Lion Air, Singa Udara di Asia Tenggara


Aditya L Djono / ALD Rabu, 31 Oktober 2018 | 15:59 WIB

Jakarta – Maskapai penerbangan Lion Air kerap menjadi sorotan pemberitaan. Mulai dari aksi bisnisnya yang sangat ekspansif, hingga sejumlah kecelakaan pesawat yang menimpa armada mereka. Sorotan terakhir adalah jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP, yang tengah menjalani penerbangan JT-610, dengan rute Jakarta-Pangkalpinang, pada Senin (29/10) pagi.

Pesawat jenis Boeing 737-Max8 yang mengangkut 189 penumpang dan awak tersebut, jatuh di perairan sebelah utara Kabupaten Karawang, Jabar, 13 menit setelah take off dari Bandara Soekarno-Hatta, pada pukul 06.20 WIB. Seluruh penumpang dan awak diperkirakan tewas. Kecelakaan tersebut menjadi yang terburuk dengan jumlah korban tewas terbanyak dalam 20 tahun terakhir.

Lion Air boleh dikata maskapai yang tak pernah sepi dari persoalan. Begitu sering terdengar keluhan penumpang karena pesawat yang hendak membawa mereka terlambat berjam-jam, tanpa kejelasan penyebab dan kepastian kapan berangkat. Juga seringnya pesawat Lion mengalami gangguan saat penerbangan maupun pendaratan.

Meski demikian, penumpang maskapai ini tak pernah sepi. Mengusung konsep maskapai berbiaya rendah (low cost carrier/LCC), Lion sukses merajai bisnis transportasi udara di Tanah Air. Berkat LCC, Lion menjadi pilihan mayoritas penumpang moda transportasi udara, karena harga tiket yang murah.

Statistik menunjukkan, sesuai namanya, Lion Air menjadi “singa udara” yang menguasai pangsa pasar penumpang domestik. Data Ditjen Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan menunjukkan, dengan mengandalkan tiga maskapai yang beroperasi, yakni Lion Air, Batik Air, dan Wings Air, grup Lion mengangkut lebih dari 48 juta orang dari total sekitar 96 juta penumpang pesawat rute dalam negeri sepanjang 2017. Dengan demikian, pangsa pasar Lion Air mencapai 50%.

Jika dilihat secara individual, Lion Air menguasai pangsa pasar sebesar 34%, disusul Garuda Indonesia 20%, Citilink 13%, Batik Air 10%, Sriwijaya Air 10%, dan Wings Air 6%.

Pangsa pasar Lion Air juga cukup signifikan dalam mengangkut penumpang internasional. Data yang sama menunjukkan, pangsa pasar penumpang internasional yang diangkut maskapai nasional dikuasai Garuda Indonesia dengan 39%, disusul Indonesia AirAsia 26%, Lion Air 18%, Indonesia AirAsia Extra 10%, dan Batik Air 4%. Dengan demikian, di segmen ini Lion Air bersama Batik Air menguasai 22% pangsa pasar.

Melihat fakta tersebut, posisi Lion Air –bersama Batik Air dan Wings Air— dalam industri jasa penerbangan di Tanah Air sangat strategis. Di tengah upaya pemerintah meningkatkan konektivitas, termasuk mendorong jasa transportasi udara, kontribusi  grup Lion Air tak bisa disepelekan. Bisa dibayangkan jika Lion Air menghentikan operasional atau dibekukan oleh pemerintah, jasa penerbangan udara nasional seketika terguncang. Di tengah tren penumpang udara yang bertumbuh, tiba-tiba terjadi over demand, lantaran ada 50% penumpang tidak terangkut.

Raja di Asia Tenggara
Sebagaimana layaknya sang raja rimba, Lion Air juga menjadi “singa” yang menguasai belantara bisnis penerbangan di Asia Tenggara. Selain dua anak maskapai di dalam negeri, yakni Batik Air dan Wings Air, kepak sayap Lion Air juga melebar ke negara tetangga, dengan menghadirkan Malindo Air (Malaysia) dan Thai Lion Air (Thailand).

