003 tidak bisa menjangkau mereka, sepanjang mereka tidak kedapatan melakukan teror di Indonesia.

Para alumni ISIS Suriah itu tidak bisa diproses hukum dan bisa kembali ke kehidupan seperti biasa hingga akhirnya jadi aktor bunuh diri itu.

“Diindikasikan sel teror yang tidur mulai bangkit. Kita dalami mengapa (bangkit). Ini sedang dalam pendalaman. Saya tidak bisa sampaikan detail karena ini akan ganggu operasi Densus berikutnya. Mereka ini adalah kelompok Jamaah Ansharu Daulah (JAD),” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, Minggu.

Mereka mengincar polisi dan kantor polisi. Rumah ibadah juga diincar sehingga di gereja di Surabaya ada polisi yang terluka karena mereka sedang berjaga.

“UU antiteror kita itu sifatnya responsif. Kita berharap rancangan UU teror terbaru, yang setahun ini berhenti, untuk berlanjut. Polri diberikan kewenangan untuk upaya preventif. Kalau dia terafiliasi kelompok tertentu yang melakukan terorisme baru bisa ditangkap dan diproses (ini terlambat),” sambungnya.

Polri, masih kata Setyo, ingin segera diberikan payung hukum untuk dilakukan upaya preventif. Polri ingin bisa menangkap mereka yang sudah ada indikasi awal melakukan aksi teror.

“Sel-sel ini sudah tersebar dan sudah cukup banyak. Saya himbau masyarakat tidak takut dan resah. Tetap tenang dan melaksanakan kegiatan seperti apa adanya tapi waspada dan hati-hati. Kalau ada yang mencurigakan segera lapor,” sambungnya.

Setyo tidak mempermasalahkan jika TNI terlibat lebih jauh dalam penanganan teror. Yang penting payung hukum bisa preventif. Hanya dengan kecurigaan mereka melakukan atau terafiliasi dengan organisasi tertentu bisa ditangkap atau diproses hukum.

Salah Arah
Mantan Kepala BNPT Irjen (pur) Ansyad Mbai mengatakan jika RUU Antiterorisme yang saat ini masih dibahas di DPR sejatinya melenceng dari harapan. RUU itu tidak hanya bicara soal pencegahan dan penindakan.

“Kita kan inginnya UU yang lebih proaktif. Yang bisa mencegah sebelum kejadian. Yang bisa mencegah saat ada indikasi awal. Tapi RUU yang ada sekarang juga bicara soal kewenangan (institusi lain),” kata Ansyad pada Beritasatu.com di Jakarta.

Sejatinya, soal sharing kewenangan penindakan terorisme, jika diperlukan maka sebaiknya diatur dalam UU yang lain, tidak dicampur dalam RUU antiteror.

“Sekarang ini keadaan (anatomi teror Indonesia) semua kelompok teror menginduk dan berafiliasi dengan ISIS seperti JAD. Mereka ini lebih berbahaya dibanding era JI (Jemaah Islamiyah) dulu yang menginduk ke Al Qaeda. ISIS ini lebih punya tahapan perjuangan,” lanjutnya.

Maka, sebelum tambah terlambat, UU Teror harus lebih bergigi. Termasuk menindak mereka yang baru pulang dari peperangan di Suriah. Juga menindak para penceramah yang kerap menggunakan argumen kebencian dan permusuhan.

“Pelaku teror lapangan ini sebenarnya korban juga dari para pentolan yang suka menjelek-jelekan dan menyebarkan kebencian. Selama ini mereka (pentolan) itu belum bisa ditindak kalau tindakan terornya belum terjadi. Maka kita ini ibaratnya terus memadamkan api tanpa mencegahnya,” urainya.

Catatan: Kami melakukan revisi pada judul setelah Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam jumpa pers di Mapolda Jatim, Senin (14/5), meralat pernyataan sebelumnya bahwa keluarga pelaku pemboman pernah ke Suriah. Menurut Tito hasil penyidikan menunjukkan keluarga itu tidak pernah ke Suriah, namun bertindak atas perintah para militan yang pernah ke Suriah.



Sumber: BeritaSatu.com

Kronologi Teror Bom di Surabaya


Danung Arifin / HA Senin, 14 Mei 2018 | 04:14 WIB



Sumber: BeritaSatu.com

Polisi Duga Bom Surabaya dan Sidoarjo Berkaitan


/ HA Senin, 14 Mei 2018 | 03:46 WIB

Sidoarjo - Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Irjen Polisi Machfud Arifin menduga kasus ledakan bom di Rumah Susun Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur, masih ada hubungannya dengan ledakan bom di tiga lokasi gereja di Surabaya, Minggu (13/5).

