Nilai Kepahlawanan Meredup


Yustinus Paat / Dina Fitri Anisa / Lona Olavia / Hotman Siregar / AO Jumat, 9 November 2018 | 14:30 WIB

Jakarta - Para pahlawan masa lalu telah menumpahkan darah dan air untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Semua itu dilakukan agar rakyat dan bangsa Indonesia bebas menentukan nasib sendiri serta menjadi negara yang adil dan makmur. Kini, nilai-nilai kepahlawan itu kian meredup.

Pahlawan masa kini bukan lagi mati di medan tempur, melainkan mereka yang habis-habisan memperjuangkan pluralisme, keadilan, membela kebenaran, mengurangi kemiskinan, memberantas kebodohan, mengangkat harkat dan martabat bangsa melalui prestasi, serta tidak ikut-ikutan menebarkan kebencian yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Nilai-nilai kepahlawanan seperti itu yang harus kita perjuangkan terus untuk mewujudkan keadilan sosial.

Ekonom dari Universitas Surakarta, Jawa Tengah, Agus Trihatmoko mengatakan, Perjuangan generasi bangsa di era mmoderen saat ini tidak kalah penting dibandingkan dengan para pejuang masa penjajahan dan kemerdekaan. Bagi generasi sekarang, makna Perjuangan bukan lagi untuk mengusir penjajah.

“Pahlawan masa kini berjuang untuk meneruskan cita-cita luhur para pejuang masa lalu, yaitu menegakkan kedaulatan hidup bangsa Indonesia agar sejajar dengan bangsa maju di dunia,” ujar Agus kepada BeritaSatu.com di Jakarta, Jumat (9/11).

Dikatakan, kedaulatan hidup bangsa dari perspektif ekonomi adalah kedaulatan ekonomi, karena perekonomian menjadi alat utama untuk memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara. Memperjuangkan perekonomian Indonesia sebenarnya telah diamanatkan oleh konstitusi pada Pasal 33 UUD 1945, yaitu untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Saat ini, kata dia, masih ada ketimpangan antara kelompok kaya dan miskin serta pengusaha besar dan kelompok usaha mikro-kecil. “Oleh sebab itu, jiwa kepahlawan generasi sekarang diharapkan tetap bergelora untuk ambil bagian sebagai pejuang-pejuang ekonomi untuk mewujudkan amanat konstitusi kita,” ujarnya.

Dikatakan, perjuangan terhadap pembangunan ekonomi nasional diharapkan dapat mengatasi isu-isu kemiskinan, pengangguran, kebodohan, termasuk isu-isu sosial dan politik. Partisipasi aktif oleh setiap warga negara dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, pemberdayaan ekonomi kelas menengah-bawah, penciptaan pemerintahan yang bersih, serta meredam liberaliasi ekonomi dan politik merupakan contoh praktik mengamalkan jiwa kepahlawan masa kini.

Kepentingan Bersama
Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Sahat Sinurat mengatakan, pahlawan dalam kehidupan sehari-hari adalah orang-orang yang rela berjuang dan berkorban bagi orang lain. Pahlawan, kata dia, adalah orang-orang yang siap berjuang dan berbuat untuk kepentingan bersama.

“Mereka bekerja dengan ikhlas, bahkan terkadang mengorbankan kepentingan sendiri,” kata Sahat. Pada era sekarang, pahlawan adalah orang-orang biasa yang melakukan hal yang luar biasa. Bisa saja seorang pemuda atau orangtua, pedagang di pasar atau pengusaha, bahkan ibu rumah tangga atau pegawai di kantor.

Mereka disebut pahlawan karena melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain, bahkan melebihi kapabilitasnya sendiri. Sayangnya, ujar Sahat, di tengah kebutuhan akan pahlawan-pahlawan masa kini, ada saja orang-orang yang mengaku sebagai pahlawan namun justru membawa kesengsaraan dan memecah belah persatuan.

“Mereka berkostum pahlawan, padahal sebenarnya mereka musuh yang harus dilawan. Ada yang mengesankan dirinya sebagai penyelamat, nyatanya justru membawa mudarat. Ada juga yang menunjukkan diri sebagai pembela keadilan, padahal mereka yang justru melakukan kesewenang-wenangan,” kata dia.

Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Juventus Prima Yoris Kago mengatakan, bangsa Indonesia akhir-akhir ini disuguhkan dengan situasi hiruk pikuk, saling sikut, dan saling menjatuhkan satu sama lain. Situasi ini, kata dia, bisa berdampak pada tergerusnya persatuan dan kesatuan bangsa. “Karena itu, makna pahlawan di era sekarang adalah keharusan dan kewajiban menjaga soliditas nasional atau persatuan nasional yang telah dibangun oleh para founding fathers kita,” ujar Juventus.

