Teroris Kalah Perang


Nurlis E Meuko / NEF Rabu, 30 Mei 2018 | 01:32 WIB

Ramadan kali ini berjalan tenang dan nyaman di Raqa, Suriah. Orang-orang bebas memilih berpuasa atau tidak. Para pria muda berkumpul di sebuah restoran di pusat kota menikmati buah-buahan dingin di bawah terik matahari. Tidak seperti sebelumnya, ketika kota paling sekuler ini berada di bawah kendali kelompok Islamic State (IS), penduduk senantiasa dihantui kecemasan. Bahkan, menjadikan Raqa sebagai markas mereka.

Lebih tiga tahun, penduduk Raqa menjadi sasaran interpretasi hukum Islam yang sangat ketat, khususnya selama bulan suci Ramadan.

"Mereka yang tidak berpuasa terkunci di kurungan besi di lapangan umum, di bawah matahari dan di depan semua orang, untuk dijadikan contoh," kenang Ahmad al-Hussein, penduduk Kota Suriah di wilayah utara yang merupakan tempat suci dari "khilafah" IS.

Hussein, tukang batu yang berusia empat puluhan, kini menjalani ibadah puasa sembari melanjutkan ritual khususnya: bersama keluarganya berkumpul di depan televisi untuk menonton serial drama selama sebulan yang disiarkan khusus selama Ramadan.

"Kami merindukan tradisi Ramadan ini. Selama empat tahun di bawah IS, kami dilarang menonton serial ini," kata Hussein kepada AFP.

Sebelumnya IS menghentikan segala bentuk hiburan yang dianggap bertentangan dengan agama.

Kini beribadah di Raqa hanya ditentukan oleh ukuran keimanan seseorang, bukan karena takut disatroni IS.

"Kami bebas untuk berpuasa atau tidak," katanya.

Serangan AS telah menggulingkan IS dari Raqa pada Oktober tahun lalu, setelah berbulan-bulan bentrokan dan pengeboman yang menyebabkan kota hancur dan dipenuhi bahan peledak.

Kendati demikian, puluhan ribu warga telah kembali ke rumah mereka dan memulai Ramadan dengan suasana yang lebih nyaman.

Di salah satu pasar jalanan, orang-orang Suriah berjalan-jalan di antara kios-kios bertumpuk tinggi dengan jeruk wangi, pisang, kembang kol putih terang, kentang, dan terong berwarna ungu tua.

Namun, tukang roti Hanif Abu Badih merasa optimistis. "Tidak ada perbandingan. Terlepas dari semua kehancuran, orang-orang sangat senang bahwa mimpi buruk itu berakhir," katanya kepada AFP.

"Tahun ini, kami akan berpuasa tanpa IS. Kami akan hidup semau kami, dengan kebebasan penuh," kata Abu Badih.

Hari Kiamat Nilai Jual Utama
Mimpi buruk di kota Raqa itu adalah IS. Sebuah kelompok yang menamakan dirinya Negara Islam Irak dan Syam, juga dikenal dengan nama Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS atau ISIS), Negara Islam Irak dan asy-Syam, Daesh (ad-Dawlah al-Islamiyah fi 'l-ʿIraq wa-sy-Syam).

Pada 29 Juni 2014, kelompok yang dipimpin Abu Bakr al-Baghdadi dan berganti nama menjadi "Negara Islam" (NI atau IS atau Daesh). IS adalah kelompok Salafi atau Wahhabi (Wahabisme) yang melakukan kekerasan berkedok agama.

Seorang pakar Islamisme militan, William McCants, meyebutkan IS menggunakan hari kiamat sebagai senjata propaganda. Hari kiamat menjadi nilai jual utama. Perang saudara yang berkobar di Irak dan Suriah menguatkan ramalan ini.

Perbedaan antara IS dan gerakan jihadis lainnya, seperti al-Qaeda, adalah penekanannya pada eskatologi dan apokaliptisme iman kepada hari akhirat dan keyakinan bahwa kedatangan Imam Mahdi sudah dekat.

Untuk mencapai tujuannya itu, seorang wartawan Jason Burke--yang menulis tentang Salafisme Jihadi-- menyebut IS menebar teror, memecah belah, mengerahkan para pendukungnya lewat serangkaian motivasi seperti serangan besar mematikan, seperti serangan Paris November 2015.

Selain itu, IS juga "melenyapkan pihak netral dengan memaksa mereka bergabung atau menghancurkan mereka". Target teror mereka termasuk tempat liburan dan resor wisata.

