Tragedi Lion Air


Aditya L Djono / HA Senin, 29 Oktober 2018 | 18:51 WIB

Jakarta - Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 yang menerbangi rute Jakarta-Pangkalpinang, Senin (29/10) pagi jatuh 13 menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat yang mengangkut 189 penumpang dan awak tersebut terempas di perairan Tanjung Karawang, di wilayah perbatasan Kabupaten Bekasi dan Karawang, dari ketinggian sekitar 2.500 meter.

Penyebab jatuhnya pesawat masih menunggu penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terhadap kotak hitam yang belum ditemukan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa kondisi cuaca dan angin tenang dan aman untuk penerbangan saat kecelakaan terjadi.

Sebelum jatuh, kapten pilot Bhavye Suneja sempat meminta return to base (RTB) ke menara pengawas Bandara Soekarno-Hatta, atau kembali ke bandara asal. Permintaan ini lazimnya dilayangkan pilot yang mendapati pesawatnya ada gangguan saat penerbangan.

Selama ini, penyebab jatuhnya pesawat hingga menimbulkan korban jiwa dipicu oleh dua faktor utama, yakni faktor cuaca, faktor kerusakan teknis pada pesawat, faktor kelalaian manusia (human error) baik teknisi maupun pilot, serta kemungkinan lain yakni sabotase.

Jatuhnya JT 610 merupakan kecelakaan pesawat dengan korban jiwa terbanyak kedua yang dalam sejarah penerbangan nasional, setelah pada September 1997, pesawat Garuda Indonesia jenis Airbus 300 dari Jakarta jatuh karena menabrak tebing di Sibolangit menjelang mendarat di Bandara Polonia Medan. Dalam kecelakaan itu, seluruh penumpang dan awak yang berjumlah 234 tewas.

Pesawat Lion Air JT 610 berjenis Boeing 737-800 Max 8 sebenarnya tergolong pesawat baru. Pesawat itu baru diserahterimakan dari pabriknya, di Seattle, AS, pada 13 Agustus 2018. Total jam terbang yang sudah dijalani 800 jam.

Sebelum menerbangi rute Jakarta-Pangkalpinang, Senin pagi, pesawat itu terbang dari Denpasar menuju Jakarta pada Minggu (28/10) malam. Pihak Lion Air mengakui, sempat ada laporan masalah teknis dalam penerbangan dari Denpasar tersebut, namun sudah dilakukan perbaikan sesuai prosedur, sehingga dinyatakan laik terbang menuju Pangkalpinang.

Turut menjadi korban dalam jatuhnya JT 610 di antaranya, 20 pegawai Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan, tiga anggota Polda Kepulauan Bangka Belitung, 3 pegawai Ditjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, beberapa auditor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), serta pegawai Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menemui kerabat korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 di Jakarta, 29 Oktober 2018. Sebanyak 20 pegawaiKementerian Keuangan menjadi korban dalam kecelakaan itu. (Istimewa)

Pencarian Korban
Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tengah mengadakan kunjungan kerja di Bali, langsung memerintahkan Badan SAR Nasional (Basarnas), Polri, TNI, dan unsur terkait lainnya untuk melakukan operasi pencarian korban.

“Kita melakukan upaya yang terbaik untuk menemukan dan menyelamatkan korban, dan saya terus berdoa dan berharap korban akan segera ditemukan,” kata Presiden Jokowi.

Upaya pencarian korban dan pengangkatan kotak hitam, melibatkan ratusan personel Basarnas, TNI, dan Polri.

Basarnas menerjunkan sedikitnya 150 personel di mana 30 orang di antaranya adalah penyelam, TNI menerjunkan 150 personel, dan Polri menugaskan 130 personel termasuk dokter untuk mengidentifikasi korban di RS Polri Kramat Jati.



Sumber: Suara Pembaruan

Lion Air JT-610, Kecelakaan Udara Terburuk Kedua dalam Sejarah Indonesia


/ HA Selasa, 30 Oktober 2018 | 06:44 WIB

Jakarta - Jatuhnya pesawat Lion Air nomor penerbangan JT 610, Senin (29/10), merupakan kecelakaan pesawat dengan korban jiwa terbanyak kedua yang dalam sejarah penerbangan nasional.

Menurut manifes, pesawat itu mengangkut 188 orang termasuk tujuh awak. Diperkirakan tidak ada yang selamat dari kecelakaan tersebut. Di antara para korban termasuk 21 pegawai Kementerian Keuangan, empat hakim, tiga jaksa, dan dua bayi.