Dia menilai, memudarnya semangat kepahlawan untuk menjaga persatuan dan kesatuan karena kepentingan-kepentingan sesaat, terutama dari para elite politik. Demi kepentingan politik-ekonomi sesaat, mereka menghalalkan segala cara yang bisa berdampak negatif terhadap soliditas bangsa.

“Kita sudah kehilangan semangat kepahlawanan, karena sudah tidak ada semangat sense of nation atau rasa kebangsaan. Kita tidak boleh menjadi anak-anak bangsa yang mengkhianati semua tetes darah serta keringat perjuangan para pahlawan dulu,” tuturnya.

Dia mengajak semua pihak, khususnya para elite politik, untuk kembali membangun semangat kepahlawanan untuk menciptakan stabilitas, hidup saling menghargai dan membangun Indonesia tanpa sekat. Menurut dia, dengan cara tersebut, setiap pribadi Indonesia akan menjadi pahlawan bagi diri sendiri, sesama, dan bangsa Indonesia.

Krisis Kepahlawanan
Sejarahwan JJ Rizal menambahkan saat ini Indonesia sedang krisis nilai teladan kepahlawanan. Menurutnya, hal itu terjadi karena tidak sedikit masyarakat Indonesia yang gagal memahami makna dari kepahlawan yang sesungguhnya.

Dikatakan, pahlawan bukan hanya orang yang mengangkat senjata dan berjuang di medan peperangan. Justru kebanyakan pahlawan itu adalah orang-orang yang berkarya melalui pikiran dan jalan intelektualisme, seperti Ir Soerkarno, Moh Hatta, dan MH Thamrin. Mereka berjuang melalui pena dan literature.

“Indonesia didirikan dari kata-kata, bukan hanya dari senjata,” kata Rizal. Namun, menurut dia, persepsi itu telah tersamar dan diubah oleh rezim otoriter militer saat berkuasa di Indonesia. Kepahlawanan seolah hanya orang yang berperang dan berdarah-darah. Pemahaman seperti itu tidak keliru, tetapi bukan nilai pokok dan substansi dari arti kepahlawanan yang sesungguhnya.

Politisi muda PKS, Suhud Alynuddin mengatakan, makna pahlawan zaman sekarang adalah orang-orang yang berjuang tanpa pamrih untuk kebaikan hidup orang lain. Mereka berjuang dengan cara-cara terhormat, sehingga tidak menyinggung atau mengorbankan orang lain.

“Jadi, pahlawan adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya, sehingga hidupnya diarahkan untuk kebaikan hidup orang lain,” ujar Suhud. Yang diinginkan seorang pahlawan, kata dia, adalah kebaikan orang lain. Pahlawan adalah orang yang rela mengorbankan dirinya demi kebaikan orang.

Politisi muda Partai Gerindra Saraswati Djojohadikusumo mengatakan, pahlawan yang dibutuhkan saat ini adalah orang-orang yang mampu menjaga literasi masyarakat dalam menangkap informasi yang berseliweran di media sosial. Dulu, kata dia, sebelum kemerdekaan, para pejuang mempunyai pekerjaan rumah besar, yakni memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan.

“Kini PR itu berganti menjadi bagaimana memunculkan pahlawan-pahlawan yang dengan sukarela mengedukasi, mengampanyekan, dan menjaga akal sehat masyarakat dari berita bohong yang memecah belah,” ujarnya.

Menurut dia, menjadi pahlawan seperti itu tidak mudah. Ada hal subtansial yang salah dalam sistem pendidikan kita selama ini, yakni dominasi pola menghafal pelajaran atau data yang diperoleh daripada menganalisis dan mengkajinya.

Kebiasaan itu terbawa saat bergaul di dunia media sosial. Pengguna media sosial sering kali langsung menangkap informasi tanpa melakukan kajian dan analisis mendalam terhadap hal itu. Hal ini semakin diperparah dengan memunculkan fenomena ruang gema (echo chamber) atau fenomena di mana pengguna media sosial berada pada lingkungan pertemanan yang berpikiran serupa.

Ketua bidang Keanggotaan DPP Partai Hanura, Adrianus Garu mengatakan, sosok pahlawan yang dibutuhkan saat ini adalah orang bisa mempertahankan NKRI dari perpecahan. Sosok seperti itu sangat penting, karena ada potensi perpecahan akibat menggunakan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dalam meraih kekuasaan.

