Wajah Baru Terorisme di Indonesia


Farouk Arnaz / HA Selasa, 15 Mei 2018 | 01:58 WIB

Jakarta - Rangkaian serangan bom bunuh diri di Surabaya dan insiden senjata makan tuan saat bom meledak di Sidoarjo mengubah seketika wajah ancaman teror di Indonesia. Sejumlah fakta baru muncul dalam rangkaian teror itu.

Salah satu fakta terbaru dalam teror yang sedikitnya menewaskan 25 orang — termasuk pelaku itu — adalah terlibatnya anggota keluarga inti dalam serangan teror bom bunuh diri. Hal ini tidak pernah terjadi dalam teror di masa lalu.

Dan bukan satu keluarga, melainkan tiga keluarga yang terlibat dalam teror di Surabaya dan Sidoarjo, mulai ayah, ibu, dan anak-anak.

Pada Minggu, pengeboman tiga gereja di Surabaya dilakukan Dita Oepriarto (suami), Puji Kuswati (istri), serta empat anaknya, yakni YF, FH, FS, dan FR. Dita diketahui sebagai Ketua Jamaah Ansharu Daulah (JAD) Surabaya.

Insiden senjata makan tuan terjadi di Rusun Wonocolo, Taman, Sidoarjo, juga melibatkan satu keluarga. Ceritanya satu bom yang dikuasai Anton Febrianto (47) meledak tanpa sengaja. Polisi pun datang dan mendapati Anton masih memegang saklar bom. Anton pun kemudian ditembak mati.

Bom rakitan yang meledak itu lebih dulu menewaskan istri Anton bernama Puspita Sari serta anak pertamanya, LAR (17). Sedangkan tiga anak Anton lainnya luka-luka, yakni AR, FP, dan GHA. Anton diketahui adalah sahabat Dita.

Terakhir, teror bom di Mapolrestabes Surabaya juga dilakukan satu keluarga yang menggunakan dua motor. Mereka adalah ayah (Tri Murtiono) dan istrinya Tri Ernawati. Lalu dua anak lelakinya MDS dan MDAM. Keempatnya meninggal.

Satu anak perempuan berinisial AAP, yang dibonceng di bagian depan terpelanting saat bom meledak. Dia selamat dan kini dirawat di UGD RS Bhayangkara.

Soal keluarga dan anak-anak terlibat bom bunuh diri disebutkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebagai fenomena baru. Namun, pelaku bom bunuh diri perempuan pernah terjadi sebelumnya meskipun pelaku tidak sempat menjalankan niat jahatnya.

“Maksudnya sebenarnya wanita (jadi pelaku bom bunuh diri) bukan yang pertama, tetapi ini (pertama) yang berhasil," kata Tito dalam jumpa pers di Mapolda Jawa Timur, Senin (14/5).

Pada 2017, Polri memang berhasil menghentikan dan mencegah serangan bom bunuh diri dari seorang perempuan bernama Novi di Bekasi. Saat itu, Novi berencana menyerang Istana di Jakarta.

Namun fakta bahwa pelaku melibatkan anak-anak di bawah umur adalah fakta paling tragis yang menjadi sejarah kelam bangsa ini. Tak cuma Tito, Presiden Joko Widodo sampai kehabisan kata-kata menggambarkan kebiadaban para pelaku teror yang tega mengajak anak-anak mereka sendiri.

Seluruh komponen masyarakat tercengang dan seperti tak percaya dengan peristiwa di Surabaya dan Sidoarjo itu.

Pelaku bom anak-anak juga bukan hal baru, namun biasanya terjadi di daerah konflik seperti Suriah atau Irak, dan biasanya mereka bertindak atas perintah atau diperalat orang lain, bukan ayah ibunya sendiri. 

Dua Hari Penuh Ledakan
Hal baru lainnya dalam rangkaian teror yang muncul dalam kasus bom di Surabaya adalah soal rentetan serangan bom bunuh diri yang terjadi beruntun selama dua hari, Minggu dan Senin.

Di masa lalu memang ada rangkaian serangan teror berantai namun biasanya pada hari dan jam yang sama.

Misalnya bom Bali 12 Oktober 2002 di mana dua ledakan pertama terjadi di Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat di Pulau Dewata.

Lalu bom Bali 1 Oktober 2005 di satu lokasi di Kuta dan dua lokasi di Jimbaran dengan sedikitnya 23 orang tewas dan 196 lainnya luka-luka.

Begitu pula serangan pada 17 Juli 2009 yang terjadi di hotel JW Marriott bersamaan dengan serangan di Hotel Ritz-Carlton. Semua serangan di atas terjadi pada waktu yang hampir bersamaan dan hari yang sama.

Pengamat dan penulis terorisme Solahudin ikut menggarisbawahi munculnya fenomena baru dalam serangan teroris di Indonesia, berkaca pada kasus di Surabaya dan Sidoarjo.

“Ada tiga alasan bagi saya mengapa mereka melibatkan anak dan istri. Pertama security, mereka ingin langkahnya tidak mencolok dan sulit dipantau aparat maka anak-anak dilibatkan. Lalu juga soal magnitude dan news value, mereka sadar jika anak dan istri dilibatkan, itu akan menarik media dan akan meneruskan teror itu di media. Kalau lelaki dewasa kan sudah biasa,” katanya.