Kecelakaan udara paling maut terjadi pada September 1997, ketika pesawat Garuda Indonesia jenis Airbus 300 dari Jakarta jatuh karena menabrak tebing di Sibolangit menjelang mendarat di Bandara Polonia Medan. Dalam kecelakaan itu, seluruh penumpang dan awak yang berjumlah 234 tewas.

Pesawat Lion Air JT 610 berjenis Boeing 737-800 Max 8 sebenarnya tergolong pesawat baru. Pesawat itu baru diserahterimakan dari pabriknya, di Seattle, AS, pada 13 Agustus 2018. Total jam terbang yang sudah dijalani 800 jam.

Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait menepis dugaan bahwa pihaknya membiarkan pesawat rusak untuk beroperasi, seperti yang beredar di media sosial bahwa pesawat itu sudah menunjukkan ada yang tidak beres dalam penerbangan sebelumnya dari Denpasar menuju Jakarta.

"Kalau dia rusak tidak mungkin dirilis terbang dari Denpasar. Cuma memang benda bergerak sebagaimana kia ketahui akan bisa mengalami gangguan setelah dia mendarat," kata Edward dalam jumpa pers.

Pilot Bhavye Suneja yang membawa pesawat tersebut juga cukup berpengalaman dengan 6.000 jam terbang, ujarnya.

"Kami sangat berduka dan sangat terpukul dengan kejadian ini. Siapa pun yang ada di dalam sana itu adalah saudara kami, siapa pun yang ada di sana, kami tidak menginginkan kejadian ini," kata Edward.

Ini bukan pertama kali pesawat baru Lion Air jatuh. Pada 13 April 2013, pesawat Boeing 737-800 NG milik Lion Air dengan nomor penerbangan JT 904 rute Bandung-Bali jatuh di perairan dekat Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Pesawat itu juga masih relatif baru. Beruntung 101 penumpang dan awak pesawat semuanya selamat, meskipun puluhan orang mengalami luka-luka.

Dalam empat tahun terakhir, sedikitnya telah terjadi tiga kecelakaan udara yang mematikan, termasuk JT610.

Pada 28 Desember 2014, pesawat Air Asia 8501 rute Surabaya-Singapura jatuh di Laut Jawa dan menewaskan 162 orang di dalamnya. Kemudian pada 30 Juni 2015, pesawat militer jenis Hercules C-130 rute Medan-Tanjung Pinang jatuh di Medan dan menewaskan 141 orang, sementara tiga penumpang selamat.



Sumber: BeritaSatu.com

Lion Air JT 610 Jatuh


Danung Arifin / HA Senin, 29 Oktober 2018 | 20:22 WIB



Sumber: BeritaSatu.com

BMKG: Cuaca Sepanjang Rute Lion JT 610 Terpantau Baik


Ari Supriyanti Rikin / HA Senin, 29 Oktober 2018 | 18:30 WIB

Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kondisi cuaca sepanjang rute penerbangan pesawat Lion Air JT 610 hingga bandara tujuan pada Senin (29/10) pagi terpantau baik.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, sebelum pesawat terbang, BMKG menginformasikan kondisi prakiraan cuaca lengkap berdasarkan citra satelit, citra radar, maupun pengamatan cuaca bandara setempat menggunakan Automatic Weather Observation System (AWOS).

"Informasi tersebut berisi arah angin dan kecepatannya, jarak pandang, suhu, tekanan, dan lain sebagainya. Informasi cuaca yang diberikan meliputi informasi cuaca bandara keberangkatan, cuaca bandara tujuan, dan cuaca sepanjang rute penerbangan," papar Dwikorita saat berada di Bali, Senin (29/10).

Dalam keterangan tertulisnya, ia menjelaskan menjelang take off tidak terindikasi adanya kondisi cuaca yang signifikan. Saat itu, arah angin bervariasi selatan-barat dengan kecepatan yang relatif lemah.

Awan-awan yang tumbuh di sekitar lokasi kejadian pada umumnya adalah awan cumulus, bukan awan cumulonimbus (Cb) yang membahayakan bagi penerbangan.

“Memang berawan namun tidak ada awan jenis Cb. Kalaupun terdeteksi kami (BMKG) pasti akan memberikan peringatan,” tandasnya.

Dari rentang waktu antara take off hingga pesawat hilang, kata Dwikorita, diperkirakan pesawat masih berada di bawah ketinggian 10.000 kaki dari permukaan laut.

Dalam kesempatan tersebut, Dwikorita juga menyampaikan ucapan belasungkawa kepada keluarga korban penumpang dan seluruh crew pesawat Lion JT 610.

“Atas nama BMKG, saya menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah ini. Semoga seluruh korban dapat segera ditemukan. Bagi keluarga, semoga Allah memberikan ketabahan dan ketegaran,” tuturnya.



Sumber: Suara Pembaruan

CLOSE