“Kalau dulu, seluruh Bapak Pendiri Bangsa berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan. Sekarang, pahlawan yang‎dibutuhkan adalah mereka yang bisa mempertahankan NKRI. Pahlawan yang tidak memolitisasi SARA untuk meraih kekuasaan. Pahlawan yang tidak mengkafirkan orang lain,” ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com

Semua Orang Bisa Menjadi Pahlawan


Markus Junianto Sihaloho / Aries Sudiono / Fuska Sani Evani / Hotman Siregar / AO Jumat, 9 November 2018 | 14:30 WIB

Jakarta - Setiap orang bisa menjadi pahlawan di era sekarang. Kuncinya adalah memiliki semangat dan perjuangan yang luar biasa dalam mengabdikan diri melalui profesi masing-masing secara bertanggung jawab untuk kebaikan bangsa dan negara.
Nilai-nilai kepahlawanan harus terinternalisasi di dalam setiap warga negara sehingga dapat terwujud dalam tindakan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut sangat bermanfaat dalam menangkal musuh di era digital, yakni anasir pemecah belah bangsa yang bergirilya menggunakan senjata kabar bohong (hoax).

Demikian benang merah wawancara BeritaSatu.com dengan Ketua DPR Bambang Soesatyo, Gubernur Jatim terpilih Khofifah Indar Parawansa, Bupati Sleman Sri Purnomo, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, Ketua DPP PDI-P Andreas Hugo Pareira, dan Waketum DPP Partai Gerindra Arief Poyuono,terkait nilai kepahlawanan masa kini.

Menurut Bamsoet, sapaan akrab Bambang Soesatyo, sekarang kepahlawanan bukan lagi mati di medan tempur. Pahlawan nasional yang gugur di medan pertempuran rela melakukan semuanya itu demi sebuah cita-cita luhur bangsa dan negara. Untuk saat ini, mereka yang memiliki tekad dan mampu membuktikan hal yang sama, walau tidak bertempur di peperangan, adalah juga pahlawan.

Di era kemerdekaan dan pembangunan, pahlawan adalah mereka yang habis-habisan bekerja dalam memperjuangkan pluralisme, keadilan, dan membela kebenaran. Demikian juga orang-orang yang mampu membuka lapangan pekerjaan, bekerja dalam upaya mengurangi penduduk miskin dan memberantas kebodohan.

“Mereka yang mengangkat harkat bangsa Indonesia lewat berbagai prestasi yang mengharapkan nama Indonesia di pentas dunia adalah juga pahlawan. Nilai-nilai kepahlawanan ini, mari kita wujudkan dalam kehidupan kita saat ini," kata Bamsoet.

Senada dengan Bamsoet, Khofifah mengatakan, pahlawan-pahlawan saat ini tidak berteriak-teriak menyebut dirinya sebagai pahlawan. Mereka itu adalah guru-guru kita, orangtua kita, yang membesarkan kita.

Tokoh pahlawan sejati yang menjadi idola dan sekaligus menginspirasi Khofifah adalah ibu. Sosok ibu merupakan tokoh pahlawan yang tidak pernah lelah berjuang untuk anak-anaknya. Sosok ibunya berjuang memberikan yang terbaik kepada (anak-anak)-nya, termasuk mengantarkannya menjadi cerdas dan pintar. “Ibu sosok yang mampu mengantarkan (saya) melewati gelombang kehidupan,” kata mantan Menteri Sosial RI ini.

Pahlawan di zaman sekarang ini adalah pahlawan yang harus meneruskan perjuangan para pahlawan bangsa sebelumnya dengan mengisi kemerdekaan itu sendiri dengan memperkokoh persatuan dan kesatuan. Ke depan, pahlawan-pahlawan yang ada di sekitar kita itu selalu berpikir positif dan konstruktif, yang membangun dan merekatkan persatuan bangsa untuk semata-mata memajukan (rakyat) Indonesia ke depan.

Menurut Khofifah, Indonesia masih kekurangan perempuan pahlawan nasional. Ketika ia menjabat Mensos, dari total 169 pahlawan nasional yang diakui hanya 13 orang di antaranya perempuan. Tanpa maksud membeda-bedakan terkait gender, ia mengaku bangga bisa ikut berkontribusi mendukung usulan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) mengusulkan Laksamana Malahayati sebagai pahlawan perempuan asal dari Aceh, di tahun 2017 sebagai pahlawan nasional.

Untuk mendapat gelar pahlawan nasional dari Presiden, nama diusulkan oleh kelompok masyarakat kemudian dikaji Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pahlawan (TP2GP) yang melibatkan unsur TNI, Polri, Perpustakaan Nasional, Kementerian Sekretariat Negara dan sejarawan, bersama Dewan Gelar Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan RI yang diketuai Menteri Pertahanan.