Di Mosul, Irak, IS melarang pelajaran kesenian, musik, sejarah nasional, sastra, dan Kristen. Lagu-lagu patriotik dinyatakan sebagai pengkhianatan, dan foto-foto tertentu dihapus dari buku teks sekolah.

Praktik Genosida Kelompok Teroris
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut IS melanggar hak asasi manusia dan penjahat perang. Bahkan, Amnesty International melaporkan IS melakukan pembersihan etnis "berskala sangat besar". Amnesty International menyatakan IS bertanggung jawab atas pembersihan etnis minoritas agama tertentu di Irak utara dalam "skala yang belum pernah terjadi sebelumnya".

Aksi mereka membuat kaum minoritas "terancam terhapus dari peta Irak”. Sangat banyak laporan mengenai hukuman mati, penyiksaan, mutilasi, dan pembunuhan sejumlah ulama karena menolak IS.

Dalam laporan 2 September 2014, IS "secara sistematis menargetkan permukiman Muslim non-Arab dan non-Suni, membunuh atau menculik ribuan orang dan memaksa lebih dari 830.000 orang mengungsi dari wilayah yang didudukinya sejak 10 Juni 2014.

Di Kota Ghraneij, Abu Haman, dan Kashkiyeh, 700 anggota suku Al-Shaitat yang beraliran Suni dibunuh karena merencanakan pemberontakan terhadap IS.

Umat Kristen yang ingin tetap tinggal di wilayah pendudukan IS diberi tiga pilihan: pindah agama ke Islam, membayar jizyah (upeti), atau dibunuh. IS telah menerapkan aturan serupa bagi umat Kristen di Raqa, kota yang dahulunya sangat liberal di Suriah.

Menjadi Hantu Teror
Pertama kali berdiri dengan nama Jama'at al-Tawhid wal-Jihad pada 1999, mereka kemudian bergabung dengan al-Qaeda pada 2004. Kelompok ini terlibat pemberontakan Irak setelah pasukan koalisi Barat menyerbu Irak 2003.

Setelah invasi Irak 2003, kelompok IS jihadis Salafi asal Yordania, Abu Musab al-Zarqawi, dan kelompok militannya, Jama'at al-Tawhid wal-Jihad, muncul lewat serangkaian serangan bunuh diri.

Lalu, kelompok Al-Zarqawi menyatu dengan jaringan al-Qaeda Osama bin Laden pada Oktober 2004. Mereka berganti nama menjadi Tanzim Qaidat al-Jihad fi Bilad al-Rafidayn (Organisasi Pusat Jihad di Mesopotamia), biasa dikenal dengan nama al-Qaeda di Irak (AQI).

Pada 7 Juni 2006, serangan udara AS menewaskan al-Zarqawi. Posisinya diganti militan asal Mesir, Abu Ayyub al-Masri. Berselang tiga bulan, IS bergabung dengan tiga kelompok kecil dan enam suku Islam Suni dalam "Koalisi Mutayibin", kemudian memproklamasikan Negara Islam Irak (NII) pada Oktober 2006.

Pada 18 April 2010, Abu Ayyub al-Masri dan Abu Omar al-Baghdadi, tewas dalam serangan gabungan AS-Irak di dekat kota Tikrit. Abu Bakr al-Baghdadi menggantikan posisi Abu Ayyub al-Masri pada 16 Mei 2010.

Dua tahun kemudian, al-Baghdadi merilis pernyataan sudah merebut kembali daerah yang dulu mereka kuasai sebelum diusir pasukan Amerika Serikat pada 2007 dan 2008.

Selanjutnya, ia mengumumkan serangan baru di Irak bernama "Breaking the Walls". Tujuannya membebaskan para anggotanya yang ditahan di sejumlah penjara di Irak.

Maka, meningkatlah kekerasan di Irak sejak Juni 2012 lewat serangkaian serangan bom mobil. Pada Juli 2013, jumlah korban tewas mencapai 1.000 orang per bulan untuk pertama kalinya sejak April 2008.

Organisasi ini mengklaim diri sebagai kekhalifahan dunia pada 29 Juni 2014. Abu Bakr al-Baghdadi--dikenal oleh para pendukungnya dengan sebutan Amirul Mu'minin, Khalifah Ibrahim--diangkat sebagai khalifah, dan kelompok ini mengganti namanya menjadi ad-Dawlah al-Islāmiyah, "Negara Islam".