Beroperasi dengan lima maskapai di Asia Tenggara, Lion Air sukses menjadi grup maskapai yang memiliki armada terbanyak dengan 294 unit pesawat. Di tempat kedua, Garuda Indonesia, yang bersama Citilink tercatat mengoperasikan 192 pesawat. Disusul Singapore Airlines, dengan 3 maskapai mengoperasikan 191 pesawat, dan AirAsia dengan 186 pesawat.

Jumlah pesawat yang dioperasikan Lion Air bahkan melebihi pesawat yang dioperasikan dua maskapai besar asal Malaysia, AirAsia dan Malaysia Airlines, yakni 288 unit.

Pesatnya pertumbuhan bisnis Lion Air, tak lepas dari strategi ekspansi yang luar biasa sejak pertama kali mengudara pada Juni 2000. Lion mengalami penambahan armada secara signifikan dengan menandatangani sejumlah kontrak pembelian bernilai jumbo. Dua produsen utama pesawat udara, Boeing dan Airbus, mengantongi kontrak lebih dari US$ 46 miliar untuk 234 armada Airbus A-320 dan 203 unit Boeing 737 Max.

Nilai pembelian yang sedemikian besar, memungkinkan bos Lion Air menandatangani kontrak dengan disaksikan langsung Presiden AS Barack Obama dan Presiden Prancis Francois Hollande.

Selain belanja armada, strategis bisnis Lion adalah memperluas cakupan layanan. Jika pada awal kehadirannya hanya fokus pada konsep LCC, mulai 2013, Lion menjangkau kelas penumpang yang lebih tinggi, yakni full service. Untuk melayani segmen ini, Lion mendirikan Batik Air, yang pertama kali beroperasi dengan armada Boeing 737-900ER. Meski ada Batik Air, fokus bisnis Lion Air tetap pada segmen LCC, baik pada rute domestik maupun regional.



Sumber: Suara Pembaruan

Lion Air, Motor Pertumbuhan Bisnis Penerbangan


Aditya L Djono / ALD Rabu, 31 Oktober 2018 | 16:24 WIB

Toulouse - Wajah Rusdi Kirana tampak cerah. Senyum tersungging di bibirnya, seiring langkahnya menuruni tangga pesawat sesaat setelah mendarat di Blagnac International Airport, Toulouse, Prancis, pada 18 Maret 2013 siang.

Dari tangga pesawat, di kejauhan tampak pesawat Airbus A320 terparkir. Di badan pesawat tulisan “Lion, Thank You” tampak mencolok dengan warna oranye. Di bawah pesawat, tak kurang 200 orang berkaus biru bertuliskan “Airbus A320 Team” berjajar rapi sembari bertepuk tangan. Mereka adalah karyawan Airbus yang menyambut kedatangan Rusdi bersama jajaran petinggi Airbus. Rusdi pun menghampiri pasukan biru tersebut dan menyalaminya.

Itulah sambutan yang diberikan Airbus, produsen pesawat terkemuka di Eropa, terhadap CEO Lion Air Rusdi Kirana beserta rombongan, di markas Airbus, Toulouse. Sebelumnya, pada pagi harinya, Rusdi dan CEO Airbus Fabrice Bregier meneken kontrak pemesanan 234 pesawat Airbus oleh Lion Air. Penandatanganan tersebut disaksikan langsung Presiden Prancis Francois Hollande, di Istana Presiden Elysee, Paris.

Kontrak pemesanan senilai US$ 24 miliar atau sekitar Rp 288 triliun tersebut terdiri dari 109 unit pesawat A320Neo, 65 unit A321Neo, dan 60 unit A320Ceo. Aksi korporat yang dilakukan Lion Air tersebut, bagi Airbus, merupakan kontrak tunggal terbesar yang pernah diperoleh.