Hal lain yang bahaya adalah adanya semacam pesan yang sangat provokatif bagi sel-sel teroris lainnya.

”Pesannya mungkin anak kecil saja berani bunuh diri, masa yang dewasa tak berani,” kata Solahudin.

Momentum dari Rutan Brimob
Solahudin menilai para teroris JAD mendapatkan momentum untuk melakukan serangan terkoordinasi di Surabaya pasca-rusuh di Rutan Brimob.

“Memang momentum rusuh Mako Brimob itu menggairahkan mereka. Tapi ada atau tidak ada rusuh, mereka pasti akan menyerang karena persiapan ini kan pasti panjang. Ada yang bikin bom dan membuat rencana,” kata Solahudin.

Bisa jadi kasus di Brimob membuat mereka mempercepat amaliah dengan melakukan serangan terkoordinasi saat ini, karena sebenarnya di bulan Rajab seperti sekarang ada larangan untuk berjihad.

Dalam Alquran disebutkan bila bulan Rajab, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, dan Al-Muharram dinamakan bulan Haram karena kemuliaannya yang lebih dan larangan melakukan perang.

“Saya perkirakan mereka akan amaliah di Ramadan tapi mereka percepat mungkin karena rusuh Brimob,” sambungnya.

Mantan narapidana terorisme Iqbal alias Rambo punya analisis yang berbeda. Dia menduga jika serangan di Surabaya terpicu atas rasa “terhina” buntut penanganan 155 napi teroris di Rutan Mako Brimob oleh aparat.

Persepsi tentang hinaan itu adalah tudingan miring jika mereka hanya sekelas teroris “kelas nasi bungkus”-- karena mau bernegoisasi menyerahkan sandera Bripka Iwan dengan nasi -- dan juga karena mereka menyerah tak melawan dan seperti teroris kelas “amatiran”.

“Ini bisa jadi membangkitkan semangat perlawanan jaringannya di luar, yang juga sama-sama JAD, untuk unjuk gigi. Menunjukkan eksistensi jika JAD ada dan berani,” sambungnya.

Balas Dendam dan Fatwa ISIS
Sedangkan menurut Tito rentetan serangan di Surabaya adalah pembalasan dendam atas belum dibebaskannya dua orang pimpinan JAD yakni Aman Abdurrahman dan Zainal Anshori.

Aman ditangkap kembali karena terlibat kasus perencanaan pendanaan kasus Bom Thamrin pada 2016.

Dia sebelumnya diproses dalam kasus pendanaan bagi militer bersenjata di Aceh dan seharusnya sudah bebas beberapa bulan lalu.

Sedangkan Zainal divonis bersalah terkait pendanaan dan memasukkan senjata api dari Filipina ke Indonesia. Proses hukum keduanya membuat JAD Jawa Timur memanas dan mereka ingin melakukan pembalasan, kataTito.

Bagi Tito, kerusuhan di Mako Brimob juga bukan sekadar dipicu karena salah paham soal makanan, tapi ada kaitannya dengan balas dendam dalam proses hukum para pimpinan JAD itu.

Jika ditarik ke yang lebih luas, kata Tito, rangkaian serangan ini juga ada kaitannya dengan posisi kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang terdesak di Suriah dan memerintahkan agar sel-sel teroris di seluruh dunia untuk bergerak.

“Selain serangan di Surabaya juga ada serangan di Paris, hari Minggu kemarin, satu pelaku pakai pisau, satu tewas empat luka, pelaku tembak mati polisi di Paris," kata dia.



Sumber: BeritaSatu.com

Kronologi Teror Depok-Surabaya


Danung Arifin / Heru Andriyanto / HA Senin, 14 Mei 2018 | 17:51 WIB



Sumber: BeritaSatu.com

Teror Bom di Surabaya, 13 Pelaku dari 3 Keluarga Tewas


Anselmus Bata / AB Senin, 14 Mei 2018 | 13:13 WIB

Surabaya - Kapolda Jawa Timur Irjen Machfud Arifin menyatakan 13 pengebom yang melakukan teror di Surabaya dan Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, tewas. Para pelaku berasal dari tiga keluarga yang berbeda.

Teror bom di Surabaya juga menyebabkan delapan warga meninggal. Dengan demikian, ledakan bom yang terjadi di tiga gereja di Surabaya, rusunawa Sidoarjo, dan Mapolrestabes Surabaya, mengakibatkan 21 orang meninggal dunia.

Hal tersebut disampaikannya dalam jumpa pers bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian melalui breaking news Berita Satu News Channel, Senin (14/3).

Dalam kasus bom di Mapolrestabes, lanjut Machfud, juga dilakukan oleh satu keluarga, seperti halnya pengeboman tiga gereja di Surabaya dan kasus bom yang meledak di rusunawa di Sidoarjo. 

"Pengeboman di Mapolrestabes dilakukan keluarga berinisial TM. Bapak, ibu, dan dua anaknya meninggal. Satu anaknya lagi selamat dan masih dirawat," katanya.