"Bisa saja, hubungannya ada," katanya saat dikonfirmasi usai proses evakuasi pelaku peledakan bom di Rumah Susun Wonocolo, Sidoarjo, Jatim, Senin (14/5) dini hari.

Ia mengemukakan untuk peristiwa ledakan bom di Rusun Wonocolo Sidorjo, saat ini sudah selesai dilakukan proses evakuasi terhadap para pelaku yang meninggal dunia.

"Untuk selanjutnya, para pelaku yang meninggal dunia ini akan dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim untuk dilakukan proses lanjutan," ujarnya.

Selain membawa jenazah pelaku, dalam proses evakuasi itu pihaknya juga membawa serta barang-barang yang diduga sebagai bom milik pelaku.

"Saat itu, pelaku yang diketahui bernama Anton saat akan ditangkap masih memegang switching yang akan digunakan untuk meledakkan bom. Namun, karena tidak mau ambil risiko pelaku terpaksa kami lumpuhkan," katanya.

Dari data yang ada, enam orang yang masih memiliki ikatan keluarga menjadi korban terkait dengan ledakan tersebut, di mana tiga di antaranya sudah dinyatakan meninggal dunia dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara.

Sebanyak tiga orang yang meninggal itu, masing-masing Anton Febryanto (47) sebagai kepala keluarga, Puspita Sari (47) istri Anton, Rita Aulia Rahman (17) anak.

Korban selamat, AR (15) yang membawa kedua adik perempuannya, masing-masing FP (11) dan GH (10) yang saat ini dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara.

Pada Minggu (13/5) malam terjadi ledakan di salah satu ruangan di Rumah Susun Wonocolo Blok B lantai 5.

Rusun Wonocolo, Kecamatan Taman, Sidoarjo dekat dengan perbatasan Kota Surabaya, yaitu sekitar 9-10 kilometer arah barat lokasi ledakan di tiga lokasi gereja di Surabaya pada Minggu (13/5) pagi.



Sumber: ANTARA

Jokowi: Tindakan Teroris Ini Sungguh Biadab


Novy Lumanauw / AB Minggu, 13 Mei 2018 | 18:47 WIB

Surabaya - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengecam keras aksi peledakan tiga gereja di Surabaya. Kepala negara menyatakan insiden berdarah itu sungguh biadab dan di luar batas kemanusiaan.

"Hari ini telah terjadi aksi teror di tiga lokasi di Surabaya. Tindakan terorisme kali ini sungguh biadab dan di luar batas kemanusiaan," kata kepala negara seusai mengunjungi tiga lokasi kejadian di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5).

Kepala negara mengatakan aksi teror yang tidak bertanggung jawab itu, selain menimbulkan korban anggota masyarakat, juga anggota Kepolisian dan anak-anak yang tidak berdosa. Bahkan, termasuk pelaku yang menggunakan dua anak berumur kurang lebih 10 tahun sebagai pelaku bom bunuh diri.

"Terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tidak ada kaitannya dengan agama apa pun. Semua ajaran agama menolak terorisme apa pun alasannya," tegasnya.

Ia mengatakan, tidak ada kata yang dapat menggambarkan betapa dalam rasa duka cita bangsa Indonesia atas jatuhnya korban akibat serangan bom bunuh diri di Surabaya ini.

"Pagi tadi saya sudah memerintahkan kepada kapolri untuk mengusut tuntas jaringan-jaringan pelaku dan saya perintahkan untuk membongkar jaringan itu sampai akar- akarnya. Seluruh aparat tak akan membiarkan tindakan pengecut semacam ini dan mengajak semua anggota masyarakat untuk bersama-sama memerangi terorisme, memerangi radikalisme yang bertentangan dengan nilai-nilai agama nilai nilai luhur kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebinekaan," kata Jokowi.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi mengimbau seluruh rakyat di seluruh pelosok Tanah Air agar tetap tenang, menjaga persatuan, dan waspada. Sebab, hanya dengan upaya bersama seluruh bangsa terorisme dapat diberantas.

"Kita harus bersatu melawan terorisme," tegas Jokowi.

Presiden juga mengajak seluruh elemen bangsa mendoakan para korban yang meninggal dunia agar mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah SWT dan kepada keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan.

"Korban-korban yang luka-luka, mari kita doakan agar diberi kesembuhan dan negara, pemerintah, menjamin semua biaya pengobatan dan perawatan para korban," katanya.



Sumber: Investor Daily

CLOSE