Bagi Prancis, kontrak tersebut sangat membantu perekonomian mereka yang dibayangi dampak krisis ekonomi Eropa. Sebab, kontrak Lion Air telah mengamankan 5.000 pekerja di Prancis selama 10 tahun ke depan. Hal tersebut diakui sendiri oleh Hollande, di tengah tekanan PHK di banyak perusahaan Prancis, dan meroketnya angka pengangguran hingga di atas 10 persen. Tak berlebihan jika dia bersedia menjadi saksi mata penandatanganan kontrak oleh Lion dan Airbus.

“Kerja sama ini sangat membanggakan, tidak hanya bagi Prancis, tetapi juga bagi Eropa. Airbus merupakan kebanggaan Prancis dan Eropa, sebagai salah satu pilar ekonomi kami,” tandas Hollande saat menyaksikan penandatanganan.

Megakontrak tersebut menempatkan Lion Air dalam daftar klien papan atas Airbus. Sebelum meneken kontrak pembelian dengan Airbus, Lion Air membuat gebrakan melalui kontrak pemesanan 230 pesawat Boeing tipe B737 MAX dan B737-900ER, senilai US$ 22 miliar, atau sekitar Rp 210 triliun. Penandatanganan kontrak oleh Rusdi Kirana dan pihak Boeing disaksikan Presiden AS Barack Obama, di Bali, pada November 2011.

Chief Executive Officer (CEO) Lion Air, Rusdi Kirana (kiri) berjabat tangan dengan CEO Airbus Fabrice Bregier (kanan), seusai penandatanganan kontrak pembelian 234 pesawat Airbus A320, senilai US$ 24 miliar, disaksikan Presiden Prancis Francois Hollande (belakang tengah), di Istana Presiden Elysee, Paris, 18 Maret 2013.

Terkait pembelian 234 pesawat Airbus, Rusdi menuturkan pembiayaannya berasal dari lembaga kredit ekspor (Export Credit Agency/ECA) tiga negara, yakni Prancis, Inggris, dan Jerman. Pinjaman dari tiga negara tersebut mencapai 85 persen. Sisanya, berasal dari sindikasi. Dengan demikian, hampir seluruh sumber dana berasal dari pinjaman.

Hal tersebut, bagi Rusdi menunjukkan maskapainya dipercaya produsen pesawat kelas dunia. “Ini modal kepercayaan, mereka tentunya melihat track record kami,” jelasnya.

Keseluruhan kontrak pembelian tersebut direncanakan tuntas pada 2026. Maskapai itu menargetkan memesan hingga 1.000 unit pesawat tahun 2027. “Tentu tidak semua mengudara, karena pemesanan ini juga untuk mengganti pesawat yang sudah tua,” jelasnya.

Rusdi mengakui, aksi korporat yang dilakoni Lion Air, semata-mata untuk merespons tingginya pertumbuhan di pasar angkutan udara, baik di dalam negeri, maupun di Asia Pasifik. “Terutama mengantisipasi era ASEAN open sky policy pada 2015,” katanya kala itu. Hal itu telah dibuktikannya melalui maskapai Malindo Airways yang berbasis di Malaysia.

“Bisnis angkutan udara, mau tak mau kita berbicara tentang teknologi yang terbaru, sehingga perawatan pesawat lebih murah, bahan bakar lebih efisien, sehingga bisa melayani pasar dengan lebih baik,” sambungnyanya.

Kunci Pertumbuhan
Menurut Chief Operating Officer Customer Airbus John Leahy, salah satu kunci pertumbuhan pasar angkutan udara di Asia Pasifik adalah Indonesia. Faktornya, Indonesia memiliki jumlah penduduk lebih 250 juta orang, atau keempat terbesar di dunia, dengan wilayah geografis berupa kepulauan.

“Dengan populasi sebanyak itu, baru 10% penduduk Indonesia yang bepergian dengan pesawat komersial. Tentu ini peluang pasar yang sangat besar,” jelasnya.

Secara khusus, Leahy menekankan kehadiran Lion Air sebagai pemain kunci dalam bisnis angkutan udara di Indonesia, bahkan Asia Tenggara.



Sumber: Suara Pembaruan

CLOSE