Menurut Khofifah, untuk bisa menjadi pahlawan di masa kini, bukan hal yang sulit. Selama mereka sudah berkorban, baik tenaga, pikiran, waktu, maupun materi untuk kepentingan orang banyak, maka dialah pahlawan yang sesungguhnya.

Internalisasi
Fahri Hamzah menyatakan, sangat penting untuk menginternalisasi nilai-nilai kepahlawanan dari para pahlawan nasional yang gugur saat era perang kemerdekaan, khususnya soal kesukarelawanan dan kemampuan memikul beban orang lain.

Bagi Fahri, tetap penting mendalami atau mengendapkan dalam perasaan dan pikiran tentang nilai-nilai kepahlawanan yang ada dalam pahlawan nasional, seperti keberanian, kesukarelawanan, dedikasi, pengabdian, kekuatan hati, kemantapan, dan idealisme yang berjuang tanpa pamrih untuk kemerdekaan.

"Jadi internalisasi nilai-nilai itu, yang diendapkan dalam diri satu bangsa, lebih penting diutamakan lebih dulu. Dari situ kita akan temukan, salah satu watak esensial kepahlawanan adalah kesukarelawanan dan kemampuan memikul beban orang,” ujar Fahri.

Dengan internalisasi itu, lanjut Fahri, diyakininya bahwa semua warga masyarakat akan mampu menghadapi secara bersama apapun masalah yang dihadapi. Jika nilai-nilai itu belum diinternalisasikan, Fahri khawatir definisi kepahlawanan baru yang coba ditawarkan di masa kini, akan menjadi bias karena adanya kepentingan.

Fahri menyontohkan, sebenarnya adalah tugas negara untuk memperjuangkan pluralisme, keadilan, dan menyediakan lapangan pekerjaan. Namun kegagalan negara dalam mewujudkannya, misalnya, tertutupi oleh pengondisian bahwa masyarakat yang harus mewujudkannya agar bisa menjadi pahlawan di masa kini.

“Ini penting sehingga masyarakat tak menjadi korban dari ketidakmampuan aparat negara dalam mengatasi masalah yang ada. Makanya, jauh lebih baik kembali ke nilai dasar supaya kita tak meleset. Kalau itu kita punya, saya yakin beban bisa kita tanggung," beber Fahri.

Sedangkan, Sri Purnomo menyoroti musuh bersama saat ini yakni hoax yang sengaja dihembuskan untuk memecah belah persatuan bangsa. “Penangkal berita hoax tetap berada pada masyarakat. Hoax harus kita tangkal. Jangan kita larut,'' ujarnya, Jumat (9/11).

Caranya adalah dengan mengabaikan hoax serta melaporkan. Menjaga kedaulatan dan pertahanan negara adalah tanggung jawab semua elemen masyarakat dan bangsa Indonesia. Semua harus saling bersinergi untuk menciptakan rasa aman dan nyaman.

Perkembangan teknologi pasti selalu berimplikasi pada hadirnya sosial media dengan muatan informasi yang mudah diakses semua kalangan, sehingga tidak sedikit yang memanfaatkannya untuk mengubah moral serta kepribadian masyarakat.
“Hoax harus dianggap ancaman. Semacam agresi sosial,” tegasnya.

Andreas Hugo Pareira menilai semangat persatuan merupakan semangat kepahlawanan yang mengedepankan kepentingan nasional namun cenderung meluntur di sebagian kalangan elite nasional saat ini. Hoax dan ujaran kebencian membuat semangat persatuan dan kesatuan, yang dulu diperjuangkan para pahlawan nasional, terus memudar.

Menurut Andreas, faktanya memang beberapa elite yang sangat berambisi meraih kekuasaan, justru menggunakan media sosial sebagai instrumen untuk mengadu domba dan memecah belah masyarakat. “Elite semacam itu memang rendah kualitas kenegarawanan dan melihat politik sebagai cara meraih kekuasaan dengan berbagai macam cara termasuk media sosial,” kata Andreas.

Ketika semangat kepahlawanan masa kini terwujud melalui kerja keras di segala bidang, Indonesia justru masih disibukkan dengan persoalan-persoalan dalam negeri akibat ulah elite-elite yang ambisius. “Kita kehilangan momentum untuk melakukan konsolidasi secara nasional demi mempercepat pembangunan bangsa, meningkatkan daya saing di lingkungan melalui kerja-kerja yang produktif,” kata Andreas.