Kendati ditentang tokoh-tokoh Islam di seluruh dunia, al-Baghdadi tak terus menjalankan organisasinya dengan cara-caranya sendiri. Bahkan, mereka juga bergesekan dengan al-Qaeda dan akhirnya menarik diri dari organisasi itu pada 2014.

Mereka melanjutkan teror ke seluruh dunia. Terrorism Research and Analysis Consortium (TRAC) mengidentifikasi 60 kelompok jihadis di 30 negara yang telah berbaiat atau mendukung IS sejak November 2014.

Laju IS di Irak pada pertengahan 2014 diiringi oleh berlanjutnya kekerasan di Suriah. Menurut Reuters, 1.878 orang dibunuh oleh IS di Suriah sepanjang paruh akhir 2014, kebanyakan di antaranya merupakan warga sipil.

Bahkan, menurut majalah Foreign Policy, mereka juga menculik anak-anak berusia enam tahun dikirim ke camp pelatihan militer dan agama. Di sana mereka berlatih memenggal kepala boneka dan didoktrin tentang pandangan agama IS.

Mereka juga gemar memamerkan kesadisannya, seperti aksi memenggal kepala korban, lalu merilis video propaganda yang ditujukan kepada negara-negara Barat.

Teror yang dilancarkan IS, seperti bom bunuh diri dan penculikan serta pemenggalan kepala, tersebar ke seluruh dunia. Pada Juli 2014, BBC melaporkan kepala penyelidik PBB menyatakan IS dimasukkan dalam daftar terduga pelaku kejahatan perang di Suriah.

Teroris Tersingkir
PBB telah memasukkan IS sebagai organisasi teroris sejak 18 Oktober 2004 sebagai badan/kelompok yang berkaitan dengan al-Qaeda.

Pada 24 September 2014, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon menyatakan,"Seperti dikatakan para pemuka agama Islam di seluruh dunia, kelompok-kelompok seperti NIIS (IS), atau Da'isy, tidak ada hubungannya dengan Islam, dan mereka jelas-jelas bukan negara. Mereka lebih pantas disebut 'Non-Negara Non-Islam'."

Sejumlah negara bergabung untuk memerangi kelompok teroris ini yang disebur Koalisi Kontra-NIIS atau Koalisi Kontra-Daesh. Kumpulan negara yang dipimpin AS ini berkomitmen menyerang dan mengalahkan Daesh.

Koalisi ini sejak akhir 2014 meluncurkan serangan udara terhadap kelompok militan ISIS, yang merebut sebagian besar wilayah di Irak pada Juni 2014.

Tentara Irak dan pejuang Kurdi juga memerangi ISIS sebagai bagian dari kelompok yang dipimpin AS. Membombardir tiada henti-henti seluruh kantong-kantong IS.

Tahun 2017 diwarnai oleh kekalahan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). ISIS dipukul mundur dari basisnya di Mosul (Irak) dan Raqa (Suriah). ISIS hanya melakukan serangan-serangan gerilya dari pinggiran-pinggiran kota.

Tak berhenti di sana, kekalahan ISIS terus berlanjut. Para pemberontak kembali kalah dalam pertempuran di Raqa, Suriah. Pada Oktober 2017 milisi yang didukung AS mengibarkan bendera di Stadion Raqa.

Koalisi juga berhasil menyingikirkan mereka dari kantong terakhir perlawanan di Suriah. Tentara Suriah memegang kendali penuh atas ibu kota, Damaskus, dan daerah pinggirannya sejak Senin (21/5).

Penguasaan itu adalah untuk pertama kalinya sejak 2012. Ini menandai tonggak utama dalam perang berkepanjangan yang dimulai pada 2011, dan pemberontak menguasai beberapa bagian dari Damaskus pada tahun berikutnya.

Militer menyatakan telah menggulingkan IS dari zona itu, menyegel kendali atas ibu kota.

"Tentara Suriah mengumumkan bahwa Damaskus, daerah pinggirannya dan kota-kota sekitarnya benar-benar aman," kata Presiden Bashar al-Assad di media resmi.

"Roda kemajuan kami di medan perang tidak akan berhenti sampai semua tanah Suriah dimurnikan," katanya. 

Saat ini Syrian Democratic Forces (SDF) sedang mendekati serangkaian desa yang dikuasai IS di timur Sungai Eufrat yang berliku, dekat perbatasan Irak.

Koalisi mengatakan kepada AFP bahwa mereka mengetahui evakuasi yang dilaporkan dari Yarmuk dan "memantau situasi".
Dikabarkan kelompok IS mengungsi ke kawasan padang pasir.



Sumber: afp, reuters, dailybeast, bbc,

Biaya Teroris, dari Pemerasan hingga Narkoba


Nurlis E Meuko / NEF Rabu, 30 Mei 2018 | 01:48 WIB

Sejumlah negara di Timur Tengah pernah mendapat tudingan sebagai sumber aliran dana Islamic State (IS). Padahal PBB sudah memasukkan organisasi ini ke dalam daftar kelompok teroris. Dana yang disebut-sebut dar Arab Saudi dan negara-negara Teluk, biasanya disebut "sumbangan kemanusiaan", bantuan material oleh pejuang asing, penggalangan dana lewat jaringan komunikasi modern.

Pada Juni 2014, The Daily Beast menuduh Arab Saudi, Kuwait, dan Qatar mendanai IS. Iran dan Irak juga menuduh Arab Saudi dan Qatar mendanai kelompok itu.

Menjelang konferensi pro-Irak anti-ISIS di Paris pada 15 September 2014, menteri luar negeri Prancis menyebutkan sejumlah negara yang hadir, yang Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait, "sangat mungkin" mendanai operasi IS.

Negara Qatar sudah lama diduga menjadi perantara arus pendanaan IS. Menurut Departemen Keuangan Amerika Serikat, sejumlah penyalur dana teroris beroperasi di Qatar.

Beberapa pejabat Amerika Serikat percaya bahwa pangsa terbesar sumbangan pribadi untuk IS dan al-Qaeda justru berasal dari Qatar, bukan Arab Saudi. Namun isu ini dibantah.

Sejumlah media seperti NBC, BBC, dan The New York Times, dan Washington Institute for Near East Policy menerbitkan laporan terkait sumbangan pribadi dari Arab Saudi ke IS dan dukungan Saudi terhadap gerakan Wahabisme di seluruh dunia. Namun Pemerintah Arab Saudi juga menolak tudingan ini. 

Sedangkan Pemerintah Suriah malah dituding bermitra dengan IS. Pada Maret 2015, laporan Uni Eropa mengungkapkan Pemerintah Suriah dan IS bersama-sama mengoperasikan pabrik gas HESCO di Tabqa, Suriah tengah.

Menguasai Sumber Minyak
Sebetulnya, sumbangan luar negeri itu ternyata sangat kecil untuk membiaya gerakan teroris dalam sekala besar ini. Bahkan diperhitungkan hanya mencakupi 5 persen dari total anggaran operasional kelompok ini.

Menurut penelitian Financial Action Task Force tahun 2015, lima sumber pendapatan utama IS adalah rampasan dari pendudukan wilayah (termasuk penguasaan bank, sumber minyak dan gas, pajak, pemerasan, dan perampokan aset-aset ekonomis), dan tebusan penculikan.

Sel-sel di Irak diwajibkan mengirim 20 persen pendapatannya yang diperoleh dari penculikan, pemerasan, dan aktivitas lain ke induknya. Induk organisasi tersebut akan menyalurkannya ke sel-sel provinsi atau lokal yang membutuhkan dana untuk melancarkan serangan.

Pada pertengahan 2014, intelijen Irak mendapatkan informasi bahwa IS memiliki aset US$2 miliar. Seorang pejabat Kementerian Keuangan Amerika Serikat memperkirakan pendapatan IS US$1 juta per hari lewat aktivitas ekspor minyak.

Turki dituduh sebagai salah satu negara yang aktif dalam pasar gelap membantu IS mengekspor minyak dan mengimpor uang tunai. Turki dituduh sebagai negara transit dan dijuluki "gerbang masuk jihad". Disebutkan Turki adalah distributor.

Selain itu, pendapatan energi IS juga datang dari penjualan listrik dari pembangkit listrik di Suriah utara.

Pendapat terbesar lainnya berasal dari penjualan artefak. Lebih dari sepertiga situs sejarah Irak dikuasainya. IS menjarah istana raja Asiria Ashurnasirpal II di Kalhu (Nimrud) yang sudah berdiri sejak abad ke-9 SM. Tablet, manuskrip, dan kuneiform dijual senilai ratusan juta dolar. Artefak jarahan diselundupkan ke Turki dan Yordania.

