Ilustrasi Peselancar (Surfer)

Banyuwangi - Gelaran Banyuwangi International Surf Competition 2013 yang akan berlangsung di Pantai Pulau Merah (Red Island), Banyuwangi, Jawa Timur, 24-26 Mei mendatang, telah siap untuk digelar.

Sebanyak 18 negara dipastikan berpartisipasi dalam ajang yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang menggandeng Blue Fin Surfing Factory tersebut. Kompetisi ini, rencananya akan dibuka oleh Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Dalam rilis yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Senin (13/5), Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, persiapan panitia kini telah mencapai 95 persen.

Data terbaru menunjukkan, terdapat 25 peselancar asing dari 18 negara yang akan berpartisipasi, antara lain, dari Australia, Amerika Serikat, Selandia Baru, Singapura, Malaysia, dan Jerman. Selain itu juga Italia, Swedia, Brazil, Portugal, Perancis, Austria, Belanda dan Afrika Selatan.

Adapun di tingkat lokal dan nasional tercatat 100 peserta yang sudah mendaftarkan diri sebagai peserta. Jumlah peserta dimungkinkan bertambah seiring masih dibukanya pendaftaran.

Ditargetkan untuk setiap kategorinya (kategori lokal, nasional, dan internasional), jumlah peserta mencapai 64 orang, sehingga total ada 192 peserta yang ikut dalam kompetisi berskala internasional ini.

Pada H-7 mendatang atau tepat 17 Mei 2013, para peserta berkesempatan menjajal ombak Pantai Pulau Merah untuk mempelajari medan sebelum berlaga.

”Kami terus memastikan semua persiapan telah mendekati tahap sempurna. Akomodasi peserta, publikasi, dan lokasi kompetisi sudah siap,” ujar Anas.

Pemkab Banyuwangi sendiri telah menyiapkan 20 rumah penduduk yang akan dijadikan sarana menginap bagi sejumlah peselancar.

Menginap di rumah penduduk lokal merupakan salah satu model penerapan eco-tourism atau wisata berbasis potensi alam dan lingkungan yang kini tengah digencarkan oleh Pemkab Banyuwangi.

"Rumah penduduk kami jaga keasliannya, sehingga para peselancar asing bisa merasakan "Banyuwangi Experience" yang indah alamnya dan kaya budayanya,” tutur Anas.

Dengan menginap di rumah penduduk lokal, para peselancar asing bisa merasakan sensasi lokal berkarakteristik Using.

Para peselancar asing akan mendapati karakter penduduk lokal yang terbuka dan egaliter. Khazanah budaya Using yang sangat kaya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para peselancar asing.

"Kami berharap dari para peselancar asing tersebut akan timbul pemasaran dari mulut ke mulut yang kuat terkait wisata Banyuwangi yang sangat potensial," ujarnya.

Anas mengatakan, kompetisi selancar tersebut digelar untuk mempromosikan Pulau Merah sebagai salah satu destinasi wisata andalan Banyuwangi.

Pantai Pulau Merah akan dikampanyekan sebagai titik surfing yang baru bagi para peselancar. Sebelumnya, para peselancar lebih banyak mengenal Pantai Plengkung (G-Land) sebagai tempat berselancar di Banyuawangi.

Kompetisi ini juga digelar sebagai bentuk keseriusan Banyuwangi dalam mengembangkan wisata minat khusus (special interest tourism).
Sebagai daerah yang kaya potensi wisata, Banyuwangi terus membenahi diri agar potensi tersebut bisa dioptimalkan untuk memberi nilai tambah ke masyarakat.

Hal yang menjadi fokus dalam pengembangan pariwisata di kabupaten paling timur Pulau Jawa itu adalah wisata minat khusus, seperti eco-tourism dan sport tourism. Dalam hal sport tourism, tahun lalu Banyuwangi sudah menggelar ajang Tour de Ijen.

Anas menjelaskan, dalam mengembangkan pariwisata, positioning Banyuwangi memang pada wisata minat khusus, khususnya eco-tourism dan sport tourism.

Banyuwangi sendiri mempunyai triangle diamond dengan kekayaan wisata alam yang luar biasa, yaitu Kawah Ijen, Pantai Sukamade, dan Taman Nasional Alas Purwo. Perpaduan lengkap antara dataran tinggi, pantai, dan kawasan hutan dengan kekayaan flora dan fauna tak ternilai.

Dengan kekayaan alam yang beragam tersebut, Banyuwangi mempunyai modal untuk memadukan sport tourism dan eco-tourism. Tentu pengalaman yang dirasakan para atlet maupun masyarakat luas dalam menikmati sport tourism akan semakin lengkap dengan kondisi alam dan lingkungan Banyuwangi yang indah.

"Ini menjadi surga sport tourism yang luar biasa karena berpadu dengan keindahan alam,” kata Anas.

Dalam beberapa hal, antara eco-tourism dan sport tourism saling beririsan karena kekayaan wisata alam dipadukan dengan wisata olahraga.

"Para wisatawan dan atlet peselancar akan mendapatkan pengalaman yang baru, menikmati keindahan alam sekaligus merasakan extreme sport. Pengalaman yang didapat akan semakin lengkap dengan kekayaan budaya dan keramahan penduduk Banyuwangi,” imbuh Anas.

Ketua Pantia Banyuwangi International Surf Competition, Suprayogi, menambahkan, pada malam hari seusai kompetisi, akan disuguhkan konser musik yang dimeriahkan oleh DJ dan tiga grup band.

Pada malam hari pertama (26 Mei), akan tampil Rescue Rockability. Dilanjutkan dengan penampilan Congrad Good Vibration pada malam esoknya. Dan hari terakhir sebagai penutup akan tampil Steven Jam.

Penulis: Feriawan Hidayat/FER

Sumber:PR