Sedangkan menurut Arief Poyuono jika elite politik dan pemerintah berkomitmen dengan janjinya menjalankan pemerintahan maka dengan sendirinya tidak akan ada hoax. Arief masih percaya bahwa masyarakat tidak akan mempan dipengaruhi hoax. Masyarakat sudah jauh lebih cerdas.

Arief mencontohkan, Presiden Jokowi mengatakan bahwa ada politik identitas dan politik penyebaran kebencian yang dimainkan misalnya dalam Pilkada DKI namun hingga hari ini Arif mengaku tidak melihat perpecahan di masyarakat Jakarta.
Begitu juga tentang isu-isu kalau Joko Widodo itu anak PKI. Ia mengaku sangat tidak suka dan tidak setuju isu itu dibesar besarkan dan memang nyatanya isu-isu PKI sudah tidak laku di masyarakat.



Sumber: BeritaSatu.com

Pahlawan Olahraga Angkat Martabat Bangsa


Hendro D Situmorang / AO Jumat, 9 November 2018 | 14:30 WIB

Jakarta - Para atlet Indonesia terus memberi kebanggaan bagi bangsa dengan mengibarkan bendera Merah Putih di pucuk tertinggi kejuaraan olahraga. Baik secara individu maupun beregu, mereka membuktikan bisa menjadi yang terbaik dalam setiap kompetisi.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi mengatakan, para atlet yang berprestasi merupakan pejuang olahraga yang sebenarnya dan pantas menyandang gelar pahlawan. Mereka telah mengharumkan serta mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia. Di bidang olahraga, mereka berulang kali menyelamatkan wajah Indonesia di pentas dunia.

”Pahlawan olahraga kita telah membuktikan bekerja keras tanpa henti, berlatih keras, dan penuh disiplin. Sudah banyak olahragawan kita yang menorehkan prestasi hebat dan luar biasa. Semoga prestasi yang sudah diberikan kepada bangsa dan negara melalui olahraga selalu dikenang serta menjadi penyemangat bangsa untuk maju dan terus berprestasi,” ujar Menpora di Jakarta, Kamis (8/11).

Deputi 3 Bidang Pembudayaan Olahraga Kempora, Raden Isnanta menambahkan, peringatan Hari Pahlawan tahun ini menjadi momentum bagi atlet nasional untuk bersatu padu mengukir prestasi di ajang-ajang olahraga, seperti SEA Games Manila, Filipina, 2019, dan Olimpiade Tokyo, Jepang, 2020.

“Melalui prestasi atlet di kancah internasional lagu Indonesia Raya dapat dikumandangkan dan mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Hal itulah yang membuat atlet bisa dikatakan sebagai pahlawan bangsa. Mereka layak mendapatkan Penghargaan, seperti Eko Yuli Irawan yang baru saja meraih medali emas pada kejuaraan dunia di Turkmenistan,” ujarnya.

Lifter Indonesia, Eko Yuli mengatakan, pada era milenial saat ini, cara kita melanjutkan perjuangan para pahlawan berbeda dengan para pejuang dalam meraih kemerdekaan. Sekarang, pahlawan tidak lagi menggunakan senjata dan bertempur. Generasi muda saat ini bisa menjadi pahlawan dengan meraih prestasi untuk nama bangsa, termasuk para olahragawan atau atlet sebagai pejuang olahraga.

“Kami, generasi muda yang terjun sebagai atlet nasional, terus berusaha keras mengibarkan nama Indonesia di pentas olahraga internasional. Harapan kami, nama harum bangsa dan negara Indonesia terus berkumandang karena prestasi. Saya berterima kasih pemerintah saat ini sangat memperhatikan prestasi atlet yang telah ditorehkan dengan kerja keras tanpa kenal lelah,” ujar Eko.

Senada dengan itu, atlet bulutangkis Greysia Polii mengatakan, dirinya menghargai para pahlawan olahraga sebelumnya, terutama para legenda bulutangkis, yang berprestasi mengangkat nama Indonesia ke pentas dunia. Perjuangan mereka membuat bulutangkis Indonesia semakin maju.

Menurut Greysia, kalau tidak ada para pebulutangkis yang sudah menyumbangkan banyak medali bagi Tanah Air, prestasi Indonesia tidak akan maju. “Saya mengapresiasi para pejuang bulutangkis sebelumnya. Harus kita akui, atlet zaman sekarang dan yang akan datang harus tahu siapa saja para pendahulu mereka. Pahlawan olahraga itu yang telah mendedikasikan dirinya selain untuk bangsa juga untuk regenerasi berikutnya,” ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com

CLOSE