Sementara itu, Tito Karnivian menyatakan Dita Oepriarto dan keluarga (seorang istri dan empat anak) yang merupakan pelaku peledakan bom di tiga gereja di Surabaya aktif berkomunikasi dengan Anton yang akhirnya meninggal bersama istri dan seorang anaknya saat bom yang dirakit di rusunawa di Sidoarjo meledak. 

Dita, lanjut kapolri, mereka pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) cabang Surabaya. Mereka melakukan pengeboman sebagai aksi balas dendam atas penangkapan pimpinan JAD, Aman Abdurahman dan Zainal Anshori, pimpinan JAD di Jawa Timur.

"Ini aksi pembalasan dari JAD. Sel JAD di Surabaya yang dipimpin Dita sangat aktif. Mereka menggunakan bom pipa dalam aksinya," kata Tito. 

 

 



 



Sumber: BeritaSatu.com

Kapolri: Pelaku Bom Surabaya dan Sidoarjo Bagian Kelompok Dita


Amrozi Amenan / YUD Senin, 14 Mei 2018 | 16:55 WIB

Surabaya -  Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan semua pelaku yang beraksi di Surabaya dan Sidoarjo merupakan bagian dari kelompok Dita Supriyanto (48). Dita adalah Ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan yang sebelumnya tewas dalam serangan bom di gereja Jl. Arjuno Surabaya. Mereka beraksi di Surabaya karena menguasai organisasi sel di Surabaya. "Mereka ingin membalas karena pimpinan mereka banyak ditangkap Polri," kata Tito di Media Center Polda Jatim, Senin (14/5).

Menurut Tito Dita itu terkait dengan salah satu keluarga yang tidak bisa disebut namanya, karena masih dalam pencarian, yang merupakan ideologi kelompok ini. Satu keluarga ideologi ini sebelumnya ditangkap oleh otoritas Turki dan telah dideportasi ke Indonesia. Awalnya mereka mau berangkat ke Suriah. “Jadi, Dita sekeluarga tidak pernah pergi ke Suriah tapi dipengaruhi oleh satu keluarga yang menjadi ideolog," ujar Tito.

Tito juga mengakui fenomena bom bunuh diri dengan melibatkan anak di bawah umur baru pertama kali terjadi di Indonesia yakni di Surabaya. "Ini pertama kali di Indonesia yang dilengkapi bom pinggang.Tapi, di Syria dan Irak sudah beberapa kali ada bom bunuh diri menggunakan anak-anak," ujarnya.

Untuk fenomena bom bunuh diri, menurut Tito, bukan hal baru di Indonesia. Bom bunuh diri dengan pelaku wanita juga nyaris terjadi. Karena tahun lalu Polri telah berhasil menghentikan dan mencegah kelompok saudari Novi di Jawa Barat yang mau menyerang di Jakarta.

Kapolri menegaskan polisi akan mengorek data dari saksi paling penting yaitu anak usia 8 tahun dalam serangan bom di Mapolrestabes Surabaya dan tiga anak di Rusunawa Wonocolo, Taman Sepanjang, Sidoarjo.

Sementara Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin menyatakan dari serangkaian kejadian teror bom di tiga gereja di Surabaya, Rusunawa di Sidoarjo dan di depan Mako Polrestabes Surabaya, tercatat korban sebanyak 25 orang, diantaranya 13 orang adalah pelaku, dan 12 orang lainnya dari masyarakat. “Pelaku di Mako Polrestabes Surabaya sebenarnya ada lima orang, tetapi ada yang selamat satu orang yakni seorang anak berusia 8 tahun,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan

Densus 88 Lakukan 13 Penindakan Terduga Teror di Surabaya-Sidoarjo


/ YUD Senin, 14 Mei 2018 | 17:50 WIB

Surabaya - Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri telah melakukan 13 penindakan terhadap teroris di wilayah Surabaya dan Sidoarjo pada Senin (14/5).

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera di Surabaya, Senin, mengatakan 13 penindakan antisipatif itu untuk melawan teroris.

"Kita melakukan penindakan pada Senin dini hari pukul 02.30 sampai 16.45 WIB. Ada 13 orang ditindak yang akan melakukan teror," katanya.

Barung mengatakan dalam penindakan itu, empat orang teroris tewas karena ditembak mati pihak Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

"Empat di wilayah Sidoarjo, termasuk Anton yang semalam. Sembilan tersebar di Sidoarjo dan Surabaya. Total ada 13 orang, sembilan hidup dan empat mati," katanya.

Namun, Barung enggan menjelaskan di mana saja penindakan terhadap 13 teroris itu.

"Sasaran di mana dan nama akan ditutupi. Akan kami 'update' lagi," ujarnya.

Dia sedikit mengungkapkan bahwa dari penindakan itu masih ada dalam lingkaran keluarga, seperti jaringan yang sudah diidentifikasi.

"Ini menunjukkan Polri konsen pemberantasan dan tetap tegar serta apapun yang terjadi," ujarnya.



Sumber: ANTARA

CLOSE