Pemerasan dan Narkoba
Pajak dan pemerasan juga menjadi sumber pendapat penting bagi IS. Mereka memajaki umat Kristen dan orang asing dengan sebutan wajib pajak jizyah. Kelompok ini rutin memeras dan meminta uang dari sopir truk dan mengancam mengebom toko. Merampok bank dan toko emas merupakan salah satu sumber pendapatan IS.

IS memangkas separuh gaji karyawan pemerintah Irak. Polisi, guru, dan tentara yang sebelumnya bekerja untuk pemerintah Irak masih diizinkan bekerja apabila membayar iuran kartu pertobatan yang harus diperpanjang setiap tahunnya.

Sumber pemasukan yang tak kalah besarnya adalah narkoba. Menurut Victor Ivanov, kepala badan narkotika nasional Rusia, IS mengumpulkan kekayaan dengan menyelundupkan heroin Afghanistan melintasi wilayahnya seperti yang dilakukan Boko Haram. Pendapatan dari sini bisa mencapai $1 miliar per tahunnya.

Mereka juga menggarap lahan pertanian antara Sungai Tigris dan Eufrat menghasilkan separuh produksi gandum tahunan Suriah dan sepertiga produksi gandum tahunan Irak.

Perolehan dana inilah yang kemudian disalurkan ke berbagai penjuru dunia untuk para IS yang menebarkan terornya, termasuk ke Indonesia.



Sumber: afp, reuters, dailybeast, bbc,

Teroris Penindas Perempuan dan Anak-anak


Nurlis E Meuko / NEF Rabu, 30 Mei 2018 | 04:51 WIB

Kelompok teroris IS memang terkenal dengan kekejamannya. Tak hanya persoalan memamerkan pemenggalan kepala dan mutilasi korbannya, mereka juga melakukan perbuatan nista lainnya. Di antaranya, mereka mempraktikkan perbuatan pemerkosaan, nikah paksa, dan perdagangan perempuan sebagai budak seks, khususnya dari kalangan minoritas Kristen dan Yazidi.

Menurut laporan PBB, daftar harga budak seks IS berkisar antara US$ 40 sampai US$ 160. Semakin muda budaknya, semakin mahal harganya.

Anak perempuan dan laki-laki berusia 1–9 tahun dianggap yang paling mahal. Harga termurah diberikan kepada perempuan berusia antara 40 sampai 50 tahun.

Pada pertengahan Oktober, PBB membenarkan bahwa 5.000–7.000 perempuan Yazidi diculik oleh IS dan dijual sebagai budak. Pada Desember 2014, Kementerian Hak Asasi Manusia Irak mengumumkan IS membunuh lebih dari 150 perempuan di Fallujah yang menolak terlibat dalam jihad seks.

Tingkat kejahatan seksual ini bahkan sampai ke pucuk pimpinannya, Abu Bakr al-Baghdadi. Pada Agustus 2015, sebuah pernyataan bahwa seorang perempuan AS yang menjadi tawanan IS, Kayla Mueller, dipaksa menikah dengan Abu Bakr al-Baghdadi yang memerkosanya berkali-kali.

Diberitakan Reuters, informasi ini dikonfirmasi oleh juru bicara keluarga Mueller, Emily Lenzner. Lenzner menyatakan bahwa pejabat dari Pemerintah AS telah menginformasikan kepada orangtua Mueller, Carl dan Marsha Mueller, terkait perlakuan ISIS selama Mueller disandera.

Kayla Mueller adalah seorang aktivis hak asasi manusia dan pekerja bantuan kemanusiaan Amerika asal Prescott, Arizona. Ia ditangkap pada Agustus 2013 di Aleppo, Suriah, setelah meninggalkan rumah sakit Doctors Without Borders.

Istri Abu Sayyaf, Umm Sayyaf, membenarkan bahwa suaminya merupakan pelaku utama penyiksaan Mueller. Kemudian media mengabarkan bahwa pekerja bantuan kemanusiaan Amerika berusia 26 tahun ditangkap oleh IS. Ia tewas pada 6 Februari 2015. 

Itulah sebabnya Abbas Barzegar, dosen agama Georgia State University mengatakan bahwa Muslim di seluruh dunia menganggap "penafsiran Islam versi IS mengerikan dan menjijikkan".

Para pemimpin dan cendekiawan Muslim di seluruh dunia menolak keabsahan klaim IS.



Sumber: reuters, wikipedia

CLOSE