Logo "Jogja Istimewa" Akan Segera Diresmikan

Logo
Logo Joga Istimewa ( Foto: Suara Pembaruan/Fuska Sani )
Fuska Sani Evani Jumat, 6 Februari 2015 | 14:32 WIB

Yogyakarta - Setelah melewati kritik yang tajam dari masyarakat Yogyakarta, akhirnya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menetapkan logo baru untuk Yogyakarta sebagai re-branding kota yang dipimpinnya, dengan mengganti logo dan tagline lama, "Jogja Never Ending Asia".

Pengumuman logo dan tagline baru Yogya ini, rencananya akan dilakukan pada 7 Maret mendatang, namun Pemda DIY sudah mengumumkan pemilihan logo tersebut. 

“Jogja Istimewa” dipilih sebagai tagline baru, sesuai dengan kondisi Yogyakarta saat ini.

Ketua Tim 11 Rebranding Yogya, Herry Zudianto mengatakan, tanggal peresmian yang ditetapkan pada 7 Maret mendatang bertepatan dengan tanggal Sri Sultan HB X naik tahta pada 7 Maret 1989.

“Tanggal launching tersebut juga menjadi penanda kebangkitan Yogyakarta atau renaissance ,” kata Herry.

Menurut Herry, kata “istimewa” memiliki makna yang luas, baik dari dimensi peradaban, kultur maupun sosial.

logo dan tagline "Jogja Istimewa" ini akan menjadi simbol dari gerakan Jogja Gumbregah (penuh semangat kebersamaan untuk kemajuan).

“Logo baru tersebut bukan hanya mampu menjadi penyemangat. Tetapi, juga momentum pembangunan Yogyakarta yang lebih unggul,” ucap mantan Walikota Yogya ini.

Rencananya peresmian dipusatkan di Alun-alun Utara Yogyakarta sampai Tugu Pal Putih. Acara launching akan dikonsep seperti pisowanan agung. Saat itu, ada gerakan budaya masyarakat seluruh DIY menyambut logo baru tersebut dan akan ada upacara penyerahan logo kepada Sri Sultan Hamengku Buwono.

Demi mewujudkan launching ini, Tim 11 mengusulkan pemasangan atau papan reklame seluruh DIY menjadi tempat pameran karya seni. Selain memberikan suasana yang tepat, juga mewujudkan masyarakat Yogyakarta yang memiliki nilai artistik tinggi.

Seperti diungkapkan Sri Sultan, logo dan tagline "Jogja Istimewa" diklaim mengandung tiga aspek. “Logo itu memenuhi tiga unsur, yakni kultur, harmoni, dan istimewa,” kata Sultan.

Huruf dalam logo dan tagline tersebut tidak banyak lekukan. Huruf itu menggambarkan kesederhanaan atau sederhana sebagai karakter warga DIY.

Kata istimewa dimaksud tidak hanya sekadar slogan atau jargon semata. Namun, menjadi nilai yang benar-benar ada di dalam diri DIY beserta isinya. “Istimewa daerahnya, orangnya, birokratnya, pedagangnya, kampusnya, dan lainnya. Jadi, serba elok dan apik. Itu yang saya maksud dengan nilai. Logo ini sudah resmi,” kata Sultan.

Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE